Follow Us @whanifalkirom

Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2024

Comeback : Menjadi Ibu Rumah Tangga

00.15 0 Comments

Selamat datang kembali, di tilini 😊


Bismillah, mengawali tulisan ini dengan sebuah kebersyukuran, akhirnya menengok lagi catatan-catatan di blog ini.


Dua puluh bulan berlalu sejak memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, dan melepas pekerjaan, yang sebenarnya itu adalah pekerjaan yang menyenangkan. Menjadi guru TK, memang tidak banyak perempuan di luar sana yang menyukainya. Katanya, butuh kesabaran yang tinggi, dan -tentu saja- berapa sih gaji yang bisa dibawa pulang setiap awal bulan?. Tapi, lain bagiku. Sedari dulu, ketertarikan setelah dunia psikologi, memanglah dunia anak-anak. Aku tak sesabar itu, tapi aku memang tak berekspektasi berapa gajiku. Diatas nominal dua juta rasanya sudah bersyukur sekali, dengan aku membandingkan guru TK kebanyakan. Lalu? Setelah senyaman itu, aku harus bertekad membuat keputusan, yang tidak lain tidak bukan, atas permintaan suami (ya, karena pertimbangan utama adalah anak kedua kami akan lahir).


Menjadi ibu rumah tangga, memang banyak bergelut dengan perasaan sendiri. Dari yang awalnya masuk pukul 06.25 pulang pukul 15.30, menjadi mamak-mamak yang full time di rumah. Mulai dari jenuh, bosan, tidak punya circle pertemanan, overthingking, menyalahkan diri sendiri. Sesepele ekspektasi di awal : “Menjadi ibu rumah tangga itu, bisa fokus mendidik dan membersamai anak. Bisa mengurus rumah dengan tenang dan maksimal. Bisa eksperimen masak-masak, membuat ini-itu tanpa tekanan, dll”. Dan ternyata, realita :”Anak tidak juga nurut, aku malah banyak marahnya, tidak terlalu keurus juga. Rumah apalagi, ya, urusan domestik tiada habisnya, terus-terusan ada. Jangankan eksperimen masak memasak, masak sehari-hari pun belum tentu terpegang”. Tidak tahu salahnya dimana, tapi itulah realita (yang ternyata, curhatan sesama ibu rumah tangga, hampir-hampir serupa).


Tetapi menjadi ibu rumah tangga, juga tidak seburuk itu. Banyak hal-hal positif, yang aku pribadi mengalami. Itulah pada akhirnya, selalu ada prasangka baik atas hal-hal yang kulalui, dan selalu menjadi rasa kebersyukuran tersendiri atas pilihan yang dulu kuambil. Apa itu?


Jarang sekali terjadi konflik rumahtangga dengan suami

Terkadang, ketika di jalan mengendarai motor, tiba-tiba aku dan suami ada obrolan “nyadar ga sih, kita tu ga pernah marahan”. Setelah diingat kembali, rasanya memang, iya ya ga pernah ada adegan marah-marahan. Padahal, dulu konflik kecil dengan suami sangat-sangat sering terjadi. Perihal sesepele suami tidur duluan, atau aku yang ngomong dengan sedikit nge-gas, atau perasaan aku sebagai istri “aku lho juga kerja dari pagi, mana bawa anak pula”, atau perasaan suami yang “aku lho, kerjaanmu aja malam-malam aku ngusahain, beliin ini-itu lah buat perlengkapan mengajar”, dan banyak hal lain, yaa yang kalau sekarang dipikir-dipikir kok bisa yaa dulu sedikit-sedikit jadi pemicu saling marah. Bahkan tidak jarang suami sampai pergi hingga larut malam tanpa kabar, atau aku yang begadang semalaman dipenuhi tangis dan (sok-sok) merenung.


Finansial lebih stabil

Di luar logika manusia, dengan sekian nominal pendapatan yang berkurang, sementara kebutuhan semakin bertambah. Anak nambah, sulung sudah sekolah. Dipikirnya, terjadi defisit. Tapi ternyata, rejeki Allah bukan pada hitungan angka kita. Dulu, meski gaji dari dua orang, rasa-rasanya selalu kekurangan. Jangankan menabung, setiap akhir bulan selalu terasa kering sekali kantongnya. Tapi kini, meskipun masih sedikit simpanan, setidaknya, awal bulan dan akhir bulan tidak menjadi masalah. Dan ada satu hal yang sangat aku syukuri, ada hutang lama yang akhirnya terbayar, yang bahkan aku tak tahu si peminjam masih mau peduli atau tidak dengan hutang tersebut. Terlepas banyak sedikitnya nominal, tapi membuatku terharu (tidak enak hati juga pasti). Alhamdulillah


Lingkungan lebih nyaman

Dari awal menikah, sudah terhitung empat kali kami pindahan. Sebagai warga yang masih nomaden, memang seringkali ada banyak pertimbangan untuk pindah. Tapi, dari empat rumah yang kami tempati, di sinilah menemukan lingkungan yang jauh lebih nyaman daripada sebelum-sebelumnya. Pertama kali di samping rumah kosong, tetangga satupun tidak ada yang kenal. Kedua, tetangga nambah satu, lumayan. Tapi, kendala saluran pembuangan air kamar mandi selalu mampet. Ketiga, tetangga semakin bertambah. Dan karena memang lokasinya dekat dengan sekolah tempat dulu aku bekerja, jadi memang cukup banyak yang sedikit familiar. Tapi, kendala pompa air sumur sering sekali mati. Kini, rumah yang akhirnya kami tempati, Tetangganya persis, adek tingkat semasa kuliah. Kami macam anak kost-an yang bebas keluar masuk berkunjung. Tetangga lain juga banyak. Warung, masjid, sekolah, kelurahan tinggal jalan kaki. Dan sejauh ini, Alhamdulillah tidak ada kendala dalam rumah yang membuat tidak nyaman.


Ada sisi parenting yang berubah jauh lebih baik

Memang ternyata banyak marah-marahnya ke anak, banyak galaknya, banyak waktu membersamai yang asal-asalan. Tapi, ada kebiasaan buruk lama, yang hampir hilang. Rara dulu selalu jajan. Apa saja semua boleh, setiap hari, dan tidak sedikit. Selain ilmu sebagai ibu yang kurang, karena aku posisinya menitipkan anak ke ‘bude’, jajan menjadi salah satu alternatif agar anak diam tenang. Ada juga rasa kasian, teman-temannya banyak bawa jajan, masak anakku enggak, seharian lho. Kini, diam-diam aku bersyukur saat Rara main bertiga di luar rumah, salah satu temannya membawa permen, lalu membaginya. Rara menolak dan menjawab “Sebenernya aku pengin, tapi ibuku ga boleh aku makan permen”. Meski akhirnya aku keluar, minta dia untuk menerima sambil berterimakasih, dan bilang ke Rara disimpan dulu ya, boleh dimakan tapi tidak sekarang. Memang Rara belum faham alasannya, setidaknya dia tidak sembunyi-sembunyi makan jajan. Dia juga tidak protes bekal sekolah sehari-hari selalu buah plus jajanan lain pilihan ibunya (seperti lapis, telur puyuh, chicken katsu).

Salah satu bekalnya Rara

Begitulah. Sepenggal kisah menjadi ibu rumah tangga, yang semoga setiap kita yang menjalani peran itu, bisa mengambil hikmah dibaliknya. InsyaAllah kebaikan akan menyertai, selama kita, sebagai pribadi, juga selalu berusaha untuk memperbaiki diri. Tidak ada yang sempurna dalam hidup, setiap keputusan yang kita ambil, akan selalu ada hal baik-buruk yang (mungkin) menyertai.

Selasa, 05 Februari 2019

Pojok Preschool #1

07.07 0 Comments

Rambutnya keriting. Ceritanya banyak. Suaranya cempreng. Sekali bicara dengan suara keras, sekeliling seolah menggelegar. Kalau ndak keturutan, nangisnya kenceng, tapi rada palsu gitu, sering tak berairmata. Beberapa memanggil dengan sebutan "kiting", sebagian yang lain memanggil "kiwil", sebagian lainnya memanggil "incess", tapi dirinya sendiri maunya dipanggil "Aqilla". Ternyata, harapan memang tak selalu sesuai kenyataan :). Sabar ya Nak.....

Abaikan paragraf di atas.
Cerita sesungguhnya bukan itu... Toh pada nyatanya, gaya imut dan kelucuannya selalu mengalihkan duniaku :)

#Cerita satu
Suatu hari, salah satu educator  di kelas bermain playdough. Bukan bermain sendiri tentunya, beliau membersamai anak-anak. Sayangnya playdough tersebut agak lengket, hingga banyak sekali yang menempel di jilbab dan susah untuk dibersihkan. Tidak disangka, dia mendekat, sambil mengusap-ngusap. "It's Okay Bu Vera, it's okay. Kotor sebentar yaa, nanti habis pulang dicuci dan dibersihkan"...

#Cerita dua
Naptime, waktunya tidur siang, istirahat. Maka, tugas mendampingi anak sudah beralih, dari educator ke nursery. Namun, rupanya kelekatan memegang peran penting, dia sering menolak, dan meminta educator tetap menemani hingga lelap tidurnya. "Bu Ayu sama Bu Vera mau pergi? Nanti aku nangis loh kalau ditinggal. Aku kan merasa sendirian. Nggak kasian sama aku?"

#Cerita tiga
Hujan deras. Aku sudah siap mengenakan jaket, merapikan barang-barang, dan menggendong tas. Berkali-kali kutengok jendela, berharap turunnya air sedikit mereda. Dia datang dengan senyum menggemaskan "Hihi, Bu Ayu kasian. Nanti bareng aku aja. Pake mobil ayah. Nanti di rumah aku pinjemin buku loh, bukunya banyak"

Nggak ada yang penting ya ceritanya? hehe
Eh ada, intinya aku pengin bilang, rasa empati pada anak itu bisa dibentuk dan bisa diasah sejak sedini mungkin. Jangan ragu, ajarkan padanya :)

Dan nama dia sesungguhnya, Anaya. Kamu bisa tebak dia yang mana? :)

Senin, 27 Agustus 2018

20.27 0 Comments

Biarlah lepas semua kesedihan.
Luruh dalam langit-langit jalanan.
Menguap bersama sepoinya angin malam.

Cukup Dia yang saksikan.

Karena sejatinya dunia, tidak pernah ada sedih yang kekal, pula bahagia yang abadi. Nikmati saja bagiannya, biar kau belajar pandai mensyukuri, bahkan pada kebahagiaan kecil yang pernah dan kelak kau rasai. 

Minggu, 26 Agustus 2018

15.01 0 Comments

Lima hari lalu,
Seseorang bercerita padaku, sembari berlinang air mata. Kisah klasik romansa cinta. Jikalau saja ia bercerita padaku dulu, janganlah dulu, beberapa bulan lalu, mungkin seluruh nasehat bijakku akan keluar. Aku masih akan merasa sangat ‘lulus’ jika itu bicara nasehat soal cinta. Tapi kali ini aku hanya bisa mendengar, diam, dan mendoakan. Semoga baginya cukup. Pada akhir cerita, pertanyaan kesimpulan datang,
“Dek, jika semasa hidup, ayah seorang lelaki tidak pernah merestui seorang perempuan untuk menjadi menantunya. Kemudian beliau meninggal. Apakah si perempuan ini mengajari durhaka jika meminta si laki-laki untuk tetap menikahinya?”
Bagaimana dengan ibunya?”
“Ibunya juga tak ada pilihan, tidak pernah tidak memberi izin, tidak pula mengizinkan”
Semoga Allah kasih skenario terbaik Ya Mbak...”
***
Tiga hari lalu,
Seseorang bercerita padaku, sembari sedikit menggebu. Sama. Kisah klasik romansa cinta. Bagaimana aku menanggapinya juga tak jauh berbeda, mendengar, diam, dan mendoakan. Semoga baginya cukup.
“Aku tidak habis fikir dengan orang Jawa” Begitu intinya beliau bercerita
“Jika orangtua lelaki datang berkali-kali ke rumah orangtua perempuan. Sama sekali bukan untuk menyegerakan anaknya menikah. Mereka datang untuk memohon pengertian –kakak perempuannya belum menikah, mohon bersabarlah-“ Sayangnya sampai kapan, entah.
Semoga Allah beri jalan terbaik Yaa....”
***
Maka, soal nikah menikah ini, memang benar, jangan sekali-kali dianggap ‘lelucon’ belaka. Jika sudah sampai pada masanya, memang hanya takdir yang bercerita. Tak pernah tertebak. Pacaran lama tak menjamin pernikahan. Yang tinggal selangkah ternyata berhalang, berhalang keadaan, berhalang restu, berhalang tuntutan, dan sebagainya. Yang sudah benar-benar siap, jodoh tak kunjung terlihat. Yang nampak masih kecil, kekanak-kanakan, eh tahu-tahu besok menikah.
Pada intinya, sebuah perjanjian yang agung, berupa pernikahan, pasti Allah hadirkan di waktu yang tepat. Dengan orang yang tepat. Pasti. Begitu saja rumusnya.

Sabtu, 18 Agustus 2018

Terus Saja

19.08 0 Comments

Istiqomah dan iman itu selalu jatuh bangun
Namun,
Terus saja istighfar
Terus saja bertaubat
Terus saja memperbaiki diri
Terus saja berdoa, memohon pertolongan, supaya Allah bimbing dan mampukan
Hingga,
Waktunya kau pulang
Dengan,
Husnul khotimah

Minggu, 29 Juli 2018

07.56 0 Comments

Mengejawantahkan cinta itu memang tidak pernah mudah. Ia bukan hanya sebatas perasaan, melainkan penerimaan, kepercayaan, harapan, komitmen, konsistensi, tanggung jawab, dan banyak sekali hal lain yang kemudian ikut di belakangnya.
Orang bilang, belajar cinta itu jangan pada pasangan yang baru saja mencecap manisnya pernikahan. Apalagi pada remaja-remaja yang ala-ala “mengingatkan makan, mengingatkan shalat”. Tapi, belajarlah pada pasangan kakek-nenek yang sudah berpuluh-puluh tahun menikah dan tetap langgeng, berhasil mengarungi bersama manis pahitnya kehidupan. Siapa bilang mereka selalu harmonis di kehidupan rumahtangganya? Pasti tidak. Hanya mereka tahu persis bagaimana bersikap, dan sama-sama mengerti ada banyak hal berharga yang membuat mereka saling bertahan.
Lebih hebat lagi, belajarlah pada seorang Ibu. Tidak bisa dijelaskan lagi seberapa besar ia mencintai anak-anaknya.

#Begitu saja. Intermezzo pagi-pagi. Selamat berakhir pekan
Yogyakarta, 05.33

Selasa, 10 Juli 2018

Perempuan Itu Mulia

21.02 0 Comments

Perempuan itu mulia, dengan kepiawaiannya berbusana. Rapih dan menjaga. Tertutup dan tidak memikat mata.
Perempuan itu mulia, dengan ketundukan hatinya. Rumah ialah sebaik-baik tempat ia berteduh, dan menghadirkan berkah.
Perempuan itu mulia, dengan harga dirinya. Sebab ia adalah godaan terdahsyat yang ditinggalkan setan untuk sosok bernama pria.
Perempuan itu mulia, dengan rasa malunya. Sebagaimana di Negeri Madyan, dua wanita yang dijumpai seorang Nabiyullah Musa a.s ketika hendak menimba air untuk ternaknya. “Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan”.
Perempuan itu mulia, dengan baik agamanya. Ketulusan Menghamba pada penciptanya. Tahu bagaimana ia bersikap kepada dirinya - orang-orang terdekatnya : orangtua, saudara, suami, anak-anaknya, juga, orang-orang di sekelilingnya.
Perempuan itu mulia, dengan kebaikan hatinya. Kelembutan sifatnya. Kesejukan matanya. Keteduhan bicaranya. Dan bagaimana ia, pandai mensyukuri apa-apa yang dia terima.

Senin, 09 Juli 2018

Sumeleh

20.11 0 Comments

Sumeleh itu kelapangan hati dan ketulusan menerima.
Sumeleh itu berarti berserah, tapi bukan berarti menyerah.
Sumeleh itu mengakui tiada berdayanya kita, meyakini tiada berbatas kekuatan dan keMahabesaranNya.
Sumeleh itu melepas belenggu dan keterikatan terhadap sesuatu, karena sandaran hakiki itu terletak pada keMahaanNya.
Dan sumeleh itu tidak seketika. Tentu saja bercampur rasa dalam setiap prosesnya. Tanpa harus menyesali, melainkan dengan mensyukuri.

Source : Pixabay.com

Rabu, 27 Juni 2018

Menghadirkan Yakin dan Pasrah

23.51 0 Comments

Tidak ada do’a yang tidak pernah terkabul. Iya, hanya tertunda atau diganti dengan lebih baik. Itu saja rumusnya.

Pernah merasakan nikmatnya berdo’a? Saya pernah. Bahkan juga pernah merasa do’a benar-benar terijabah, dalam sekejap (dalam artian sesuai dengan doa kita, dan sesuai pula dengan waktu yang kita harap). Dan saya rasa kesemuanya, ketika do’a tersebut dalam kondisi beberapa hal :
1.  Yakin se yakin-yakinnya Allah akan mengabulkan
2.  Sadar sesadar-sadarnya bahwa diri ini terlalu banyak dosa, kemudian doa hampir penuh dengan permohonan ampun
3.  Berjanji dalam hati, setiap pinta dalam do’a-do’a yang terpanjat, akan menjadi jalan memperbaiki diri
4.  Pasrah, dengan tetap yakin Allah itu Maha Sayang Kok. Enggak mungkin enggak dikasih yang terbaik. Percaya aja, kalau enggak dikasih, tetap aja itu baik.

Nah, tapi ini tapi beberapa hal tersebut muncul karena kondisinya sangat terdesak. Beda rasa ketika do’a, ya hanya sekedar do’a saja (rutinitas formalitas) –Masih harus tetap disyukuri yaa, tetap jangan lelah dan berhenti berdo’a–. Terus gimana donk? Sering kali memang jatuhnya jadi rindu banget, rindu apa coba, rindu nangis. Rindu saat iman naik.

Akhirnya, dapet juga tips dari seorang teman. Beberapa hal yang mungkin bisa memperbaiki:
1.  Banyak istighfar
2.  Do’a Nabi Yunus waktu di perut ikan paus “Laailaaha illa anta subhaanaka inni kuntu  minadholimin”, pesan DR.Muslih ini adalah obat semua masalah
3.  Nyempetin dan berusaha nimbrung di kajian ilmu
4.  Puasa juga membantu melembutkan hati
5.  Sedekah
6.  Minta do’a orangtua
7.  Sempurnakan ikhtiar dengan shalat lima waktu tepat waktu, usahakan dzuha dan qiyamullail
Nb. Nah kalau saya kadang suka ngungsi ke masjid-masjid (agak) dan besar, suka aja dengerin adzannya, menikmati nunggu waktu iqomahnya, liat hirukpikuknya orang-orang shalat berjama’ah.  Biar trenyuh, itu dulu tujuannya.
Wallahu a’alam
***
Hampir tengah malam rupanya. Hari ini pilkada serentak yaa, semoga yang terpilih pemimpin yang taat dan amanah, dan dikelilingi orang-orang baik. Saya tidak nyoblos, tidak pulang. Masih ada yang harus dikerjakan di sini, besok sudah kamis, cepatnya waktu berlalu. Makin tua aja~eh
Source : Pixabay.com


Jumat, 22 Juni 2018

Proses Menjadi Orang yang Benar

06.56 0 Comments

Dalam buku berjudul “Bahagianya Merayakan Cinta” karya Ust.Salim Afillah, halaman 40, dituliskan intisari Ihya’ Ulumuddin karya imam Al Ghazali (yang diambil dari buku Tazkiyatun Nafs oleh Sa’id Hawa) mengenai proses menjadi orang yang shadiq, orang yang benar. Digambarkan disitu, ada empat cara, yaitu :
1. Shidqun Niyah
Berarti benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa tanpa memedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.
2. Shidqul ‘Azm
Berarti benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa
3. Shidqul Iltizam
Berarti benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqomahkan zikir, fikir, dan ikhtiar.
4. Shidqul ‘Amaal
Berarti benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.

Di paragraf ujung halamannya, penulis mengajak pembaca untuk merefleksikan proses menjadi orang benar ini termasuk dalam proses menuju pernikahan. –Jikalau sh-Shidq berarti kebenaran, kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia–

Dan semoga, setiap nasehat yang kita baca, selalu menjadi pengingat diri, menempa proses untuk menjadi lebih berarti. Aamiin
Source : pixabay.com


Kamis, 31 Mei 2018

4-4-3 atau 2-2-2-2-2-1

19.59 0 Comments

Sebagian dari Dialog pagi :
A : Shalat tarawih yang kita ambil nanti dua puluh tiga raka’at
B : Hehe, delapan aja, anak-anak juga milih delapan (sedikit bercanda)
A : Delapan itu boleh, asal raka’atnya 2-2-2-2-2-1 bukan 4-4-3. Karena, kaidahnya tidak ada shalat sunnah yang lebih dari dua raka’at salam (maksudnya salam di raka’at lebih dari dua). Jadi, setiap dua raka’at harus salam.
Saya : Noted Sebagai pendengar.
(Kalau di sekitar rumah, tarawih itu ya adanya cuma dua puluh tiga raka’at, dengan dua raka’at salam, dan dengan surat-surat pendek juz 30 bagian-bagian akhir. Sedangkan di sini, beragam. Ada yang 11 raka’at dengan salam 4-4-3, dengan salam 2-2-2-2-2-1, dan ada pula yang dengan salam 2-2-2-2-3. Ada yang 23 raka’at, tentu dengan dua raka’at salam. Ada juga masjid tertentu yang memfasilitasi 11 dan 23 raka’at, dengan perubahan imam di setelah raka’at ke-8 untuk melanjutkan raka’at hingga 23 ). Jadi?
***
Selain meminta penjelasan ke orang, akhirnya saya belajar dari mbah google (duh, jaman now banget ya). Karena, kalau dijelaskan orang saya hanya mendengar dan memahami sambil lalu, termasuk kalaupun disampaikan dalil-dalilnya, lupa semua. Nah, mbah google kasihnya tulisan, jadi ada waktu buat mencerna, membaca dan memahami pelan-pelan. Ada banyak yang saya baca, dan saya tuliskan kesimpulannya saja. Baca lengkap, klik linknya masing-masing.
#Shalat tarawih (plus witir) 11 raka’at, maka lebih bagus dengan pola 2-2-2-2-3. Untuk witir bisa dilakukan dengan 2 raka’at salam plus 1 raka’at salam atau 3 raka’at sekaligus salam.
#Meskipun dibolehkan shalat tarawih dengan 4 raka’at salam (kecuali madzhab syafi’i), namun kesemuanya berpendapat 2 raka’at salam lebih afdhol
#Lebih afdhol dikerjakan dua raka’at salam - dua raka’at salam. Namun, tetap ada dua cara : dua raka’at salam- dua raka’at salam sebanyak 10 raka’at, lalu satu raka’at dan empat raka’at salam-empat raka’at salam, lalu tiga raka’at
#Jumlah raka’at shalat tarawih empat raka’at salam dan dua raka’at salam merupakan tanawu’ dalam beribadah, sehingga keduanya dapat diamalkan
#Pelaksanaan shalat tarawih empat raka’at sekali salam tidak sah (berdasarkan ulama madzhab Syafi’i). Namun, tidak perlu mempersoalkan dan tetap menghargai pendapat yang mensahkan shalat tarawih empat raka’at dengan sekali salam
***
Jadi?
Melihat beberapa hasil yang saya baca di atas, shalat tarawih lebih baik dikerjakan dengan dua raka’at salam, 2-2-2-2-2-1. Semua madzhab membolehkan.
Nah, kalau di rumah yang sudah pasti hanya satu model shalat tarawih, tentu kita cukup bisa mengikuti saja. Sedangkan di sini yang beragam, kita bisa menentukan pilihan

Wallahu a’lam
Source : pixabay.com

Kamis, 24 Mei 2018

LAKI – LAKI yang SALING BERSAHABAT

04.46 0 Comments
Source : pixabay.com
Beberapa kali saya terkagum dengan dua orang laki-laki, yang tampak hangat bersahabat. Jarang, saya rasa. Seperti halnya saya terkagum dengan seorang suami yang cekatan membantu istrinya menyapu atau mencuci. Seperti halnya saya terkagum dengan seorang mas yang ramah mengajak bermain anak-anak kecil. Juga seperti halnya saya terkagum dengan kakak laki-laki yang memanjakan adik perempuannya. Kembali pada dua laki-laki yang bersahabat, romantis. Terkadang saya juga berfikir, tingkat kedekatan, keawetan, juga ketulusan mereka melampaui dua perempuan yang saling bersahabat, atau laki-laki dan perempuan yang saling bersahabat (katanya sih kalau ini tidak ada rumusnya, status sahabat hanya pengganti kondisi adanya udang dibaling bakwan :P). Walaupun kondisi-kondisi demikian, kenyatannya saya juga tak mengerti...

Rasa persahabatan itu ada, nyata sejak masa lampau. Beberapa kisah hangat bersahabat, masih lekat dan banyak dikenang, seperti kisah mereka...

Dua laki-laki. Salah satunya melangkahkan kaki terlebih dahulu, masuk ke dalam cekungan gua. Menelisik, meneliti dengan seksama setiap sudut untuk menemukan lubang-lubang bahaya. Beliau duduk, meluruskan kaki, menutup lubang tersebut dengan tubuhnya. Mempersilahkan lelaki yang beliau biarkan masuk kemudian, untuk merebah, dan istirahat di pangkuan. Tidak lama, hingga sengatan binatang berbisa mulai dirasa, perih tiada terkira. Tapi, tertahan, demi menghindari si lelaki di pangkuan yang begitu pulas memejam mata, terganggu dan terbangun karenanya. Ialah Abu Bakar Ash Shidiq dan Rasulullah saw, dalam perjalanan hijrah, dan singgah di sebuah gua bernama gua tsur...

Dua laki-laki bersahabat. Terlibat rasa dengan perempuan yang sama. Salah satu lelaki itu datang meminang, sungguh malang takdir sedang tak berpihak. Perempuan itu justru memilih lelaki lain, yang tidak lain tidak bukan adalah sahabatnya. Wajar, bila ia sedih, perih teriris-iris. Namun, yang keluar dari mulutnya adalah ikrar pemberian untuk sahabat tersebut, berupa mahar dan nafkah yang telah ia siapkan. “Cepatlah kalian menikah, saya siap menjadi saksinya”. Imbuhnya. Ialah Salman yang merelakan perempuan pujaan hatinya untuk seorang sahabat bernama Abu Darda’...

Dan akhir-akhir ini saya juga sering terharu, menyaksikan ulama-ulama bersatu, saling santun dalam mengungkap rasa, duduk bersama mencipta harmoni. Semoga menjadi sahabat karena iman. Semoga terus tumbuh generasi-generasi yang juga saling bersahabat karena iman...

Selasa, 15 Mei 2018

Bolak - Balik Dosa

23.46 0 Comments

Tak ada yang lebih menggelisahkan daripada dosa-dosa. Ia mencekami hati dengan rasa kecut, rasa takut, rasa perih terparut-parut. Sungguh baik yang demikian, jika membawa kita pada taubat yang menghebat. Tapi ketika yang dibawanya justru rasa putus asa, kita perlu menemukan penghibur yang sedikit melapangkan dada.

Duhai hatiku yang rindu tapi ragu, yang harap tapi malu, yang cinta tapi tersedu; kali ini, Ibn Qayyim Al Jauziyah yang berbicara padamu:
Apakah kaukira orang-orang shalih itu tanpa dosa? (Tidak) - Sungguh hanyasanya mereka itu menyembunyikannya, dan tidak mengumbarnya - Dan mereka itu beristighfar lalu berjuang untuk tak mengulanginya - Dan mereka itu mengakui kesalahannya tanpa mencari-cari pembenaran bagi dirinya - Dan mereka bersegera menyusuli perbuatan buruknya dengan kebaikan begitu menginsyafinya.
***

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az Zumar: 53)
"Tidakkah salah seorang di antara kami malu", tanya seseorang di majelis Imam Hasan Al Bashri, "Jika dia berdosa lalu bertaubat. Tapi berdosa lagi lalu bertaubat lagi. Dan melakukan maksiat lagi kemudian beristighfar lagi?
Sang Imam tersenyum. "Tahukah kalian maksud terbesar syaithan?", ujarnya. "Yakni agar kalian berputus asa dari rahmat Allah dan berhenti memohon ampun setelah mengulangi dosa. Maka jika dosa terjadi lagi, teruslah bertaubat. Maka jika maksiat terulang kembali, teruslah beristighfar."
Adalah Imam An Nawawi dalam Al Minhaj, syarahnya atas Shahih Muslim menyusun bab khusus berjudul, 'Bab Diterimanya Taubat dari Dosa-dosa, Meskipun Dosa dan Taubat itu Terulang-ulang’.
Beliau menjelaskan, "Setiap kali hamba mukallaf berdosa, hendaknya dia bertaubat. Dengan itu dosanya akan gugur. Jika maksiat terulang, maka dia juga harus mengulang taubatnya. Adapun dosa yang terulang-ulang dan baru ditaubati dengan satu taubat di penghujungnya, taubatnya juga sah."
Ini adalah kabar gembira yang harus diikuti khawatir. Siapa yang menjamin istighfar kita sampai? Siapa yang menggaransi taubat kita diterima?
Akhirnya, ungkapan Imam Ibn Rajab itu bergema lagi, "Jika kalian tak mampu bersaing dengan para shalihin dalam 'amal ibadahnya, berlombalah dengan para pendosa dalam istighfarnya."
Sebab kita wajib beristighfar saat merasa berdosa, dan berlipat perlunya istighfar itu saat kita tak merasa berdosa. Maka taubat kita masih perlu ditaubati, bahkan istighfar kita masih perlu diistighfari.
(Source : salah dua dari posting instagram ustadz Salim Afillah)
***
H-2 Menjelang Ramadhan guys