Follow Us @whanifalkirom

Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2016

(Resensi) Matahari

06.41 1 Comments

Judul : Matahari
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia
Tebal Buku : 400 hlm; 20 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2016
Harga : Rp. 82.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/)

Sinopsis Buku:  
Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.

Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.

Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.

Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.
***
Murni Copast dari blog teman, baca versi lengkap dan aslinya di sini
Belum baca nih, kalau ada yang punya boleh donk pinjam :) :) :)

Sabtu, 30 Januari 2016

(Resensi) Hujan

06.12 0 Comments
Tentang Persahabatan
Tentang cinta
Tentang perpisahan
Tentang melupakan
Tentang hujan




Sebuah kisah romantis masa depan, tahun 2050. Soke dan Lail. Aah, ini novelnya bikin baper.

“Takdir tanpa perasaan memilih siapapun yang dikehendakinya. Mungkin, keajaiban itu datang melalui pertolongan serta doa-doa dari orang yang tidak kita kenal” #Hal.41
“Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa” #Hal.63
“Kamu tahu Lail, tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian” #Hal.227
“Hidup ini juga memang tentang menunggu, Lail. Menunggu untuk kita menyadari kapan kita akan berhenti menunggu” #Hal.228
“Orang kuat itu bukan karena dia memang kuat, melainkan karena dia bisa lapang melepaskan” #Hal.228
“…..Tapi dalam banyak hal, kebersamaan tidak hanya dari sapa-menyapa. Jika kamu bersedia memperhatikan wajahnya sekali sajasaat melihatmu, saat  melirikmu, kamu akan tahu, Esok ingin sekali bicara banyak denganmu…” #Hal.247
“Ada orang yang sebaiknya menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baikjustru membawa kedamaian” #Hal.255
“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta” #Hal.256
“Ada banyak hal yang bisa saling dipahami oleh dua sahabat sejati tanpa harus bicara apapun” #Hal.271
“Lebih baik mendengar kebenaran meski itu amat menyakitkan daripada mendengar kebohongan meski itu amat menyenangkan…” #Hal.288
“Bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah-marah, tetapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri” #Hal.299
“Tapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan” #Hal.308
“Bukan seberapa lama umat manusia bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami” #Epilog. Hal.317

Selasa, 07 Januari 2014

Eliana

18.56 0 Comments
Novel Karya Tere Liye kembali menambah kesibukanku saat ini. Sebenernya, sudah agak lama tersimpan rapi dalam rak buku, tapi masih banyak buku-buku dan novel-novel lain yang belum terbaca sama sekali. Eliana. Buku ke-4 dari serial anak-anak mamak, setelah Burlian, Pukat, dan berikutnya Amelia.
Eliana, Anak sulung mamak. Tak berbeda dengan anak kecil pada umumnya, seringkali usil, juga jahil. Bermain ‘iseng’ bersama kawan-kawan, membenci teman kelas (namun pada akhir menjadi sahabat), membentuk genk bernamakan “tiga musang” (namun berganti menjadi “empat buntal”), mengeluh saat di suruh, dan berbagai ‘kenakalan-kenakalan’ lainnya.
Menjadi Anak mamak, yang galak. Menjadi anak Bapak, yang tegas berprinsip. Dengan pendidikan yang baik dalam keluarga, tumbuhlah ia menjadi anak jahil yang spesial.
Eliana sang pemberani. Ia berani teriak kencang demi membela kehormatan Bapak. Berkata dengan lantang “Jangan Hina Bapakku! Kami memang orang miskin. Baju ini juga lungsuran, di beli di pasar loak. Lantas kenapa? Apa itu hina? Kehidupan rendahan? Asal kau tahu, Bapakku tidak akan pernah menjual seluruh kampung kepada kalian”. Begitulah sepenggal luapan ‘marah’ Eli di tengah-tengah tegangnya perbincangan Bapak bersama pejabat provinsi kabupaten.
Eliana yang cerdas. Seluruh kampung tentunya tahu, ia anak paling pandai di dalam kelas. Tidak ada yang berani bersaing melawannya, kecuali Marhotap –Si pemalas dan Si jarang mandi- yang mendapat tantangan dari Pak Bin untuk mengalahkan Eli. Ia anak paling pandai di tempatnya mengaji. Nek Kiba –guru ngaji- sendiri yang membela Eli, tatkala ia memaksa mengumandangkan adzan demi mempertahankan kehormatan seorang wanita. Nek Kiba sendiri yang turun tangan menjelaskan kepada Eli, agama pun punya aturan main, hingga ia menyadari kekeliruannya. Perempuan tetap terhormat, meskipun tidak semua hal bisa dilakukannya, termasuk mengumandangkan adzan.
Eliana yang perhatian. Bahkan saat seluruh keluarga di rumah tidak menyadari mimik wajah Burlian yang berubah, Tingkah Burlian yang memilih diam saat semua berkumpul makan malam, pekerjaan Burlian yang ‘tersembunyi’ di kamar dengan pintu tertutup, Eliana lah yang  sigap sadar dan sibuk bertanya-tanya. Hingga pada akhir menemukan jawaban, bersamaan dengan seluruh keluarga dan warga kampung juga tahu sebab muasalnya.
Eliana yang jujur. Meskipun dalam berbagai kesempatan, bisa saja ia mengarang alasan untuk melindungi dirinya dari kemarahan orang lain, ia urung melakukannya. Memilih bilang yang sebenarnya, meskipun takut-takut beresiko ‘dimarahi’.
Eliana yang berjiwa besar. Segera sadar atas kekeliurannya berfikir mamak membencinya. Dengan hati menyesal, air mata menumpah tangis, memeluk mamak dari belakang, “Maafkan Eli, Mak”..
Eliana yang hebat. Cita-cita mulia ia kukuhkan. Menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Menjadi pembela orang-orang lemah dan tersisihkan. Menjadi pembela lingkungan hidup yang terancam. Berdiri paling gagah, paling depan, paling nomor satu.

Menurut saya, novel ini sangat bagus. Saya bisa berimajinasi, membayangkan bagaimana kehidupan Eliana beserta keluarganya di kampung (Karena saya juga orang kampung mungkin, hehe) . Keluarga sederhana, Sungai-sungai mengalir, hutan lebat, sekolah seadanya, minim SDM guru, dan lain-lain. Alur ceritanya runtut, mudah dipahami. Memuat pendidikan yang baik, profil keluarga dan warga kampung yang (layak) ditiru. Hanya saja, terkadang ‘agak’ membosankan dan ‘kurang’ membuat penasaran alias datar ceritanya. Bagi kalian yang belum membaca, recomended J

Ada beberapa petikan kalimat dan nasehat yang bagus dari novel ini,


Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan itu tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia. Kalian tidak harus membalas penghinaan dengan penghinaan, bukan? Bahkan, cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah, tidak perlu membalas"

“Kata tetua bijak, manusia memiliki sendiri hari-hari spesialnya Ada hari ketika ia dilahirkan, hari mulai belajar merangkak, hari mulai belajar berjalan hingga bisa berlari. Manusia tumbuh besar dengan hari-hari. Jatuh, bangun, sakit, sehat, tertawa,menangis, sendirian, ramai, sukses, gagal, semua dilalui bersama hari-hari. Tentu temask salah satunya hari ketika kita bertemu dengan pasangan hidup.”

“Masih ingat apa yang pernah Bapak bilang, Amel. Semakin benar sebuah cerita, semakin menyangkal orang-orang.”

“Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika itu memang cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali para pencinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.”

“Tidak ada urusan baik yang dilakukan dengan cara buruk. Tidak selalu hal menyakitkan harus dibalas dengan rasa sakit.”

“Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik”

“Nak, Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengrbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian”.

Kamis, 02 Januari 2014

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

01.42 0 Comments
Novel ini, 
Berkisah tentang cinta, cinta yang sama-sama tak tersampaikan. Seorang gadis kecil (Tania), diam-diam punya rasa (yang entah apa itu namanya) terhadap laki-laki dewasa (Danar). Dialah penolong sekaligus penopang hidup dari segala keterbatasan ekonominya, memberikan awal harapan baru untuk hidup terus maju.  Dengan janji Tania kala itu, untuk selalu menuruti apapun, asalkan dia yang meminta. Dengan tekad Tania kala itu, untuk berusaha memantaskan diri, dengan menjadi gadis dewasa nan cantik dan pintar.
Benar saja, Tania tumbuh sesuai harapan. Tetapi, kehidupan cinta tak selalu sesuai keinginan. Disinilah, ia memahami bahwa cinta tak harus memiliki. Ia memahami, bahwa ‘daun yang jatuh tak pernah membenci angin, membiarkan dirinya luruh begitu saja’. Dengan dukungan seorang adik (Dede) yang menjadi partner suka-dukanya, kini Tania memutuskan untuk pergi, jauh, demi kebaikan dirinya (Tania) dan dirinya (Danar)...
Selamat Membaca....


Sabtu, 13 April 2013

Totto Chan (A Goodwill Journey to the Children of the World)

18.51 0 Comments

“Aku Berdoa Untuk Kebahagiaanmu”
Dengan berjingkat-jingkat sepanjang bangsal untuk melihat keadaan anak-anak, aku berjalan dan berdiri disamping ranjang anak laki-laki di ujung barisan. Sepertinya ia berumur sepuluh tahun dan memandangku dengan matanya yang besar dan indah. Dokter mengatakan bahwa anak itu akan sembuh, tapi aku takut kata-katanya itu hanya untuk menentramkanku, karena kondisi anak terlihat sangat buruk.
“Sentuhlah dia”. Kata dokter. Jadi aku menyentuh kakinya yang kurus, tulangnya terlihat jelas. Kakinya keras dan kering, sama sekali tidak terasa seperti kaki manusia. Itulah ciri penyakit tetanus. Otot-otot kaki jadi kaku dan semuanya mengejang. Anak itu sedang demam dan sangat menderita.
Ia terus menatapku, jadi aku berkata dalam bahasa Jepang “Dokter sudah melakukan sebisanya untukmu, dan katanya kau akan segera sembuh. Jadi, bergembiralah, karena semuanya akan baik-baik saja!”.
Anak itu berusaha keras mengatakan sesuatu. Saat itulah aku melihat ternyata bukan hanya kaki dan tangannya yang kaku, tapi juga yang lain, termasuk bibir, lidah, bibir, pita suara, dan rahangnya. Meskpun demikian, anak itu mengerahkan seluruh kemampuannya dan berhasil mengatakan sesuatu. Aku bertanya pada perawat apa yang dikatakan anak itu. Perawat memberitahuku bahwa anak itu, yang tampak sekarat berkata padaku “Aku berdoa untuk kebahagiaanmu”.
***

Selasa, 01 Januari 2013

Ayahku (Bukan) Pembohong

12.33 0 Comments
Bercerita tentang seorang anak (Dam) yang setiap hari diperdengarkan dongeng-dongeng ayahnya. Hingga Dam mulai tumbuh dewasa, mulai berpikir,  bagaimana mungkin dongeng ayah adalah nyata? Bagaimana mungkin ayah mengenal sang kapten, sang juara dunia, sementara ayah justru menghindari saat jarak semakin mudah untuk direngkuhnya. Bagaimana mungkin ibu seorang bintang televisi yang ternama, sementara saat ini rela hidup begitu sederhana tanpa kemewahan apaun. Ya, kini Dam semakin yakin untuk membenci ayah, yang hanya terus berusaha membesarkan anak melalui kebohongan-kebohongan..
Semakin membenci ayah, saat tahu ayah tak melakukan apapun saat ibu jatuh sakit, keras, hingga akhirnya tiada, dan bahkan ayah tetap bersikeras bahwa ibu bahagia..
Dan waktu semakin membawa dirinya ke dalam peran berbeda. Hingga di detik terakhir sang ayah menghirup udara dunia, dalam kondisi bicara yang lemah terbata, meminta untuk bercerita sebuah dongeng terakhir, “danau para sufi” -ajaran tentang hakikat sejati sebuah kebahagiaan. 
“Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih”
Ya. Ayah menutup mata. Terpukau sudah, terdiam menatap tak percaya. Sang kapten benar-benar datang untuk memberi hormat dan berbelasungkawa.. Sejak itu, Dam tahu bahwa ayah memang tak pernah berbohong.....
_Selamat Membaca & Sampaikan Salam Cinta Untuk Ayah_