Follow Us @whanifalkirom

Tampilkan postingan dengan label kkkk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kkkk. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 November 2021

Je_lek vs Je_lita

23.11 0 Comments

 


Ayah : “Rara Can……..”

Rara : “….tik”

Ayah : “Rara, kalau ibu Je…….”

Ibu : “Iya iya, ibuk jelek. Ayah ga boleh gitu ngajarin anaknya. Ngajarin tuh omongan yang baik-baik”

Ayah : “JELITA maksudnya. Gitu kan kalau orang bawaannya su’udzon terus”

Ibu : (ngakak. Tenang, sampe sekarang tetep ga percaya sih kalau belio emang niat mo bilang jelita)


#kisahkeluargakecilkami

Minggu, 26 September 2021

Gelang Karet

22.12 0 Comments

 


Cuma gelang karet ya. Ah kayaknya ada lah. Satu doang

Menjelang malam kucari-cari keberadaannya, dari ruang tamu sampai dapur. Dan ga kutemukan. Besok pagi kegiatan anak di kelas butuh karet, Cuma satu sih. Eh suami meluncur dong ke warung padang, beli nasi bungkus. Padahal yang kubutuhin karetnya, bukan nasinya. Padahal yang bertugas ngajar bukan aku, tapi partner satu kelas. Cuma kalau ga persiapan ya gimana gitu.

Daripada besok bagi ngedumel”. Katanya

Ah MasyaAllah si Bapak satu anak ini.


#kisahkeluargakecilkami

Rabu, 10 Februari 2021

Terimakasih

00.06 0 Comments

 

Terimakasih untuknya.

Yang selalu memastikan hari-hariku berjalan baik-baik saja, mulai bangun tidur-hingga kembali tidur.

Yang selalu mengorbankan waktunya, selalu pulang di sela-sela jam kerja, demi aku yang memintanya untuk menjaga Rara sebentar saja.

Yang selalu lembut, tidak pernah menyuruh ini-itu, bahkan memintaku menjahitkan celananya yang sedikit robekpun tidak.

Yang selalu menemaniku kala aku tidur larut, tidak mempermasalahkan kala aku terlambat bangun.

Yang tidak pernah protes sama sekali aku tak masak, tak menyiapkan makanan apa-apa di rumah, kemudian mengalah keluar membeli sesuatu untuk dimakan.

Yang dengan mudahnya membantu mencuci baju, mencuci piring, menyapu halaman, membersihkan kamar mandi. Tapi tak pernah lipat baju, karena bagiku lipatannya tak pernah rapi. Hehe

Dia memang banyak kurangnya. Banyak juga sikap yang aku tak menyukainya. Samahalnya aku, tentu. Tapi terimakasih, selalu menjadi laki-laki yang selalu belajar menjadi lebih baik setiap harinya. Mari selalu bahagia. 💗💗

#kisahkeluargakecilkami

Kamis, 23 April 2020

Awal Weefha

11.05 0 Comments
16 Maret, hari pertama siswa belajar di rumah, tapi seluruh educator masih masuk. Hari-hari berikutnya, kami masuk bergantian. Seminggu kemudian, full semua educator melakukan pembelajaran dari rumah masing-masing. Masa pandemi seperti saat ini, Madrasah tempat saya mengajar terbilang awal mengeluarkan surat edaran untuk meliburkan siswa-siswa beserta gurunya. Eh, bukan libur, bukan. Belajar di rumah. Bukan hal mudah bagi kami (lebih tepatnya saya ding) menjalani keadaan seperti ini. Sebagai educator, yang Alhamdulillah difasilitasi Madrasah untuk beradaptasi dengan cepat, menjalani ritme yang jauh berbeda dari sebelumnya. Pembelajaran berganti melalui video yang diunggah melalui channel youtube, bertemu muka briefing alias meeting melalui zoom, stay melayani per-online nan whatsapp grup kelas sedari pukul 09.00-17.00, nge-submit daily report melalui google form tiap sore, daaaaannn disamping itu, karena kerja dari rumah, artinya di saat yang sama saya merangkap sebagai seorang istri, dan ibu.
Bosan? Tentu. Berkali-kali saya punya niat untuk mudik kampung halaman (mudik atau pulang kampung yaa?), tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, urung. Berkali-kali mengajak keluar suami hanya sekedar berkendara sepeda motor, mengelilingi jalanan, tanpa singgah kemana-mana. Berkali-kali kami meributkan hal-hal yang tidak penting, soal manajemen waktu yang bagiku amburadul banget. Berkali-kali, bertanya dan menebak-nebak sampai kapan keadaan seperti ini akan berakhir (tapi tak terjawab).
Sabar”. Pada akhirnya kata itulah yang kemudian keluar sebagai jurus pamungkas. Bisa jadi, saya sering berharap untuk kembali ke rutinitas mengajar seperti biasa, namun bagi mereka yang masih harus berangkat bekerja, mungkin justru sebaliknya. Menginginkan berkerja di rumah karena lebih aman, dan tidak lagi was-was. Karena, keluar rumah berarti lebih rentan tertular. Itupun masih harus bersyukur, masih bekerja. Banyak di luar sana yang sedang bingung harus bagaimana karena mereka menjadi korban PHK, ataupun usaha kecil lain yang terdampak dan harus off sementara. Kita semua berproses, kita semua akan menjadi lebih baik. Yakini saja.

Positifnya, Rara fulltime bersama emak-bapaknya

Jumat, 28 Juni 2019

Pengingat Kebersamaan

18.33 1 Comments


Aku tidak tahu dalam kehidupan pernikahan orang lain. Tapi, yang seringkali terjadi dengan pernikahan kami, pihak yang harus ‘menang’ adalah aku, pihak yang harus ‘kalah’ adalah suami. Begitu pula dengan pihak yang harus ‘benar’ adalah aku, pihak yang harus ‘salah’ adalah suami. Pihak yang berhak ‘marah’ adalah aku, pihak yang harus ‘sabar’ adalah suami. Padahal –mah- ya tahu sendiri lah,...
Apa yang quotes bilang memang benar, jika perempuan salah, kembali ke pasal satu (perempuan selalu benar)… #Semoga ini bukan mengumbar aib yaa, kami sedang sama-sama belajar. Hehe

Ada hal yang seringkali aku ingat,
Suatu kali suami hendak bepergian, dan keadaanku sedang marah. Beliau tak segan-segan mengatakan “Aku mau pergi, kalau ini pertemuan terakhir kita gimana?”. DEG. Pernyataan yang sungguh aku tidak suka. Pernyataan yang seketika membuat hilang semua amarah. Meski sambil tetap sedikit gengsi untuk berbaikan, tapi hey ini sambil menahan air mata loh. Tidak terbayang, bagaimana menyesalnya andai hal itu benar terjadi.

Padahal, sejatinya setiap kita memang sedang menunggu antrian untuk ‘pulang’. Entah kapan, entah siapa yang terlebih dulu meninggalkan, entah siapa yang akan kehilangan. Setiap kita, pasti akan memiliki perjumpaan terakhir dengan orang-orang yang kita kasihi.

Maka, semoga akan terus menjadi pengingat, bagaimana cara kita merenda kebersamaan untuk hari-hari selanjutnya. Sebelum terpisah sejenak, dan semoga dijumpakan lagi kedalam surgaNya. Aamiin

Selasa, 05 Februari 2019

😍

07.47 2 Comments

Misua    : “Nggak nyesel nikah sama aku?”
Aku        : “Kenapa tanya gitu? Lah kenapa aku harus nyesel?”
Misua    : “Kamu kan banyak lebihnya”
Aku        : “Lebih dari mananya?”
Misua    : “Tuh lebih tua misalnya”
Aku        : “Oooh… Baiklaaah... (geram.wkwkwk)”
Hanya percakapan di suatu hari. Karena mau menulis yang romantis sedang tidak beride. Hehe. Terimakasih untuk tiga bulan bersama. Terimakasih juga, untuk yang kemudian sudah hadir menemani kami. Sehat-sehat di perut yaa :)