Follow Us @whanifalkirom

Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 November 2021

😢

23.49 0 Comments

 



Satu tahun lalu.

Bapak,

Saat itu semua anak Bapak pulang ke rumah, tapi kami berduka

 

Semoga Allah lapangkan kubur Bapak.

Semoga anak-anak Bapak tidak mengecewakan Bapak.

Semoga kelak, kita semua berkumpul kembali di surga, bersama Bapak.

 

Aamiin

Kamis, 30 Agustus 2018

Untuk Desi

14.24 0 Comments

Entahlah, ini akan menjadi surat ke-sekian yang sampai ke tanganmu. Tujuh? Enam? Tidak ingat persis.

“Mau minta apa?” Tanyaku hari lalu. “Surat”. Katamu. Dan kau akan tunggu, di sini (jangan lupa tinggalkan pesan-ala ala ngiklan).
Sejujurnya, pikiranku sedang habis ide untuk merangkai kata-kata. Sudah lama tidak baca novel Des, hehe. Tapi, pada akhirnya, aku banyak menulis sembari berkereta. Dan mengesankan.

Entah sampai mana perjalananku kali ini, sejenak kutengok di balik kaca. Pepohonan berjajar rapi, tidak rendah tidak pula tumbuh begitu tinggi. Hamparan sawah kering, padi-padi yang tampaknya usai dipanen, juga, bukit-bukit kecil tumpukan jerami yang menguning.

Apa yang harus kusampaikan padamu, sholihah?
Ucapan selamat? Ah, apalah arti bilangkan angka yang semakin menua. Bilangan angka hanya akan berarti bila bilangan amal baik juga bertambah dan bernilai di mataNya
Pujian? Ah, apalah arti pujian. Sedang antara kita sudah sama-sama tahu, sama mengerti, tentang baik-buruk juga kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hakekat terpenting adalah penerimaan yang tulus bukan?
Nasehat? Ah, apalah arti ucap nasehat yang berurai-urai. Sedang sepanjang hari, di setiap detik-detik yang terlewati, kita sama-sama sedang belajar mengambil nasehat.
Do’a? Jangan kau tanya lagi soal ini. Betapa doa yang mengudara selalu menjadi bagian yang paling kunanti dan yang paling menenangkan hati. Maaf jika tak sepanjang doaku mengingatmu, tapi percayalah, wajahmu kerap muncul, namamu tetap sering, harapanmu tetap coba kuurai.

Baiklah. Mari kita mengingat kenangan saja. Tentang Saksi-saksi bisu.

24. Kali pertama kita bersua sepertinya kau masih berbilang belasan ya, 18. Enam tahun sudah berlalu. Kos Maskulin. Kamar dekat pintu, tetanggaan. Embah dan pisang. Bakso kharisma dan boncengan motor bertiga. Televisi dan berebut Jodha. Jilbab putih yang “katamu” mau kausimpan sampai nikah. Mulai dari Tutut; Ainur-Kikip sampai Intan-Maya, teman-temanmu. Rupanya temanku yang kau ingat di luar kepala hanya tunanganku Shinta. Hehe. Mulai dari siapa lagi Des? Perlu kusebutkan? Ah, kalau soal ini aku pura-pura lupa saja, pilihanmu, dan tetap kau yang memilih. Asrama Dafa dan Mbak Ulfi (yang kemudian jadi tetangga juga). Soto dan Pak Genit. Tahsin bareng yang “gagal”. Ngajar Tpa yang “wacana”, hehe. Ohiya, yang pasti, gamis-gamis yang membuatku merasa “cantik”. Satu lagi, aku masih boleh jadi “bulek” kan ya?

Berikutnya, mari tetap mencipta kenangan. Mari tetap saudaraan. Mari tetap deketan. Mari tetap saling beriringan jalan, hingga sampai dan tinggal di surga, dan disana tetap sahabatan.

#14 : 08
#Perjalanan Purworejo-Jakarta
#24 (+1hari) Usia Desi (sholihah yang –semoga- segera nikah –biar malaikat juga mengaminkan untuk yang nulis-)
#Terimakasih untuk enam tahun kita saling mengenal. Jangan lupa, masih ada janjimu mau jadi panitiaku. Jangan pulang dulu. Hehehe

Senin, 30 Juli 2018

☺

00.43 0 Comments

Luluk  : Mbak, kenapa tangannya pake nge gass gitu? Pelan-pelan lah Mbak, nikmatin perjalanan
Me       : Nggak sadar ini, ingatkan laah.
Luluk  : Aku tu perhatian lho Mbak. Aku tu seringnya liat Mbak Hanif kalau keluar buru-buru terus. Giliran sampai kos stress di depan laptop sambil uring-uringan harus ini itu, wajahnya jelek tertekan. Makanya kalau lagi di luar santai aja. (Tapi tertawa coba dia, kan aku jadi nggak ngerti sebenarnya mau dia empati atau melucu)
Me       : Luk, Luk, tengok-tengok atas, ada bintang satu yang gede tuh. Cantiiik. Jadi pelan-pelan aja memang yaa, sambil liat bintang...
Luluk  : Mbak Haaaniiif (mode menangis). Kenapa segala hal romantis yang kutemukan selaluu bersama Mbak Hanif. Lagi dimana jodohku siih? ngapain aja dia?
Me       : Ayo Luuuuk, sebelum bertemu dia, latihan menikmati perjalanan kayak gini dulu lah kitaa
Luluk  : Ayok Mbak mari latihan
Me       : (Tepuk jidat -padahal yaa sambil ngikutin luluk tanya, “lagi dimana jodohku siih? ngapain aja dia?”. Haha)
#Dan ini pun berlanjut ketika melihat bulan yang bulat sempurna, di tengah perjalanan melewati labirin-labirin perumahan TNI AU, bersama lampu-lampu yang menghias sepanjang jalan.
***
Terimakasih adek cantiik, yang selalu menemani tiap akhir pekan. Dari ikut pulang ke rumah, duduk di teras sampai malam menahan dingin, melihat bintang-bintang yang jaaaaauh lebih banyak dibanding melihatnya di Jogja. Ikut menemani ke walimah adik sepupu, jadi tukang jeprat-jepret. Ikut membantuku ke madrasah buat lembur-lembur dekorasi kelas padahal hari juga ahad, rela kusuruh-suruh naik meja menempel kertas di dinding hanya karena kamu lebih tinggi. Menarik-narik kasurku hanya gegara menagih janjiku untuk mengajakmu ikut kajian (yang sebenernya aku spechless kau mau kajian, haha). Selalu mengalah ketika harus menentukan tempat beli makan. Bahkan membantu menyetrikakan bajuku meski sambil misuh-misuh gegara aku sibuk dengan telpon dan hape terus, jadi nggak selesai-selesai yang bikin kamu pusing mata katanya (Tapi ini mah cuci piring juga semua jadinya aku, padahal siapa yang janji mau cuci coba).

Iya, tiada hari tanpa melewatkan tawa, jika bersamamu. Meski salah satu diantara kita sedang menyembunyikan kesedihan. Terimakasih sudah mengatakan “Mbak Hanif kalau sedih  bilang-bilang yaaa, nanti aku datang”. Senang, kamu memilih  berada di sini lagi, setelah sekian lama menghabiskan waktu di kampung halamanmu.

Kalau kamu sering bilang “Mbak Hanif tuu nggak sayang”, hehe sayang kok aku sayang. Meskipun tiap ketemu kamu selalu “menghinaku”puuun “Mbak Hanif tuu kudet (padahal masalahnya cuma aku minta diajarin  belanja olshop-olshop gitu, memang nggak pernah)”, “Mbak Hanif itu apa sih yang dipunya (gegara aku ga punya manset buat dipinjam), “Mbak Hanif, jangan biarkan nanti mertuanya Mbak Hanif nyesel anaknya kayak nikah sama simbah-simbah (gegara sering lupa kalau ditanya harga sesuatu), daaan laain-laain. Hehe.

Terimakasih adek J
Yogyakarta, dan malam sudah (hampir) larut


Kamis, 19 Juli 2018

Tak Mengapa

23.50 0 Comments
Cicak – cicak di dinding, diam-diam berdzikir
Datang seekor nyamuk, hap, Alhamdulillah

Kau dengar Nak, bahkan cicak saja berdzikir. Mungkin dia juga beristighfar. Kenapa kamu tidak? Selalulah mengingat RabbMu, supaya selalu tenang hatimu...

Tak mengapa kau banyak khawatir...
Kau khawatirkan dosa-dosa yang tak terbilang bagai debu-debu beterbangan. Tapi bahkan janji Allah akan luasnya ampunan melebihi dosa-dosa yang terkumpul seluas semesta bumi dan langitNya. Jangan berputus asa memohon ampunan, jangan lelah untuk bertaubat. Selama nyawa sebelum sampai tenggorokan, maka kau masih bisa memohon sebaik-baik sisa usia, dan husnul khotimah di penghujung hayatnya.
Kau khawatirkan waktu-waktu yang berlalu tanpa ada sedikit saja perbaikan diri. Sejatinya kau hanyalah kumpulan hari, jika satu hari terlewati tanpa ada yang berarti, bukankah kau merugi? Mari selalu sejenak ambil jeda, berpikir ulang ke arah mana ‘kehidupan’ yang hanyalah ‘persinggahan’ ini hendak kau bawa? Apakah dunia masih bertahta manis di hatimu?
Kau khawatirkan amanah-amanah yang mengiringi langkahmu. Berat terasa untuk memikulnya seorang diri. Ragu merasuk menggoyahkan hati. Tapi bahkan Allah berjanji, setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah kesulitan ada kemudahan. Tidak ada beban melebihi batas kesanggupan. Lakukan saja apa kewajiban yang seharusnya kau lakukan, biarlah Allah yang mengurus sisanya.
Kau khawatirkan dua malaikat yang usianya semakin senja. Sementara balas budi apa yang bisa kau berikan padanya? Tidak ada. Seberapa keras kau berusaha, tiada pernah berbanding dengan secuil cinta yang mereka limpahkan. Karena itu, yakinlah upaya remah-remahmu, semoga sedikit bisa membuat mereka bahagia. Bertanya kabar, bersering pulang, berbagi suka, dan paling penting, bawalah mereka dalam doa. Bukankah tempat berkumpul paling dinanti hanyalah surga?
Kau khawatirkan laki-laki masa depan yang sama sekali tak tertebak siapa dan kapan hadirnya. Kau boleh saja istiqomah pinjam nama seseorang dalam doa, dan berharap ia akan berjuang, berproses, belajar, serta menua bersamamu, tapi jangan pernah sekali-kali memaksaNya. Pastikan dalam doamu, masing-masing kelak, kau dan juga dia, akan bahagia dengan siapapun pilihanNya. Terlepas pada akhirnya kalian memang ditakdirkan bersama ataupun tidak. Selalulah ingat, yang baik akan dipertemukan yang baik. Allah lebih kuasa mengatur itu.
Kau khawatirkan...
#Masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran lain, bukan? Sekali lagi tak mengapa. Allah selalu ada
#Masih labil, masih suka pecicilan, masih suka ga jelas? Juga tak mengapa, yang penting selalu belajar
#Terkadang ketika mengingat waktu, ingin kembali ke masa kecil dahulu, ketika hidup sudah sangat bahagia hanya dengan bermain bersama ibu. Atau. Membayangkan masa depan, dengan keluarga kecil yang (meskipun) sederhana, akan sangat bahagia, karena iman dan kasih sayang tumbuh subur didalamnya.

Sabtu, 14 Juli 2018

😊

18.44 0 Comments

Anggap saja aku sebagaimana rumah, sejauhmana kau pergi, ia adalah tempat paling nyaman untuk pulang dan kembali. Meski mungkin, warnanya semakin pudar, dindingnya semakin rapuh, atap gentingnya semakin menipis. Pulanglah jika ingin. Kembalilah jika kau lelah, dan ingin istirahat meski sejenak saja. 


Purworejo, rumah berjuta cerita

Jumat, 13 Juli 2018

Tentangku

03.43 0 Comments

Aku tidak pernah lari
Aku tidak pernah pergi
Aku masih berdiri, di sini

Aku tidak pernah hilang
Aku tidak pernah lebur menjadi bayang
Aku masih seperti sediakala diam, dan tenang

Aku tidak pernah berubah
Aku tidak pernah membelokkan langkah
Aku masih tetap pada mula, tak berbalik arah

Hanya saja aku tak ingin menanti
Hanya saja aku tak ingin resah terulang
Hanya saja aku tak ingin diriku lupa berbenah

Dan satu hal yang pasti, aku khawatir
Jika ia tumbuh lagi untuk kedua kali, maka ia akan menetap di hati, dan bertahan
Maka, sebelum kutahu di mana tempat dan waktu yang tepat, kuusahakan menjaga untuk tidak menabur benihnya. Daripada ia tumbuh, namun harus melayu seiring waktu. Daripada ia tumbuh, namun harus dipangkas dan dicabut hingga akarnya.
Lebih baik pasrah. Lebih baik berdo’a. Jawaban terbaik adalah mengikuti pilihanNya
Karena terkadang, perempuan itu, terlalu setia.
Apalagi segala tentangmu,pula kebaikanmu, aku yakin masih akan sama.

Yogyakarta, 03.11 dini hari



Rabu, 11 Juli 2018

Lirik (4) : Kasih Sayang

04.40 0 Comments

Kasih Sayang
(Raihan)

Kasih Sayang Itu Titi
Kasih Sayang Penghubung Hati
Kasih Sayang Itu Tali
Kasih Sayang Pengikat Diri

Dari Kasih Timbul Simpati
Dengan Sayang Ada Persaudaraan
Kerana Kasih Ingin Berbakti
Saling Sayang Ma'af Mema'afkan

Kasih Sayang Itu Baja
Kasih Sayang Penyubur Jiwa
Kasih Sayang Itu Penawar
Penguat Cinta Penghapus Duka

Kasih Manusia Sering Bermusim
Sayang Manusia Tiada Abadi
Kasih Tuhan Tiada Bertepi
Sayang Tuhan Janji-NYA Pasti

Tanpa Kasih Sayang Tuhan
Tiada Simpati Tiada Persaudaraan
Tanpa Kasih Sayang Tuhan
Tiada Bakti Tiada Kema'afan

Kasih Sayang Pada Semua
Kasih Sayang Sesama Kita
Kasih Sayang Oooo Dunia
Moga Selamat Di Akhirat Sana
***
Mengenal lagu ini, sejak duluuu sekali, sewaktu Raihan sedang populer-populernya. Sudah suka, liriknya cukup meneduhkan. Apalagi Mas kalau pulang juga suka bawa kaset nasyid-nasyid begitu. Nah, sebenarnya ada yang teringat kalau ndengerin lagu ini. Saya pernah kirim lagu ini ke Shinta, niatnya sih biar “so sweet” gitu. Eh setelah itu, dianya misuh-misuh coba, katanya udah berjuang downloadnya loading lama (maklumlah satu lagu full), setelah berhasil enggak mudeng lagu apa itu. Hhe, maklum sih dulu beliau mah cuek bebek, ceplas-ceplos nyebelin pula, kalau menolak langsung to the point banget nget, belum so sweet kayak sekarang. Belum lembut kayak sekarang. Yaa yaa yaa, jadi kalau mau belajar ‘proses’ bisa bisa lah belajar ke dia. Kalau sekarang saya kirim, mungkin beda respon. Hehe

Kenapa tetiba ingat lagu ini? Kalau mengingat sebuah kenangan itu, biasanya sedang mengumpulkan kepingan hati yang hilang. Mengafirmasi. Ehcielah

Jadi, ada yang suka sekali panggil aku “Mbak Sejuk”, nggak tahu aja itu orang, sebenarnya hatiku sedang kusut (dan keruh). Seperti kemarin pagi, datang-datang saya sudah memberondong pertanyaan ke teman-teman. “Bu Aiz, liat wajahku, keliatan sedih nggak?” “Bu Vera, aku lagi sedih lho, nggak keliatan po?” “Bu Hesti, bantu akuu lagi sedih”. Daaan jawabannya, “Nggak Bu” “Nggak tu, sumringah gitu”, “Bu Ayu ki apaan sih, aku jadi lupa to mau nulis apa. Sedih darimana ngguya ngguyu gitu”. Haduh duuh. Tapi it’s oke, cukup menghibur, toh kalau ditanggepin serius aku yang malah berujung diam. Susah bagiku mengungkapkan, tapi susah juga buat menyimpan. Keluar tapi bukan mengumbar. Yaa seperti itu contohnya. Atau kalau lagi gemes biasanya cubit-cubit orang sampai dianya bingung. Atau, menulis, itu obat paling mujarab. Hehe

Sebenarnya, waktu itu sedang sedih memang, sedikit.

Oke, selamat belajar dari yang sudah berlalu yaaa... Alhamdulillah, detik ini hatiku sudah utuh. Mari berkarya, sibukkan diri dengan yang baik-baik. Mumpung masih single katanya. Hehe *Eh eh kalau sudah menikah juga tetap sibukkan dengan yang baik-baik (kan sudah ada partner, bersama belajar dan berproses menjadi baik, begitu). Uhuk
Source : Pixabay.com
03.50 dini hari, Jogja dingin lagi..

Selasa, 10 Juli 2018

☺

21.32 0 Comments

Mas Singgih : Ada satu bahasa orang SDM itu, “kamu adalah rata-rata dari lima orang temanmu
Me : Maksudnya?
Mas Singgih : Ya kamu itu nggak jauh beda sama lima teman kamu. Orang pasti bergaul sama yang serupa-rupa. Misal nih, orang gajinya lima ratus ribu sebulan ya nggak mungkin bergaul sama orang yang gajinya lima puluh juta sebulan
Me : !2$#SFTQ^$@*&&@WHSB
#Semoga rerata utama dari lima itu, adalah shoihah
#Sisalebaran

***

Me : Kapan jadi nikahnya si “A”?
Si Emak : Nggak jadi katanya. Makanya gek ndang nduk, nek udah ada. Tuh kalau pacaran kelamaan
Me : (Aman. Aku kan nggak pernah pacaran toh :P)
#Semoga Allah hadirkan orang yang tepat di waktu yang tepat
#Sisalebaran

***


Fadhil : Mesakke banget lah taaaanttt... (gayanya fadhil sok manggil tante, aih)
Me : Iya mesakke to Dhil
Fadhil : Sini sini tak tetring
Me : Mantap
Elisa : Passwordnya apa Dhil?
Me : Enggak berpassword
Nana, Hakim, Yaya, Anas : Ngikut aahh, tu Luhur juga mau (Tertawa rame-rame)
Fadhil : Gapapa laah, kan sedekah. Dulu pernah iseng aktifin, langsung dua belas connected coba
Me : Dhil, kamu suamiable banget tenan (Tapi ini emang iya kok)
Fadhil : Ah enggak juga
Me : Beneraaan
Fadhil : *Langsung lempar tissue* #Nggakjadisuamiable. Hehe
#DemiSinyal
#Sisalebaran


***


Me : Mau kemana?
Si Emak : Ke warung beli gula
Me : Ayok tak anterin
Si Emak : Alah, nggak usah
Me : Pokoknya tak anteriin
Si Emak : Manasin sama ngeluarin motor kalau buat jalan udah sampe warung
Me : Gapapa, pokoknya tak anteriiiin, titik
Si Emak : (menunggu)    
Me : Ngerti nggak kenapa aku mau nganterin? (Udah sambil jalan)
Si Emak : Alah opo neh, yo golek sinyal
Me : (Tertawa, ngerti banget coba) – (Jadi, kenapa di warung itu sinyalnya selalu lancar sedang di rumah susah kali)
#DemiSinyal
#Sisalebaran

***
Berkesan atau tidak, ada moment yang kadang teringat begitu saja #latepost

Minggu, 08 Juli 2018

Untuk Mia

22.20 2 Comments
Miaa, gapapa kan yaa, nggak ada surat apapun yang ‘sweet’ gitu tadi. Ternyata di rumah terlalu tidak mendukung untuk menulis. Hehe. Aku yakin suatu hari kamu bakal baca ini (lah, temenku yang rajin nge-blog juga cuma satu ini).

Sebelas tahun itu, lama atau sebentar menurutmu? Sama seperti yang kamu bilang, kamu juga, masih menjadi orang yang ‘sama’, selalu hangat dan menyenangkan. Tidak sepertiku justru, sikapku bagai musim yang sering berganti. Hangat tiba-tiba, dingin seketika, kadang menyenangkan, tapi di banyak waktu menyebalkan. Terimakasih untuk sebelas tahun kebaikan hatimu (dan tentu tahun-tahun berikutnya), yang aku banyak belajar...
***
Kamu perlu tahu, aku hampir saja mengundang “Ayooo Mi, berkunjunglah ke Jogja lagi. Lama sudah kita tidak jalan bareng. Barangkali Boko sudah berubah”.
Belum terucap, dan kamu sudah duluan membuka percakapan.
“Hanif, jangan kaget yaa”.
Enggak Mi, enggak kaget, cuma pengin nangis, dan tertahan. Beneran
“Berhubung kamu salah satu sahabatku yang kusayang, jadi...........”
Mendadak aku menyesal kita bertemu. Pura-pura saja undangan itu tidak pernah kuterima. Sayangnyaa, kamu terlalu mengerti perasaanku, perasaan yang sungguh ‘gado-gado’ dan sangat ‘nano-nano’. Kamu terlalu memahami.
#Tapi, tidak mengapa bukan, jika di banyak waktu aku masih akan ‘mengganggumu?’. Meski aku faham, banyak hal dalam hidupmu yang pasti berubah, sepertihalnya taatmu kepada siapa yang sekarang harus berpindah.
***
Kamu juga perlu tahu, suatu kali kamu pernah bertanya “Yang penting, kamu ikhlas tidak, jika seseorang itu bersanding dengan orang yang tidak lebih baik dari kamu”.
Kamu bilang itu pengalamanmu. Tapi itu bukan pengalamanku, kataku dalam hati, pada detik itu. Tapi kini aku mengerti, ternyata jawabannya memang sama sekali tidak yaa. Akan jauh lebih sangat ikhlas jika seseorang itu bersanding dengan orang yang (juga) jauh lebih baik dari kita.
#Karena itu, cara terbaik adalah selalu merayuNya dengan do’a bukan? Sebagai perantara harapan, agar siapapun yang dihadirkan adalah yang terbaik menurutNya dan baik pula dalam penglihatan kasat mata manusia
***
Akhirnya hari ini datang juga. Teriring do’a Baarakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir, Mia dan suami.. Bersamanya sesurga ya Mi

22.17 Waktu Yogyakarta

Rabu, 04 Juli 2018

☺

23.23 0 Comments

Seperti biasa malam yang berlalu, selayaknya hari-hari yang terlewati. Suka-duka silih berganti, harap dan realita yang kadang tak bersua. Tepat, iya, seperti malam ini. Ketika sebuah layar mati tiba-tiba dan tidak auto-saved. Hehe. Begini rasanya. Document yang sedikit lagi kelar, juga curhat yang sudah berbaris panjang, berubah menjadi tulisan ini. Sabar yaa.
***
Lagi kangen baca novel, apalagi liat quotes ini. Aku jadi lebih suka dengan kata sayang, dibanding cinta, dan rindu. Hehe (mulaitidakjelas).

“Puteri, sekarang Jakarta gerimis. Cepat sekali berubah. Kayak hati. Semoga pengertian, mau saling mengalah, saling menghargai, saling menjaga, komunikasi yang baik, dan tentu saja yang paling penting pemahaman agama yang baik menyertai rasa sayang. Biar abadi sayangnya. Tidak seperti cuaca”.
(Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu)

***
#Jogja dan doa

Sabtu, 30 Juni 2018

☺

10.00 0 Comments

Dan, benar kata orang-orang, menasehati diri tidak semudah menasehati orang lain. Berkali-kali mengikuti arah angin, mengalir layaknya air, tapi tetap sadar bukan? Bahkan tak semua air mengalir sampai pada hilirnya. Bisa jadi, ia meresap ke bawah, tertimbun dalam tanah.
Aku tak pernah tahu penghujung sebuah cerita, karena manusia hanya bisa berharap dan menduga. Yang sejatinya pada diriku sendiri ku bertanya, dimana kau letakkan usahamu untuk berserah pada Yang Maha? Yang sejatinya pada orang lain ku meminta, bantu aku dengan caramu untuk menjaga hatiku. Terimakasih yang sudah mencoba membantuku untuk berpikir sejernih yang aku bisa.

#Menjelang disibukkan dengan rutinitas semula, kegiatan-kegiatan yang serupa, banyak kewajiban, daan waktu istirahat yang berkurang (padahal ini maksudnya karena selama liburan, ‘istirahat’ terus isinya). Jangan lupa, nikmati prosesnya, karena lagi-lagi, setiap orang berhak untuk belajar dan menghargai dirinya

Sabtu, 23 Juni 2018

☺

11.40 0 Comments
Kamu tahu tidak? Hatiku sedang bergejolak. Serupa-rupa dulu lahir tulisanini (sajak cinta), juga lahir tulisan lainnya (ketika dia menghadirkannya), ia bersebab sama. Dan bagi perempuan serba biasa layaknya aku, yang lebih nyaman berjibaku dengan bisu, merangkai kata lebih mudah, dibanding harus menyampaikan resah.

Benar kata novel mungkin, “Orang lain tak perlu bertanggungjawab atas perasaanku”, iya, cukup aku saja, biar aku yang berjuang, menaklukkan hatiku sendiri.

Maaf untukmu yang kembali, dan rasa masih tak bisa dipaksa. Setidaknya aku belajar untuk tak membuatmu menunggu, dengan cara terbaik semampuku. Maaf untuk sedikit menahanmu, hanya sekedar harapan, agar retak itu tak berulang. Karena masih ada sisa ruang untukmu, ruang pertemanan.

Maaf untukmu yang datang, yang seharusnya rasaku tak pantas tumbuh bermekaran. Kamu tak perlu khawatir, sebab aku sadar siapa aku dan siapa dirimu. Sebagaimana aku yang tak menginginkan keterpaksaan, setidaknya aku juga juga belajar untuk tidak memaksamu. Mungkin benar bahwa kita harus menjadi asing sekali lagi, walau aku tak perlu berharap untuk bertemu sekali lagi. Tenang, sisa ruang untuk pertemanan masih akan sama, selalu ada.

Apapun itu, semoga menjadi bagian perjuanganku menata hati, untuk lebih memperbaiki diri. Mencipta jarak dan kebersamaan hanyalah sebuah ikhtiar manusia, yang akan terurus beriring dengan do’a. Karena pada akhirnya, episode antara kita hanya mengikuti SkenarioNya. Maka, dalam keterbatasan kemampuan berupaya, biarkan hati ini tak lelah mencari cara bagaimana bergantung pada Yang Maha. Tiada dua.