Dari semua ketidaktahuan, dari sesaknya segala sedih dan gelisah, dari bahagia yang ingin dibagi, dari kesalahan-kesalahan yang akan terus diperbaiki, dari setiap jengkal perjalanan dalam rangka belajar. Menulis, jadikanlah ia salah satu obatnya :)
Entahlah, ini akan menjadi surat
ke-sekian yang sampai ke tanganmu. Tujuh? Enam? Tidak ingat persis.
“Mau minta apa?” Tanyaku hari lalu. “Surat”. Katamu. Dan kau akan tunggu, di sini (jangan lupa tinggalkan pesan-ala ala ngiklan).
Sejujurnya, pikiranku sedang habis
ide untuk merangkai kata-kata. Sudah lama tidak baca novel Des, hehe. Tapi, pada
akhirnya, aku banyak menulis sembari berkereta. Dan mengesankan.
Entah sampai mana perjalananku
kali ini, sejenak kutengok di balik kaca. Pepohonan berjajar rapi, tidak rendah
tidak pula tumbuh begitu tinggi. Hamparan sawah kering, padi-padi yang
tampaknya usai dipanen, juga, bukit-bukit kecil tumpukan jerami yang menguning.
Apa yang harus kusampaikan padamu, sholihah?
Ucapan selamat? Ah, apalah arti
bilangkan angka yang semakin menua. Bilangan angka hanya akan berarti bila
bilangan amal baik juga bertambah dan bernilai di mataNya
Pujian? Ah, apalah arti pujian.
Sedang antara kita sudah sama-sama tahu, sama mengerti, tentang baik-buruk juga
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hakekat terpenting adalah penerimaan
yang tulus bukan?
Nasehat? Ah, apalah arti ucap nasehat
yang berurai-urai. Sedang sepanjang hari, di setiap detik-detik yang terlewati,
kita sama-sama sedang belajar mengambil nasehat.
Do’a? Jangan kau tanya lagi soal
ini. Betapa doa yang mengudara selalu menjadi bagian yang paling kunanti dan yang
paling menenangkan hati. Maaf jika tak sepanjang doaku mengingatmu, tapi
percayalah, wajahmu kerap muncul, namamu tetap sering, harapanmu tetap coba
kuurai.
Baiklah. Mari kita mengingat kenangan saja. Tentang Saksi-saksi
bisu.
24. Kali pertama kita bersua sepertinya
kau masih berbilang belasan ya, 18. Enam tahun sudah berlalu. Kos Maskulin.
Kamar dekat pintu, tetanggaan. Embah dan pisang. Bakso kharisma dan boncengan
motor bertiga. Televisi dan berebut Jodha. Jilbab putih yang “katamu” mau kausimpan
sampai nikah. Mulai dari Tutut; Ainur-Kikip sampai Intan-Maya, teman-temanmu.
Rupanya temanku yang kau ingat di luar kepala hanya tunanganku Shinta. Hehe.
Mulai dari siapa lagi Des? Perlu kusebutkan?
Ah, kalau soal ini aku pura-pura lupa saja, pilihanmu, dan tetap kau yang
memilih. Asrama Dafa dan Mbak Ulfi (yang kemudian jadi tetangga juga). Soto dan
Pak Genit. Tahsin bareng yang “gagal”. Ngajar Tpa yang “wacana”, hehe. Ohiya,
yang pasti, gamis-gamis yang membuatku merasa “cantik”. Satu lagi, aku masih
boleh jadi “bulek” kan ya?
Berikutnya, mari tetap mencipta
kenangan. Mari tetap saudaraan. Mari tetap deketan. Mari tetap saling beriringan
jalan, hingga sampai dan tinggal di surga, dan disana tetap sahabatan.
#14 : 08
#Perjalanan Purworejo-Jakarta
#24 (+1hari) Usia Desi (sholihah
yang –semoga- segera nikah –biar malaikat juga mengaminkan untuk yang nulis-)
#Terimakasih untuk enam tahun kita
saling mengenal. Jangan lupa, masih ada janjimu mau jadi panitiaku. Jangan
pulang dulu. Hehehe
Luluk: Aku tu perhatian lho Mbak. Aku tu seringnya
liat Mbak Hanif kalau keluar buru-buru terus. Giliran sampai kos stress di depan
laptop sambil uring-uringan harus ini itu, wajahnya jelek tertekan. Makanya kalau lagi di luar santai aja. (Tapi
tertawa coba dia, kan aku jadi nggak ngerti sebenarnya mau dia empati atau melucu)
Me: Luk, Luk, tengok-tengok atas, ada
bintang satu yang gede tuh. Cantiiik. Jadi pelan-pelan aja memang yaa, sambil liat
bintang...
Luluk: Mbak Haaaniiif (mode menangis). Kenapa
segala hal romantis yang kutemukan selaluu bersama Mbak Hanif. Lagi dimana
jodohku siih? ngapain aja dia?
Me: Ayo Luuuuk, sebelum bertemu dia,
latihan menikmati perjalanan kayak gini dulu lah kitaa
Luluk: Ayok Mbak mari latihan
Me: (Tepuk jidat -padahal yaa sambil
ngikutin luluk tanya, “lagi dimana jodohku siih? ngapain aja dia?”. Haha)
#Dan ini pun berlanjut ketika melihat bulan yang bulat sempurna,
di tengah perjalanan melewati labirin-labirin perumahan TNI AU, bersama
lampu-lampu yang menghias sepanjang jalan.
***
Terimakasih adek cantiik, yang selalu menemani tiap akhir pekan.
Dari ikut pulang ke rumah, duduk di teras sampai malam menahan dingin, melihat
bintang-bintang yang jaaaaauh lebih banyak dibanding melihatnya di Jogja. Ikut
menemani ke walimah adik sepupu, jadi tukang jeprat-jepret. Ikut membantuku ke
madrasah buat lembur-lembur dekorasi kelas padahal hari juga ahad, rela
kusuruh-suruh naik meja menempel kertas di dinding hanya karena kamu lebih
tinggi. Menarik-narik kasurku hanya gegara menagih janjiku untuk mengajakmu ikut
kajian (yang sebenernya aku spechless kau mau kajian, haha). Selalu mengalah ketika
harus menentukan tempat beli makan. Bahkan membantu menyetrikakan bajuku meski sambil
misuh-misuh gegara aku sibuk dengan telpon dan hape terus, jadi nggak
selesai-selesai yang bikin kamu pusing mata katanya (Tapi ini mah cuci piring
juga semua jadinya aku, padahal siapa yang janji mau cuci coba).
Iya, tiada hari tanpa melewatkan tawa, jika bersamamu. Meski
salah satu diantara kita sedang menyembunyikan kesedihan. Terimakasih sudah
mengatakan “Mbak Hanif kalau sedih bilang-bilang yaaa, nanti aku datang”.
Senang, kamu memilih berada di sini
lagi, setelah sekian lama menghabiskan waktu di kampung halamanmu.
Kalau kamu sering bilang “Mbak
Hanif tuu nggak sayang”, hehe sayang kok aku sayang. Meskipun tiap ketemu
kamu selalu “menghinaku”puuun “Mbak Hanif
tuu kudet (padahal masalahnya cuma aku minta diajarin belanja olshop-olshop gitu, memang nggak
pernah)”, “Mbak
Hanif itu apa sih yang dipunya (gegara aku ga punya manset buat dipinjam), “Mbak Hanif, jangan biarkan nanti mertuanya
Mbak Hanif nyesel anaknya kayak nikah sama simbah-simbah (gegara sering
lupa kalau ditanya harga sesuatu), daaan laain-laain. Hehe.
Kau dengar Nak, bahkan cicak saja berdzikir. Mungkin dia juga
beristighfar. Kenapa kamu tidak? Selalulah mengingat RabbMu, supaya selalu
tenang hatimu...
Tak mengapa kau banyak khawatir...
Kau khawatirkan dosa-dosa yang tak terbilang bagai debu-debu
beterbangan. Tapi bahkan janji Allah akan luasnya ampunan melebihi dosa-dosa
yang terkumpul seluas semesta bumi dan langitNya. Jangan berputus asa memohon
ampunan, jangan lelah untuk bertaubat. Selama nyawa sebelum sampai tenggorokan,
maka kau masih bisa memohon sebaik-baik sisa usia, dan husnul khotimah di
penghujung hayatnya.
Kau khawatirkan waktu-waktu yang berlalu tanpa ada sedikit saja
perbaikan diri. Sejatinya kau hanyalah kumpulan hari, jika satu hari terlewati
tanpa ada yang berarti, bukankah kau merugi? Mari selalu sejenak ambil jeda,
berpikir ulang ke arah mana ‘kehidupan’ yang hanyalah ‘persinggahan’ ini hendak
kau bawa? Apakah dunia masih bertahta manis di hatimu?
Kau khawatirkan amanah-amanah yang mengiringi langkahmu. Berat
terasa untuk memikulnya seorang diri. Ragu merasuk menggoyahkan hati. Tapi
bahkan Allah berjanji, setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah kesulitan ada
kemudahan. Tidak ada beban melebihi batas kesanggupan. Lakukan saja apa kewajiban
yang seharusnya kau lakukan, biarlah Allah yang mengurus sisanya.
Kau khawatirkan dua malaikat yang usianya semakin senja. Sementara
balas budi apa yang bisa kau berikan padanya? Tidak ada. Seberapa keras kau
berusaha, tiada pernah berbanding dengan secuil cinta yang mereka limpahkan.
Karena itu, yakinlah upaya remah-remahmu, semoga sedikit bisa membuat mereka
bahagia. Bertanya kabar, bersering pulang, berbagi suka, dan paling penting,
bawalah mereka dalam doa. Bukankah tempat berkumpul paling dinanti hanyalah
surga?
Kau khawatirkan laki-laki masa depan yang sama sekali tak
tertebak siapa dan kapan hadirnya. Kau boleh saja istiqomah pinjam nama
seseorang dalam doa, dan berharap ia akan berjuang, berproses, belajar, serta
menua bersamamu, tapi jangan pernah sekali-kali memaksaNya. Pastikan dalam
doamu, masing-masing kelak, kau dan juga dia, akan bahagia dengan siapapun pilihanNya.
Terlepas pada akhirnya kalian memang ditakdirkan bersama ataupun tidak. Selalulah
ingat, yang baik akan dipertemukan yang baik. Allah lebih kuasa mengatur itu.
Kau khawatirkan...
#Masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran lain, bukan? Sekali lagi
tak mengapa. Allah selalu ada
#Masih labil, masih suka pecicilan, masih suka ga jelas? Juga
tak mengapa, yang penting selalu belajar
#Terkadang ketika mengingat waktu, ingin kembali ke masa kecil
dahulu, ketika hidup sudah sangat bahagia hanya dengan bermain bersama ibu.
Atau. Membayangkan masa depan, dengan keluarga kecil yang (meskipun) sederhana,
akan sangat bahagia, karena iman dan kasih sayang tumbuh subur didalamnya.
Anggap saja aku sebagaimana rumah, sejauhmana kau pergi, ia adalah tempat paling nyaman untuk pulang dan kembali. Meski mungkin, warnanya semakin pudar, dindingnya semakin rapuh, atap gentingnya semakin menipis. Pulanglah jika ingin. Kembalilah jika kau lelah, dan ingin istirahat meski sejenak saja.
Jika ia tumbuh lagi untuk kedua
kali, maka ia akan menetap di hati, dan bertahan
Maka,
sebelum kutahu di mana tempat dan waktu yang tepat, kuusahakan menjaga untuk
tidak menabur benihnya. Daripada ia tumbuh, namun harus melayu seiring waktu.
Daripada ia tumbuh, namun harus dipangkas dan dicabut hingga akarnya.
Lebih baik pasrah. Lebih baik berdo’a. Jawaban terbaik adalah mengikuti pilihanNya
Karena terkadang, perempuan itu, terlalu setia. Apalagi segala tentangmu,pula kebaikanmu, aku yakin masih akan sama.
Kasih Sayang Itu Titi Kasih Sayang Penghubung Hati Kasih Sayang Itu Tali Kasih Sayang Pengikat Diri
Dari Kasih Timbul Simpati Dengan Sayang Ada Persaudaraan Kerana Kasih Ingin Berbakti Saling Sayang Ma'af Mema'afkan
Kasih Sayang Itu Baja Kasih Sayang Penyubur Jiwa Kasih Sayang Itu Penawar Penguat Cinta Penghapus Duka
Kasih Manusia Sering Bermusim Sayang Manusia Tiada Abadi Kasih Tuhan Tiada Bertepi Sayang Tuhan Janji-NYA Pasti
Tanpa Kasih Sayang Tuhan Tiada Simpati Tiada Persaudaraan Tanpa Kasih Sayang Tuhan Tiada Bakti Tiada Kema'afan
Kasih Sayang Pada Semua Kasih Sayang Sesama Kita Kasih Sayang Oooo Dunia Moga Selamat Di Akhirat Sana
***
Mengenal
lagu ini, sejak duluuu sekali, sewaktu Raihan sedang populer-populernya. Sudah
suka, liriknya cukup meneduhkan. Apalagi Mas kalau pulang juga suka bawa kaset
nasyid-nasyid begitu. Nah, sebenarnya ada yang teringat kalau ndengerin lagu
ini. Saya pernah kirim lagu ini ke Shinta, niatnya sih biar “so sweet” gitu. Eh setelah itu, dianya
misuh-misuh coba, katanya udah berjuang downloadnya loading lama (maklumlah
satu lagu full), setelah berhasil enggak mudeng lagu apa itu. Hhe, maklum sih
dulu beliau mah cuek bebek, ceplas-ceplos nyebelin pula, kalau menolak langsung to
the point banget nget, belum so sweet kayak sekarang. Belum lembut kayak sekarang.
Yaa yaa yaa, jadi kalau mau belajar ‘proses’ bisa bisa lah belajar ke dia.
Kalau sekarang saya kirim, mungkin beda respon. Hehe
Kenapa
tetiba ingat lagu ini? Kalau mengingat sebuah kenangan itu, biasanya sedang
mengumpulkan kepingan hati yang hilang. Mengafirmasi. Ehcielah
Jadi,
ada yang suka sekali panggil aku “Mbak Sejuk”, nggak tahu aja itu orang, sebenarnya
hatiku sedang kusut (dan keruh). Seperti kemarin pagi, datang-datang saya sudah
memberondong pertanyaan ke teman-teman. “Bu
Aiz, liat wajahku, keliatan sedih nggak?” “Bu Vera, aku lagi sedih lho, nggak keliatan po?” “Bu Hesti, bantu akuu lagi sedih”. Daaan jawabannya,
“Nggak Bu” “Nggak tu, sumringah gitu”, “Bu
Ayu ki apaan sih, aku jadi lupa to mau nulis apa. Sedih darimana ngguya ngguyu
gitu”. Haduh duuh. Tapi it’s oke, cukup menghibur, toh kalau ditanggepin
serius aku yang malah berujung diam. Susah bagiku mengungkapkan, tapi susah
juga buat menyimpan. Keluar tapi bukan mengumbar. Yaa seperti itu contohnya.
Atau kalau lagi gemes biasanya cubit-cubit orang sampai dianya bingung. Atau, menulis,
itu obat paling mujarab. Hehe
Sebenarnya,
waktu itu sedang sedih memang, sedikit.
Oke,
selamat belajar dari yang sudah berlalu yaaa... Alhamdulillah, detik ini hatiku
sudah utuh. Mari berkarya, sibukkan diri dengan yang baik-baik. Mumpung masih single katanya. Hehe *Eh eh kalau sudah
menikah juga tetap sibukkan dengan yang baik-baik (kan sudah ada partner,
bersama belajar dan berproses menjadi baik, begitu). Uhuk
Mas Singgih : Ada satu bahasa orang SDM itu, “kamu adalah rata-rata
dari lima orang temanmu
Me : Maksudnya?
Mas Singgih : Ya kamu itu nggak jauh beda sama lima teman kamu.
Orang pasti bergaul sama yang serupa-rupa. Misal nih, orang gajinya lima ratus
ribu sebulan ya nggak mungkin bergaul sama orang yang gajinya lima puluh juta
sebulan
Me : !2$#SFTQ^$@*&&@WHSB
#Semoga rerata utama
dari lima itu, adalah shoihah
#Sisalebaran
***
Me : Kapan jadi nikahnya si “A”?
Si Emak : Nggak jadi katanya. Makanya gek ndang nduk, nek
udah ada. Tuh kalau pacaran kelamaan
Me : (Aman. Aku kan nggak
pernah pacaran toh :P)
#Semoga Allah hadirkan
orang yang tepat di waktu yang tepat
#Sisalebaran
***
Fadhil
: Mesakke banget lah taaaanttt... (gayanya fadhil sok manggil tante, aih)
Me
: Iya mesakke to Dhil
Fadhil
: Sini sini tak tetring
Me
: Mantap
Elisa
: Passwordnya apa Dhil?
Me
: Enggak berpassword
Nana,
Hakim, Yaya, Anas : Ngikut aahh, tu Luhur juga mau (Tertawa rame-rame)
Fadhil
: Gapapa laah, kan sedekah. Dulu pernah iseng aktifin, langsung dua belas
connected coba
Me
: Dhil, kamu suamiable banget tenan (Tapi ini emang iya kok)
Miaa, gapapa kan yaa,
nggak ada surat apapun yang ‘sweet’ gitu tadi. Ternyata di rumah terlalu tidak
mendukung untuk menulis. Hehe. Aku yakin suatu hari kamu bakal baca ini (lah,
temenku yang rajin nge-blog juga cuma satu ini).
Sebelas tahun itu, lama
atau sebentar menurutmu? Sama seperti yang kamu bilang, kamu juga, masih
menjadi orang yang ‘sama’, selalu hangat dan menyenangkan. Tidak sepertiku
justru, sikapku bagai musim yang sering berganti. Hangat tiba-tiba, dingin seketika,
kadang menyenangkan, tapi di banyak waktu menyebalkan. Terimakasih untuk
sebelas tahun kebaikan hatimu (dan tentu tahun-tahun berikutnya), yang aku
banyak belajar...
***
Kamu perlu tahu, aku
hampir saja mengundang “Ayooo Mi, berkunjunglah
ke Jogja lagi. Lama sudah kita tidak jalan bareng. Barangkali Boko sudah
berubah”.
Belum terucap, dan kamu
sudah duluan membuka percakapan.
“Hanif, jangan kaget yaa”.
Enggak Mi, enggak kaget,
cuma pengin nangis, dan tertahan. Beneran
“Berhubung kamu salah satu sahabatku yang kusayang, jadi...........”
Mendadak aku menyesal
kita bertemu. Pura-pura saja undangan itu tidak pernah kuterima. Sayangnyaa,
kamu terlalu mengerti perasaanku, perasaan yang sungguh ‘gado-gado’ dan sangat ‘nano-nano’.
Kamu terlalu memahami.
#Tapi, tidak mengapa
bukan, jika di banyak waktu aku masih akan ‘mengganggumu?’. Meski aku faham,
banyak hal dalam hidupmu yang pasti berubah, sepertihalnya taatmu kepada siapa yang
sekarang harus berpindah.
***
Kamu juga perlu tahu, suatu
kali kamu pernah bertanya “Yang penting, kamu
ikhlas tidak, jika seseorang itu bersanding dengan orang yang tidak lebih baik
dari kamu”.
Kamu bilang itu
pengalamanmu. Tapi itu bukan pengalamanku, kataku dalam hati, pada detik itu.
Tapi kini aku mengerti, ternyata jawabannya memang sama sekali tidak yaa. Akan
jauh lebih sangat ikhlas jika seseorang itu bersanding dengan orang yang (juga)
jauh lebih baik dari kita.
#Karena itu, cara
terbaik adalah selalu merayuNya dengan do’a bukan? Sebagai perantara harapan,
agar siapapun yang dihadirkan adalah yang terbaik menurutNya dan baik pula
dalam penglihatan kasat mata manusia
***
Akhirnya hari ini datang juga. Teriring do’a Baarakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a
bainakuma fii khoir, Mia dan suami.. Bersamanya sesurga ya Mi
Seperti biasa malam yang berlalu, selayaknya hari-hari yang
terlewati. Suka-duka silih berganti, harap dan realita yang kadang tak bersua.
Tepat, iya, seperti malam ini. Ketika sebuah layar mati tiba-tiba dan tidak
auto-saved. Hehe. Begini rasanya. Document yang sedikit lagi kelar, juga curhat
yang sudah berbaris panjang, berubah menjadi tulisan ini. Sabar yaa.
***
Lagi kangen baca novel, apalagi liat quotes ini. Aku jadi lebih
suka dengan kata sayang, dibanding cinta, dan rindu. Hehe (mulaitidakjelas).
“Puteri, sekarang
Jakarta gerimis. Cepat sekali berubah. Kayak hati. Semoga pengertian, mau
saling mengalah, saling menghargai, saling menjaga, komunikasi yang baik, dan
tentu saja yang paling penting pemahaman agama yang baik menyertai rasa sayang.
Biar abadi sayangnya. Tidak seperti cuaca”.
Dan,
benar kata orang-orang, menasehati diri tidak semudah menasehati orang lain. Berkali-kali
mengikuti arah angin, mengalir layaknya air, tapi tetap sadar bukan? Bahkan tak
semua air mengalir sampai pada hilirnya. Bisa jadi, ia meresap ke bawah,
tertimbun dalam tanah.
Aku
tak pernah tahu penghujung sebuah cerita, karena manusia hanya bisa berharap
dan menduga. Yang sejatinya pada diriku sendiri ku bertanya, dimana kau
letakkan usahamu untuk berserah pada Yang Maha? Yang sejatinya pada orang lain
ku meminta, bantu aku dengan caramu untuk menjaga hatiku. Terimakasih yang
sudah mencoba membantuku untuk berpikir sejernih yang aku bisa.
#Menjelang
disibukkan dengan rutinitas semula, kegiatan-kegiatan yang serupa, banyak
kewajiban, daan waktu istirahat yang berkurang (padahal ini maksudnya karena selama
liburan, ‘istirahat’ terus isinya). Jangan lupa, nikmati prosesnya, karena lagi-lagi,
setiap orang berhak untuk belajar dan menghargai dirinya
Kamu tahu tidak? Hatiku sedang bergejolak. Serupa-rupa dulu lahir tulisanini (sajak cinta), juga lahir tulisan lainnya (ketika dia menghadirkannya), ia bersebab
sama. Dan bagi perempuan serba biasa layaknya aku, yang lebih nyaman berjibaku
dengan bisu, merangkai kata lebih mudah, dibanding harus menyampaikan resah.
Benar kata novel mungkin, “Orang lain tak perlu bertanggungjawab
atas perasaanku”, iya, cukup aku saja, biar aku yang berjuang, menaklukkan
hatiku sendiri.
Maaf untukmu yang kembali, dan rasa masih tak bisa dipaksa.
Setidaknya aku belajar untuk tak membuatmu menunggu, dengan cara terbaik
semampuku. Maaf untuk sedikit menahanmu, hanya sekedar harapan, agar retak itu
tak berulang. Karena masih ada sisa ruang untukmu, ruang pertemanan.
Maaf untukmu yang datang, yang seharusnya rasaku tak pantas tumbuh
bermekaran. Kamu tak perlu khawatir, sebab aku sadar siapa aku dan siapa
dirimu. Sebagaimana aku yang tak menginginkan keterpaksaan, setidaknya aku juga
juga belajar untuk tidak memaksamu. Mungkin benar bahwa kita harus menjadi
asing sekali lagi, walau aku tak perlu berharap untuk bertemu sekali lagi. Tenang,
sisa ruang untuk pertemanan masih akan sama, selalu ada.
Apapun itu, semoga menjadi bagian perjuanganku menata hati, untuk
lebih memperbaiki diri. Mencipta jarak dan kebersamaan hanyalah sebuah ikhtiar
manusia, yang akan terurus beriring dengan do’a. Karena pada akhirnya, episode
antara kita hanya mengikuti SkenarioNya. Maka, dalam keterbatasan kemampuan
berupaya, biarkan hati ini tak lelah mencari cara bagaimana bergantung pada
Yang Maha. Tiada dua.