Follow Us @whanifalkirom

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juli 2018

Tentangku

03.43 0 Comments

Aku tidak pernah lari
Aku tidak pernah pergi
Aku masih berdiri, di sini

Aku tidak pernah hilang
Aku tidak pernah lebur menjadi bayang
Aku masih seperti sediakala diam, dan tenang

Aku tidak pernah berubah
Aku tidak pernah membelokkan langkah
Aku masih tetap pada mula, tak berbalik arah

Hanya saja aku tak ingin menanti
Hanya saja aku tak ingin resah terulang
Hanya saja aku tak ingin diriku lupa berbenah

Dan satu hal yang pasti, aku khawatir
Jika ia tumbuh lagi untuk kedua kali, maka ia akan menetap di hati, dan bertahan
Maka, sebelum kutahu di mana tempat dan waktu yang tepat, kuusahakan menjaga untuk tidak menabur benihnya. Daripada ia tumbuh, namun harus melayu seiring waktu. Daripada ia tumbuh, namun harus dipangkas dan dicabut hingga akarnya.
Lebih baik pasrah. Lebih baik berdo’a. Jawaban terbaik adalah mengikuti pilihanNya
Karena terkadang, perempuan itu, terlalu setia.
Apalagi segala tentangmu,pula kebaikanmu, aku yakin masih akan sama.

Yogyakarta, 03.11 dini hari



Kamis, 31 Mei 2018

Rindu

20.43 0 Comments
Rindu, ternyata bukan hanya persoalan getar-getar manis yang membuncah dalam dada...

Terkadang ia juga tentang sesaknya hati berupaya menumbuhkan rasa...

Ada saat diam-diam kau merindu airmata, berdo’a memohon kepada Yang Maha Lembut untuk dilembutkan...

Berdo’a supaya segumpal daging penentu laku ini dijernihkan, agar ia tak membatu dan terus menerus mengeras memantulkan kebenaran...

Percayalah, getarnya lebih syahdu dari sekedar merindu seseorang entah siapa yang belum halal bagimu...
Source : Pixabay.com


Sabtu, 12 Agustus 2017

❤

19.21 0 Comments
Meskipun,
Jauh ada rasa tak pantas diri ini tuk sampaikan pinta..
Jauh ada rasa malu diri ini tuk merayu..
Jauh ada rasa takut diri ini tuk haturkan doa,
Masihkah layak?
Namun,
Justru karena itulah..
Jangan lelah untuk terus berdoa.. Dan mendoakan..
Untuk mereka, yang kebaikannya tiada tara tapi tak seujungkukupun aq mampu membalasnya.. (atau justru mengecewakannya?)
Source : Pixabay.com

Selasa, 01 Agustus 2017

Kamu Lelah?

13.30 0 Comments


Kamu lelah?

Istirahatlah..
Duduk sejenak di belakang rumah..
Di atas dipan-dipan kayu..
Bersandar pada tiang-tiang yang rendah..
Menatap rerumputan yang menghijau..
Memandang langit yang cerah..
Menyimak burung-burung yang berkicau..
Merasakan sepoi yang ramah..
Mendengarkan suara palu pada tukang pemecah batu..

Dan lihatlah, diseberang sana.. ia sama lelahnya denganmu, tapi senyumnya, jauh lebih tulus dibanding tawamu..

Senin, 03 Juli 2017

Rumah Berjuta Cerita

05.12 0 Comments

Rumah,
Berarti tentang rindu, dan pulang
Berarti tentang orang terkasih, dan orang tersayang
Berarti tentang masa lalu, dan masa depan yang terkenang
Rumah,
Berarti tentang perihal saling mendoakan
Berarti tentang perihal saling membahagiakan
Berarti tentang perihal saling menyemai persaudaraan
Rumah,
Berarti labuhan paling damai
Berarti cinta yang tak pernah tergadai

Rumah, memang harus begitulah rumah.

Minggu, 08 Mei 2016

Rembulan

05.45 0 Comments
Rembulan,
Bahkan terasa indah untuk diucap atau didengarnya..
Dan lebih indah, kala mata tajam menatapnya..
Mencipta bayang dalam gelap, melalui semburat sinarnya..
Melukis romantika, lewat temaram cahayanya..
Tidakkah kau merasakannya?

Dan rembulan,
Mungkin menyimpan sejuta cerita..
Menjadi saksi bisu kemesraan manusia dengan Tuhannya..
Di malam-malam yang membersamai dengan setia..
Tidakkah kau menyadarinya?

Rembulan,
Menerangi, namun tak menyilaukan mata..
Membawa keindahan, sedari sabit  hingga pendarnya purnama..
Tidakkah kau bisa belajar banyak darinya?

Kau rembulan,
Namamu terdengar begitu saja.. Dewi Ratih, Selene,ataupun Dewa Chandra,
Tidakkah kau bisa jadikan inspirasimu yang nyata?

Hei rembulan,
Sepertinya, kini padamu aku mulai jatuh cinta....

Senin, 20 April 2015

Ada Padamu yang Membuatku Malu

20.22 0 Comments
Kau tetap teguh berjalan,
Meski ada duri-duri yang menanti di tepian..
Meski kau lihat tapak-tapak yang terseok ditengah perjalanan..

Kau tetap kukuh dalam barisan depan,
Meski ada mozaik-mozaik terpotong sebagian..
Meski kau lihat langkah-langkah yang terhenti berurutan..

Kau tetap tegar menawan,
Meski ada batas-batas yang siap membuatmu melamban..
Meski kau lihat ranjau-ranjau datang bergantian..

Kau tetap hadirkan rekah senyuman,
Meski ada kelu-kelu seluruh persendian..
Meski kau lihat kusam-kusam wajah lain dalam kelelahan..

Kau tetap baik berkeyakinan,
Meski ada suara-suara sumbang yang sibuk menyalahkan..
Meski kau lihat satu-satu mulai menjauh perlahan..

Kau tetap jaga harga sebuah kesucian,
Meski ada celah-celah yang lebarnya kian rentan..
Meski kau lihat rona-rona indah dalam kesemuan..

Kau tetap genggam lapang dalam kelembutan,
Meski ada cerca-cerca yang melesat menumbangkan..
Meski kau lihat sorot-sorot tajam mata kekecewaan..

Kau,
Bimbing asa-asa membumbung bersama semangat perjuangan,
Tumbuhkan rindu-rindu kala jarak kadang tetiba memisahkan,
Himpun hati-hati tertaut dalam kasih sayang dan persaudaraan,


Ah, aku mulai lupa. Terimakasih, mengenalmu kembali membantu mengingatkan..

Kamis, 28 Agustus 2014

Ibu, Ajari Aku Untuk Memilih Pendamping Hidupku..

00.16 0 Comments
Suatu hari seorang anak laki-laki bertanya pada sang ibu. “Bu jika kelak anakmu ini akan menikah, istri seperti apa yang mesti kupilh?”. Sang ibu yang bijakpun menjawab, “Nak, calon istri yang baik adalah dia yang saat kau pandang hilang resahmu, saat kau bersamanya tentram hatimu, saat kau pamit menjemput rizki ia lambaikan tangan sambil mendoakanmu”. Sang ibupun bersenandung “mencipta rumahnya seindah syurga, menjaga akhlakny sebening mata, qana’ah selendangnya dalam rumahtangga, sejuk di qalbunya, tunduk pandangannya”. “Tapi Bu, aku kan belum tahu sifatnya. Bagaimana aku dapat mengenalnya?” Sang anak menyela. Sang ibupun menjawab “Nak, jika kau ingin melihat kasih sayangnya padamu, lihatlah bagaimana ia memuliakan ayah bundanya. Jika kau ingin tahu apakah ia kasih terhadap anak-anakmu kelak lihatlah perlakuannya terhadap adik-adiknya”. “Lalu, bagaimana jika aku ingin memilih istri secantik Aisyah secerdas Ana dan setulus Maryam seperti novel yang fenomenal itu?” Sambil tersipu sang  anak bertanya. “Kau harus memliki jiwa setegar Azzam juga berilmu sebijak Fahri”. Jawab sang ibu.
Sang anak termenung sejenak. Kemudian sang ibu menandaskan kembali. “Nak, jodohmu sudah ada di tanganNya. Jangan pernah khawatir. Khawatirlah jika kau belum bisa memperbaiki diri. Khawatirlah bila engkau belum pantas menjadi suami bagi pendampingmu. Khawatirlah jika ibadahmu hanya untuk dilihat olehnya. Nak, perbaiki akhlakmu maka kau kan dapatkan pujaan hatimu. Luruskan niatmu maka kau kan dapatkan bidadari dunia akhiratmu. Sempurnakan ikhtiarmu maka jodohmu kan mendekat padamu”. Pesan sang ibu.
Sang anakpun mulai mengerti. Ia balas sang ibu dengan sebuah syair yang beberapa hari ini ia hafal dan ia resapi maknanya. Apabila telah tiba masaku untuk mengakhiri masa lajangku dengan segenap kemampuan Allah berikan, insyaAllah janjiku segera kutunaikan. Tapi, bila kuraba dalam hati dalam serumpun pertanyaan silih berganti adalah semua kulakukan terlalu dini. Bergedup jantung di dada kendalikan diri. Namun pernikahan begitu indah kudengar membuat kuingin segera melaksanakan. Namun bila kumelihat aral melintang, hatiku selalu maju mundur dibuatnya. Akhirnya aku segera tersadar hanya pada kepada Allahlah tempatku bersandar yang akan menguatkan hati yang terkapar. InsyaAllah azzamku kan terwujud lancar. Sang ibupun tersenyum dan mendoakan putranya.
Kisah ini ini ditulis Setia Furqon Kholid dalam bukunya Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta.

Selasa, 04 Maret 2014

Senja

08.54 0 Comments
Aku menyukai temaram senja.
Elok berkilau sempurna oleh terpa sinar matahari,
Sinar jingga bersorot tajam,
Saat itulah,
Hati menghela seraya berdoa,
Menyandarkan bahu sejenak dari lelah,
Menatap lalu lalang manusia menuju peraduan masing-masing,
Menanti malam..

#Skripsi, maaf membersamaimu sembari bermain-main#

Kamis, 06 Februari 2014

Hujan

12.52 0 Comments
Aku selalu suka hujan..
Saat rerintiknya, berurai perlahan menjauh dari langit,
Wewangi tanah mulai tercium oleh basah,
Gemericik turunnya, terdengar cadas dalam telinga,
Kilatan terang, gelegar guntur, kelabu mata memandang,
Saat itulah,
Hati mengharu,
Atas rindu yang tak pernah padam,
Atas doa yang tersampaikan,
Atas diri yang berharap dekap, cintaNya..

Rabu, 18 September 2013

Kasihku.. (1)

21.10 0 Comments
Kasihku,
Jika jarak adalah pembatas antara kau dan aku, semoga angin membawa kita untuk bersua

Kasihku,
Jika sebuah pertemuan tak mampu mengenalkan kau dan aku, semoga insan terdekat berbaik hati  mengajak kita untuk bersapa

Kasihku,
Jika sekedar sapa tak cukup mendekatkan kau dan aku, semoga mimpi dan harapan merengkuh hati kita untuk bercengkerama

Kasihku,
Jika hati belum menemukan pintu untuk menumbuhkan simpati kau dan aku, semoga pemahaman & akhlak baik, serta doa-doa setia mengantar kita untuk memulai menyulam cinta

Kasihku,
Pada akhir cerita kita, cinta ini lalu tumbuh kuncupnya, kemudian mekar perlahan, hinnga sepenuhnya merekah..
Semoga bintang-bintang tersenyum menjadi saksinya..
Dan malaikatpun turut mendoa,
Hari bahagia untuk kita.Selamanya.


Selasa, 17 September 2013

Kasihku.. (3)

22.13 0 Comments
Kasihku,
Sampai hari terindah itu tiba,
Semoga kau dan aku terus berproses memantaskan diri,
Biarlah pertemuan itu, sapaan itu, cengkeramaan itu, Dialah yang tepat mengaturnya,
Meski jalan kita ternyata harus berlawanan,
Wajah harus berpaling meski ternyata kita di hadapan,
Sungguh biarlah,

Karena sejatinya kita tetap menuju tempat yang sama, dengan satu tujuan :)