Follow Us @whanifalkirom

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Agustus 2018

Amal Baik

01.55 0 Comments

Empat Macam Amal Baik :
1.    Amal baik yang dirasakan
Ia adalah amalan hati. Sebagai contohnya adalah sabar, ikhlas, tawadhu’, wara’, dan lain sebagainya. Meskipun amalan hati, namun belum tentu yang mengamalkan mampu melakukannya dengan sepenuh hati. Contoh dalam keadaan sabar ia mengatakan “Mau bagaimana lagi, keadaannya memang sudah begini, mau ga mau disabar-sabarin”.
2.    Amal baik yang diucapkan
Contohnya adalah berdzikir kepada Allah, membaca Al Qur’an, Memberi nasehat kepada orang lain, dan sebagainya.
3.    Amal baik yang ditindakkan
Contohnya adalah membantu orang lain yang berada dalam kesulitan, menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan, Membersihkan tempat-tempat atau benda-benda yang kotor, dan sebagainya.
4.    Amal baik yang diberikan
Contohnya adalah memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang yang membutuhkan, berinfaq di jalan Allah, bersedekah, dan lain sebagainya.

Cintailah kebaikan-kebaikan tersebut, sampai kebaikan mencintai kita. Tugas kita adalah membuat hati kita terus terikat dengannya (amal kebaikan), karena keterikatan berarti berat dan keengganan untuk berpisah.

Hati dan amal baik, adalah dua sahabat yang saling mempengaruhi. Jika kita beramal baik dengan sepenuh hati, maka amal akan mempengaruhi hati tersebut, yang kemudian  hati kembali tergerak untuk beramal baik. Amal kebaikan yang sama, yang terus berulang, nilainya akan berbeda, dan terletak pada sepanjang kebaikan itu mempengaruhi hati.

Dan tanda sepenuh hati, adalah cinta.

By. Ustadz Syatori Abdul Rauf (Masjid Nurul Ashri, Deresan, Yogyakarta)
Source : Pixabay.com

Senin, 20 Agustus 2018

7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat

01.46 0 Comments

1.    Pemimpin yang Adil
Adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya sesuai syari’at. Pemimpin yang bersikap adil, keadilannya sangat memeperhatikan kesesuaiannya dengan apa yang diperintahkan syari’at, bukan dengan kacamata manusia.
Sebagai contoh, keadilannya terhadap orang miskin. Pemimpin berkewajiban untuk mengingatkan pembayaran zakat bagi orang-orang yang mampu. Ia tidak akan membiarkan fenomena “lebih takut tidak membayar pajak, daripada tidak membayar zakat”
Begitupula dengan pemimpin keluarga, keadilannya terletak pada bagaimana supaya istri dan anak mereka berada dalam naungan syari’at Allah.

2.    Pemuda yang Tumbuh dalam Ketaatan kepada Allah
Karena biasanya pemuda, nafsu terhadap dunia dan kelalaian terhadap akhiratnya begitu tinggi. Maka, jika ia tidak menggunakan masa mudanya untuk berhura-hura dan menuruti hawa nafsunya, maka ialah pemuda yang pantas mendapatkan naungan Allah di hari kiamat. Pemuda yang menjaga shalatnya berjama’ah di masjid, akhlak terhadap orangtua, dan orang-orang di sekelilingnya baik, tidak menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia, dan contoh-contoh lainnya.

3.    Laki-laki yang Hatinya Senantiasa Terpaut pada Masjid (Mencintai Masjid)
Kecintaannya pada masjid, terlihat dari bagaimana ia akan bersegera ke masjid bila kumandang adzan tiba, dalam waktu sesibuk sekalipun. Apabila sangat terpaksa terlambat atau tidak bisa menunaikannya, maka akan terbersit di hatinya sebuah penyesalan.
Untuk laki-laki, perhatikanlah, tempat shalatnya adalah masjid, bukan rumah.

4.    Dua Orang yang Saling Mencintai Karena Allah
Ialah dua orang yang bertemu karena Allah, dan berpisahpun karena Allah. Persahabatan mereka, antara siapapun itu, dibangun bukan karena dunia, melainkan karena kecintaan yang besar untuk saling mengingatkan dan menguatkan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
Maka, ada kewajiban bagi kita yang sudah merasakan manisnya iman, untuk mengajak mereka (sahabat-sahabat) supaya bersama-sama merasakan manisnya. Mengajak untuk menghadiri majlis ilmu, mengajak menikmtai nikmatnya beribadah, hingga akhirnya bisa menjalankan ketaaatan bersama.

5.    Seorang Laki-laki yang Diajak Berzina oleh Wanita, Namun Menolak Karena Takut akan Kemurkaan Allah
Bercermin dari kisah Yusuf ‘alaihis salam, meskipun hatinya juga berkeinginan ketika digoda oleh Zulaikha, namun karena pertolongan Allah, rasa takutnya kepada Allah lebih besar dibanding keinginan dan nafsunya.
Menjadi pengingat, sebagai manusia yang (tentu) iman (masih) pas-pasan, hendaknya berhati-hatilah. Hati-hati dalam berkomunikasi dengan non-mahram, serta penggunaan medsos yang berlebihan. Karena ia bisa menjadi wasilah perbuatan zina yang Allah haramkan. Jika mudharatnya lebih besar, lebih baik tinggalkan.

6.    Seseorang yang Bersedekah dengan Tangan Kanan, Namun Tangan Kirinya tidak Tahu
Sedekah yang tidak dipamerkan di hadapan manusia atau dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini juga menjadi sarana belajar agar mampu menjaga keikhlasan amal.
Noted. Hati-hati juga kalau selfie dan posting di media sosial

7.    Orang yang Senantiasa Mengingat Allah dalam Keadaan Sendiri, dan Menetes Air Matanya karena Takut Kepada Allah
Dalam keadaan sendiri, jauh dari rasa riya’ terhadap orang-orang, tumbuhkanlah rasa takut kepada Allah dengan berdzikir dan mengingatNya dengan sepenuh hati, sampai menetes air matanya. Berlatihlah, biasakanlah mudah menangis, ia akan melembutkan hati.

Selain dari tujuh golongan di atas, terdapat pula hadits-hadits yang menunjukkan siapa orang-orang yang berhak mendapatkan naungan Allah, yaitu:
(8) Orang yang Memundurkan Jatuh Tempo hutang orang lain, karena masih dalam kesulitan atau kesusahan
Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan hutangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah”. (H.R Muslim no. 3006)

(9) Orang yang Menghilangkan Kesusahan Saudara Mukmin Lainnya
Barangsiapa melapangkan urusan seorang mukmin dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan di hari kiamat...........” (H.R Bukhari dan Muslim)

By. Ustadz Ridwan Hamidi, Lc (Masjid Kampus UGM, 19 Agustus 2018)
Source : Pixabay.com

Kamis, 31 Mei 2018

4-4-3 atau 2-2-2-2-2-1

19.59 0 Comments

Sebagian dari Dialog pagi :
A : Shalat tarawih yang kita ambil nanti dua puluh tiga raka’at
B : Hehe, delapan aja, anak-anak juga milih delapan (sedikit bercanda)
A : Delapan itu boleh, asal raka’atnya 2-2-2-2-2-1 bukan 4-4-3. Karena, kaidahnya tidak ada shalat sunnah yang lebih dari dua raka’at salam (maksudnya salam di raka’at lebih dari dua). Jadi, setiap dua raka’at harus salam.
Saya : Noted Sebagai pendengar.
(Kalau di sekitar rumah, tarawih itu ya adanya cuma dua puluh tiga raka’at, dengan dua raka’at salam, dan dengan surat-surat pendek juz 30 bagian-bagian akhir. Sedangkan di sini, beragam. Ada yang 11 raka’at dengan salam 4-4-3, dengan salam 2-2-2-2-2-1, dan ada pula yang dengan salam 2-2-2-2-3. Ada yang 23 raka’at, tentu dengan dua raka’at salam. Ada juga masjid tertentu yang memfasilitasi 11 dan 23 raka’at, dengan perubahan imam di setelah raka’at ke-8 untuk melanjutkan raka’at hingga 23 ). Jadi?
***
Selain meminta penjelasan ke orang, akhirnya saya belajar dari mbah google (duh, jaman now banget ya). Karena, kalau dijelaskan orang saya hanya mendengar dan memahami sambil lalu, termasuk kalaupun disampaikan dalil-dalilnya, lupa semua. Nah, mbah google kasihnya tulisan, jadi ada waktu buat mencerna, membaca dan memahami pelan-pelan. Ada banyak yang saya baca, dan saya tuliskan kesimpulannya saja. Baca lengkap, klik linknya masing-masing.
#Shalat tarawih (plus witir) 11 raka’at, maka lebih bagus dengan pola 2-2-2-2-3. Untuk witir bisa dilakukan dengan 2 raka’at salam plus 1 raka’at salam atau 3 raka’at sekaligus salam.
#Meskipun dibolehkan shalat tarawih dengan 4 raka’at salam (kecuali madzhab syafi’i), namun kesemuanya berpendapat 2 raka’at salam lebih afdhol
#Lebih afdhol dikerjakan dua raka’at salam - dua raka’at salam. Namun, tetap ada dua cara : dua raka’at salam- dua raka’at salam sebanyak 10 raka’at, lalu satu raka’at dan empat raka’at salam-empat raka’at salam, lalu tiga raka’at
#Jumlah raka’at shalat tarawih empat raka’at salam dan dua raka’at salam merupakan tanawu’ dalam beribadah, sehingga keduanya dapat diamalkan
#Pelaksanaan shalat tarawih empat raka’at sekali salam tidak sah (berdasarkan ulama madzhab Syafi’i). Namun, tidak perlu mempersoalkan dan tetap menghargai pendapat yang mensahkan shalat tarawih empat raka’at dengan sekali salam
***
Jadi?
Melihat beberapa hasil yang saya baca di atas, shalat tarawih lebih baik dikerjakan dengan dua raka’at salam, 2-2-2-2-2-1. Semua madzhab membolehkan.
Nah, kalau di rumah yang sudah pasti hanya satu model shalat tarawih, tentu kita cukup bisa mengikuti saja. Sedangkan di sini yang beragam, kita bisa menentukan pilihan

Wallahu a’lam
Source : pixabay.com

Selasa, 15 Mei 2018

Bolak - Balik Dosa

23.46 0 Comments

Tak ada yang lebih menggelisahkan daripada dosa-dosa. Ia mencekami hati dengan rasa kecut, rasa takut, rasa perih terparut-parut. Sungguh baik yang demikian, jika membawa kita pada taubat yang menghebat. Tapi ketika yang dibawanya justru rasa putus asa, kita perlu menemukan penghibur yang sedikit melapangkan dada.

Duhai hatiku yang rindu tapi ragu, yang harap tapi malu, yang cinta tapi tersedu; kali ini, Ibn Qayyim Al Jauziyah yang berbicara padamu:
Apakah kaukira orang-orang shalih itu tanpa dosa? (Tidak) - Sungguh hanyasanya mereka itu menyembunyikannya, dan tidak mengumbarnya - Dan mereka itu beristighfar lalu berjuang untuk tak mengulanginya - Dan mereka itu mengakui kesalahannya tanpa mencari-cari pembenaran bagi dirinya - Dan mereka bersegera menyusuli perbuatan buruknya dengan kebaikan begitu menginsyafinya.
***

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az Zumar: 53)
"Tidakkah salah seorang di antara kami malu", tanya seseorang di majelis Imam Hasan Al Bashri, "Jika dia berdosa lalu bertaubat. Tapi berdosa lagi lalu bertaubat lagi. Dan melakukan maksiat lagi kemudian beristighfar lagi?
Sang Imam tersenyum. "Tahukah kalian maksud terbesar syaithan?", ujarnya. "Yakni agar kalian berputus asa dari rahmat Allah dan berhenti memohon ampun setelah mengulangi dosa. Maka jika dosa terjadi lagi, teruslah bertaubat. Maka jika maksiat terulang kembali, teruslah beristighfar."
Adalah Imam An Nawawi dalam Al Minhaj, syarahnya atas Shahih Muslim menyusun bab khusus berjudul, 'Bab Diterimanya Taubat dari Dosa-dosa, Meskipun Dosa dan Taubat itu Terulang-ulang’.
Beliau menjelaskan, "Setiap kali hamba mukallaf berdosa, hendaknya dia bertaubat. Dengan itu dosanya akan gugur. Jika maksiat terulang, maka dia juga harus mengulang taubatnya. Adapun dosa yang terulang-ulang dan baru ditaubati dengan satu taubat di penghujungnya, taubatnya juga sah."
Ini adalah kabar gembira yang harus diikuti khawatir. Siapa yang menjamin istighfar kita sampai? Siapa yang menggaransi taubat kita diterima?
Akhirnya, ungkapan Imam Ibn Rajab itu bergema lagi, "Jika kalian tak mampu bersaing dengan para shalihin dalam 'amal ibadahnya, berlombalah dengan para pendosa dalam istighfarnya."
Sebab kita wajib beristighfar saat merasa berdosa, dan berlipat perlunya istighfar itu saat kita tak merasa berdosa. Maka taubat kita masih perlu ditaubati, bahkan istighfar kita masih perlu diistighfari.
(Source : salah dua dari posting instagram ustadz Salim Afillah)
***
H-2 Menjelang Ramadhan guys

Sabtu, 04 Februari 2017

Keajaiban Orang Beriman

06.52 0 Comments
Sungguh menakjubkan bagi orang beriman, segala urusannya (akan) baik.

Bila mendapat nikmat ia bersyukur, bila mendapat ujian ia bersabar. Karena yang terpenting dalam menjalani hidup, bukan pada nikmat atau ujian yang menghampiri, melainkan bagaimana respon atasnya.
Dan Allah adalah Maha Mensyukuri hambaNya. Dia sangat menghargai kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, walau sekecil-kecilnya. Dia memberi balasan yang adil, setimpal, bahkan berlipat-lipat. Sungguh mudah bagi Allah untuk melipatgandakan yang kecil.
Jangan risau dengan apa yang belum kita punya, karena semua ada dalam genggamanNya. Berkeinginan adalah niscaya, namun selalulah ingat bahwa Dia yang lebih tahu mana nikmat terbaik. Dan salah satu nikmat terbesarNya adalah menjadikan kita seorang ahli syukur—atas apa apa yang telah Dia karuniakan.
Yakinlah, semua nikmat adalah milikNya, dan dariNya. Berharaplah (hanya) padaNya. Buang jauh-jauh rasa bergantung dan berharap pada sesama manusia. Selalulah memuji asmaNya. Do’a yang paling utama adalah ‘Alhamdulillah’—Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Inspired by : Aa Gym


Rabu, 01 Februari 2017

Perjalanan

13.30 0 Comments
   Mereka bilang, hidup adalah perjalanan. Maka, jika hidup adalah sebuah perjalanan, itu artinya kau sedang berjalan meninggalkan suatu tempat, dan menuju suatu tempat pula. Ya, kau sedang berjalan meninggalkan dunia yang sementara dan menuju akhirat yang kekal. Itu pasti.
    Ada diantara kita, yang berjalan meninggalkan dunia, namun ia tak menuju akhirat. Ia puasa, ia berdzikir, tapi tidak untuk akhiratnya melainkan untuk tujuan lain. Puasa biar kebal. Misalnya
    Ada diantara kita, yang berjalan menuju akhirat, namun ia enggan meninggalkan dunia. Ia shalat, ia sedekah, tapi tidak ikhlas untuk akhiratnya melainkan yang terbayang masih dunia. Sedekah yang selalu diitung-itung. Misalnya
    Ada diantara kita, yang berjalan, tidak meninggalkan dunia, dan tidak pula menuju akhirat. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di depan televisi, meskipun adzan berkumandang, dan waktu shalat kian menipis. Tetap tak bergeming. Misalnya
    Ada diantara kita, yang berjalan meninggalkan dunia, dan ia menuju akhirat. Dan itulah perjalanan yang sesungguhnya. Akankah kita salah satunya?

    Ia yang berjalan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, selalu memandang akhirat lebih menarik daripada dunia. Jika malam telah berlalu sementara pertandingan sepak bola masih menghiasi layar kaca, tentu shalat malam lebih menarik baginya. Misalnya
      Ia yang berjalan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, selalu bersemangat menjadikan dunia yang dimiliki bernilai akhirat. Jika uang ada digenggaman, sementara iklan pakaian muslimah model terbaru memanggil-manggil, tentu ia menahan sedikit keinginan itu, dan infaq menjadi pilihannya. Misalnya
      Ia yang berjalan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, selalu menerima dengan lapang ketika harus berpisah dengan dunia. Jika handphone terjatuh di jalanan, ia akan lebih menyesali ketika shalat berjama'ahnya yang hilang terlewatkan. Misalnya

       Maka, cobalah untuk terus berusaha menjadi salah satunya. Berbuatlah sepenuh akal untuk kepentingan diri kita. Berbuatlah sepenuh hati untuk kepentingan orang lain. Dan, letakkan ridho Allah diatas segalanya. Karena, itulah mereka, yang sudah sampai akhirat bahkan sebelum meninggal dunia. Karena, itulah mereka, yang hidupnya sudah selesai sebelum berakhir.


_Inspired by Ust.Syatori Abdurrauf dalam JIF akhir tahun_

Jumat, 10 Juni 2016

* Diary Ramadhan * (5) *Momentum Ramadhan*

22.00 0 Comments

Momentum Ramadhan
(Inspired by Ust. Ridwan Hamidi, Lc. MA dalam ceramah tarawih Masjid Mujahidin UNY)

Ramadhan dalam perspektif ulama, dibahasakan dengan ungkapan fursoh / kesempatan / momentum langka. Jadi, akan sangat rugi jika amalan ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan biasa-biasa saja. Padahal, ada peluang pahala sebanyak-banyaknya yang bisa kita raih.
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud, terkait salah satu kesempatan di hari Jum’at “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera datang ke masjid, dan mendekati imam, dan menyimak apa yang khotib sampaikan, serta tidak melakukan hal yang membuat lalai, satu langkahnya sepadan dengan shalat dan puasa satu tahun”. Bayangkan saja, apabila seorang laki-laki menjalankan apa yang disampaikan oleh hadits di atas. Jika jarak rumahnya dengan masjid adalah sebanyak dua ratus langkah, maka ia akan mendapat pahala puasa dan shalat selama dua ratus tahun. Itu adalah contoh orang yang pandai memanfaatkan momentum.
Umur umatku antara 60-70 tahun, dan sangat sedikit yang melampaui batas tersebut”, (HR. At Tirmidzi). Sebagai umat terakhir, umat Nabi Muhammad saw dikaruniai usia yang paling pendek daripada umat-umat sebelumnya. Akan tetapi,  ia mempunyai peluang untuk masuk surga pertama kali. Siapa? Yaitu, orang-orang yang pandai menggunakan momentum, yaitu memanfaatkan peluang amal dengan pahala besar.
Adapun contoh momentum di bulan Ramadhan adalah:
TarawihBarang siapa yang ikut shalat tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka untuknya dicatat seperti shalat semalam penuh”. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
Memberi makan orang berbuka puasaBarangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka baginya pahala senilai pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun”. (HR Tirmidzi dan An Nasa’i)
SedekahSedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan”. (HR Tirmidzi)
Beberapa hal di atas hanyalah sebagai contoh beberapa peluang ibadah yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan. Tentu saja, disamping bulan Ramadhan memang merupakan bulan yang utama dan mulia, bulan syahrul Qur’an, bulan syahrun Mubarak, bulan maghfiroh, bulan pembebasan dari api neraka, bulan yang didalamnya terdapat malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
So, kesimpulan, apabila disediakan ladang amal di hadapan kita, sekecil apapun, ambillah…. Karena, sekali ditunda belum tentu akan terbuka di waktu berikutnya. Semoga kita termasuk orang yang bisa memanfaatkan momentum, serta mendapat kemuliaan dan berkah Ramadhan J Aamiin
 Yogyakarta, 10 Juni 2016

Kamis, 09 Juni 2016

* Diary Ramadhan * (4) *Hukum Islam*

22.00 0 Comments

Hukum Islam
(Inspired by Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, MA dalam ceramah tarawih Masjid Syuhada, Yogyakarta)

Seluruh perbuatan manusia, tidak serta merta berjalan begitu saja. Harus ada hukum, acuan atau patokan-patokan tertentu sebagai pedoman dan aturan dasar yang harus ditaati. Sebagai orang islam, sudah menjadi kewajiban untuk mengikuti aturan-aturan hukum islam, atau yang sering kita sebut dengan hukum syari’ah. Meskipun, hukum islam tidak secara otomatis akan menjadi hukum nasional yang diterapkan dalam sebuah Negara. Hukum syari’ah sendiri merupakan hukum yang diambil dari dalil-dalir rinci baik dari Al Qur’an maupun sunnah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf (akil baligh, sudah mempunyai tanggungjawab dalam beragama).
Sumber hukum islam ada dua hal, yaitu: (1) Al Qur’an. Seluruh ayat Al Qur’an bersifat pasti, tidak ada keraguan padanya. Didalam Al Qur’an sendiri,  terdapat 600 ayat yang berkaitan dengan hukum. (2) Hadits, yang terbagi menjadi 4 kelompok dengan kriteria berdasarkan jumlah perawi ( hadits mutawattir dan ahad), berdasarkan kekuatan/kualitas periwatannya, berdasarkan tertolaknya periwayatan, juga berdasarkan perbedaan pandangan ulama dalam menerima maupun menolaknya.
Al Qur’an menjadi sumber yang utama dalam menentukan sebuah hukum. Namun, ada kalanya, ayat-ayat yang disampaikan perlu dianalisa dan dipahami lebih lanjut, karena yang tertera hanyalah prinsip-prinsip umum,  atau secara kuantitatif jumlahnya terbatas. Dalam mengeluarkan atau memilih sebuah hukum, ada beberapa golongan kaum muslimin, yaitu:
Mujtahid mutlak, yaitu orang yang dengan ketinggian ilmunya mampu menyimpulkan hukum-hukum islam dari sumber-sumbernya yang asli dengan menyusun metodologinya sendiri. Ialah orang yang menguasai ayat-ayat hukum, hadits-hadits hukum, bahasa arab dg seluruh cabagng ilmunya, ulumul qur’an, ulumul hadits, ushul fiqh, dan lain-lain. Mereka yang termasuk dalam golongan ini, contohnya adalah empat imam madzhab.
Mujtahid madzhabi, yaitu orang yang mengikuti metodologi ijtihad imam madzhab, namun tidak taklid kepada imamnya baik dalam pendapat maupun dalilnya.
Muttabi’, yaitu orang yang mengikuti pendapat dari mujtahid tapi dengan mengetahui dalil-dalilnya. Sebagai contoh, dalam masalah hukum tertentu, ia menguraikan dari berbagai macam pendapat, dianalisa dengan logika hukum, kemudian dibandingkan antara pendapat yang satu dengan yang lain. Sehingga, dalam memilih, maka pilihan jatuh pada pendapat yang paling kuat diantaranya.
Mukallid, yaitu orang yang hanya mengikuti kata gurunya. Tidak tahu persis seperti apa dalilnya, maupun pendapat ulama tentang persoalan tersebut. orang yang taklid ini, tidak ada jaminan apapun, dalam artian ketika orang yang diikutinya benar maka ia benar, ketika orang yang diikutinya salah ia juga salah. Namun begitu, tanggung jawab tetap diemban sendiri, bukankah masing-masing kita, diwajibkan untuk menuntut ilmu atas apa-apa yang belum kita tahu?
***
Intermezo.
Orang bertanya “Bagaimana hukumnya melakukan ini & itu? Banyak sekali pendapat yang berkembang di masyarakat, yang benar yang mana? Maklum, saya masih bingung, saya hanya orang awam ustadz..
Ustadz menjawab “Kalau jadi orang awam kerap bingung, makaa berhentilah menjadi orang awam

#Mohon maaf jika ada kesalahan atau ketidaksesuaian redaksi, mohon koreksi J Apa yang diuraikan sebenarnya sangat panjang, tapi karena masih pol dangkalnya ilmu, jadi belum terlalu paham#




Rabu, 08 Juni 2016

* Diary Ramadhan * (3) *Tarawih, Witir, & Tahajjud*

22.00 0 Comments

Bolehkah melaksanakan shalat tahajjud, sementara sudah melakukan shalat tarawih dan witir?
(Inspired by Ust. Talqis Nurdiyanto, Lc dalam ceramah tarawih Masjid Nurul Asri, Deresan, Yogyakarta)

Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari,…”
(QS. Al Muzammil : 1-2)

Ada titik perbedaan antara shalat tahajjud dan shalat tarawih, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Dari sejarah pensyariatannya. Perintah melaksanakan shalat tahajjud turun pada saat Rasulullah saw masih di Makkah, sedangkan perintah melaksanakan shalat tarawih turun ketika Rasulullah sudah hijrah ke Madinah.
b.      Rasulullah saw melaksanakan shalat tahajjud di sepanjang malam, sedangkan melaksanakan shalat tarawih hanya dilakukan sebanyak 3x berturut-turut. Hal ini disebabkan karena khawatir akan dianggap sebagai sebuah kewajiban dan memberatkan. Jadi, shalat tahajjud lebih intens dilakukan daripada shalat tarawih
c.       Shalat tahajjud dilaksanakankan setiap hari, di sepajang masa. Sementara, shalat tarawih dilaksanakan hanya pada bulan Ramadhan.
d.      Dalam 3x shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah, semuanya dilakukannya di masjid dengan jumlah jama’ah yang banyak dan semakin bertambah di setiap harinya. Sedangkan shalat tahajjud lebih sering dilakukan sendirian, di rumah (kamar Aisyah) atau di masjid dan kalaupun berjama’ah paling banyak hanya dengan 1 / 2 orang sahabat.
e.       Shalat tarawih dilakukan di awal malam, setelah shalat isya’ dan sebelum tidur. Sedangkan shalat tahajjud dilaksanakan di akhir malam, setelah tidur
f.        Jumlah raka’at shalat tahajjud, menurut beberapa riwayat disebutkan 11 / 13 raka’at. Sedangkan shalat tarawih, masih menjadi ikhtilaf. Tidak ada satupun hadits yang menjelaskan berapa jumlah raka’at tarawih di masa Rasulullah saw. Beberapa orang melaksanakan 11 raka’at berdasarkan hadits Aisyah yang shohih. Haditsnya memang shohih, namun para ulama umumnya sepakat bahwa hadits tersebut bukan terkait shalat tarawih melainkan terkait shalat tahajjud. Data yang paling valid adalah 20 rakaat, yaitu shalat tarawih yang dilaksanakan oleh sahabat sepeninggal Rasulullah saw di masa Umar. Hal ini bisa menjadi acuan, karena logikanya tidak mungkin sahabat melaksanakannya tanpa dasar apapun, asumsinya, mereka melakukan persis yang dilakukan di masa Rasulullah saw.

Adapun persamaan dari shalat tarawih dan tahajjud adalah sebagai berikut:
a.       Baik shalat tarawih maupun shalat tahajjud, keduanya termasuk dalam Qiyamul lail, yaitu semua jenis shalat yang dilakukan di malam hari.
b.      Meskipun Rasulullah melaksanakan shalat tarawih hanya sebanyak 3 x, namun bukan berarti dicabut pensyariatannya. Status hukumnya tetap sunnah, ada sebagian ulama yang mengatakan hukumnya adalah sunnah muakkadah. Jadi, baik shalat tahajjud maupun shalat tarawih, keduanya termasuk shalat sunnah

Tentang shalat witir:
a.       Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan shalat witir”. (HR Bukhari dan Muslim). Jadi, shalat witir merupakan penutup shalat sunnah lain di malam hari. Ada ulama yang juga menjelaskan bahwa shalat witir, didahului oleh shalat yang genap raka’atnya. Jadi, bisa disimpulkan shalat witir bisa dilaksanakan setelah shalat tarawih ataupun shalat tahajjud.
b.      Kemudian beliau bangun untuk melaksanakan rakaat kesembilan, hingga beliau duduk tasyahud, beliau memuji Allah dan berdoa. Lalu beliau salam agak keras, hingga kami mendengarnya. Kemudian beliau shalat dua rakaat sambil duduk”. (HR. Muslim).
Menurut Imam An Nawawi, dari hadits di atas menjelaskan bahwa diperbolehkan melakukan shalat sunnah setelah shalat witir, dengan tidak usah mengulangi witir kembali.
Jadi, kesimpulannya, boleh atau tidak shalat tahajjud setelah tarawih & witir? Jawabannya diperbolehkan, dan tidak perlu shalat witir lagi.
Barang siapa yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk”. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
Hadits tersebut menjelaskan bahwa ketika melaksanakan shalat tarawih, dianjurkan untuk mengikuti imam sampai selesai sampai witirnya. So, tidak perlu memotong 8 raka’at, hanya untuk melaksanakan witir setelah tahajjud di akhir malam J
Yogyakarta, 8 Juni 2016