Follow Us @whanifalkirom

Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juni 2019

Maisy's Year

14.26 0 Comments

Tittle : Maisy's Year
Author : Lucy Cousins
(This book is collected by Afkaaruna Library)






The lesson that can be taken from the book is :

1. Mengajarkan anak untuk sayang binatang
In spring, Maisy looks after all the baby animals -Blue birds, chicks, horse and foal (anak kuda), bats, snails, owls-

2. Mengenalkan anak dengan beberapa keanekaragaman hewan laut
What does charley catch? -Crab, starfish, octopus, fish-

3. Mengajarkan anak untuk sayang tumbuhan
In autumn, Maisy and Cyril gather the harvest - Pumpkin, onion, turnip, carrot-

4. Mengenalkan anak dengan beberapa pekerjaan rumah
What does Maisy like doing all year round? -Cooking, cleaning, reading with panda-

***



Selasa, 18 Juni 2019

Clownfish's Adventure

14.09 0 Comments

Tittle : Clownfis's Adventure
Author : Steve Parish
(This book is collected by Afkaaruna Library)













The lesson that can be taken from the story is :

1. Menjadi partner yang baik dan memberi support untuk orang di sekeliling kita
"Come on white stripe, let's explore". Asks blue stripe to white stripe (Shy's clownfish and never left his home before)

2. Menjadi partner yang bisa dipercaya
"Will you promise to stay beside me?" ----- "Yes yes yes"

3. Berkelanalah. Ada banyak hal di luar sana yang mengagumkan
Dolphin swims straight up to the top af the water and disappear. White stripe and blua strip are very puzzled. Dolphin crashes back the sea and both of the clownfish jump in fright.
In the excitement, white stripe has forgotten he was ever scared of leaving home

3. Jangan takut mencoba, berat hanya di langkah pertama
White stripe says, "That was fun! Can we do it again?"


***



Minggu, 10 September 2017

Resensi : Awe - Inspiring Me

01.45 0 Comments
Judul Buku : Awe – Inspiring Me

Penulis : Dewi Nur Aisyah

Tebal Buku : 231 Hlm

Penerbit : Ikon

ISBN : 978-602-74653-4-3
Untuk para muslimah muda, para pembelajar menjadi sholihah, bacalah buku ini. Secara umum, kesimpulan yang bisa ditarik mungkin sederhana dan familiar, tetapi sangat tepat untuk mengurai kembali niat, motivasi, tujuan, dan langkah dalam hari-hari yang kita jalani. Ditulis oleh seorang muslimah yang prestatif, tentu didalamnya sarat akan semangat menjejak prestasi, dengan tetap menyandang gelar muslimah sejati.
Hidupmu adalah pesan bagi dunia. Buatlah hidupmu menginspirasi. Dan ingat, kamu adalah penulis buku kehidupanmu di akhirat. Pastikan buku itu berarti untuk dibaca
Diawali sebuah prolog singkat, buku ini menyampaikan pesan, seperti apa seorang muslimah seharusnya.

Ia menempatkan Allah di atas segala-galanya. Niatkan seluruh aktivitas untuk Allah. Pasrahkan segala ikhtiar pada Allah. Optimis atas pertolongan Allah. Dan yakin segala kejadian adalah ketetapan terbaik dari Allah. Meletakkan cinta pada Allah yang utama, dan konsekuensinya adalah ikuti apa yang Ia perintahkan, serta jauhi apa yang Ia benci.

Ia seimbang dalam hal dunia dan akhirat. Muslimah tidak kuper, tidak terbatas ruang gerak, ia mulia dengan sebanyak-banyak ilmu yang dipunya, sebanyak-banyak karya yang mampu dicipta, setinggi-tinggi prestasi yang digapai. Sebab itulah, ia jeli dalam berperilaku dan menghindarkan diri dari yang sia-sia. Menyadari bahwa hidup tak semestinya mengalir, melainkan penuh dengan rencana. Sebab itulah, ia terus melangkah tanpa berputus asa, meski tak sekali dua dihadapkan pada kegagalan dan rintangan yang begitu beratnya. Namun, pada satu titik takdir Allah pasti akan membawa, yaitu manis pada akhirnya.

Senin, 19 Juni 2017

Resensi : Happy Little Soul

22.54 0 Comments
Judul Buku  : Happy Little Soul
Pengarang   : @retnohening
Penerbit       : gagasmedia
Tebal            : 202 hlm.
Harga           : Rp 80.000,-
ISBN             : 978-979-780-886-0
……“Dituliskannya buku ini, bukan berarti saya adalah ibu yang sempurna. Adanya buku ini bukan berarti perjalanan  menjadi ibu yang baik sudah selesai. Tidak. Masih sangat panjang perjalanan dan masih banyak pe-er yang harus dikerjakan. Saya adalah ibu yang sedang dan insha Allah akan terus belajar menjadi lebih baik…” Begitulah sebagian ungkapan ibuk @retnohening untuk pembaca dalam suratnya di lembar-lembar awal buku ini.
Sudah bisa memprediksi kan, kira-kira apa isinya buku ini? Ya, sebuah kisah panjang tentang perjalanan menjadi seorang ibu dalam mengasuh anak. Dengan gaya menulisnya yang telling experience banget, dan bahasa yang kita banget, membacanya pun jadinya ngalir banget. Pembaca secara tidak langsung belajar dari pengalaman ibuk @retnohening, “ooo..begitu, dan begitu..”. Intinya buku ini secara tidak langsung mengajarkan ilmu parenting praktis.
Baiklah, isinya saya ulas sedikit di sini ya. Ada point - point yang bisa kita pelajari bagaimana mengasuh ala beliau ini, sedari pasca-pernikahan:
1)    Bersiaplah menjadi ibu (ini si ibuk @retnohening bahkan nyiapin test pack banyak-banyak, karena saking mendambanya jadi seorang ibu. Tentu, siap-siapnya dengan do’a-do’a, siap mental, jaga kesehatan, jaga pola makan, dan lain sebagainya. Termasuk juga kesiapan ilmu, karena kadang prinsip” memperlakukan anak bertentangan dengan orangtua, atau orang lain, tetapi selama yakin itu benar, it’s no problem. Tentu dengan tanpa menutup mata mencari tahu lebih banyak lagi.
2)    Jadilah ibu yang pembelajar (Ingat yaa, ada anak berarti sudah tak se-bebas saat masih ‘sendiri’. Ada waktu-waktu yang harus dikorbankan bersamanya, dan itu mau tidak mau harus belajar membiasa. Ingat juga yaa, bekal mendidik yang paling penting itu adalah dengan menjadi ‘role model’, itu juga mau tidak mau si ibu harus terus belajar menjadi pribadi yang baik, anak hanya menirumu bukan?)
3)    Berkomunikasilah yang sehat (Ajak anak berbincang, bahkan sejak dia masih berada dalam kandungan. Berilah perhatian dan pengertian. Bersemangatlah mengapresiasi.  Ajak anak bermain.  Meminta tolong, melibatkan dalam pengambilan keputusan, dan lain-lain).
4)    Lanjutkan sendiri yah. Kalau baca sendiri lebih greget, contoh aplikatifnya dapet. Selain itu, ini buku kemasannya menarik sekali, dari awal sampe akhir full color.

5)   Happy Reading…

Jumat, 05 Agustus 2016

(Resensi) Matahari

06.41 1 Comments

Judul : Matahari
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia
Tebal Buku : 400 hlm; 20 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2016
Harga : Rp. 82.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/)

Sinopsis Buku:  
Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.

Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.

Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.

Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.
***
Murni Copast dari blog teman, baca versi lengkap dan aslinya di sini
Belum baca nih, kalau ada yang punya boleh donk pinjam :) :) :)

Sabtu, 30 Januari 2016

(Resensi) Hujan

06.12 0 Comments
Tentang Persahabatan
Tentang cinta
Tentang perpisahan
Tentang melupakan
Tentang hujan




Sebuah kisah romantis masa depan, tahun 2050. Soke dan Lail. Aah, ini novelnya bikin baper.

“Takdir tanpa perasaan memilih siapapun yang dikehendakinya. Mungkin, keajaiban itu datang melalui pertolongan serta doa-doa dari orang yang tidak kita kenal” #Hal.41
“Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa” #Hal.63
“Kamu tahu Lail, tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian” #Hal.227
“Hidup ini juga memang tentang menunggu, Lail. Menunggu untuk kita menyadari kapan kita akan berhenti menunggu” #Hal.228
“Orang kuat itu bukan karena dia memang kuat, melainkan karena dia bisa lapang melepaskan” #Hal.228
“…..Tapi dalam banyak hal, kebersamaan tidak hanya dari sapa-menyapa. Jika kamu bersedia memperhatikan wajahnya sekali sajasaat melihatmu, saat  melirikmu, kamu akan tahu, Esok ingin sekali bicara banyak denganmu…” #Hal.247
“Ada orang yang sebaiknya menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baikjustru membawa kedamaian” #Hal.255
“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta” #Hal.256
“Ada banyak hal yang bisa saling dipahami oleh dua sahabat sejati tanpa harus bicara apapun” #Hal.271
“Lebih baik mendengar kebenaran meski itu amat menyakitkan daripada mendengar kebohongan meski itu amat menyenangkan…” #Hal.288
“Bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah-marah, tetapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri” #Hal.299
“Tapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan” #Hal.308
“Bukan seberapa lama umat manusia bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami” #Epilog. Hal.317

Jumat, 28 November 2014

POSITIVE PARENTING # 1 # Dasar-Dasar Positive Parenting

03.49 0 Comments


Judul Buku      : Positive Parenting
Pengarang        : Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit           : Mizania
Tahun Terbit    : Cetakan 1, Oktober 2010
Tempat Terbit  : Bandung
Tebal Buku      : 265 Halaman




Dan Tuhanmu agungkanlah!
Rasulullah saw berpesan pada hari - hari terakhir jelang kematiannya “…..Sesungguhnya, kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya”.
Sampaikanlah pesan Rasulullah itu kepada anak-anak kita, niscaya ia akan tumbuh dengan percaya diri, jiwa yang besar, konsep diri yang baik, pikiran yang terbuka, serta dada yang lapang. Sebab, ia memahami bahwa pembeda manusia hanyalah takwanya. Sehingga, akan ada ikatan kasih sayang dan cinta diantara mereka, yang landasannya adalah iman. Sekali lagi, sampaikan pesan Rasulullah, dan siapkan generasi - generasi yang meninggikan kalimat Allah, bukan meninggikan diri dengan kalimat Allah.

Semoga Doa-Doa Mereka Membumbung Tinggi
            Hanya tiga hal yang dapat seseorang harapkan setelah kematiannya, Ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan anak-anak shaleh yang mendoakan. Iya, perdengarkanlah mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka dapat merasakan bahwa hanya kepada Allahlah kita meminta. Didiklah mereka untuk menjadi shalih-shalihah, karena doa yang terlantun, harus dibersamai dengan keshalihan. Jika itu dunia yang melatari sebuah doa, pastikan sertakan niat karena Allah didalamnya.

Membangkitkan Semangat Anak
            Orang – orang besar tidak dilahirkan. Mereka ditempa, diukir, dan dipersiapkan oleh pendidikan yang baik. Ajaklah anak untuk melihat sebuah kekuatan besar dibalik sebuah kelemahan. Berilah mereka cerita yang menginspirasi, dengan sungguh-sungguh, dan dengan sepenuh hati sembari berharap turunnya hidayah untuk mereka.

Belajar Dari Masa Kecil
            Masa kecil, masa -yang seharusnya- seorang anak bersungguh-sungguh mencari ilmu, sekurangnya yang menjadi bekal dasar kehidupan mereka. Namun sayangnya, saat ini, ditengah semaraknya kemajuan teknologi, tradisi keilmuan justru hilang. Anak-anak disibukkan dengan televisi, dengan gadget, dan lain sebagainya. Ya, untuk para orang tua, jangan lewatkan masa emas anak begitu saja, tanpa belajar agama.

Pada Mulanya Adalah Membaca
            Awalnya, adalah membaca. Anak-anak akan mempunyai ketrampilan, kemampuan, dan ketajaman mencerna isi bacaan. Kemampuan berpikir mereka lebih matang dan tertata. Mereka juga akan mengembangkan kemampuan menimbang dan menilai apa yang mereka serap dengan lebih baik. Untuk itulah, kegemaran membaca pastikan iringi dengan penanaman nilai yang baik pada mereka. Yuk, biasakan anak-anak membaca, bacaan yang bergizi..

50 Tahun Mendatang Anak Kita…
Semoga, mereka sudah tersebar di seluruh dunia. Mereka gigih merebut dunia bukan karena gila harta, melainkan karena mereka ingin menjadikan setiap detik kehidupannya untuk menolong agama Allah. Mereka gigih bekerja, dengan harap setiap tetes keringatnya menjadi pembuka jalan ke surga.  Tetapi, ingatlah, 50 tahun mendatang anak kita, hari inilah menentukannya !!

Matinya Perjuangan
            Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita sendiri, didiklah mereka sesuai dengan perubahan zaman namun tidak melupakan prinsip.

Ajarkan Jihad Sejak Dini
Tanamkanlah kepada mereka pemahaman tentang jhad secara utuh, bukan tentang jihad yang benar atau jihad yang salah. Mengajarkan jihad berarti menumbuhkan kepada mereka harga diri dan kepercayaan diri sebagai orang yang beragama. Mereka belajar memiliki rasa tanggung jawab.

Merusak Tetapi Dicintai
            Televisi. Ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa televisi kini sudah menjadi “The First God (Tuhan Pertama)”. Karena pada kenyataannya, meskipun televisi menimbulkan dampak yang sangat buruk untuk anak, para orangtua tak dapat lepas dari menatap layar kaca. Jadi, untuk orangtua, siapkanlah untuk mematikan televisi di rumah juga mematikan televisi di hati kita. Artinya, kurangi antusiasme untuk membicarakan acara-acara atau bintang-bintang di televise. Meskipun bukan hal yang buruk, sekali waktu menikmati tayangan televis yangbagus, bersama seluruh anggota keluarga.

Berseteru Karena Cemburu
            Rencanakankalah kelahiran anak dengan baik. Satu-Dua-Tiga-dst. Sudah pasti anak kita akan mempunyai seorang adik, dan kita akan lebih banyak waktu mengurusnya. Cermati sikap awal kita, jangan merasa seolah-olah kita direpoti oleh anak. Berilah mereka perhatian, ajarkan mandiri, libatkan dalam menjaga adik, supaya tidak ada kecemburuan diantara mereka.

Dua Anak Cukup!
            Dua anak cukup. Tiga anak lebih dari cukup. Empat anak? Baik. Lima anak, baik sekali. Enam ke atas, istimewa. Berapa kita memutuskan punya anak, periksalah niat kita! Jika, siap membesarkan banyak anak, insyaAllah mereka akan tumbuh sebagai manusia yang berjiwa besar, berkarakter kuat, dan memiliki mental yang kukuh. Tidak ada yang berat pun tidak ada yang repot. Selama niat dan persiapan kita tepat.
To be Continued….
***
            Tulisan di atas merupakan ulasan secara garis besar buku (121 hlm dari 265 hlm) berjudul Positive Parenting karya Fauzil Adhim. Seperti yang tertulis pada kolom komentar pembaca, saya sangat setuju bahwa buku ini menyajikan nilai-nilai islami yang sangat dalam, mengajak orangtua untuk memberikan hati dan cintanya kepada anak-anak mereka. Memberi kesadaran bahwa pondasi utama untuk mendidik anak adalah iman. Dimana hal itu diwujudkan pada mereka, anak-anak, yang selalu meninggikan kalimat Allah dalam setiap hal.
            Penggunaan kalimat yang mudah dipahami, dengan gaya sastra khas penulisnya, sangat baik untuk dijadikan salah satu sumber referensi dan pengetahuan orangtua dalam mengasuh anak. Meskipun menurut saya, dalam beberapa sub-tema kurang begitu sesuai dengan judulnya. Yuk, para orangtua, atau calon orangtua, siapkanlah bekal mendidik dan mengasuh anak, sebanyak-banyaknya…


Selasa, 07 Januari 2014

Eliana

18.56 0 Comments
Novel Karya Tere Liye kembali menambah kesibukanku saat ini. Sebenernya, sudah agak lama tersimpan rapi dalam rak buku, tapi masih banyak buku-buku dan novel-novel lain yang belum terbaca sama sekali. Eliana. Buku ke-4 dari serial anak-anak mamak, setelah Burlian, Pukat, dan berikutnya Amelia.
Eliana, Anak sulung mamak. Tak berbeda dengan anak kecil pada umumnya, seringkali usil, juga jahil. Bermain ‘iseng’ bersama kawan-kawan, membenci teman kelas (namun pada akhir menjadi sahabat), membentuk genk bernamakan “tiga musang” (namun berganti menjadi “empat buntal”), mengeluh saat di suruh, dan berbagai ‘kenakalan-kenakalan’ lainnya.
Menjadi Anak mamak, yang galak. Menjadi anak Bapak, yang tegas berprinsip. Dengan pendidikan yang baik dalam keluarga, tumbuhlah ia menjadi anak jahil yang spesial.
Eliana sang pemberani. Ia berani teriak kencang demi membela kehormatan Bapak. Berkata dengan lantang “Jangan Hina Bapakku! Kami memang orang miskin. Baju ini juga lungsuran, di beli di pasar loak. Lantas kenapa? Apa itu hina? Kehidupan rendahan? Asal kau tahu, Bapakku tidak akan pernah menjual seluruh kampung kepada kalian”. Begitulah sepenggal luapan ‘marah’ Eli di tengah-tengah tegangnya perbincangan Bapak bersama pejabat provinsi kabupaten.
Eliana yang cerdas. Seluruh kampung tentunya tahu, ia anak paling pandai di dalam kelas. Tidak ada yang berani bersaing melawannya, kecuali Marhotap –Si pemalas dan Si jarang mandi- yang mendapat tantangan dari Pak Bin untuk mengalahkan Eli. Ia anak paling pandai di tempatnya mengaji. Nek Kiba –guru ngaji- sendiri yang membela Eli, tatkala ia memaksa mengumandangkan adzan demi mempertahankan kehormatan seorang wanita. Nek Kiba sendiri yang turun tangan menjelaskan kepada Eli, agama pun punya aturan main, hingga ia menyadari kekeliruannya. Perempuan tetap terhormat, meskipun tidak semua hal bisa dilakukannya, termasuk mengumandangkan adzan.
Eliana yang perhatian. Bahkan saat seluruh keluarga di rumah tidak menyadari mimik wajah Burlian yang berubah, Tingkah Burlian yang memilih diam saat semua berkumpul makan malam, pekerjaan Burlian yang ‘tersembunyi’ di kamar dengan pintu tertutup, Eliana lah yang  sigap sadar dan sibuk bertanya-tanya. Hingga pada akhir menemukan jawaban, bersamaan dengan seluruh keluarga dan warga kampung juga tahu sebab muasalnya.
Eliana yang jujur. Meskipun dalam berbagai kesempatan, bisa saja ia mengarang alasan untuk melindungi dirinya dari kemarahan orang lain, ia urung melakukannya. Memilih bilang yang sebenarnya, meskipun takut-takut beresiko ‘dimarahi’.
Eliana yang berjiwa besar. Segera sadar atas kekeliurannya berfikir mamak membencinya. Dengan hati menyesal, air mata menumpah tangis, memeluk mamak dari belakang, “Maafkan Eli, Mak”..
Eliana yang hebat. Cita-cita mulia ia kukuhkan. Menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Menjadi pembela orang-orang lemah dan tersisihkan. Menjadi pembela lingkungan hidup yang terancam. Berdiri paling gagah, paling depan, paling nomor satu.

Menurut saya, novel ini sangat bagus. Saya bisa berimajinasi, membayangkan bagaimana kehidupan Eliana beserta keluarganya di kampung (Karena saya juga orang kampung mungkin, hehe) . Keluarga sederhana, Sungai-sungai mengalir, hutan lebat, sekolah seadanya, minim SDM guru, dan lain-lain. Alur ceritanya runtut, mudah dipahami. Memuat pendidikan yang baik, profil keluarga dan warga kampung yang (layak) ditiru. Hanya saja, terkadang ‘agak’ membosankan dan ‘kurang’ membuat penasaran alias datar ceritanya. Bagi kalian yang belum membaca, recomended J

Ada beberapa petikan kalimat dan nasehat yang bagus dari novel ini,


Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan itu tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia. Kalian tidak harus membalas penghinaan dengan penghinaan, bukan? Bahkan, cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah, tidak perlu membalas"

“Kata tetua bijak, manusia memiliki sendiri hari-hari spesialnya Ada hari ketika ia dilahirkan, hari mulai belajar merangkak, hari mulai belajar berjalan hingga bisa berlari. Manusia tumbuh besar dengan hari-hari. Jatuh, bangun, sakit, sehat, tertawa,menangis, sendirian, ramai, sukses, gagal, semua dilalui bersama hari-hari. Tentu temask salah satunya hari ketika kita bertemu dengan pasangan hidup.”

“Masih ingat apa yang pernah Bapak bilang, Amel. Semakin benar sebuah cerita, semakin menyangkal orang-orang.”

“Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika itu memang cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali para pencinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.”

“Tidak ada urusan baik yang dilakukan dengan cara buruk. Tidak selalu hal menyakitkan harus dibalas dengan rasa sakit.”

“Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik”

“Nak, Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengrbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian”.

Cold Eyes

00.42 0 Comments

Genre : Aksi, Drama, Kejahatan
Tanggal Rilis Perdana : 04 Juli 2013 (Korea Selatan)
MPAA Rating : Bimbingan Ortu
Durasi : 118 min.
Studio : Next Entertainment World
CAST & CREW
Sutradara : Jo Eui Seok, Kim Byeong Seo
Produser : Lee Yu-jin
Penulis Naskah : Jo Ui-seok
Pemain :  Seol Kyeong Gu, Jeong Woo Seong, 
Han Hyo Joo, Jin Kyeong, Junho, Lee Dong Jin

(Sumber : Wowkeren.com)


(Dulu), Saya penggila drama Korea (tingkat akut mungkin). Semenjak SMP, kenal pertama kali dengan judul “My Girl” yang tayang di salah satu stasiun televisi, saya langsung tertarik mengikutinya. Meskipun waktu itu, melewatkan banyak episode (karena berebut stasiun tv dengan kakak, dan kalah), ya, jadinya tidak tahu persis detail alur cerita. Kemudian, dikenalkan kembali dengan judul lain saat SMA, “Boys Before Flowers”. Karena SMA tinggal di kost bersama kawan-kawan (yang sebagian besar juga penggemar drama Korea), tentunya saya lebih intens menonton daripada sebelumnya. Setelah itu, terpikat dengan drama “Prosecutor Princess”, yang meskipun sedikit sekali episode saya tonton, tapi ternyata masih teringat saja ni bagian-bagian ceritanya sampai sekarang. Ckckck
Alhasil, setelah kuliah, dan mempunyai netbook sendiri, begitu leluasa hati. “My Girlfriend Is Gumiho” – “Secret Garden” – “Love Story In Harvard” – “Love Rain” – “King To Heart” – “The Moon The Embraces Te Sun” – “Rooftop Princess” – “Heartstring” – “All About My Romance” – dan berderetderet judul lainnya.
Akhir-akhir ini, Alhamdulillah, sedikit memudar. Meskipun (masih) mengikuti, seperti “The Winter The Wind Blows” atau “The Heirs” atau “Marry Him If You Dare” tapi saya tidak full menontonnya. Kali ini dipercepat. Saat biasanya butuh 16 jam untuk mengahabiskan, sekarang cukup satu sampai dua jam. Atau Menonton satu episode awal, dan berikutnya bertanya sama teman bagaimana kelanjutan cerita. Atau, cukup membaca sinopsis bagian awal dan akhirnya. *Yeay
(Sekarang) masih proses, supaya tidak sekedar pudar keinginan nonton itu, tapi supaya tidak sama sekali.  Boleh lah tahu, tapi tidak untuk dikonsumsi. #ApaSichManfaatnyaDramaKorea? Boleh kawan, berbagi saran dan nasehatnya ^_^

Tapi kali ini, saya suka sama film (masih Korea), dengan judul Cold Eyes. Nah, beginilah sinopsisnya... *Pengantarnya panjang banget, kurang nyambung lagi


Ha Yoon Ju, seorang perempuan yang sedang dilatih untuk masuk menjadi anggota baru Kepolisian unit kriminal khusus Korea. Menjadi mata-mata dan mengikuti setiap gerak-gerik rekan unit tersebut, sebagai ujian, dan sempurna. Ia berhasil menunjukkan gerak orang yang diikuti tepat bersama jam dan durasi waktunya.

Selamat bergabung Ha Yoon Ju. Ia bersama timnya bertugas mengawasi penjahat kelas tinggi, dan saat itu dihadapkan pada sebuah kasus pencurian bank, dimana dalang pelakunya adalah penjahat profesional dan berpengalaman.

Kinerja dimulai. Koordinasi yang tepat bersama tim, aturan main yang tidak boleh dilanggar, penempatan lokasi yang sesuai, serta keterpaduan antara anggota di lapangan beserta di kantor, semua telah siap. Rencana matang.

Setelah perjuangan keras, bahkan salah satu anggota tim meninggal dalam bertugas, akhirnya dalang pelaku pencurian bank tersebut tertangkap dan tertembak. Meskipun beberapa waktu sempat terhenti karena konflik internal, tetapi mereka kemudian menyadari harus tetap bergerak dan bekerjasama. Yah, begitu seterusnya. Tetap mengawasi kegiatan para penjahat, menarik tali peristiwa dari satu tersangka untuk menangkap tersangka lainnya.

Kamis, 02 Januari 2014

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

01.42 0 Comments
Novel ini, 
Berkisah tentang cinta, cinta yang sama-sama tak tersampaikan. Seorang gadis kecil (Tania), diam-diam punya rasa (yang entah apa itu namanya) terhadap laki-laki dewasa (Danar). Dialah penolong sekaligus penopang hidup dari segala keterbatasan ekonominya, memberikan awal harapan baru untuk hidup terus maju.  Dengan janji Tania kala itu, untuk selalu menuruti apapun, asalkan dia yang meminta. Dengan tekad Tania kala itu, untuk berusaha memantaskan diri, dengan menjadi gadis dewasa nan cantik dan pintar.
Benar saja, Tania tumbuh sesuai harapan. Tetapi, kehidupan cinta tak selalu sesuai keinginan. Disinilah, ia memahami bahwa cinta tak harus memiliki. Ia memahami, bahwa ‘daun yang jatuh tak pernah membenci angin, membiarkan dirinya luruh begitu saja’. Dengan dukungan seorang adik (Dede) yang menjadi partner suka-dukanya, kini Tania memutuskan untuk pergi, jauh, demi kebaikan dirinya (Tania) dan dirinya (Danar)...
Selamat Membaca....


Minggu, 17 November 2013

Positive Action Plan #1

10.20 0 Comments
POSITIVE ACTION PLAN
(Napoleon Hill. 2009. Jakarta : PT Tamaprint Indonesia)



1.Sifat dapat dikendalikan adalah sifat dasar untuk karakter yang baik (Ex : Menepati janji = Peduli, dapat dipercaya, dihormati)
2.Anda dapat menilai karakter seseorang dengan melihat teman-teman yang dipilihnya
3.Reputasi adalah apa yang orang lain pikir tentang diri anda dan karakter adalah diri anda yang sebenarnya
4.Setiap pemikiran dalam otak anda menjadi sebuah bagian permanen dari karakter anda
5.Karakter yang sehat adalah harta terbesar kita karena terdapat kekuatan untuk mengatasi kesulitan hidup, sehingga kita tidak terpengaruh kesulitan tersebut
6.Beberapa orang seperti sebuah jam tangan murah, mereka tak dapat diandalkan
7.Pilihlah seseorang yang anda kagumi, lalu tirulah dia semirip mungkin
8.Kesombongan biasanya menandakan sifat rendah diri
9.Mengeluarkan kata kotor adalah tanda kurangnya perbendaharaan kata atau penilaian yang tidak benar
10.Jika anda terpaksa berdusta, pastikan anda tidak mendustai sahabat terbaik anda dan diri anda sendiri
11.Uang mempunyai pengaruh baik dan buruk, tergantung karakter orang yang memilikinya
12.Tidak ada orang yang bergitu baik, sampai-sampai tidak memiliki kekurangan ; dan tidak ada orang yang begitu jahat, sampai-sampai tidak memiliki sifat baik
13.Orang yang jujur hanya untu sebuah penghargaan harus dikategorikan sebagai orang yang tidak jujur
14.Orang yang malas adalah orang yang sakit atau belum menemukan pekerjaan yang sungguh-sungguh ia senangi
15.Jika anda memiliki karakter yang baik, anda biasanya tidak khawatir tentang reputasi anda
16.Perhatikan betul karakter anda dan reputasi anda akan mengikuti dengan sendirinya
17.Kepalsuan memang akan terlihat dengan sendirinya
18.Apakah anda orang jujur atau tidak jujur, tidak ada kompromi diantara keduanya
19.Para bankir sering meminjamkan uang dengan melihat karakter orang, tetapi jarang hanya berdasarkan reputasi karena tidak semua reputasi didapat dengan jujur
20.Kejujuran adalah sebuha sifat yang tidak dapat dinilai dengan uang
21.Sangatlah mudah membenarkan kejujuran jika anda tidak mendapatkan uang dari hal itu
22.Terlalu banyak mengatakan kebenaran dapat membuat orang lain tak nyaman
23.Kesopanan biasanya dari rumah atau tidak sama sekali
24.Orang yang hanya memiliki waktu untuk gosip dan fitnah berpeluang kecil untuk sukses
25.Pencapaian yang besar lahir dari sebuah perjuangan
26.Jangan melihat pada bintang-bintang sebagai penyebab ketidakberuntungan anda. Lihatlah pada diri anda sendiri untuk meraih hasil yang lebih baik.