Follow Us @whanifalkirom

Selasa, 01 Oktober 2013

Serial Cinta

15.16 0 Comments

Tentang cinta. Tak pernah selesai. Pertanyaan selalu muncul. Apa sesungguhnya arti ‘cinta’? Dengan siapa kita mencinta? Lantas bagaimana caranya mencintai, bagaimana mengekspresikannya? Seperti apa kehidupan atas dasar cinta? Ada puluhan kisah, ratusan, bahkan ribuan, lebih. Masing-masing punya ceritera yang berbeda. Akankah yang kita kenal hanya pasangan Romeo dan Juliet? Atau agungnya cinta Sayyidina Ali dan Fatimah?.
*Teruslah belajar,mengambil hikmah,tentang ‘cinta’............
***
#Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.

#Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu. Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.
Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.
Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!
Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!

#Lain lagi. Umar bin Abdul Aziz. Begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya tumbuh mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri. Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil. Walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah Rasyidin kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.
Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu - biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai.
Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang? Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam”.(Dikutip dari “Serial Cinta” karya Anis Matta)


– lebih lengkapnya “Selamat Membaca” –

Sabtu, 28 September 2013

Miracle In Cell No 7

06.45 1 Comments


Lee Yong Go – Sebagai seorang ayah, tentu sangat mencintai dan bertanggung jawab terhadap putri kecilnya (Ya Seung), meskipun dia sendiri menderita kelainan mental.
Suatu hari, karena Ya Seung sangat menginginkan tas sailor moon, ia mengikuti seorang anak perempuan menuju toko yang menjual tas tersebut. Namun, di tengah perjalanan, si anak terjatuh dan meninggal dunia. Kejadian itu membawa Lee Yong Go masuk penjara dengan tuduhan penculikan, pembunuhan, serta pelecehan seksual anak.
Kasus belum selesei hingga Ya Seung dewasa. Alasan satu-satunya Lee Yong Go tak mengungkapkan kejadian faktanya, adalah demi keselamatan Ya Seung dari ancaman kepala polisi (juga merupakan ayah si anak perempuan yang meninggal).
#Orangtua.....Memang selalu berkorban untuk anak-anaknya

Bee Movie

06.15 0 Comments

"Bahwa sekecil apapun pekerjaan jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka akan sangat berarti"
(Iseng nich, lagi banyak nganggur. Akhirnya bertahun-tahun film disimpan, ditonton juga, *efek nggak ada pilihan lain* )
Lebah menggugat manusia. Benar-benar tidak masuk akal ini film (kartun pula*nggak suka). Tapi ada pelajaran yang bisa kita ambil si sebenarnya^-^
Intinya, dari hasil pelarian diri masuk ke dunia manusia, seekor lebah merasa bahwa madu yang dhasilkan atas kerja & jerih payah selama ini telah dicuri oleh manusia. Lalu, memutuskan untuk mengajukan gugatan, hingga berhasil! Manusia tidak lagi mengkonsumsi madu, semua yang beredar di toko disita habis. Lebah tak lagi perlu bekerja keras -_-
Namun, apa yang terjadi? Para lebah merasa bosan dan tak tahu apa yang harus dikerjakannya. Bunga-bunga tak lagi bermekaran indah karena tak ada lagi yang membantu penyerbukannya. Layu, Suram.............
***
Nah, hikmahnya, bekerjalah dengan cinta J Tak perlu banyak mengeluh, cukup lakukan yang terbaik. Karena apapun yang kita kerjakan, ada hal baik yang selalu menyertainyaa^_^ 

Jumat, 20 September 2013

'Kok Nggak Tahu Apa-Apa Sich?'

21.38 0 Comments

Sudah menjadi hal yang wajar, posko KKN akan penuh dengan anak-anak kecil. Selain karena mudah didekati, anak-anak memang belum ada kesibukan yang berarti, sehingga bermain di posko bukan masalah bagi mereka.
Permintaan mereka tidak macam-macam, paling meminjam laptop dan bermain beberapa game yang tersimpan. ‘Angry bird’ dan ‘Zombie’ menjadi permainan favorit mereka. Beberapa anak yang tidak tertarik game meminta kami untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Beberapa anak yang lain akan bersenda gurau, bermain tebak-tebakan, atau sekedar plesetan.
Nah, ini nich. Karena pada dasarnya aku tak begitu suka game (tepatnya aku nggak mau kecanduan), maka tak ada satupun game yang tersimpan di netbookku. Alhasil, anak-anak itu kecewa. Dan ketika mereka bertanya “Gimana ini mainnya, kok nggak mulai-mulai, pake apa nembaknya?” Sontak jawabanku “Tak tahu”.
Begitu pula, tatkala mereka bermain tebak-tebakan. Pertanyaan andalanku hanya satu “Bila pagi-pagi ada dua, siang ada satu, malam tidak, apakah itu?” dan tidak ada pertanyaan lain yang muncul di kepalaku. Yaah, bagiku, tebakan adalah permainan 10 tahun lalu, dan tak berbekas rupanya.
Hingga beberapa hari di sana, kami semakin dekat, salah satu anak berkata padaku “Mbak kok nggak tahu apa-apa sich?” ---- #Gubraak....
Nah, jangan suka remehkan hal-hal kecil. Untuk ‘tahu’ sesuatu yang sederhana itu juga penting lho...


Rabu, 18 September 2013

Kasihku.. (1)

21.10 0 Comments
Kasihku,
Jika jarak adalah pembatas antara kau dan aku, semoga angin membawa kita untuk bersua

Kasihku,
Jika sebuah pertemuan tak mampu mengenalkan kau dan aku, semoga insan terdekat berbaik hati  mengajak kita untuk bersapa

Kasihku,
Jika sekedar sapa tak cukup mendekatkan kau dan aku, semoga mimpi dan harapan merengkuh hati kita untuk bercengkerama

Kasihku,
Jika hati belum menemukan pintu untuk menumbuhkan simpati kau dan aku, semoga pemahaman & akhlak baik, serta doa-doa setia mengantar kita untuk memulai menyulam cinta

Kasihku,
Pada akhir cerita kita, cinta ini lalu tumbuh kuncupnya, kemudian mekar perlahan, hinnga sepenuhnya merekah..
Semoga bintang-bintang tersenyum menjadi saksinya..
Dan malaikatpun turut mendoa,
Hari bahagia untuk kita.Selamanya.


Selasa, 17 September 2013

Kasihku.. (3)

22.13 0 Comments
Kasihku,
Sampai hari terindah itu tiba,
Semoga kau dan aku terus berproses memantaskan diri,
Biarlah pertemuan itu, sapaan itu, cengkeramaan itu, Dialah yang tepat mengaturnya,
Meski jalan kita ternyata harus berlawanan,
Wajah harus berpaling meski ternyata kita di hadapan,
Sungguh biarlah,

Karena sejatinya kita tetap menuju tempat yang sama, dengan satu tujuan :)


Jumat, 30 Agustus 2013

Surat Cinta Untuk Adikku....

05.42 0 Comments
Barakallahu fii umrik adikku yang shalehah,

Semoga sisa usia yang Allah berikan semakin menambah kedewasaanmu seiring waktu, semakin meneguhkan tekadmu untuk terus memperbaiki diri dan menggapai cita impianmu.
Semoga menjadi pribadi yang penuh syukur, atas nikmat sehat, kesempatan, serta kecukupan rizki yang Ia berikan untukmu.
Semoga makin cantik hati dan wajah, makin membahagiakan keluarga dan orang-orang terdekatmu.

Adikku yang baik,
Kau tumbuh sebagai pribadi istimewa. Tetaplah seperti itu, menjadi seorang yang selalu menderma dan berusaha berbuat kebaikan. Sungguh, sebaik-baik manusia adalah yang memberi kebermanfaatan bagi manusia lainnya. Cukup ingat akan janjiNya “Hal Jazaul Ihsan Illal Ihsan”, kebaikan akan terbalas dengan kebaikan pula. Bahkan, meski nilainya sekecil biji kurma.




Adikku yang cantik,
Sungguh salut dan kuhargai perubahanmu, ketika perlahan kau simpan tumpukan celana yang menghias lemarimu.  Lalu berganti dengan kain rok yang lebar, serta baju dan gamis-gamis cantik yang panjang. Tetaplah jaga keanggunan dengan hijabmu sayang :) Lewatkan semua cerca atau bisik-bisik menyiutkan, bukankah penilaian Allah jauh lebih utama?
Inilah proses belajar, sedikit demi sedikit, dan perlahan.

Adikku yang selalu ceria,
Tidakkah kau merasa sia, tatkala keceriaanmu hilang hanya karena satu orang yang sering kau identikkan dengan ‘cinta’ semu mu? Sesungguhnya yang mampu mengendalikan hati hanyalah dirimu sendiri.
Jangan biarkan perasaan itu tumbuh mekar sebelum matang kuncupnya. Percayalah, tak satupun manusia bebas dari ‘rasa’ itu, hanya saja masing-masing punya cara sendiri untuk mengungkapkannya. Kuharap kau juga menemukan caramu, cara yang bijak, cara yang baik, dengan mengutamakan perbaikan diri untuk menemukan orang yang baik pula.
Akankah kau rela menukarkan cintaNya dengan cinta manusia?
#nasehat bang Tere-.........Tetapi dalam ilmu urusan cinta sejati, amunisi paling sakti justeru adalah: sabar. Itu sungguh lebih mujarab untuk menaklukkan cinta terbaik.

Adikku yang pintar,
Ingatlah selalu akan peranmu. Sebagai anak yang mengemban amanah orangtua untuk menuntut ilmu. Sebagai mahasiswa yang mengemban amanah untuk menghasilkan ide solutifmu. Pandai-pandailah, satu hal yang tak pernah kembali, adalah masa lalu. Kejar prestasi, sekarang juga.

Adikku,
Jika di kemudian hari, merasa lelah dengan rutinitas yang ada, merasa jenuh dengan hati yang kerapkali berganti rasa, merasa bosan dengan aktivitas teman-teman yang menghadirkan ketidaknyamanan, merasa resah dengan tekadmu yang mulai luntur, atau merasa rindu akan keluarga yang seutuhnya memberikan perhatiannya padamu...
Berbagilah sayang,
Tak hanya bersendiri, mengunci pintu ; atau menyalakan musik keras-keras ; atau menyibukkan diri dengan bersih-bersih perabotan kamarmu ; atau menuliskan kisah klasik melankolismu... ^_^


#Desi, Minta Kado Apa? Dijamin Nggak DiKasih.ekekeke

Rabu, 10 Juli 2013

Welcome Ramadhan

05.05 0 Comments
Alhamdulillah, bulan yang paling dirindu itu kini datang. Bagaimana tidak? Bahkan ketika tidurnya menjadi ibadah, tiap-tiap shalat fardhunya ibarat 70 shalat fardhu di bulan yang lain, shalawatnya memberatkan timbangan saat timbangan meringan, satu ayatNya bak khatam Al Qur’an pada bulan yang lain, dan .......-istimewa-. Semoga, cinta-cinta kian bertebar dan melekat, untukNya, dariNya. Aamiin
Ada sesuatu yang berbeda, tatkala masjid kampus yang begitu besar itu, begitu penuh sesak berdesarkan. Satu-satu, dan beberapa gerombolan bergiliran memenuhi jalanan sesaat setelah adzan merdu berkumandang.  Pelataran poliklinik, yang berubah fungsi menjadi tempat parkir dadakan.  Tak terkecuali aku, dan beberapa kawanku (Alya, Ria, Kholiv) sungguh antusias berlari-lari kecil, berjalan di sela-sela barisan, tepat persis hanya bersisa shaf paling belakang.
Semangatnya pengurus masjid setempat, menyambut hari pertama ramadhan dengan menghadirkan anggota terhormat dari KPK. Jam ceramah yang dinamakan ‘kultum’ itu kini berubah menjadi ‘kuljam’ yang berarti kuliah satu jam. Bukan karena tiada niat untuk mendengarkan, hanya saja kerasnya speaker justru menggema memantulkan tepat di gendang telinga kami. Tak ada sesuatu yang kami dengar jelas, dan layaknya anak-anak yang belum menginjak belia, bosan mulai mendera.
“Hanif, Ayo pulang saja, kita shalat tarawih di kosmu”. Kata Alya
“Nanggung si Al...” Jawabku. Sejenak merasa bersalah. Mengingat pengalamanku tahun kemarin, aku yang menyarankan untuk shalat di sini. Kulirik wajah Ria, hanya diam tak berekspresi.
“Terus kita mau ngapain?, aku nggak ngantuk tapi bosen. Lapar juga”
“Iya, ya, harusnya tadi bawa kamera, terus foto-foto. Kayaknya seru kalau rame penuh orang kayak gini” Ria menimpali
“Ni Hapeku. Hape paling canggih yang kalian pasti nggak punya. Kamera otomatis dan praktis” Aku sengaja mengeluarkan hapeku, N2310 Yang tentunya tak ada fasilitas apapun kecuali sms dan telepon. Itupun masih beruntung, tidak mati semaunya.
“Iya nif, hapemu bagus sekali, kita memang nggak punya ya ri”. Jawab Alya kemudian.
Sedikit obrolan kecil kami, berharap rasa bosan itu segera bosan menghampiri kami. Namun, waktu seperti tak berjalan, semakin lama saja rasanya. Hingga kami memutuskan untuk bermain selayaknya 12 tahun lalu, A-B-C sambil menghitung jari-jari kami yang sengaja terlihat untuk dihitung.
“Manggis”
“Mangga”
“Melon” Mencoba saling berebut jawaban.
“Fakel”
“Felem”
“Fefaya” Dan kamipun tertawa.
“Maslow”
“Materialism”
“Maturition” Justru lebih sulit memikirkan jawaban seputar istilah psikologi. Dan Kholiv masih tetap disampingku, bermain games dari HP, sambil berkali-kali memamerkan gol yang telah dimenangkannya. Beberapa anak kecil di sebelah kanan kami saling tertawa, jua ada yang menangis memanggil ibunya. Beberapa anak lain di samping kiri kami, oh, tertawa lebar-manyun-menjulurkan lidah- tepat di depan kamera. Foto-foto. Mungkin ini suatu kesalahan, semoga tak terulang di esok kemudian. Bahkan, sebosan apapun, menghargailah, maka engkau akan dihargai.#tettot
Tepat pukul 21.10 kami keluar dari halaman masjid. Cukup lama memang, tak apalah, meski itu karena tak menyadari & tak sengaja tarawih tadi berbilang 23 raka’at. Perut-perut lapar, sejenak juga mulai melaparkan kesabaran kami. Sedikit saling keras ‘berdiskusi’ dan lagi-lagi, pada akhirnya Safira selalu saja menjadi muaranya, saat tak ada lagi pilihan yang tepat untuk dipilih. Tetap makan, meski Ria dan Alya mulai tak berselera dan menyisihkan sisa. Tetap mencoba tersenyum, berpamitan, dan mereka pulang. Semoga esok lebih baik kawan...
Lalu pagi ini, entah siapa mengetuk pintuku menjelang setengah tiga, sungguh terimakasih. Bangkit mengambil air wudhu, dua raka’at shalat malam, tilawah beberapa lembar, memasak air panas, menyeduh pop-mie hangat sambil mendengar murottal, bercakap dengan orangtua (sedikit bercerita perihal KKNku), mandi, shalat subuh, tilawah beberapa lembar (lagi). Ah, nikmat Tuhanmu yang manakah yang Engkau dustakan? Sepertinya, momentum di Jogja kan menarik untuk tetap dikenang.
Semoga hari ini Allah melimpahkan cintanya untukku, keluargaku, teman-temanku, dan semuanya. Menjadi awal pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin. Selamat beraktivitas.

Minggu, 16 Juni 2013

Hari Ini

16.30 0 Comments
Wahai bunga, janganlah kau layu sebelum mekar bertumbuh. Semoga engkau menyaksikan, kisah ini menjadi indah..
Wahai langit, tetaplah biru, semoga engkau menyaksikan, kisah ini dengan kelembutanmu.. Hujan ini, hanya sebagai pengantar, pengikat kerinduan *masa-masa mahasiswa (hampir) tingkat akhir....
*15.45 Deras kali ini
*Gelap, mendung menggelayut
*Berteman film ‘Bidadari-bidadari Surga’
*Terdengar sayup Badai Pasti Berlalu – Ebiet G.Ade
*Kasur kecil untuk bertiga
*Lantai sisanya untuk berdua
#Suasana Fullkost (begitulah kami -aku & shinta tepatnya- menamakan)
***
Apapun hari ini, tetaplah bersyukur, dan esok, jemputlah dengan lebih baik , :)
Hari ini.
Patut bersyukur, ujian menjadi ‘trainer dadakan’ mendapat giliran cukup awal, saat kebanyakan yang lain menunggu berjam-jam dan tetap merelakan jika harus tertunda esok hari. Namun setelahnya, bahkan sebelum keluar ruangan menanti teman lain menjadi ‘trainer dadakan’ pula, telepon dari rumah mengabarkan kakak di rumah sakit. Kembali mengingat, tak ada jadwal ujian hingga kamis pekan depan, disempatkan menjenguknya membersamai ibu..... #Aku
Hari ini.
Tersedu di salah satu sudut kamar, tanpa tahu sebab yang pasti. Hanya saja, mungkin mencari jawaban setelah kelas preliminary *kemana lagi jurnal-jurnal itu harus kucari? Judul apa lagi jika mungkin kuganti?* atau mungkin *merindu orang-orang terdekat, sosok-sosok luarbiasa bernama keluarga* Tapi tetap saja kami tertawa, mendengar keluhan di sela-sela tangisannya #katanya Depresi, Tidak mau tua, Otak yang tak terpakai (Alhamdulillah, perubahan setelah minggu lalu hampir mati, stress tingkat akut, pecah kepalanya) #Afroh
Hari ini.
Bahkan tak tahu jika hari ini adalah hari  ujian. Melenggang tenang menuju perpustakaan, memanfaatkan waktu. Meski setelahnya harus tercengang, helm yang bertengger manis, “dipinjam” tanpa ijin. Sementara harus bergerak cepat berharap segera sampai ruang ujian. Mungkin “sipeminjam” lebih butuh. Mungkin kurang berhati-hati. Mungkin memang sudah waktunya untuk terganti. Mungkin dan mungkin lagi.... Ah, semoga rasa tak nyaman hari ini tak betah berlama-lama #Shinta
Hari ini.
Seperti hari biasa yang terlewati. Tanpa keluhan, tanpa banyak alasan, tanpa teriakan, pula tanpa tertawa berlebihan. Namun, kabar dari rumah, sungguh terasa sangat mengejutkan. Embah, telah dipanggil kembali untuk menghadapNya. Meski secara usia sudah lanjut, inilah rasa... kehilangan. Menanti esok, melesat pulang #Alya
Hari ini.
Giliran terakhir. Penutupan. Diantara teman-teman yang mulai lelah..lapar.. Apa daya sebuah harap, kesempatan tetap datang hari ini. Mencoba tetap meyakinkan diri, baik-baik saja, setelah terjatuh hingga tubuh berkurang sehat dan sedikit melukai motor yang dibawa. Juga mata yang belum total kesembuhannya, tak berbeda, karena waktupun tak pernah menunggu #Ria

Untuk hari ini. Kusenandungkan... Spesial serenade... untuk orang-orang tercinta... Siapapun itu... :)

Jumat, 17 Mei 2013

'Kekuatan Cinta dalam Hidup'

15.27 1 Comments

Apalah arti cinta? Sudah pasti beragam jawabnya. Sebagian orang mendefinisikan cinta cukup sederhana, rasa yang terjalin antara dua orang laki-laki dan perempuan. Atau cinta yang lebih luas, ibarat orangtua dan anaknya, memberi tanpa meminta, mengorbankan waktu tenaga bahkan materi tanpa pikir panjang lagi, sepanjang usia. Atau cinta yang lebih luas lagi, hingga sulit untuk terdefinisikan, namun yang pasti cinta adalah kekuatan tertinggi. Terlepas dari semua definisi itu, saya yakin semua orang setuju, kata cinta selalu identik dengan hal-hal yang positif. Karena itulah, begitu hebat kekuatannya.
Hiduplah dengan cinta. Niscaya kau menemukan ketenangan dalam hatimu. Karena, kita menyadari benar bahwa cinta berarti membangun kedekatan dengan Tuhan kita, Sang Pemilik Cinta. Dan yang ada, memasrahkan diri sepenuhnya, mengusahakan hidup dengan baik. Apabila sesuai dengan keinginan, lalu bersyukur. Apabila tidak, kita paham akan rencana terbaik Tuhan di baliknya.

Sabtu, 13 April 2013

Totto Chan (A Goodwill Journey to the Children of the World)

18.51 0 Comments

“Aku Berdoa Untuk Kebahagiaanmu”
Dengan berjingkat-jingkat sepanjang bangsal untuk melihat keadaan anak-anak, aku berjalan dan berdiri disamping ranjang anak laki-laki di ujung barisan. Sepertinya ia berumur sepuluh tahun dan memandangku dengan matanya yang besar dan indah. Dokter mengatakan bahwa anak itu akan sembuh, tapi aku takut kata-katanya itu hanya untuk menentramkanku, karena kondisi anak terlihat sangat buruk.
“Sentuhlah dia”. Kata dokter. Jadi aku menyentuh kakinya yang kurus, tulangnya terlihat jelas. Kakinya keras dan kering, sama sekali tidak terasa seperti kaki manusia. Itulah ciri penyakit tetanus. Otot-otot kaki jadi kaku dan semuanya mengejang. Anak itu sedang demam dan sangat menderita.
Ia terus menatapku, jadi aku berkata dalam bahasa Jepang “Dokter sudah melakukan sebisanya untukmu, dan katanya kau akan segera sembuh. Jadi, bergembiralah, karena semuanya akan baik-baik saja!”.
Anak itu berusaha keras mengatakan sesuatu. Saat itulah aku melihat ternyata bukan hanya kaki dan tangannya yang kaku, tapi juga yang lain, termasuk bibir, lidah, bibir, pita suara, dan rahangnya. Meskpun demikian, anak itu mengerahkan seluruh kemampuannya dan berhasil mengatakan sesuatu. Aku bertanya pada perawat apa yang dikatakan anak itu. Perawat memberitahuku bahwa anak itu, yang tampak sekarat berkata padaku “Aku berdoa untuk kebahagiaanmu”.
***

Sabtu, 16 Maret 2013

The Power of "Senyum"

19.33 0 Comments



Senyum tanda mesra.. Senyum tanda sayang.. Senyumlah sedekah yang paling mudah.. Senyum di waktu susah tanda ketabahan.. Senyuman itu tanda keimanan.. #Raihan#

Benar adanya, jika senyum merupakan pembuka kekuatan dalam diri. Ada sesuatu yang hebat tersimpan dibalik sebuah senyuman. Sederhana, tidak membutuhkan banyak tenaga, tanpa sepeserpun biaya, dapat dilakukan spontan tanpa banyak berpikir, cukup menggerakkan bibir saja, tetapi makna yang tersimpan luar biasa. Ia mampu menyejukkan mata yang memandang, mampu meluluhkan hati yang sedang risau, dan mampu menegarkan diri yang sedang terpuruk.
Rasulullah saw mengabarkan bahwa “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah”. Dan inilah orang menyebutnya sebagai bentuk ibadah yang paling mudah. Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah saw berpesan “Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu, walaupun itu hanya bermuka cerah kepada orang  lain”.
Senyum itu tanda kesabaran. Berkaca dari kisah Rasulullah saw, suatu ketika beliau didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Rasulullah saw, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui tersebut bersuara keras “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Rasulullah saw menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya. Dalam sebuah kisah lain, ketika Rasulullah saw memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat & tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengar alasan mereka.
Senyum tanda sayang. Senyum merupakan simbol kasih sayang kepada orang lain, merupakan sebuah penghargaan, penghormatan, serta kepedulian. Hal ini mampu membuat orang lain merasa bahagia karena itulah tanda bahwa dirinya dihargai. Dengan senyum pula, mampu menghadirkan pengikat yang erat bagi sebuah persaudaraan. Bahkan dengannya, ikatan yang retak pun menjadi mungkin untuk diperbaiki kembali.
Senyum tanda ketabahan. Kehidupan manusia yang rentan pasang surut, senyumlah penawarnya. Saat bahagia datang menjelma, dengan senyum berarti mengekspresikan rasa syukur kepada Sang Pemberi bahagia. Namun, bukan berarti senyum berlebihan yang justru membuat semakin terlena. Begitu juga sebaliknya, saat duka dan kesedihan datang melanda, dengan senyum berarti mengekspresikan rasa ikhlas atas apa yang membuatnya berduka. Lalu, senyum itu akan mengantarkan diri menjadi pribadi yang tabah dan kuat. Karena, ia akan selalu berusaha untuk tidak mengeluh, berputus asa, maupun mebiarkan diri larut dala kesedihan, tetapi memilih bangkit lagi.
Senyum melapangkan pergaulan. Wajar, orang akan menyukai orang yang ramah, tersenyum bila bersua. Orang lain akan semakin tertarik untuk mengenal dan dekat padanya. Begitu pula saat menerima senyum, orang akan mudah menerima dan membuka diri untuk orang tersebut. Begitulah, ukhuwwah terjalin indah bermula dari senyuman..

Kamis, 14 Februari 2013

Beautiful Mind

10.27 2 Comments

Merupakan film cerminan dari kisah nyata, John Nash. Ilmuwan matematika, yang (tentunya) sering utak-atik angka. Jenius tapi apatis. Menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Princeton, dengan beasiswa. Tidak menyukai kuliah dalam kelas, karena baginya sia-sia, mengekang kreatifitas, dan menyebabkan otak tumpul. Lalu, ia menyukai belajar secara otodidak, lebih banyak meluangkan waktu di luar untuk memahami dan memecahkan masalah dengan pemikirannya sendiri.
Dan ternyata... Ia mengidap penyakit gangguan jiwa (schizoprenia), tak bisa membedakan antara halusianasi dan kehidupan nyata. Halusinasi, dengan merasa bahwa dirinya terlibat dalam konspirasi militer tingkat tinggi. Ia berada dalam keanggotaan rahasia (intel) departemen pertahanan AS yang sedang melakukan spionase ataupun pelacakan terhadap rencana pemboman yang dilakukan oleh Rusia.
Schizoprenia, dengan gejala paranoid terhadap lingkungan sekitar, tak ada obat yang mampu menyembuhkan. Hingga istrinya, Alicia, datang dengan kasih sayang dan dukungan, melakukan dekonstruksi ulang terkait fantasi yang diderita, dengan ketekunan ; kesabaran; John Nash dapat kembali ke kehidupan semula. Mengabaikan seluruh fantasi, khayalan, dan halusinasi yang tiap akali hadir mengganggu. Akhirnya, bangkitlah menjadi seorang John Nash luar biasa, peraih nobel dalam bidang ekonomi 1994.
--Selamat Menonton--

Selasa, 12 Februari 2013

Anak Kecil Oh Anak Kecil #2

11.45 0 Comments
Hampir usai. Kusempatkan diri untuk ke-tiga kalinya berkunjung ke Surabaya (rumah kakak ke-enamku). Menyapa mereka, alhamdulillah, sampai dengan selamat, meski tangan kanan sedikit kaku, menenteng kardus sendirian, dan.. berat.
Ah, disinipun aku membersamai dua ponakan (juga TK + usia tiga tahunan). Berasa mirip di rumah, menghadapi kenakalan-kenakalan anak kecil. Hanya saja, disini ada satu ponakan laki-laki. Sampai depan pintu, terlihat mereka di ruang depan. Masih malu-malu rupanya. Bersalaman singkat, diam tanpa kata, ekspresi datar. Si kakak memilih berlari, masuk dalam kamar. Si adik memilih menyembunyikan muka dibalik budhe (yang mengasuh)nya. Kupanggil-panggil, tak bergeming.
Tak lama. Si kakak keluar, mulai tertawa-tawa, berlari dihadapan. Menunjuk kearahku, “itu siapa itu” mengajakku bercanda. Ku kejar dirinya, dan seketika... laaariii dengan terbahak-bahak. Berulang-ulang seperti itu, hingga dia bahkan mulai memukul, menendang-nendang wajahku, menginjak-injak kakiku. #sakit. Begitulah setiap harinya, saat kutanya kok mukul “Main robot ultramen, melawan monster jahat, robotnya besar terbang sampai awan”.ckck
Melihat Hp jadulku, meminta bermain “ular”, tak ada dan berganti dengan bola. Selalu begitu. Karena hpnya sering mati, rupanya tak sabar. Dengan mulut manyun, tangan bersedekap, “hp bulek kok gitu, ayo cepet benerin”. Lalu.... kembali mukul-mukullah dia.
Hari minggu tiba. Terbangun pukul 5 pagi, bersiap menonton “robot” di tv. Menarik lenganku kuat-kuat, “ayo toooooo”. Aku tak mengindahkan, hanya duduk dalam kamar, bermain dengan layar. Iapun keluar masuk, sembari memukul, dan tak lelah memaksaku untuk ikut menonton. Kubilang, ceritakan saja nanti, dan itu berarti aku juga bersiap untuk “sakit” lagi menghadapi prakteknya menjadi robot. Hehe
Saat semangat belajar datang, diambillah laptop mainanannya, bermain-main dengan huruf alfabet, dan memintaku untuk mengujinya. Alhasil, tak mau berhenti, dan bosanlah aku. Saat hitung-menghitung mulai tak bisa dijawabnya, kesal, dan marah, memaksaku untuk menjawabnya (aku yang tanya, dan akulah yang menjawab)
Di setiap shalat tiba, iapun tak mau kalah, harus shalat juga. Bedanya, ia shalat persis di depanku, dengan gerak yang super cepat, sambil menarik sajadah perlahan. Puaslah dirinya, tertawa keras-keras. Lalu ia akan membaca beberapa surat pendek, dengan kalimat yang dibuat samar dan asal, lalu terbahak kembali.
Si adik lebih diam, tapi “ngeyel”. Apapun semua serba memaksa. Tas, dompet, tissue, yang tlah kusimpan tidak lagi rapi. Mengajak jalan-jalan harus kesampaian. Berebut mainan, hingga mendapatkan. Berlari-lari minta ditangkap. Jika tidaaak.... nangislah ujungnya.

--lagi-lagi, anak Nakal, itu tandanya ber-Akal--

Sabtu, 02 Februari 2013

Anak Kecil Oh Anak Kecil #1

10.50 0 Comments

Liburku setelah UAS semester ganjil kali ini emang terbilang lama dibandingkan dengan semester ganjl tahun-tahun lalu. Biasanya, paling lama tiga minggu, kini satu bulan penuh. Dan kemudian, awal liburan akupun banyak menghabiskan waktu di rumah, bersama dengan kedua orangtuaku, kakak dan iparku, beserta dua keponakan yang masih kecil-kecil, TK dan usia tiga tahun-an.
Apa yang kubayangkan, benar terjadi. Seharian penuh tak terhitung lagi kami (aku dan keponakan) saling bertengkar. Suatu hari saat pagi, aku ikut menyibukkan diri memaksanya menyisir rambut atau mengenakan kerudung. Biasanya, ia akan berteriak keras menolak, marah-marah, bahkan menangis hingga memutuskan untuk tidak jadi berangkat sekolah. Beruntungnya, hari itu rayuan-rayuan kecil cukup meredamkan marah dan iapun menganggukkan kepala.
Lalu, sepulang sekolah, ia sudah memanggil-manggil dari kejauhan. Menggedor-gedor pintu memintaku untuk memutar film “3 idiot” andalannya. Merasa terganggu, akupun marah dalam hati, cukup keluar dari kamar, sambil tersenyum mengatakan “ya udah nonton, putarlah sana sendiri” sambil berlalu. Lihatlah, dua anak kecil itu, hanya terdiam memamtung menatapku, tanpa sepatah katapun.
Tak berselang lama, aku memposisikan diri terbaring di depan televisi, memegang remote kuat-kuat. Namun, keponakanku masih saja “berulah”. Ia jongkok tepat di depan televisi, menghalang-halangi, dan terkadang memencet tombol memindah channel sesukanya. Berulangkali ku mencegah, tiada hasil. Dengan jurus ancaman, kukatakan, “ya udah, tv dimatikan, kabelnya mau tak cabut”. Seketika dia berdiri, bersandar duduk dipangkuan sambil mengomel sendiri “ya udah, aku besok mau kaya, punya tv banyak, dan bulek nggak boleh nonton. Pokoknya ... pokoknya...”. Lagi-lagi rayuan kecil membuatnya berhenti mengoceh dan iapun terdiam senyum.
Tak berhenti sampai disana, kami sudah ‘baik-baik’. Dua ponakanku lantas masuk dalam kamar, mengambil bedak, menumpahkan di tangan banyak-banyak, mengusapkan di wajah, dan keluar sudah seputih tembok. Terkaget-kaget melihatnya, ditambah mendengar “bulek, cantik banget kan, sudah kaya’ putri?”. Tak mau kalah, si adik pun mengikuti kelakuan kakaknya, menumpahkan lebih banyak, hingga tercecer di bawah. Memang mengesalkan. Batinku
Masih berlanjut. Siang mulai berlalu. Manggis yang ada di meja, kini sudah dalam genggaman tangan. Satu, Dua, Tiga, semuanya minta dikupas. Tapi apa yang terjadi, hanya diambil yang besar-besar (padahal justru bijinya juga besar), yang kecil diremas-remas dan dibuang. Aduhai, mending aku yang makan.
Apa lagi? Masuk lagi ke dalam rumah. Kursi yang rapi tertumpuk, diambil satu-satu. Dipasang terbalik berjajar, “bermain kereta”.katanya. Lalu diambillah sebuah selimut besar untuk menutup seluruh bagian kereta kursi, kemudian kedua ponakanku masuk, dan mengintai sambil memanggil-manggil, “bulek, naik kereta, nggak keliatan”. Capek juga meladeninya. Hingga habis sudah kesabaranku, memaksa berhenti, dan mereka marah lagi. Eh eh, katanya “nggak mau sama bulek lagi, besok Fatkha (nama ponakanku) mau ke Irian, naik pesawat, biar kalo bulek kangen nggak bisa ketemu Fatkha”. Cukup kujawab, “iya, iya, mau ke Irian ya, naik pesawat?”


Sabtu, 26 Januari 2013

Nilai...

11.00 0 Comments
Setelah sekian lama duduk di bangku sekolah, hingga kini dalam masa-masa kuliah, sepertinya ini baru pertama kalinya kusesalkan sebuah “nilai”. Penyesalan yang sangat. Entah kenapa, setelah UAS berlalu, dan satu per satu nilai mulai keluar, aku mengintip sedikit demi sedikit (harap-harap cemas sebenarnya), dan langsung saja respon pertama adalah TERKEJUT. Keterkejutan yang membawa efek pada teman-teman di dekatku, terabaikan, terkena marah dan bentakan, dan sudah pasti muka muram menggerutu yang kutujukan untuk teman-temanku.
Aku bingung sebenarnya, terlalu lebay pikirku. Bukankah selama ini nilai jelek bukan masalah. Dulu, saat aku kecil, pernah suatu ketika mengerjakan soal matematika salah total, dan tentu saja nilainya “nol”. Tetapi, saat itu pula akupun pulang dengan bangganya mengumumkan nilai “nol” itu. Sama halnya di waktu-waktu berikutnya, saat nilai jelek yang kudapat, berapapun itu, aku tetap tersenyum, tanpa ragu-ragu memberitahukan kepada siapapun yang bertanya. Bahkan aku biasa saja menceritakan teman-temanku yang juga mendapatkan nilai yang sama jeleknya. Kuliahpun kini, aku merasa “rata-rata” saja. Satu yang pasti usaha dan do’a selalu menyertai, dengan target sederhana “cukup mempertahankan cumlaude”.
Tetapi kali ini, terasa sesuatu penyesalan yang lain. Nilai itu benar-benar menghilangkan wajah ceriaku waktu itu. Apa yang salah??? Ternyata, baru kusadari benar, nilai itu buah dari sebuah kebencian, dengan pengajar mata kuliah yang bersangkutan. Ya, kegagalan yang didapat terasa lebih mengecewakan saat terjadi karena sebuah kesengajaan. Bayangkan saja, berawal dari benci aku menjadi malas untuk mengikuti perkuliahan. Kesempatan 25% untuk membolos sudah pasti kugunakan sepenuhnya. Catatan? Jangan tanyakan, satu lembarpun tak ada. UTS, UAS, apa yang kulakukan? Membaca catatan teman yang tak kumengerti maksudnya, sekilas saja menjelang ujian dilaksanakan. Aktif di kelas? Boro-boro. Aku hanya diam membisu, sambil senyum-senyum menunggu waktu berlalu. Ah, dan sebagainya...
Begitulah, saat sesal selalu datang terlambat. Kebencian yang tak beralasan, malas yang tak terkendalikan, waktu yang tersiakan, ilmu yang terbuang percuma....... #Andai saja....... (Tetapi, karena berandai-andai bukanlah sebuah jalan, so lakukan yang terbaik untuk masa mendatang J).

Minggu, 06 Januari 2013

Catatan Untuk Kawan

00.30 0 Comments
“Apakah aku yang harus menghilang?”
Dan aku tak tahu persis jawaban yang tepat itu seperti apa. Kau lebih mengerti bagaimana hatimu nyaman merasakan. Kau lebih tahu bagaimana dirimu membutuhkan. Dan kau lebih memahami seperti apa dirimu ingin diperlakukan. Dan kau mungkin lebih bisa belajar, dari kisahmu yang lama, kisah teman yang lain, atau dari apapun yang bisa membuatmu menemukan makna :)
Yah, mari berpikir bersama,
Kau menghilang. Dalam sehari, satu minggu, dua minggu, mungkin biasa saja. Tapi dalam satu bulan, dua bulan, kau bisa menemukan jawaban. Apakah dia tetap sama, semakin jauh, atau justru mendekat. Dalam satu bulan, dua bulan, kau bisa menilai hatimu sendiri. Apakah perasaan itu masih sama, berangsur-angsur pudar, atau justru semakin lekat menggelayut.
Kau menghilang. Tak ada kerugian apapun. Bedanya, jika dulu kau selalu muncul ke permukaan, kau bisa bermain-main dengan harapan dan bertanya-tanya akan kepastian. Tetapi, jika kau tenggelam, kau menekan harapan itu dan kau yang akan membuat keputusan.
Kau menghilang. Kau menang. Kenapa? Karena perasaan adalah harga diri. Itulah bukti nyata, bahwa kau berhak mendapatkan cinta. Yuk, cintailah diri sendiri dengan sepenuh cinta.
Kau boleh memilih untuk bertahan dan muncul, tapi bisakah kau pastikan bagaimana akhirnya? Sekali lagi, ini hanya antara kau dan dia sekarang. Tak ada ikatan yang kuat, tak ada pagar yang melindungi jika akhirnya terlepas...
Bagaimana pendapatmu?
*Ria..Ria..Semoga Segera Kau Temukan Jawaban

Sabtu, 05 Januari 2013

Menjelang Uas

23.30 0 Comments

Komentar 1
“Minggu ini fokus ujian. Hp mati, lain-lain disimpan. Belajar maksimal”

Komentar 2
“Harusnya belajar tu dari dulu, biar mau ujian nggak nge-blank, mana materinya banyak

Komentar 3
“Nanti dulu ah, pagi ujian malam belajar. the power of kepepet itu lebih efektif”

Komentar4
“Udah belajar banyak-banyak, yang lain pada nyontek, nggak adil banget”

Komentar 5
“Sudahlah, ujian itu bukan untuk mencari nilai doank kok. Yang penting kita berusaha maksimal, masalah hasil Dia yang menentukan”

Kesimpulan
“Belajar maksimal, fokus, sepanjang proses, doa – tawakkal, (ditambah the power of kepepet juga bagus), dan dilarang saling Nyontek”


The Secret

11.30 0 Comments
“Bila anda mengalami rahasia ini, apapun yang anda inginkan akan terpenuhi. Kebahagiaan, kekayaan, kesehatan. Anda bisa memiliki, melakukan, dan menjadi apa saja. Kita dapat memiliki apa saja yang kita pilih, tak peduli betapa besarnya keinginan itu. Ini adalah rahasia besar kehidupan, dan rahasia itu adalah hukum ketertarikan. Semua yang terjadi dalam hidup anda, anda yang menariknya ke dalam hidup anda. Dan itu semua ditarik oleh kesan - kesan kebijakan yang ada dalam pikiran anda. Ini adalah apa yang anda pikirkan. Tahukah anda? Apa yang ada dalam pikiran anda, anda akan menarik pada diri anda. PIKIRANMU adalah NYATA”.
Itu sebagian ulasan dalam buku the secret (juga dalam film the secret). Betapa besarnya kekuatan sebuah pikiran. Ciptakan kebahagiaan kita, dengan selalu berpikir positif J J J


Bila Aku Jatuh Cinta

10.26 0 Comments
Ya Rahman Ya Allah Yang Maha Cinta....
Benarkah Cinta ini anugrah dari Mu?
Benarkah cinta ini akan membawaku pada kebahagiaan?
Namun saat ini aku gelisah, aku cemas dan semua gambar dan warna hanya pada orang yang saat ini ku sayangi,
Berjuta warna-berjuta bunga dan tentu semua tampak indah,
Ada rindu bila tak bertemu-ada cemburu jika dia dengan yg lain dan  cemas bila dia tak ada,
Ya Rohman bagaimana dengan cinta ini?

Bila Jatuh Cinta..
Bagaimana yang adekuat?
Bagaimana menjadi energi dan motivasi yang positif?
Dan jawabannya:
Prinsip : yang harus di katakan bahwa “Tidak ada pacaran dalam Islam
(Maka bagaimana mengelola ini menjadi energi positif penggerak - untuk maju - untuk memantaskan diri dalam pernikahan dan membangun keluarga)

Sepenggal ilmu,
Oleh : Ibu Satih Saidiyah
Dalam Talkshow “Bila Aku Jatuh Cinta” with Sisterhood
8 Des 2012


Kamis, 03 Januari 2013

Les Choristes

22.07 0 Comments
Menceritakan sebuah sekolah asrama di Perancis bernama “Fond De L’Etang” yang murid-muridnya sulit diatur & nakal. Mereka biasa merokok meskipun dilarang, mencuri, mengerjai seorang pembersih jendela, merusak fasilitas, atau bermain lempar-lemparan di dalam kelas.
Sekolah tersebut dikepalai oleh Rachin, seseorang yang tegas, keras, dan kejam. Prinsip yang digunakan adalah ada aksi ada reaksi, dimana seorang murid melakukan kesalahan akan dihukum. Jika tidak diketahui pelakunya maka semua murid mendapat sanksinya, atau bahkan menuduh sembarangan tanpa bukti yang jelas. Hukuman yang diberikan bukan hukuman ringan, sebagai contohnya dikunci dalam ruangan yang gelap selama beberapa hari & tidak menerima pengunjung, menerima pukulan dan cambukan, di skors untuk tidak mengikuti pelajaran, membersihkan rumah asrama selama 2 minggu, dan lain sebagainya.

Kenapa Harus Marah???

17.09 0 Comments


“Orang yang kuat bukanlah orang yang kuat bergulat, akan tetapi orang
yang kuat itu adalah mereka yang kuat menahan hawa nafsunya ketika
marah” (Riwayat Bukhori Muslim)

Pada dasarnya, perjalanan hidup manusia tidak serta merta sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan apa yang kita harapkan, atau dengan apa yang kita rencanakan. Disitulah, Allah selalu menguji, untuk mengetahui seberapa kuat seorang hamba bertahan dalam jalan kebaikan. Disitulah Allah juga akan memberi warna peristiwa, mulai dari yang membahagiakan hingga yang mengecewakan, untuk mengajarkan kepada manusia tentang sebuah hikmah.

Selasa, 01 Januari 2013

Ayahku (Bukan) Pembohong

12.33 0 Comments
Bercerita tentang seorang anak (Dam) yang setiap hari diperdengarkan dongeng-dongeng ayahnya. Hingga Dam mulai tumbuh dewasa, mulai berpikir,  bagaimana mungkin dongeng ayah adalah nyata? Bagaimana mungkin ayah mengenal sang kapten, sang juara dunia, sementara ayah justru menghindari saat jarak semakin mudah untuk direngkuhnya. Bagaimana mungkin ibu seorang bintang televisi yang ternama, sementara saat ini rela hidup begitu sederhana tanpa kemewahan apaun. Ya, kini Dam semakin yakin untuk membenci ayah, yang hanya terus berusaha membesarkan anak melalui kebohongan-kebohongan..
Semakin membenci ayah, saat tahu ayah tak melakukan apapun saat ibu jatuh sakit, keras, hingga akhirnya tiada, dan bahkan ayah tetap bersikeras bahwa ibu bahagia..
Dan waktu semakin membawa dirinya ke dalam peran berbeda. Hingga di detik terakhir sang ayah menghirup udara dunia, dalam kondisi bicara yang lemah terbata, meminta untuk bercerita sebuah dongeng terakhir, “danau para sufi” -ajaran tentang hakikat sejati sebuah kebahagiaan. 
“Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih”
Ya. Ayah menutup mata. Terpukau sudah, terdiam menatap tak percaya. Sang kapten benar-benar datang untuk memberi hormat dan berbelasungkawa.. Sejak itu, Dam tahu bahwa ayah memang tak pernah berbohong.....
_Selamat Membaca & Sampaikan Salam Cinta Untuk Ayah_