Follow Us @whanifalkirom

Jumat, 10 Januari 2014

Khadijah Binti Khuwailid

22.20 0 Comments
Saudariku,
Mari mengenal mereka,
Ibunda kita,
Wanita-wanita terbaik,
Para ibu yang turut serta memancarkan fajar islam,
Guru – guru teladan,
Penyemai kehormatan, peraih kemuliaan, tegak kokoh bersama kebenaran,
Ya, mereka-mereka wanita yang dirindukan surga,...

KHADIJAH BINTI KHUWAILID


Beliau adalah Ummu Al-Qasim binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushai bin Kilab. Lahir dari seorang ibu bernama Fatimah bin Za’id, di Makkah pada tahun 556 Masehi. Menikah dengan Abu Halah bin Zurarah At-Tamimi (meninggal) lalu menikah lagi dengan ‘Atiq bin ‘Abid bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Menjadi seorang janda, kemudian menikah dengan Rasulullah saw. pada usia 40 tahun sebagai istri pertama sekaligus pemberi keturunan kepada beliau.

Beliau adalah seorang saudagar kaya raya yang dermawan, cerdas, berpikiran matang, dan pandai menjaga kehormatan. Mendapat gelar Ath-Thahirah, yang berarti wanita suci.

Beliau adalah ibunda para mukminin, ibunda dari segala kemuliaan. Wanita pertama yang masuk islam, orang pertama yang shalat bersama Rasulullah saw. Wanita pertama yang mendapat jaminan akan masuk surga. Manusia pertama yang mendapat salam dari Tuhannya. Subhanallah..
( Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra.: Jibril datang kepada Nabi Saw. dan berkata  : “Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah, datang kepadamu dengan membawa makanan. Jika dia sampai, sampaikan salam dari Tuhannya (Allah) dan salam dariku, dan berikan kabar gembira untuknya tentang tempatnya di surga yang terbuat dari Qasab, di mana tidak akan ada keributan ataupun masalah di sana.” (HR. Bukhari) )

Beliau yang mendapat rambu-rambu dari Allah, melalui mimpi dalam lelapnya di suatu malam. Bahwa da matahari besar yang turun perlahan dari langit kota Makkah dan berhenti tepat di atas rumahnya.  Saat malam berganti pagi, bergegas datang kepada Waraqah bin Naufal (Sepupu Khadijah), menceritakan mimpi yang dialaminya. Waraqah dengan berwibawa menjawab “Berbahagialah wahai sepupuku. Seandainya Allah benar-benar membuat mimpimu menjadi kenyataan, maka cahaya kenabian akan masuk ke rumahmu. Dan darinya, akan terpancar cahaya risalah nabi terakhir”.

Beliau yang bijaksana, sehingga dengan hatinya ia menjatuhkan pilihan kepada Rasulullah sebagai teman hidup. Laki-laki yang saat itu miskin, namun kemuliaan hati dan kebaikan sifat yang terpancar memberikan keyakinan kepada Khadijah untuk melamarnya. Melalui seorang sahabat karib, Nafisah binti Munabbih, datang kepada Muhammad dan berkata “Wahai Muhammad, apa yang mengahalangimu untuk segera menikah?” Muhammad menjawab, “Aku tidak memiliki bekal (harta) untuk menikah” Nafisah berkata, “Bagaimana jika masalah harta tidak dianggap menjadi masalah dan ada yang menawarkan kepadamu kekayaan, kecantikan, kemuliaan, dan kesetaraan. Apakah engkau mau menikahinya?” Dengan penuh keheranan, Muhammad bertanya, “Siapa Dia?” Nafisah langsung menjawab, “Khadijah binti Khuwailid” Muhammad kemudian berkata, “Seandainya dia benar-benar menawarkan hal itu kepadaku, tentu aku akan menerimanya”. Tentu saja, menikahlah beliau dengan Muhammad saw, pernikahan yang berkah.

Beliau yang selalu mengutamakan orang lain. Tatkala tahu bahwa Rasulullah saw sangat menyukai zaid bin Haritsah, maka ia segera menghibahkan Zaid kepadanya. Tatkala Halimah datang kepada Rasulullah dengan segala keluhan, dengan senang hati ia berikan 40 ekor kambing dan seekor unta untuk membawa air, serta memberi perbekalan yang cukup hingga Halimah sampai di kampung halaman.

Beliau, istri mulia yang setia mendampingi dakwah Rasulullah saw selama hampir setengah abad. Bermula turun wahyu pertama, yang membuat Rasulullah ketakutan. Kemudian ia menenangkan hatinya dari gelisah, memberinya kenyamanan saat gundah, mengingatkan kebaikan yang selama ini dilakukannya, menegaskan bahwa Allah tak mungkin menghinakan dengan peristiwa itu. Bertekad tetap tegar dalam menghadapi segala rintangan, membela dari musuh-musuh, siap sepenuh hati turut merasakan penderitaan dan kesusahan. Memilih membersamai Nabi dengan meninggalkan status kaya raya dan kehidupan mewahnya. Sanggup kehilangan kemewahan dan kenikmatan hidupnya untuk terkorbankan membela islam.

Khadijah, wanita yang Allah pilihkan untuk mendampingi orang pilihan.. Semoga tiada henti kita untuk meneladaninya, aamiin

Selasa, 07 Januari 2014

Eliana

18.56 0 Comments
Novel Karya Tere Liye kembali menambah kesibukanku saat ini. Sebenernya, sudah agak lama tersimpan rapi dalam rak buku, tapi masih banyak buku-buku dan novel-novel lain yang belum terbaca sama sekali. Eliana. Buku ke-4 dari serial anak-anak mamak, setelah Burlian, Pukat, dan berikutnya Amelia.
Eliana, Anak sulung mamak. Tak berbeda dengan anak kecil pada umumnya, seringkali usil, juga jahil. Bermain ‘iseng’ bersama kawan-kawan, membenci teman kelas (namun pada akhir menjadi sahabat), membentuk genk bernamakan “tiga musang” (namun berganti menjadi “empat buntal”), mengeluh saat di suruh, dan berbagai ‘kenakalan-kenakalan’ lainnya.
Menjadi Anak mamak, yang galak. Menjadi anak Bapak, yang tegas berprinsip. Dengan pendidikan yang baik dalam keluarga, tumbuhlah ia menjadi anak jahil yang spesial.
Eliana sang pemberani. Ia berani teriak kencang demi membela kehormatan Bapak. Berkata dengan lantang “Jangan Hina Bapakku! Kami memang orang miskin. Baju ini juga lungsuran, di beli di pasar loak. Lantas kenapa? Apa itu hina? Kehidupan rendahan? Asal kau tahu, Bapakku tidak akan pernah menjual seluruh kampung kepada kalian”. Begitulah sepenggal luapan ‘marah’ Eli di tengah-tengah tegangnya perbincangan Bapak bersama pejabat provinsi kabupaten.
Eliana yang cerdas. Seluruh kampung tentunya tahu, ia anak paling pandai di dalam kelas. Tidak ada yang berani bersaing melawannya, kecuali Marhotap –Si pemalas dan Si jarang mandi- yang mendapat tantangan dari Pak Bin untuk mengalahkan Eli. Ia anak paling pandai di tempatnya mengaji. Nek Kiba –guru ngaji- sendiri yang membela Eli, tatkala ia memaksa mengumandangkan adzan demi mempertahankan kehormatan seorang wanita. Nek Kiba sendiri yang turun tangan menjelaskan kepada Eli, agama pun punya aturan main, hingga ia menyadari kekeliruannya. Perempuan tetap terhormat, meskipun tidak semua hal bisa dilakukannya, termasuk mengumandangkan adzan.
Eliana yang perhatian. Bahkan saat seluruh keluarga di rumah tidak menyadari mimik wajah Burlian yang berubah, Tingkah Burlian yang memilih diam saat semua berkumpul makan malam, pekerjaan Burlian yang ‘tersembunyi’ di kamar dengan pintu tertutup, Eliana lah yang  sigap sadar dan sibuk bertanya-tanya. Hingga pada akhir menemukan jawaban, bersamaan dengan seluruh keluarga dan warga kampung juga tahu sebab muasalnya.
Eliana yang jujur. Meskipun dalam berbagai kesempatan, bisa saja ia mengarang alasan untuk melindungi dirinya dari kemarahan orang lain, ia urung melakukannya. Memilih bilang yang sebenarnya, meskipun takut-takut beresiko ‘dimarahi’.
Eliana yang berjiwa besar. Segera sadar atas kekeliurannya berfikir mamak membencinya. Dengan hati menyesal, air mata menumpah tangis, memeluk mamak dari belakang, “Maafkan Eli, Mak”..
Eliana yang hebat. Cita-cita mulia ia kukuhkan. Menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Menjadi pembela orang-orang lemah dan tersisihkan. Menjadi pembela lingkungan hidup yang terancam. Berdiri paling gagah, paling depan, paling nomor satu.

Menurut saya, novel ini sangat bagus. Saya bisa berimajinasi, membayangkan bagaimana kehidupan Eliana beserta keluarganya di kampung (Karena saya juga orang kampung mungkin, hehe) . Keluarga sederhana, Sungai-sungai mengalir, hutan lebat, sekolah seadanya, minim SDM guru, dan lain-lain. Alur ceritanya runtut, mudah dipahami. Memuat pendidikan yang baik, profil keluarga dan warga kampung yang (layak) ditiru. Hanya saja, terkadang ‘agak’ membosankan dan ‘kurang’ membuat penasaran alias datar ceritanya. Bagi kalian yang belum membaca, recomended J

Ada beberapa petikan kalimat dan nasehat yang bagus dari novel ini,


Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan itu tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia. Kalian tidak harus membalas penghinaan dengan penghinaan, bukan? Bahkan, cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah, tidak perlu membalas"

“Kata tetua bijak, manusia memiliki sendiri hari-hari spesialnya Ada hari ketika ia dilahirkan, hari mulai belajar merangkak, hari mulai belajar berjalan hingga bisa berlari. Manusia tumbuh besar dengan hari-hari. Jatuh, bangun, sakit, sehat, tertawa,menangis, sendirian, ramai, sukses, gagal, semua dilalui bersama hari-hari. Tentu temask salah satunya hari ketika kita bertemu dengan pasangan hidup.”

“Masih ingat apa yang pernah Bapak bilang, Amel. Semakin benar sebuah cerita, semakin menyangkal orang-orang.”

“Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika itu memang cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali para pencinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.”

“Tidak ada urusan baik yang dilakukan dengan cara buruk. Tidak selalu hal menyakitkan harus dibalas dengan rasa sakit.”

“Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik”

“Nak, Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengrbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian”.

Cold Eyes

00.42 0 Comments

Genre : Aksi, Drama, Kejahatan
Tanggal Rilis Perdana : 04 Juli 2013 (Korea Selatan)
MPAA Rating : Bimbingan Ortu
Durasi : 118 min.
Studio : Next Entertainment World
CAST & CREW
Sutradara : Jo Eui Seok, Kim Byeong Seo
Produser : Lee Yu-jin
Penulis Naskah : Jo Ui-seok
Pemain :  Seol Kyeong Gu, Jeong Woo Seong, 
Han Hyo Joo, Jin Kyeong, Junho, Lee Dong Jin

(Sumber : Wowkeren.com)


(Dulu), Saya penggila drama Korea (tingkat akut mungkin). Semenjak SMP, kenal pertama kali dengan judul “My Girl” yang tayang di salah satu stasiun televisi, saya langsung tertarik mengikutinya. Meskipun waktu itu, melewatkan banyak episode (karena berebut stasiun tv dengan kakak, dan kalah), ya, jadinya tidak tahu persis detail alur cerita. Kemudian, dikenalkan kembali dengan judul lain saat SMA, “Boys Before Flowers”. Karena SMA tinggal di kost bersama kawan-kawan (yang sebagian besar juga penggemar drama Korea), tentunya saya lebih intens menonton daripada sebelumnya. Setelah itu, terpikat dengan drama “Prosecutor Princess”, yang meskipun sedikit sekali episode saya tonton, tapi ternyata masih teringat saja ni bagian-bagian ceritanya sampai sekarang. Ckckck
Alhasil, setelah kuliah, dan mempunyai netbook sendiri, begitu leluasa hati. “My Girlfriend Is Gumiho” – “Secret Garden” – “Love Story In Harvard” – “Love Rain” – “King To Heart” – “The Moon The Embraces Te Sun” – “Rooftop Princess” – “Heartstring” – “All About My Romance” – dan berderetderet judul lainnya.
Akhir-akhir ini, Alhamdulillah, sedikit memudar. Meskipun (masih) mengikuti, seperti “The Winter The Wind Blows” atau “The Heirs” atau “Marry Him If You Dare” tapi saya tidak full menontonnya. Kali ini dipercepat. Saat biasanya butuh 16 jam untuk mengahabiskan, sekarang cukup satu sampai dua jam. Atau Menonton satu episode awal, dan berikutnya bertanya sama teman bagaimana kelanjutan cerita. Atau, cukup membaca sinopsis bagian awal dan akhirnya. *Yeay
(Sekarang) masih proses, supaya tidak sekedar pudar keinginan nonton itu, tapi supaya tidak sama sekali.  Boleh lah tahu, tapi tidak untuk dikonsumsi. #ApaSichManfaatnyaDramaKorea? Boleh kawan, berbagi saran dan nasehatnya ^_^

Tapi kali ini, saya suka sama film (masih Korea), dengan judul Cold Eyes. Nah, beginilah sinopsisnya... *Pengantarnya panjang banget, kurang nyambung lagi


Ha Yoon Ju, seorang perempuan yang sedang dilatih untuk masuk menjadi anggota baru Kepolisian unit kriminal khusus Korea. Menjadi mata-mata dan mengikuti setiap gerak-gerik rekan unit tersebut, sebagai ujian, dan sempurna. Ia berhasil menunjukkan gerak orang yang diikuti tepat bersama jam dan durasi waktunya.

Selamat bergabung Ha Yoon Ju. Ia bersama timnya bertugas mengawasi penjahat kelas tinggi, dan saat itu dihadapkan pada sebuah kasus pencurian bank, dimana dalang pelakunya adalah penjahat profesional dan berpengalaman.

Kinerja dimulai. Koordinasi yang tepat bersama tim, aturan main yang tidak boleh dilanggar, penempatan lokasi yang sesuai, serta keterpaduan antara anggota di lapangan beserta di kantor, semua telah siap. Rencana matang.

Setelah perjuangan keras, bahkan salah satu anggota tim meninggal dalam bertugas, akhirnya dalang pelaku pencurian bank tersebut tertangkap dan tertembak. Meskipun beberapa waktu sempat terhenti karena konflik internal, tetapi mereka kemudian menyadari harus tetap bergerak dan bekerjasama. Yah, begitu seterusnya. Tetap mengawasi kegiatan para penjahat, menarik tali peristiwa dari satu tersangka untuk menangkap tersangka lainnya.

Kamis, 02 Januari 2014

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

01.42 0 Comments
Novel ini, 
Berkisah tentang cinta, cinta yang sama-sama tak tersampaikan. Seorang gadis kecil (Tania), diam-diam punya rasa (yang entah apa itu namanya) terhadap laki-laki dewasa (Danar). Dialah penolong sekaligus penopang hidup dari segala keterbatasan ekonominya, memberikan awal harapan baru untuk hidup terus maju.  Dengan janji Tania kala itu, untuk selalu menuruti apapun, asalkan dia yang meminta. Dengan tekad Tania kala itu, untuk berusaha memantaskan diri, dengan menjadi gadis dewasa nan cantik dan pintar.
Benar saja, Tania tumbuh sesuai harapan. Tetapi, kehidupan cinta tak selalu sesuai keinginan. Disinilah, ia memahami bahwa cinta tak harus memiliki. Ia memahami, bahwa ‘daun yang jatuh tak pernah membenci angin, membiarkan dirinya luruh begitu saja’. Dengan dukungan seorang adik (Dede) yang menjadi partner suka-dukanya, kini Tania memutuskan untuk pergi, jauh, demi kebaikan dirinya (Tania) dan dirinya (Danar)...
Selamat Membaca....


Rabu, 01 Januari 2014

Happy New Year

06.19 0 Comments

Lama nggak berurusan dengan kalender, tiba-tiba tahun sudah berganti. Eh, 2014..
Tahun baru ya? Kemana?
Oke, aku juga merayakan tahun baru kok. Hanya saja, merayakannya sama layaknya hari-hari biasa. Hari  hari penuh syukur atas kesempatan hidup yang masih tersisa, atas karunia sehat yang masih terasa, dan atas rizki yang tiada pernah habisnya...” Alhamdulillah..
Di rumah, semoga menjadi salah satu moment istimewa yang tak pernah terlupa. Kebersamaan dengan orang-orang terkasih, kedua orangtua. Ya, mereka, yang cintanya padaku tak diragukan lagi. Dan akupun mencintainya. Hmm, tak akan kemana, tahun baru berikutnyapun, jika memungkinkan, aku akan memilih rumah menjadi penghabisan waktu akhir tahunku. Karena, sungguh, tak tahu seberapa besar lagi kesempatan yang Allah berikan untuk kebersamaan ini, dan inilah waktuku yang indah...

Selamat membuat time line hidup 2014..... Semoga Allah memudahkan segala rencana,

Sabtu, 07 Desember 2013

Yuk, Kenali Dirimu.... #1

08.23 0 Comments
Mengenali diri sendiri. Boleh jadi melalui cermin orang-orang di sekelilingmu bukan?

Mari mengenal dirimu, lebih lekat....
Who Am I ?

1. a. Tulislah beberapa sifat yang anda kagumi dari ayah anda!
        1.                                                             4.
        2.                                                             5.
        3.                                                             6.
    b. Tulislah beberapa sifat yang kurang / tidak anda sukai dari ayah anda!
        1.                                                             4.
        2.                                                             5.
        3.                                                             6.

2. a. Tulislah beberapa sifat yang anda kagumi dari ibu anda!
        1.                                                             4.
        2.                                                             5.
        3.                                                             6.
    b. Tulislah beberapa sifat yang kurang / tidak anda sukai dari ibu anda!
          1.                                                             4.
        2.                                                             5.
        3.                                                             6.

3. a. Tulislah beberapa sifat yang anda kagumi dari seorang sahabat anda!
        1.                                                             4.
        2.                                                             5.
        3.                                                             6.
    b. Tulislah beberapa sifat yang kurang / tidak anda sukai dari seorang sahabat anda!
        1.                                                             4.
        2.                                                             5.
        3.                                                             6.

4. Manakah diantara sifat-sifat itu (a dan b) yang mirip dengan sifat-sifat anda! Lingkari       sifat yang mirip itu!


(Setelah mengerjakan latihan ini hal-hal apakah (gagasan, pemikiran, perasaan, keinginan, rencana) yang timbul pada diri anda yang anda anggap bermakna, penting, berharga, bermanfaat dan mengandung hikmah bagi anda pribadi, keluarga, orang-orang tertentu, dan lingkungan anda?)

Ayah, Senyummu...

08.12 0 Comments
Selalu ada cerita dalam dibalik senyumnya....

#Ia tersenyum lepas, lamaaa. Sesuatu pasti telah menarik hatinya.. :)
#Ia tersenyum sebentar sambil berucap “ehm” lirih. Apakah itu tanda ia tersakiti? Merasa terabaikan? Merasa tak dihargai?
#Ia tersenyum lebar, mengerutkan kening, dagunya tertarik kebawah, ah rupanya hatinya bergumam “sok tahu ini orang, merasa paling benar. Silakan saja, nanti kena sendiri sama omongannya”
#Ia tersenyum, ramaaah. Redup matanya, ada support disana. Sepertinya ia sedang berharap. Berharap kebahagiaan, berharap kesuksesan untuk orang – orang yang disayanginya.
#Ia tersenyum, mencibir. Sembari berjalan mengayuh tongkat, bibir bergerak tak beraturan. Ah yaa, sedang menahan amarah mungkin..

Ayahku,, senyummu kaya makna :)

Kisah Klasik Fiktif dari India

07.54 0 Comments


Suatu hari di surga, Tuhan sedang bingung dan sedang memikirkan bagaimana caranya agar tidak diganggu manusia yang selalu banyak permintaan dan banyak tuntutan. Tuhan memanggil 4 malaikat terbaiknya dan bertanya bagaimana caranya agar dirinya tidak ditemukan oleh manusia.
Malaikat pertama berkata :”Tuhanku, kenapa Engkau tidak pernah pergi ke sebuah gunung yang tinggi dimana orang-orang belum tahu bahkan tidak berani ke sana, di sana Tuhan bisa santai dan tidak diganggu oleh mereka, Himalaya misanlnya Tuhanku”. Tuhan menjawab :”Itu dulu, sekarang mereka telah mendaki gunung-gunung tertinggi dimanapun termasuk Himalaya, tidak mungkin! Manusia adalah makhluk pemberani, pasti dia tahu juga”. Katanya santai.
Tuhan pun meminta pendapat kepada malaikat kedua dan komentar malaikat kedua “Kenapa Tuhan tidak coba pergi ke dasar lautan, pasti manusia tidak bisa masuk ke lautan mereka kan makhluk daratan, pasti mereka tidak bisa”. Tuhan pun berkata :”Itu dulu, manusia sekarang sangat pintar. Dia ciptakan alat untuk menyelam dan mereka pasti temukan dimana Aku berada”.
Tuhan pun berjalan mondar-mandir, sambil terlihat bingung mintalah pendapat malaikat ketiga, “Bagaimana menurutmu malaikat ketiga?”. Malaikat ketiga pun menjawab “Ah... kenapa Tuhan tidak coba pergi ke planet antariksa, di mana manusia jelas-jelas tidak mungkin bisa ke sana”. Namun, Tuhan pun berkata, “Itu dulu wahai para malaikatku, sekarang mereka sangat cerdas mereka ciptakan sebuah pesawat yang bisa menembus bumi dan menuju planet-planet antariksa, mereka hebat, mereka pasti temukan aku”.
Tuhan pun makin terlihta bingung. Pada saat mengalami jalan buntu tersebut, malaikat terakhir berkata “Tuhanku, ada satu tempat dimana tempat itu dekat sekali dengan manusia, bukan di gunung, bukan di dasar lautan dan bukan juga di planet, tetapi manusia tidak tahu tempatnya” katanya. Tuhan pun penasaran dan berkata :“Di mana dia wahai malaikatku?” Malaikat itu menjawab dengan tenang, “DI HATI MANUSIA ITU SENDIRI TUHANKU”. Sejak itulah konon katanya Tuhan bersemayam di hati setiap hambaNya.*


***

Multiple Intelligences

07.17 0 Comments
Kapan sich sebenarnya puncak karir seorang Dicky Candra? Interviewer berbaju merah itu bertanya sopan.

Saya selalu menegaskan kepada anak-anak didik saya di sini, kepada seluruh masyarakat Indonesia juga, bahwa saya bukan seorang teladan yang baik dalam hal karir. Jadi, saya bukan seorang yang ‘sebaiknya’ ditiru. Saya berpesan kepada siapa saja, untuk berfokus pada satu potensi yang dikembangkan maksimal. Tidak seperti saya, main sinetron ayo, bermusik ayo, jadi komedian ayo.. Meski kelihatannya jadi seorang yang multitalent, tapi ketika seperti tadi ditanya ‘kapan puncak karir’ saya tidak pernah merasakannya. Ya, tidak apalah saya menjadi ‘korban’, bisa menjadi pelajaran bagi yang lain” TV One, 3 Juli 2013
(tidak sama persis, sedikit tambahan & pengurangan kata)

Minggu, 17 November 2013

Positive Action Plan #1

10.20 0 Comments
POSITIVE ACTION PLAN
(Napoleon Hill. 2009. Jakarta : PT Tamaprint Indonesia)



1.Sifat dapat dikendalikan adalah sifat dasar untuk karakter yang baik (Ex : Menepati janji = Peduli, dapat dipercaya, dihormati)
2.Anda dapat menilai karakter seseorang dengan melihat teman-teman yang dipilihnya
3.Reputasi adalah apa yang orang lain pikir tentang diri anda dan karakter adalah diri anda yang sebenarnya
4.Setiap pemikiran dalam otak anda menjadi sebuah bagian permanen dari karakter anda
5.Karakter yang sehat adalah harta terbesar kita karena terdapat kekuatan untuk mengatasi kesulitan hidup, sehingga kita tidak terpengaruh kesulitan tersebut
6.Beberapa orang seperti sebuah jam tangan murah, mereka tak dapat diandalkan
7.Pilihlah seseorang yang anda kagumi, lalu tirulah dia semirip mungkin
8.Kesombongan biasanya menandakan sifat rendah diri
9.Mengeluarkan kata kotor adalah tanda kurangnya perbendaharaan kata atau penilaian yang tidak benar
10.Jika anda terpaksa berdusta, pastikan anda tidak mendustai sahabat terbaik anda dan diri anda sendiri
11.Uang mempunyai pengaruh baik dan buruk, tergantung karakter orang yang memilikinya
12.Tidak ada orang yang bergitu baik, sampai-sampai tidak memiliki kekurangan ; dan tidak ada orang yang begitu jahat, sampai-sampai tidak memiliki sifat baik
13.Orang yang jujur hanya untu sebuah penghargaan harus dikategorikan sebagai orang yang tidak jujur
14.Orang yang malas adalah orang yang sakit atau belum menemukan pekerjaan yang sungguh-sungguh ia senangi
15.Jika anda memiliki karakter yang baik, anda biasanya tidak khawatir tentang reputasi anda
16.Perhatikan betul karakter anda dan reputasi anda akan mengikuti dengan sendirinya
17.Kepalsuan memang akan terlihat dengan sendirinya
18.Apakah anda orang jujur atau tidak jujur, tidak ada kompromi diantara keduanya
19.Para bankir sering meminjamkan uang dengan melihat karakter orang, tetapi jarang hanya berdasarkan reputasi karena tidak semua reputasi didapat dengan jujur
20.Kejujuran adalah sebuha sifat yang tidak dapat dinilai dengan uang
21.Sangatlah mudah membenarkan kejujuran jika anda tidak mendapatkan uang dari hal itu
22.Terlalu banyak mengatakan kebenaran dapat membuat orang lain tak nyaman
23.Kesopanan biasanya dari rumah atau tidak sama sekali
24.Orang yang hanya memiliki waktu untuk gosip dan fitnah berpeluang kecil untuk sukses
25.Pencapaian yang besar lahir dari sebuah perjuangan
26.Jangan melihat pada bintang-bintang sebagai penyebab ketidakberuntungan anda. Lihatlah pada diri anda sendiri untuk meraih hasil yang lebih baik.

Selasa, 01 Oktober 2013

Serial Cinta

15.16 0 Comments

Tentang cinta. Tak pernah selesai. Pertanyaan selalu muncul. Apa sesungguhnya arti ‘cinta’? Dengan siapa kita mencinta? Lantas bagaimana caranya mencintai, bagaimana mengekspresikannya? Seperti apa kehidupan atas dasar cinta? Ada puluhan kisah, ratusan, bahkan ribuan, lebih. Masing-masing punya ceritera yang berbeda. Akankah yang kita kenal hanya pasangan Romeo dan Juliet? Atau agungnya cinta Sayyidina Ali dan Fatimah?.
*Teruslah belajar,mengambil hikmah,tentang ‘cinta’............
***
#Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.

#Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu. Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.
Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.
Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!
Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!

#Lain lagi. Umar bin Abdul Aziz. Begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya tumbuh mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri. Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil. Walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah Rasyidin kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.
Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu - biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai.
Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang? Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam”.(Dikutip dari “Serial Cinta” karya Anis Matta)


– lebih lengkapnya “Selamat Membaca” –