Minggu, 10 Agustus 2014
Jumat, 30 Mei 2014
Hadits Pertama, Innamal a'mal
bin-niyah. Bahwa segala tindakan, segala ekspresi dan apresiasi, tergantung
kepada niat. Yakni jika niatnya baik, maka dihitung baik, dan begitu sebaliknya.
Atau jika tidak ada niat maka lewat begitu saja.
Hadits Kedua, min husni Islamil
mar'i tarkuhu maa laa ya'nih. Bahwa jika kita ingin kualitas keislaman kita
bagus, jadi muslim yang baik, maka tinggalkan segala hal yang tidak perlu dan
tidak penting. Kerjakan lebih dulu yang menjadi prioritas. Sebab terus terang
kita masih cukup banyak mengurusi hal-hal tak penting.
Hadits Ketiga, laa yu'minu
ahadukum hatta yuhibba li akhihi maa yuhibbu li nafsih. Bahwa seseorang imannya
belum mencapai kesempurnaan jika belum bisa gembira saat melihat saudaranya
sesama muslim meraih kesuksesan. Maksudnya, kalau kita sukses, kita juga mesti
seneng saat melihat yang lain juga sukses. Atau bahagia saat orang lain
sesukses kita. Maka kualitas pribadi muslim yang masih suka melakukan hal-hal
tak penting atau kerap iri, mulai sekarang harus kita ubah pelan-pelan.
Hadits Keempat, al-halal
bayyin, wal harom bayyin. Segala hal yang halal itu sudah jelas, yang
diharamkan agama juga sudah jelas. Namun kenyataannya tak sedikit di antara
kita masih membingungkan hal-hal yang sudah jelas halalnya/haramnya. Malah
menerjang yang diharamkan.
Andai kata seseorang tidak
belajar hadits apapun tapi cukup empat tadi secara mendalam dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari maka sudah cukup baginya untuk
menempuh kehidupan ini dengan baik. Juga sangat cukup buat keislaman dirinya. (Copast dari http://alawyaly.blogspot.com/2014/01/empat-hadits-inti-dalam-syariat-kita.html)
***
Berbicara tentang hadits, sungguh
aku tak punya ilmu apa-apa tentangnya :(. Semoga catatan di atas menjadi sebuah
pelecut untuk kita belajar lebih banyak, untuk kita jadikan pemicu supaya
menjadi seorang muslim yang baik. Aamiin.
Senin, 26 Mei 2014
Seseorang
yang luar biasa, sebut saja namanya A. Kenapa luar biasa? Beliau diberikan
anugerah lain olehNya. Kondisi fisik yang berbeda, lain daripada orang normal
kebanyakan. Kakinya, diharuskan menggunakan penopang agar bisa berjalan,
menggunakan bantuan kursi roda atau ada seseorang yang memapah menuntun
langkah. Hebatnya, kini beliau duduk di bangku kuliah Universitas yang sama
denganku, juga menginjak semester VIII.
Hari ini,
beliau bertemu dengan dosen pembimbing skripsinya untuk menyelesaikan kewajiban
sebagai seorang mahasiswi tingkat akhir.
Dosen mempersilakan, sembari berkata : “A, niatkan tugas akhir ini untuk ibadah
karena Allah. Skripsi bukan sekedar tugas semata, tetapi harapan orangtua.
Ridho Allah ridho orangtua kan? Melihat anak wisuda, itulah salah satu
kebanggaan terbesar mereka. Kalau orang lain udah selesai, udah mau wisuda, itu
biasa saja. Tapi kalau itu A, ini baru luar biasa. Jadi, yang semangat ya.”
A
mengangguk sambil menitikkan air mata. Seseorang dari balik pintu, yang sedari
tadi mengantarkan A, juga menahannya di pelupuk. Yaaa, sekali lagi, Skripsi memang bukan
beban, bugan tugas berat yang musti dikeluhkan, tapi skripsi adalah harapan
---- Ayo Haniif, lanjut dan kerjakan!
*Kisah dari seorang sahabat
Masih
ingat dengan sahabat terbaikku yang beberapa waktu lalu kuceritakan? Siang ini
dia datang kemari, masih sama, selalu dengan senyumnya..
“Hanif,
ayo mabit di DS.” Katanya
“Nanti
sepulang ngeles mau mudik ke Purworejo Al.” Jawabku
“Hanif
pulang karena banyak tanggal merah ya?.” Tanyanya kemudian
“Ndak juga, kebetulan kakak dari Surabaya
pulang Al.” Kataku
Hening
sejenak.
“Hanif,
ini lagi pengin memulai dari diri sendiri. Apapun yang terjadi, benar tidak ada
yang kebetulan kan? Jadi selama ini Alsho memikirkan kata yang pas untuk
mengganti kata kebetulan itu, dan akhirnya menemukan yang lebih tepat
–Qadarullah-. Selama ini Alsho belum bisa mengutarakan ke banyak orang tapi
sama Hanif gpp kan? Maaf ya Nif, sekarang agak risih kalau mendengar kata
kebetulan”
Aku terdiam
manggut-manggut. Membenarkan dalam hati tanpa terkata. Meski, sekalipun
sepertinya belum pernah terpikirkan akan hal itu.
Sabtu, 10 Mei 2014
Adakah
yang tahu apa maksudnya?
Orang
Jawa bilang, dari kata “sawang” yang berarti melihat. Sawang sinawang artinya saling
melihat. Pada intinya, kata ini menggambarkan sifat manusia yang selalu merasa
kurang, yaitu dengan membandingkan diri kita dengan orang lain. Kalau dalam
Bahasa Indonesia (mungkin) hampir sepadan dengan peribahasa “Rumput tetangga
lebih hijau”. Nah, agar kita tidak lagi wang sinawang, mari sejenak kita fahami
takdir kehidupan yang Allah berikan kepada kita. Karena apapun itu, terjadi
atas rencanaNya.
KetetapanNya
mutlak, alias tidak berkompromi dengan makhlukNya. Namun, ditegaskan bahwa Allah Maha Adil. Kita, hanya cukup
mensyukuri apapun yang terjadi pada diri kita, karena sungguh tak ada satu
peristiwapun yang terjadi tanpa hikmah dibaliknya. Everything happen for a
reason. Kita tidak perlu sedih berkepanjangan tatkala musibah datang
menimpa, atau gembira yang berlebih tatkala mendapat kenikmatan yang
diinginkannya. Kita tak perlu risau berkelanjutan karena kehilangan, tapi juga
tak perlu mengumbar ketika mendapatkan.
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang
luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira(*)
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang
yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S Al Hadid : 22-23)
ket:*(
gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa
kepada Allah)
Kejadian baik dan buruk senantiasa dipergilirkan. Menjadi sebuah keniscayaan, bahwa roda kehidupan manusia selalu
berputar, adakalanya di bawah adakalanya di atas. Disinilah keseimbangan itu
terjadi, kita bersenang karena pernah merasa sedih. Kita berbahagia karena pernah
kecewa. Kita menikmati puas hidup berkecukupan karena pernah merasakan pahitnya
berjuang dalam keterbatasan, dan sebagainya. Lalu, dari mana Allah akan
menilai? Kondisi buruk berarti mengharuskan kita untuk bersabar dan tak putus
ikhtiar, dan sebaliknya kondisi baik mengharuskan kita untuk menambah rasa
syukur dan keimanan.
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum
(kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa
(kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman
(dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai)
syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali Imran : 40)
Allah Maha Tahu atas ketetapan terbaik buat hambaNya. Jadi, kita hanya harus berusaha menyamakan persepsi dengan Allah
swt yaitu dengan berhusnudzon atas segala sesuatu yang terjadi dengan diri kita.
Dan jangan lekas memisahkan sesuatu yang kamu benci dan
kelihatan terhina.
Siapa tahu apa yang kamu benci dan kau hina, justru
dicintai dan disayangi Allah SWT (eramuslim.com)
“Diwajib atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu
yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah : 216)
*Bagus dibaca (u/ tambahan)-http://www.eramuslim.com/oase-iman/semua-ada-hikmahnya.htm
Selasa, 06 Mei 2014
Hey Sister,
Won't You Listen To Me,
You're My Sister So Listen Carefully,
This
Life That We're Living,
Wasn't Made For Nothing,
Wasn't Made For Nothing,
Life Is A Test From Allah Almighty
There
Are Many Times
When Allah Will Test You
When Allah Will Test You
To See If You Will Obey Or Betray
This
Life Is A Life Of Test
Need Patience For Success
Need Patience For Success
So Is Your Iman Strong Enough
Or Would You Fail Just Like The Rest
Obey
For Allah's Love
Betray Be Sorry For Yourself
Betray Be Sorry For Yourself
When You're Standing Helpless There
In Front Allah The Almighty
Life
Is A Life Of Test... Believe It
You Must Strengthen Your Faith...Hey Sister
You Must Strengthen Your Faith...Hey Sister
And Don't You Fail Like Others
Hey
Sister,
What's There For You To Say
What's There For You To Say
It's Up To You If You Want To
Believe Me
Allah
Created Us
Give Us Everything
Give Us Everything
So Be Grateful And Don't Betray
Laugh
At Me If You Wish
Say I'm Crazy If You Want
Say I'm Crazy If You Want
You'll Bite You Your Fingers One day
When You Find Out The Truth
Believe
Me Or Do Not
It's A Change For You To Choose
It's A Change For You To Choose
Just Don't You Cry One Day
When It's Already Too Late
You
Would Be Sorry
If You Choose To Betray
If You Choose To Betray
There Is No One There To Help You
If
You'd Follow Allah's Way
You'd Be Safe In Paradise
You'd Be Safe In Paradise
If You'd Listen To Me
I Could Lay My Mind To Rest
You'd
Then Be Happy
There Is No Need To Worry
There Is No Need To Worry
You Would Live Forever Happy
You Would Be Happy
If You Just Follow Allah's Way
You Would Be Happy
If You Just Follow Allah's Way
_Brother’s_ (Edit kata, brother à sister)
*Menyanyi sambil menasehati diri. Selamat malam dan bermuhasabah :)*
Jumat, 25 April 2014
Mengunjungi
lapas narkotika kelas IIA Yogyakarta bersama ketiga temanku. Kebetulan ni,
salah satu temanku tadi sedang melakukan penelitian untuk tugas akhirnya di
sana. Disamping membantu membagikan skala yang harus diisi subjek (narapidana),
sekaligus pengalaman lah untuk sekedar tahu seperti apa yang dinamakan penjara.
Kesimpulannya, tidak seseram yang kubayangkan. Tak banyak yang bisa
kuceritakan, karena bagaimanapun gerak di sana cukup terbatas. Tidak diizinkan
membawa apapun masuk, termasuk makanan apalagi handphone (intinyaa, nggak bisa
foto). Meskipun menurutku, untuk ukuran nama yang disebut penjara, masih dibilang sangat
bebas.
Aku
hanya akan bercerita tentang beliau. Subjek terakhir, yang meninggalkan tempat
paling akhir (termasuk meninggalkan tempat tahanan, karena mendapat masa
hukuman paling lama). Seorang ayah dengan dua anak perempuan. Usianya 34 tahun.
Divonis hukuman selama 12 tahun tiga bulan, dan selama ini baru menjalaninya
kurang lebih satu tahun. Bisa membayangkan bukan, berapa lama lagi harus menghabiskan
waktu di terbatasnya tempat itu. Dan pasti, ada sesuatu yang kita rasakan saat
kita mendengar kata-katanya “Iya mbak, meninggalkan anak istri. Nggak pernah
ketemu, nanti tau-tau anaknya sudah gadis”.
Dibandingkan
narapidana lain (yang kebetulan aku ketemu), beliau memang lebih “cerewet” dan “bikin
kesal”. Terus saja bercanda “wah aku gak iso moco mbak”. “aku gak
sekolah mbak” “kenapa mbak tanya masa hukuman, untuk apa?” “Lha
monggo, suruh duduk mana” dan lain sebagainya. Aku tidak terlalu peduli,
entahlah, karena sekedar bercanda, karena rendah hati, karena untuk meramaikan
suasana, karena cari perhatian atau alasan lainnya. Aku hanya berfikir,
mengingat-ingat, logat bicara juga bahasa yang beliau sampaikan, sangat familliar.
Surabaya kah?. Dan terjawab akhirnya, dari Madura. Hmm, iya, Madura, persis,
aku mengingat salah satu kakak tingkat di universitas yang kebetulan satu
kelompok KKN denganku.
Dibandingkan
dengan narapidana lain (lagi-lagi yang kebetulan aku ketemu), beliau memang
beda. Entahlah. Aku percaya dengan apa yang beliau
ceritakan tentangnya. Tentang tidak bersalahnya. Menjadi seorang agen tiket
yang (tanpa sengaja) memerantara narkotika. Dan beliau menambahkan, hanya satu
alasan kenapa beliau menjadi bersalah yaitu uanglah yang menjadi lawan di pengadilan..
Ada
sebuah nasehat yang selalu beliau sampaikan, dari awal hingga akhir pertemuan
kami selama kurang lebih lima belas menit itu. Lebih dari delapan kali
sepertinya beliau ucapkan, karena bahkan terucap juga disela-sela mengisi skala
yang kami berikan. Nasehat yang singkat, sangat singkat “Bersyukur, Selalulah
Bersyukur, Semua Sudah Diatur”. Dan imbuhnya “Mungkin, jika tidak di
tempat ini (tempat tahanan) akan lebih banyak dosa-dosa yang bakal dilakukan –
Pengadilan manusia, kenapa takut? Takut itu sama pengadilan Allah.”
Note : Bahkan siapapun, selalu
mengajarkan kepada kita untuk bersyukur. Iya. Kita bahagia karena kita
bersyukur.
Kamis, 24 April 2014
Part
1
Aq
menunggumu dengan harap-harap cemas,
Menikmati
setiap detik waktu yang tiada henti berputar,
Sejenak,
merengkuh kembali aktivitas,
Akankah
nanti aku bisa bersamamu?
Mempersembahkan
kemampuan terbaik yang kupunya,
Karena
kau yang kucinta dan kau yang kupinta, Kampus
STAN, bisakah kau menerimaku 29 September nanti?
Tulisanku, ketika untuk kedua kalinya mencoba mengikuti ujian
masuk STAN, perguruan tinggi yang begitu banyak didambakan, termasuk aku. Tetapi
di bawahnya, berjeda beberapa baris, sudah tertera tulisanku yang lain,
Terjawab
sudah, kita memang tak ditakdirkan bersama,
Biarlah,
ketika memang kuharus di sini,
Yakinlah,
karena semua terjadi dengan rencanaNya yang sempurna :)
Artinya, cemasku sudah berganti, ikhlas dan penerimaan
kenyataan. Dua kali mencoba, dan untuk kedua kalinya pula aku gagal. Iya,
kesempatanku menuntut ilmu memang tak di sana. Tetapi di sini, aku belajar “manusia”
dan “perilaku” nya. Ilmu yang sebenernya dari awal tertarik untuk kupelajari
(selain matematika tentu). Ilmu yang sangat berguna, dan terus terpakai
sepanjang waktu. Karena, kehidupan kita, selalu dan pasti berhubungan dengan
makhluk bernama manusia. Berjeda beberapa baris, ada sebuah tulisan lain,
bukan, jelas bukan aku yang menuliskannya.
Subhanallah..
Hanya
pujian terindah untuknya yang terungkap,
Setiap
kutatap bola matamu yang teduh,
Kuiri
dengan segala keistimewaan yang Dia beri untukmu,
Banyak
hal istimewa yang ada dalam jiwamu,
Tersirat
lewat kata yang kau eja,
Hadirmu
yang apa adanya,
Selalu
berusaha tuk mengerti aq yang penuh cela,
Sahabat..
Kau benar.. Semua yang terjadi selalu dengan rencanaNya yang sempurna..
Haa, rupanya salah satu sahabat
terbaikku mendapati kertas itu. Dan begitulah, dia menjawab catatan pendekku
dengan kerendahan hatinya.
Part
2
Rasa
yang terdiaspora,
Mengalun
indah,
Hadirkan
harap, tapi selalu saja,
Membawa
sebutir racun yang membinasakan iffah,
Entahlah,
Kuberusaha
tak ingin tau,
Meski
perlahan semakin mengikis keraguanku,
Ya,
hanya perlu kutanam kembali,
Hadirkan
sejatinya sang pemilik cinta di hatiku, Mahanya
Maha,
Agar
semua tak kian bersemai, Agar
yang nampak indah bukanlah dunia,Agar
mutiara itu tak hilang cahay anya, Hingga
saat terindah itu tiba, Dalam
dekap cintaMu Ya Rabb,
Sepertinya, kala itu aku sedang
galau (bahasa sekarang) dan aku menulis begitu saja. Lagi-lagi dibawahnya,
terdapat tulisan lain, tentu saja bukan aku yang menuliskannya.
Dan
kita saling mendoakan kawan,
Berdoa
dengan keyakinan sepenuhnya,
Agar
semua tak kian bersemai,
Agar
yang nampak indah bukanlah dunia,
Agar
mutiara itu tak hilang cahayanya,
Hingga
saat terindah itu tiba,
Dalam
dekap cintaNya, Maha Segala Maha
Aq
terharu.
-Ruang
cinta ’11 Okt ‘11-
Indahnya
waktu dzuha
Siapa lagi? Masih sama, jawaban yang
datang dari sahabat terbaikku atas catatan pendek yang kutulis. Jawaban penuh
doa.
Part3
Assalam,
Khawatir
klo sms g sampe ^_^
Hanif
sholihah, af1, seharusnya aq yang bersegera menyempatkan ke kosmu, hehe
Ni
helmnya, jzk khrn katsir y..
Af1
Nif ni ada 2 bungkus togo, untukmu n 1 nya tlg sampein ke Wiwit ^_^
Sungguh
pahit sebenernya kukatakan ini, tapi inilah kenyataan, hhe
*sok
dramatis
...bla
bla bla..
Surat yang kudapati begitu masuk
kamarku. Tidak ada siapapun. Ya, surat yang datang dari sahabat terbaikku yang
menyempatkan berkunjung sebelum aku pulang (kamarku memang jarang sekali
dikunci, siapapun temanku bisa masuk). Surat apa itu? Entahlah, tapi aku
terharu membacanya.
Part4
Kalau
hanya berbuat baik,
Setiap
kita mungkin bisa melakukannya,
Yang
sulit adalah,
Bagaimana
kita cinta dg kebaikan,
Lalu
membuktikannya dg
Menyeru
pd kebaikan,
Mengajak
ke arahnya
(QS
An Nahl:125)
Karena
kita, tak ingin di surga sendirian :)
Sebuah undangan yang dibuat oleh
sahabat terbaikku, untuk disampaikan ke adik-adik juga kawan-kawan seperjuangan
kami di fakultas. Nasehat dan makna.
***
Ini tentang sahabat terbaikku.
Benar-benar sahabat terbaikku. Karena sahabat itu, selalu membawa kita pada
jalan kebaikan. Dia yang lembut tutur katanya. Sopan perilakunya. Percaya diri,
namun tetap membatasi. Cintanya dg Al Qur’an luar biasa. Shalatnya selalu
di awal waktu dan mencari kesempatan berjama’ah. Hidupnya selalu seputar cinta,
apapun itu harus dengan cinta, yang dikatakanpun berbahasan cinta, dan cinta
itu satu muara cintaNya. Selama ini, masih hanya dia, seseorang yang aku begitu
kagum atas keshalehahannya.. (Meskipun, tetap saja, sesempurnanya manusia tetap
dengan segala kelebihan dan kekurangan).
Ajari aku untuk
menjadi sepertimu...
Sungguh, bidadari itu
terpancar dari matamu...
*CC : dari Hansho untuk Alsho
-Masih
edisi merindu, ya, meskipun dekat, ternyata kesempatan kami bersua sedikit lama
hampir tak pernah ada-
Sabtu,
19 April 2014. Aku sengaja mandi pagi, berniat mengikuti kajian rutin yang
diselenggarakan di salah satu masjid kampus di Jogja bersama adik kosku. Tapi,
karena alasan yang tidak bisa disebut alasan sebenernya (daripada telat, adik
kosku belum mandi dan bersiap) akhirnya kami memutuskan tidak jadi berangkat
(wah, masih berharap pahala niat, hehehe). Ah sudahlah, toh aku juga masih mau
menulis sesuatu. Menjelang pukul 07.00, aku mengirimkan sebuah pesan singkat. “Berangkat
jam berapa?”. Aku manggut-manggut membaca balasan yang kuterima, sambil
bergumam “Oh, baru mau berangkat”. Tapi selang beberapa waktu, hp
kembali berbunyi tanda sebuah pesan masuk “Sudah sampai Gamping”.
Sontak
aku terbangun, sedikit tak percaya, perjalanan Purworejo – Jogja hanya berkisar
satu jam naik bus (seberapa ngebutnya?). Lalu kubereskan beberapa yang masih
berserakan, netbook, kertas, buku, kabel-kabel, bulpoin, dan berbagai macam
barang lainnya. Ah sudahlah, secepat apapun aku bersiap, dia pasti sampai terlebih
dulu. Jadi, biar sajalah, kubiarkan dia menunggu *nggak cekatan bgt, unsur
kesengajaan.
Yeay,
teramat sangat senang sekali, bisa bersapa kembali dengan salah satu kawan
terdekatku saat SMA. Setelah ber-ba bi
bu- serta bingung memutuskan mau kemanakah kami, akhirnya cukup mengikuti
firasat hati, menuju kebun buah mangunan dan makam imogiri. Sebenarnya, ada ragu
waktu itu, selain tempat yang terbilang jauh, juga motor yang kubawa adalah
motor pinjaman. Ah sudahlah, aku sudah izin dengan si empunya untuk meminjam
sedikit lama. (Makasih Desiiii)
Rute
perjalanan sangat mudah. Hanya melewati jalan imogiri, ikuti jalan, lurus tanpa
berbelok hingga sampai pasar imogiri dan disitu akan menemukan beberapa papan
penunjuk menuju lokasi. Dengan bantuan papan petunjuk itulah kami sampai tujuan
dengan selamat. Ya, setelah cukup lama melewati jalanan yang menanjak dan
berkelok, tetapi sangat indah pemandangan di sekelilingnya.
Kebun Buah
Mangunan
Empat
tahun ber-rumahkan di Jogja, aku hanya sering mendengar dan belum pernah
sekalipun berkunjung ke sana. Sekilas, aku membayangkan akan ada beraneka macam
pepohonan dengan buah-buahan yang bergantungan di dahannya. Mereka tertanam dan
tumbuh rapi, menggugah selera. Dedaunan yang rimbun, juga subur tanahnya.
Dikelilingi taman-taman yang menjadi tempat singgah kita untuk sekedar duduk
bersantai. Ya, itulah yang terfikirkan (harapan tepatnya, toh pernah melihat
foto-fotonya sebenernya).
Sesampainya
di sana, wow, sepi sekali. Kami di sambut dua orang penjaga pintu masuk, mas
mas dan mbak mbak. Setelah membayar sepuluh ribu rupiah untuk dua orang, kami
bergegas masuk. Dengan berjalan kaki, kami menelusuri lokasi yang saat itu
pepohonan terlihat kering dan kurang terawat. Tidak terlalu beraneka ragam
pepohonan yang dijumpai, dan hampir keseluruhan kami mengenalnya (kelihatan
banget kan, orang dari desa). Ya, pohon pisang, pohon jambu, pohon mangga,
pohon jati, dll. Sayangnya lagi, tak ada satupun pohon yang sedang berbuah.
Makam Imogiri
Dari
tempat keberangkatan tadi, makam imogiri terletak sebelum kebun buah mangunan.
Karena itulah, diputuskan untuk mampir sekalian dalam perjalanan pulang. Setelah
melewati jalanan yang turun dan berkelok, sampailah di lokasi.
Sesampainya
di sana, wah. Berdasarkan informasi salah seorang yang di sana, tangga tersebut
berjumlah tepat 409. Kami berjalan dengan semangat (menunjukkan kalau kita masih
muda, *eh), meskipun sesekali berhenti untuk mengatur nafas (dan berfoto
tentunya). Sampai di atas, duduk sejenak, lalu turun dan pulang. Pulang ke
kosku, kamar fullkost “maskulin”.
*cc : Zaitun Hakimiah Ns (Mia)
-(Maaf jika terdapat kesalahan
ketik, catatan pukul 02.01 dini hari, berharap tidur tapi ternyata tak bisa
tidur)-
Kamis, 10 April 2014
Lebih baik diam daripada bercanda berlebihan.
Aku suka orang yang bisa dengan
mudahnya bercanda. Karena, tidak semua mudah bisa lho, termasuk aku sendiri. Interaksi
lebih menyenangkan, topik pembicaraan lebih seru dan menarik, hubungan
emosional menjadi lebih dekat, dan so pasti moment kebersamaan itu menjadi
hidup alias tidak garing. Tapi, ingat ni, segala hal yang berlebihan akan
melahirkan sebuah keburukan.
Apa untungnya dari sebuah
canda? Oke, banyak hal udah disampaikan tadi. Bercanda sekali, dua kali, tiga
kali, empat kali, bagus lah. Tapi jika terlalu sering atau bahkan terus menerus
adalah sia-sia. Sungguh, akan lebih baik berbicara yang bermanfaat, bertukar
informasi sehat atau diamlaah.
Ya, bagi yang terbiasa dengan
bercanda, adalah wajar jika canda itu ‘bebas’ diekspresikan. Contoh sepele
dalam memanggil nama orang “Gendut” karena orang yang dipanggil badannya gede.
Atau “item” karena orang yang dipanggil kulitnya tidak putih. “Keriting” karena
orang yang dipanggil rambutnya keriting. Tapi, bagi yang kurang terbiasa justru
hal itu dapat menyinggung perasaan.
Di satu sisi, ada waktu dimana
seseorang yang diajak bercanda sedang tidak ingin bercanda. Sedang serius
melakukan sesuatu, suasana hati sedang kurang nyaman, atau sedang lelah. Seseorang
yang sedang berpenampilan baru atau melakukan sesuatu yang baru (niat : berubah
lebih baik) juga rentan menjadi bahan candaan. Padahal, mengajaknya bercanda
justru dapat menimbulkan emosi negatif. Tersinggung, jengkel, kesal, dan
kawan-kawannya.
Kalimat yang digunakan dalam
bercanda biasanya juga mengandung nilai negatif, entah itu julukan, ejek an,
juga memanfaatkan seseorang atau situasi untuk dijadikan candaan. Nah, setiap
kata-kata yang kita ucapkan, yang kita dengar, bukankah akan berpengaruh kepada
diri kita? Nah, lama-lama..............
Sekali, lagi, segala sesuatu
tidak baik jika berlebihan J
***
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujaraat : 11)
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (Al Baqarah : 15)
Jauhilah oleh kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah. (HR. Ibnu Majah)
Sesungguhnya banyak bercanda dapat menjatuhkan wibawa, menjauhkan diri dari hikmah, menimbulkan kedengkian, mengeraskan hati dan membuat banyak tertawa yang melalaikan diri dari mengingat Allah. (Syaikh Abdul Aziz)
To be continued....












.jpg)




















