Follow Us @whanifalkirom

Kamis, 23 April 2015

Kau,

22.43 0 Comments

Kau, lamat-lamat terlihat di ujung persimpangan, dan aku di sini, tepat persis di depanmu.
Hanya saja, aku tak tahu,
Kau sedang berjalan ke arahku dengan melewati jalan lurus itu,
Atau berjalan ke arahku, namun harus berbelok dulu,
Atau berjalan ke arahku kemudian berbelok,
Atau justru berbelok tanpa kearahku sama sekali.
Aku benar-benar tak tahu, akankah kau mengajakku atau tidak.

Hei, kau juga sama merasakan bukan?
Langit sudah abu-abu, pertanda hujan lebat segera datang
Angin pun bertiup kencang, pertanda badai mungkin kan mengguncang

Aku harus menyelamatkan diri, dengan mengenakan pelindungku rapat-rapat
Nyatanya kau aman disana, karena badai itu datang dari arahku
Namun, jika kau merasa tak aman, segera datanglah kemari.
Pelindung itu, cukup untuk berdua, aku dan kamu
Baru kemudian kita jalan bersama :)

*Puisi Empat Bulan Yang Lalu

*Praduga yang salah, nyatanya badai itu menghilang menyatu dalam kepergian langkahmu. Dan kau, kini kupastikan aman meski tanpa pelindung.

Biarkan Waktu Kesepian

21.43 0 Comments
Tentang waktu, kadang kita terlalu rendah hati untuk bernegosiasi dengannya. Kita pasrahkan semua padanya, seolah kita tak bisa apa-apa. Lantas dengan nada sok bijak kita berkata: ‘biar waktu yang menjawab.’
Padahal waktu bisu, tak bisa berucap apa-apa, apalagi mendekatkan dua manusia.
Menjadikan waktu sebagai tuan adalah menyerahkan diri untuk habis dicincang. Sebab waktu adalah pedang yang tajam. Seribu tahun bertapa, seratus jin kita pelihara, tak kan kebal diri kita darinya. Maka patahkan ia sebelum ia menyentuhmu.
Tentang waktu, apakah kita setakberdaya itu di hadapannya? Apakah kita hanya akan termangu melihatnya berlalu, sambil menanti dan bertanya-tanya apa yang ‘akan terjadi selanjutnya’? Sebegitu lemahkah kita?
Kita lebih nyata dari waktu.
Rasanya, tak ada lagi yang perlu kita tunggu.
Bahwa samudera adalah luas, tak ada yang menolak. Bahwa langit adalah tinggi, semua sudah sadari. Bahwa aku mencintaimu, perlukah kau tanyakan lagi?
_Azhar Nurun Ala_Biarkan Waktu Kesepian_(http://azharologia.com/2014/09/07/biarkan-waktu-kesepian/)
***

#Meskipun begitu, saat ini aku masih memilih tak berdaya. Tak akan kubiarkan lepas sebuah rindu, apalagi bebas katakan cinta. Iya. Cukup diam dan simpan saja.

Senin, 20 April 2015

Ada Padamu yang Membuatku Malu

20.22 0 Comments
Kau tetap teguh berjalan,
Meski ada duri-duri yang menanti di tepian..
Meski kau lihat tapak-tapak yang terseok ditengah perjalanan..

Kau tetap kukuh dalam barisan depan,
Meski ada mozaik-mozaik terpotong sebagian..
Meski kau lihat langkah-langkah yang terhenti berurutan..

Kau tetap tegar menawan,
Meski ada batas-batas yang siap membuatmu melamban..
Meski kau lihat ranjau-ranjau datang bergantian..

Kau tetap hadirkan rekah senyuman,
Meski ada kelu-kelu seluruh persendian..
Meski kau lihat kusam-kusam wajah lain dalam kelelahan..

Kau tetap baik berkeyakinan,
Meski ada suara-suara sumbang yang sibuk menyalahkan..
Meski kau lihat satu-satu mulai menjauh perlahan..

Kau tetap jaga harga sebuah kesucian,
Meski ada celah-celah yang lebarnya kian rentan..
Meski kau lihat rona-rona indah dalam kesemuan..

Kau tetap genggam lapang dalam kelembutan,
Meski ada cerca-cerca yang melesat menumbangkan..
Meski kau lihat sorot-sorot tajam mata kekecewaan..

Kau,
Bimbing asa-asa membumbung bersama semangat perjuangan,
Tumbuhkan rindu-rindu kala jarak kadang tetiba memisahkan,
Himpun hati-hati tertaut dalam kasih sayang dan persaudaraan,


Ah, aku mulai lupa. Terimakasih, mengenalmu kembali membantu mengingatkan..

Sabtu, 07 Maret 2015

HITAM

07.34 0 Comments
Sensitif sekali dengan kata ini. Curhat ah….
#Memang, kalau nulis bau-bau curhat, mengalir banget..  Coba kali-kali nulis tentang carut  marutnya perpolitikan, yang penuh dengan analisa perilaku para politikus itu sendiri, tentang motifnya, tentang tujuannya, tentang strateginya, tentang para pendukungnya, dan bla bla bla. Semua nggak ada yang mutlak alias entah berantah kebenarannya. #Nah, kan, bingung.
Intinya, aku sedang sensitif dengan kata “Hitam”. Karena bahkan adik koskupun memanggilku dengan sebutan “Mbak Hanif bin Hitam”. Aku mengalami traumatis tersendiri mendengar kata-kata itu, mengingat banyaknya peristiwa menyakitkan yang kualami dan kesemuanya berhubungan dengan kata hitam. Haha
Hari itu. Adik lesku berbisik di telinga, dia ingin sekali bercerita. Baiklah kudengarkan, setidaknya tenagaku tidak akan terkuras habis karena ngomong terus menerus juga rehat sejenak dari menghadapi tingkah polahnya yang teramat sangat aktif sekali. Dan jreng jreng jreng, ceritanya begini “Pada jaman dahulu, ada seorang perempuan bernama Hanif. Kulitnya putih sekali. Tetapi, waktu dia berjalan tiba-tiba kecemplung kali, yang airnya lethek (baca : kotor). Karena itu, ia berubah menjadi hitam seperti sekarang”. Cerita yang menarik bukan? Aku menyadari, anak kecil itu memang selalu jujur, sepertihalnya beberapa hari lalu, ia juga pernah menyanyikan sebuah lagu special untukku. Lagu dengan nada khas anak-anak TPA “Tepuk Anak Shaleh”.  Kali ini, liriknya berubah 180 derajat. “Tepuk Hanif……” “Kulitnya……” “Hitam……” Bait  pertama yang begitu kuingat diluar kepala. Duh dek, jujur sekali kau nii, boong dikit kenapa…. Dan yang paling menyakitkan, hari pertama aku membersamainya, tanpa bersalah ia mengatakan “Aku maunya diajar mbak yang gendut, bukan mbak yang hitam”. #Lemes
Kejadian ini belum lama setelah kejadian beberapa bulan lalu, di rumah. Hari sudah menjelang siang. Aku berpakaian rapi, dengan gamis  panjang warna biru, juga jilbab warna biru tua, siap berangkat ke Jogja. Aku mendekati ayahku yang sedang duduk manis di kursi dapur, sembari menikmati satu gelas teh panas dihadapannya. Niatnya si berpamitan. Entah darimana bisikan itu datang, tiba-tiba keluar dari mulutku,
Pak, aku wis ayu kan?”. Jarang-jarang lho sama Bapak candanya ginian.
Iyo, ayu banget”. Jawab Bapak. Berasa ada angin segar yang berhembus menyegarkan telingaku. Bukan senang lantaran dibilang cantik lho ya (Aku mah tahu persis itu hanya fitnah belaka), melainkan senang ternyata Bapak menanggapi candaanku. Wajahnya tampak serius. Sempat hening beberapa detik, dan aku siap berbalik, tiba-tiba muncul kata selanjutnya,
Ireng njluntheng koyo angus dandang (baca : hitam legam bak pantat panci)”. Duh, kena pukulan telak, aku tak bisa berkata-kata, shock. Samar-samar dari luar pintu ibuku menyahut,
Ora Nduk, ora. Dandang e dewe gek kuning kae warnane, ora tau dinggo. Sing ireng wajan (baca : Nggak Nduk, panci kita warnanya masih kuning, jarang dipake. Yang hitam wajannya)”. Seolah-olah kata ayahku adahal hal yang sangat menyakitkan, dan ibu hendak membelaku. Aku hanya geleng-geleng kepala, ada-ada saja.
            Bahkan orang yang aku kagumi, meskipun sama sekali tak mengenalku tega-teganya menyindir (dramatisir lho ya). Dalam sebuah acara bedah buku, seorang peserta bertanya “Inspirasi menulis dari mana?”. Spontan beliau menjawab “Dari mana saja. Contohnya (sembari menengok ke samping), hitam pun bisa menjadi inspirasi. Adapun kualitas, yang penting kita punya pandangan spesial. Sudut pandang spesial bukan berarti, waw dan luar biasa, sederhanapun bisa. Contoh , pernah ada anak peserta workshop, menulis begini –Ada orang hitam, bajunya hitam, rambutnya hitam, kulitnya hitam, tangan dan kakinya hitam, semua hitam. Tetapi hatinya putih - . Siapa yang berpikiran menulis seperti itu? Jarang. Bedakan dengan yang menulis hitam adalah gelap, sedih, duka cita. Itu bisa jadi semua orang berpikiran sama”.
            Dan kejadian selanjutnya, saat salah seorang kawan SMA ku datang, tanpa basa-basi menyampaikan “Ncen kok kowe tambah item ya?” dan dengan basa basi aku menjawab “Tunggu aja, aku nanti mau beli make up wardah (nggak berniat ngiklan) lengkap. Dari pembersih hingga cream malam hingga sunblock hingga lipsticknya sekalian”. Haha #maklum buta make up.
            Sebenernya masih banyak lagi kejadian “menyakitkan” serupa, tapi tak sanggup lagi kuceritakan (lebay). Yang sering mengatakan aku hitam, tenang, aku bisa menyaingi kalian. #Pake cat tembok warna putih.

Kisah ini kisah nyata. Aku sebagai korban, memilih memaafkan daripada harus memendam dendam, karena, apa yang mereka katakan memang benar adanya. Hahaha *Menangis meminta dukungan “Mari menggalang koin hitam”….

Jumat, 06 Maret 2015

Bersama Hujan disiang Ini,

13.24 0 Comments
Lihatlah, tetesan airnya, luruh menyatu melewati atap, kemudian berdebur mengguyur… Lembutkan tanah yang mulai retak kekeringan, segarkan dedaunan yang mulai layu menguning…
Dengarlah, gemericiknya beradu, memecah kesunyian… Kurasa, tasbih memujiNya adalah sejatinya. Seirama dengan insan yang khusyuk berdzikir, bersila syahdu dalam rumah paling mulia…
Rasakanlah, dinginnya  sepoi bersama basah, hadirkan hangatnya kebersamaan… Menemani hati-hati yang berjaja mengelilingi meja makan, menggerakkan satu-satu jiwa untuk bercengkrama dalam satu atap peneduh…
Nikmatilah,  Ada doa-doa yang mengudara, kerana deras itulah radarnya… Ada malaikat-malaikat yang sibuk  bekerja, menjadi penghubung antara harapan manusia dengan rahmat Tuhannya…

#Jum’at Barokah… Dalam derasnya hujan di langit Jogja…

Kamis, 05 Maret 2015

Ketika Anak Kecil "Mencuri" :(

18.18 0 Comments
Untuk kali pertama. Ketika aku tak sengaja menjatuhkan lembaran itu dari tas. Gurauan itu, “Mbak Haniif, buat aku yaa, yaa”, dan ketika aku hendak mengambilnya, iapun menghindar “Jangan.. pokoknya itu punyaku” sambil berusaha menaruh dalam saku celana. Begitu saja, dan kami kembali pada situasi semula. Candaan biasa, yang bahkan aku pun sama sekali tak mengindahkannya. Hingga aku tiba di kamar, dan melirik dompetku, “Kemana sepuluh ribuku yaa?”. “Ah, mungkin tadi aku lupa naruh, atau terjatuh, atau bisa jadi dia terlupa mengembalikan, dan masih disimpan dalam saku celananya. Tak ingat persis. Sudahlah, cuma sepuluh ribu” pikirku.
Kedua kalinya. “Mbak Hanif, Mbak Hanif, pinjam tas. Coba lihat isinya”.  Ia membuka  tasku, mengeluarkan satu-satu isinya, kemudian memasukkan kembali. Satu tangan mendekap tas itu  lama, satu tangan lain ia biarkan di dalamnya, diam. Dan tetiba ”Mbak Hanif, aku mau minum” sambil spontan bangkit berdiri, berlari mengambil botol air minum dalam sebuah ruangan.  Ada yang berbeda. Ia kembali ke hadapanku dengan wajah lebih berbinar, dan bersemangaat. Hingga aku tiba di kamar, dan melirik dompetku, “Kemana sepuluh ribuku yaa?”. “Ah, mungkin aku salah ingat, pasti sepuluh ribu sudah kupakai”. Tetapi, sedikit mulai su’udzon “Atau, tadi dia ngambil ya? Ah, masak sich? Nggak mungkin. Orangtuanya bagus kok. Sudahlah, Cuma sepuluh ribu”. Pikirku
Ketiga kalinya. “Mbak Hanif,  hadap sana, aku mau sulap, tasnya Mbak Hanif  nanti bisa ilang”. Aku segera berpaling, membiarkan apapun yang dia lakukan. Aduh, apalah daya, aku mulai su’udzon lagi. Permainan “sulap” selesai, dan aku sedikitpun tak tergoda untuk mencari keberadaan tasku.  Iapun mengalah mengambilnya kembali “Ah, masak Cuma di sana Mbak Hanif nggak tahu”. Aku tersenyum, meminta tasku, membuka, dan melirik dompetku. Kosong. Hanya ada dua ribu rupiah di luar. Kali ini aku yakin, benar-benar yakin, ia yang mengambil. Beberapa jam sebelumnya aku memastikan, uang itu masih ada. Tidak banyak, hanya beberapa lembar dua ribuan yang kusiapkan untuk naik trans jogja _tapi , karena aku nggak masuk kantor lazis, tentu uang itu masih utuh_. Seketika itu juga, (mungkin) rautku berubah, senyumku mengembang marah. Berkali-kali ia bertanya “Mbak Hanif kenapa, kok mukanya gitu?”. “Aduh, gagal menjaga ekspresi” batinku. Sembari kusengajakan membuka-buka dompet, dan menatapnya lekat. Wajahnya memerah “Mbak Hanif punya uang berapa?”.

Ada yang bilang, anak kecil mengambil sembarangan itu wajar. Tapi ini bukan soal wajar dan tidak wajar. Ini juga bukan soal nominal. Hei, dia anak kecil, mudah sekali untuk membiasa, dan menjadi karakter yang mengakar hingga dewasa…… Sampai detik ini, aku masih berpikir, apa yang harus kulakukan untuk menegurnya? -_-

Senin, 05 Januari 2015

Yang Tak Terlupakan Pagi Itu.. (Bagaimana Kabarmu Bu?)

13.58 0 Comments

Kami duduk berhadapan. Seorang ibu paruh baya, bersama seorang anak kecil usia awal belasan. Tak terlalu kuperhatikan, kami sama-sama penumpang yang sedang menuju suatu tempat, dengan tujuan masing-masing. Terhalang beberapa wajah yang berdiri di tengah-tengah tempat duduk, sebelum mereka pada akhirnya turun di halte kedua. Bis kembali melaju. Jam sudah menunjukkan dua puluh menit lebihnya dari pukul sembilan pagi. Aku hanya menarik nafas, berusaha untuk tepat waktu, namun tetap saja, terlambaaat.
Hingga tetiba, ada raut yang berbeda dari wajah ibu paruh baya di depanku itu.
" Lho Mbak, ini nggak ke rumah sakit hardjolukito?". Tanyanya antusias
" Turunnya di halte barusan Bu, kalau mau kesana. Ibu nggak dengar barusan saya informasikan?" Dengan nada sopan, perempuan penjaga pintu bis itu menjawab.
Ku tatap mata Ibu itu, sayu. Wajahnya memerah menahan tangis. Tangannya gemetaran, sembari memegang plastik hitam besar, yang berisikan kertas lebar, entah apa.
" Saya sedang panik Mbak, buru-buru, dan nggak konsentrasi. Tadi kata petugas tempat saya naik, nggak pake transit". Suaranya mulai parau. Duduknya sudah tidak tenang lagi. Berganti-ganti posisi, seolah ingin turun saja, dan melakukan apapun untuk bisa bersegera sampai sana.
Ada rasa iba, kasihan, dan juga rasa bersalah. Dalam situasi seperti ini, saat seseorang dalam posisi benar-benar membutuhkan pertolongan, kitapun tak berdaya, tak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya, andai saja aku duduk di sampingnya, bertanya kemanakah tujuannya, mungkin saja aku bisa memberitahunya kapan harus turun. Ah, sudah terlanjur.
Kutatap bola matanya, dan beliau juga menatapku dengan tajam, ada sesuatu yang ingin terucap namun tertahan "Ibu, bicaralah, kalau memang ingin berkeluh, menceritakan kepedihanmu". Dalam hati ku berkata. Semakin lama ku menatapnya, dan beliaupun juga tak berpaling.
"Jam berapa harusnya sampai sana Ibu?" Pertanyaan klise, karena aku tak bisa memaksanya untuk berbicara tiba-tiba.
"Seharusnya jam delapan Mbak." Berbisik lirih sembari menyeka air mata.

Tak ada yang kutanyakan lagi, diam. Bagiku, berjibaku dengan waktu, Rumah Sakit, Tetesan air mata, Sorot kepanikan, ah, sesuatu yang tidak lagi bisa dibeli dengan uang, tentang nasib, dirinya atau orang-orang tercinta. Mungkinkah? *Semoga Allah memudahkan urusan, dan memberikan skenario terbaikmu Ibu :) Maafkan untuk diri ini yang hanya sanggup membisu melihatmu seperti itu :(

Senin, 29 Desember 2014

Surat Cinta Untuk Saudariku

04.39 0 Comments
Yogyakarta, Ruang Cinta,
27 Desember 2014, dini hari

Teruntuk saudariku, sahabatku
Husnul Khotimah Alfitry
Saudariku,
Aku yakin, sungguh tidak ada kebetulan yang terjadi di dunia ini. Bahkan sebuah kebetulan kecil yang sangat kebetulanpun, Allah simpankan hikmah bagi sesiapa mereka yang mampu menjalaninya dengan segenap syukur dan pemahaman. Apa yang kita lalui, siapa mereka yang kita temui, dan bagaimana terjalnya hari yang kita lewati, ialah menjadi bagian tarbiyah Allah kepada kita, manusia-manusia yang hanya sanggup merunduk dalam doa-doa khusyuk padaNya..

Saudariku,
Adalah sebuah pertemuan yang Allah skenariokan begitu indah. Hari dimana kau tersenyum, menegurku dengan sapaan lembutmu. Hari dimana engkau pertamakalinya mengucapkan salam di depan kamarku, dengan begitu anggun mengenakan gamis birumu. Hari dimana kita mengelilingi sudut pusat perbelanjaan kota Jogja, Yang orang pasti mengenal namanya, Malioboro, untuk mencari selembar kerudung putih untukmu. Hari dimana kita berdua, salah mengetuk ruang kuliah, dan kemudian berbalik dengan wajah-wajah malu nan lugu. Iya. Awal-awal perjumpaan kita. Masihkah kau mengingatnya?

Saudariku,
Adalah sebuah rencana yang Allah hadirkan begitu istimewa. Dalam banyak kesempatan, Ia berikan ruang untuk kita tapaki bersama memperjuangkan agamaNya. Mempersatukan kita dalam lingkaran cinta yang tiada akhir penjagaan ukhuwahnya hingga kelak kekal di surgaNya (Aamiin). Bersama menyelaraskan kewajiban, duduk melingkar sore hari di taman, bincang-bincang singkat untuk serangkaian agenda dakwah di fakultas kecil kita tercinta. Bersama memadupadankan seluruh ide-ide cemerlang bersamaan dengan motivasi cintamu yang menggerakkan hati-hati untuk berpaut dalam semangat ketaatan. Dakwah adalah cinta, dan cinta akan memintamu segalanya. Ah, aku hanya tertunduk malu, sungguh perjuanganku tak berbanding dengan perjuanganmu,..

Saudariku,
Adalah sebuah garis takdir yang Allah berikan begitu sempurna. Ada saat dimana aku mengingat perjalanan cintamu dengan senyum penuh haru. Betapa Allah menyayangimu, menempa rasa dalam episode-episode untuk kau ambil pelajaran di setiap prosesnya. Sedari cinta semu bak remaja yang dirundung setangkup rindu hingga cinta semu yang engkaupun mulai meragu. Pada akhirnya, cinta itu, engkau sendiri mungkin tak kuasa memberikan definisinya. Karena hidup adalah cinta, dariNya, karenaNya, untukNya…  Ada pula saat dimana aku mengingat kebersamaan kita dengan senyum rindu. Tentang pemberian nama-nama anak kita kelak. “Azzam Izzul Haq”. “Azzam Mujahid Izzul Haq”. Tentang Farhat, adikmu, calon mujahid tangguh itu. Tentang kakak-kakak teladan kita. Tentang, bangun dari mimpi-mimpi dan sekaranglah, kita benar-benar memulai hidup kembali…. Ah, Ada begitu banyak kenangan antara kita yang kusimpan dengan rapi..

Saudariku,
Dan saat ini, setelah empat tahun lebih aku mengenalmu,  sungguh aku menghela, tersenyum syukur dan begitu bahagia. Pada akhirnya, Allah menjawab doa-doa dalam penantian panjangmu. Allah pertemukan dengan sahabat dakwahmu, yang akan meniti jalan bersama sebagai pejuang agamaNya.
Barakallahulaka Wa Baraka ‘Alayka Wa jama’a baynakuma fi khoir….
Semoga Allah limpahkan keberkahan dan kebaikan dalam rumah tangga kalian :) Keluarga yang menjadi inspirasi dan dipenuhi cahaya Qur’an :) Keluarga yang penuh dengan kebermanfaatan :) Lahirkan jundi-jundi sholih-sholihah yang menjadi penyejuk mata orangtuanya.. Lahirkan mujahid-mujahidah yang tegak di barisan depan dalam mempertahakan kebenaran.. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamin….
Dariku, yang banyak belajar darimu, Wahyu Hanif Al Kirom

Kamis, 04 Desember 2014

Ada banyak seharusnya......

21.18 2 Comments
Ada banyak hal yang seharusnya aku tahu, namun aku sama sekali masih buta
Ada banyak liku yang seharusnya sudah kulewati, namun aku masih diam di tempat
Ada banyak makna yang seharusnya kumengerti, namun aku bahkan terlampau jauh dari kata mengenali
Ada banyak cerita yang seharusnya bisa kurangkai, namun beberapa saja terasa susah untuk dipadupadankan
Ada banyak hal yang seharusnya sudah mampu kuberi, namun apalah daya kini masih pandai meminta

#Berasa pipi ditampar kiri-kanan# Karena waktu tak pernah berhenti barang sejenak, bersegeralah……

Selasa, 02 Desember 2014

Hidup Itu....#2

21.48 0 Comments
#Hidup Itu, terkadang memaksa membuka mata pada beratnya yang masih memejam.  Itulah mengapa, (lagi-lagi) kita mesti belajar istiqomah meskipun susah pada mula.

#Hidup itu, terkadang keengganan menjawab pertanyaan singkat, yang berderet kelanjutannya. Itulah mengapa, kita mesti belajar untuk tak banyak mencampuri kepentingan orang lain bilamana kita tak berikan manfaat apapun.

#Hidup itu, terkadang satu kalimat nasehat menyakitkan, yang tak diharap ulangnya. Itulah mengapa, kita mesti belajar meminta maaf, memilah kata dan menyelaraskan ekspresi sebelum bertuah.

#Hidup itu, terkadang tentang keharuan atas kemurahhatian seseorang, bantuan besar tetapi masih berucap “Karena aku tak bisa bantu apa-apa”. Itulah mengapa, kita mesti bersyukur, teruslah bermurah hati, dan membahagiakan orang lain

#Hidup itu, terkadang menunggu. Iya menunggu. Itulah mengapa, kita mesti bersabar

#Hidup itu, terkadang menahan keengganan yang sulit terucap. Memutuskan antara dua hal yang sama-sama kurang baik. Itulah mengapa, kita mesti belajar memilih, menyampaikan alasan dengan baik, bebarengan dengan keilmuan akhlaq yang mengakar.

#Hidup itu, tentang terimakasih atas pemberian istimewa yang tak disangka. Itulah mengapa, kita mesti belajar optimis, meyakini pemberian Allah Yang Maha Kaya.


#Hidup itu, terkadang menspontankan sesuatu yang diragu, memeriksa hati untuk lebih lurus pada niat. Itulah mengapa, kita mesti terus meredam hati, agar nafsu tetap terkendali.

Senin, 01 Desember 2014

Hidup Itu....#1

21.18 0 Comments

#Hidup itu, soal NIAT, mutlak karenaNya. Soal kesungguhan dalam menjalani peran. Soal kesungguhan dalam memberi kebermanfaatan.

#Hidup itu, terkadang menumbuhkan penasaran orang kenapa kita tiba-tiba berbuat baik. Iya, itulah mengapa kita mesti belajar untuk istiqomah. Menghargai kebaikan sekecil apapun. Mengingat kebaikan orang lain, dan melupakan kesalahan orang lain.

#Hidup itu, terkadang rasa was-was, ada kesalahan sikap kita pada mereka yang layak untuk lebih dihormati. Itulah mengapa kita mesti belajar lebih santun dan menjaga etika. Memaafkan orang lain, memberi jawaban terbaik pada mereka yang menyapa kita, apapun tujuannya.

#Hidup itu, terkadang soal sebuah jawaban yang tak terduga yang membuatmu berpikir untuk berbuat apa selanjutnya. Itulah mengapa, pegang teguh prinsip kejujuran dan usaha terbaik adalah jalan satu-satunya

#Hidup itu, terkadang penemuan sebuah realita yang tak sesuai pinta. Itulah mengapa, ikhlas-sabar-dan mencoba (lagi) yang mesti terus berulang hingga menjadi wujud nyata.

#Hidup itu, sesekali tentang menembus rerintik hujan, berjalan berulang pada tapak yang sama, bersanding dengan berpuluh pasang mata yang tak dikenalinya. Itulah mengapa kita mesti belajar membiasa, berpeluh untuk sebuah karya.

#Hidup itu, terkadang menyiapkan telinga untuk mendengar sesuatu yang tak ingin kau dengar. Itulah mengapa, kita mesti memberi alarm pada hati untuk tetap terbentengi. Jauhkan segala dendam sakit hati, pun buruk sangka pada yang mengucapnya.

#Hidup itu, terkadang sebuah adegan ‘lucu’ yang layak kau sunggingkan sesimpul senyum. Semisal mencari seseorang dalam ramainya jalanan, menelisik diantara mobil-mobil, berkejaran dengan waktu yang cepat melaju, dan tiba-tiba, ia di sampingmu. Itulah mengapa, kita mesti bersyukur bahwa sepersekian detik waktu, Allah tetap menolongmu.

#Hidup itu, terkadang sebuah pertemuan singkat yang memberimu semangat dan nasehat. Itulah mengapa, kau mesti menjaga teman-teman terbaikmu, untuk saling menjadi penolong di akhirat.

#Hidup itu, terkadang diam terpaku, dengan berbagai hal yang ingin disampaikan tetapi lidah pun terasa begitu kelu. Salah tingkah, bahkan salah ekspresi. Itulah mengapa, kita mesti belajar berkomunikasi yang baik, berbicaralah…

#Hidup itu, tentang berterimakasih, padaNya atas nikmat yang tak terhitung banyaknya. Dan pada mereka yang menebar benih-benih kebaikan padamu…
Hidup  Itu..

(1 Des 2014)

Jumat, 28 November 2014

POSITIVE PARENTING # 1 # Dasar-Dasar Positive Parenting

03.49 0 Comments


Judul Buku      : Positive Parenting
Pengarang        : Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit           : Mizania
Tahun Terbit    : Cetakan 1, Oktober 2010
Tempat Terbit  : Bandung
Tebal Buku      : 265 Halaman




Dan Tuhanmu agungkanlah!
Rasulullah saw berpesan pada hari - hari terakhir jelang kematiannya “…..Sesungguhnya, kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya”.
Sampaikanlah pesan Rasulullah itu kepada anak-anak kita, niscaya ia akan tumbuh dengan percaya diri, jiwa yang besar, konsep diri yang baik, pikiran yang terbuka, serta dada yang lapang. Sebab, ia memahami bahwa pembeda manusia hanyalah takwanya. Sehingga, akan ada ikatan kasih sayang dan cinta diantara mereka, yang landasannya adalah iman. Sekali lagi, sampaikan pesan Rasulullah, dan siapkan generasi - generasi yang meninggikan kalimat Allah, bukan meninggikan diri dengan kalimat Allah.

Semoga Doa-Doa Mereka Membumbung Tinggi
            Hanya tiga hal yang dapat seseorang harapkan setelah kematiannya, Ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan anak-anak shaleh yang mendoakan. Iya, perdengarkanlah mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka dapat merasakan bahwa hanya kepada Allahlah kita meminta. Didiklah mereka untuk menjadi shalih-shalihah, karena doa yang terlantun, harus dibersamai dengan keshalihan. Jika itu dunia yang melatari sebuah doa, pastikan sertakan niat karena Allah didalamnya.

Membangkitkan Semangat Anak
            Orang – orang besar tidak dilahirkan. Mereka ditempa, diukir, dan dipersiapkan oleh pendidikan yang baik. Ajaklah anak untuk melihat sebuah kekuatan besar dibalik sebuah kelemahan. Berilah mereka cerita yang menginspirasi, dengan sungguh-sungguh, dan dengan sepenuh hati sembari berharap turunnya hidayah untuk mereka.

Belajar Dari Masa Kecil
            Masa kecil, masa -yang seharusnya- seorang anak bersungguh-sungguh mencari ilmu, sekurangnya yang menjadi bekal dasar kehidupan mereka. Namun sayangnya, saat ini, ditengah semaraknya kemajuan teknologi, tradisi keilmuan justru hilang. Anak-anak disibukkan dengan televisi, dengan gadget, dan lain sebagainya. Ya, untuk para orang tua, jangan lewatkan masa emas anak begitu saja, tanpa belajar agama.

Pada Mulanya Adalah Membaca
            Awalnya, adalah membaca. Anak-anak akan mempunyai ketrampilan, kemampuan, dan ketajaman mencerna isi bacaan. Kemampuan berpikir mereka lebih matang dan tertata. Mereka juga akan mengembangkan kemampuan menimbang dan menilai apa yang mereka serap dengan lebih baik. Untuk itulah, kegemaran membaca pastikan iringi dengan penanaman nilai yang baik pada mereka. Yuk, biasakan anak-anak membaca, bacaan yang bergizi..

50 Tahun Mendatang Anak Kita…
Semoga, mereka sudah tersebar di seluruh dunia. Mereka gigih merebut dunia bukan karena gila harta, melainkan karena mereka ingin menjadikan setiap detik kehidupannya untuk menolong agama Allah. Mereka gigih bekerja, dengan harap setiap tetes keringatnya menjadi pembuka jalan ke surga.  Tetapi, ingatlah, 50 tahun mendatang anak kita, hari inilah menentukannya !!

Matinya Perjuangan
            Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita sendiri, didiklah mereka sesuai dengan perubahan zaman namun tidak melupakan prinsip.

Ajarkan Jihad Sejak Dini
Tanamkanlah kepada mereka pemahaman tentang jhad secara utuh, bukan tentang jihad yang benar atau jihad yang salah. Mengajarkan jihad berarti menumbuhkan kepada mereka harga diri dan kepercayaan diri sebagai orang yang beragama. Mereka belajar memiliki rasa tanggung jawab.

Merusak Tetapi Dicintai
            Televisi. Ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa televisi kini sudah menjadi “The First God (Tuhan Pertama)”. Karena pada kenyataannya, meskipun televisi menimbulkan dampak yang sangat buruk untuk anak, para orangtua tak dapat lepas dari menatap layar kaca. Jadi, untuk orangtua, siapkanlah untuk mematikan televisi di rumah juga mematikan televisi di hati kita. Artinya, kurangi antusiasme untuk membicarakan acara-acara atau bintang-bintang di televise. Meskipun bukan hal yang buruk, sekali waktu menikmati tayangan televis yangbagus, bersama seluruh anggota keluarga.

Berseteru Karena Cemburu
            Rencanakankalah kelahiran anak dengan baik. Satu-Dua-Tiga-dst. Sudah pasti anak kita akan mempunyai seorang adik, dan kita akan lebih banyak waktu mengurusnya. Cermati sikap awal kita, jangan merasa seolah-olah kita direpoti oleh anak. Berilah mereka perhatian, ajarkan mandiri, libatkan dalam menjaga adik, supaya tidak ada kecemburuan diantara mereka.

Dua Anak Cukup!
            Dua anak cukup. Tiga anak lebih dari cukup. Empat anak? Baik. Lima anak, baik sekali. Enam ke atas, istimewa. Berapa kita memutuskan punya anak, periksalah niat kita! Jika, siap membesarkan banyak anak, insyaAllah mereka akan tumbuh sebagai manusia yang berjiwa besar, berkarakter kuat, dan memiliki mental yang kukuh. Tidak ada yang berat pun tidak ada yang repot. Selama niat dan persiapan kita tepat.
To be Continued….
***
            Tulisan di atas merupakan ulasan secara garis besar buku (121 hlm dari 265 hlm) berjudul Positive Parenting karya Fauzil Adhim. Seperti yang tertulis pada kolom komentar pembaca, saya sangat setuju bahwa buku ini menyajikan nilai-nilai islami yang sangat dalam, mengajak orangtua untuk memberikan hati dan cintanya kepada anak-anak mereka. Memberi kesadaran bahwa pondasi utama untuk mendidik anak adalah iman. Dimana hal itu diwujudkan pada mereka, anak-anak, yang selalu meninggikan kalimat Allah dalam setiap hal.
            Penggunaan kalimat yang mudah dipahami, dengan gaya sastra khas penulisnya, sangat baik untuk dijadikan salah satu sumber referensi dan pengetahuan orangtua dalam mengasuh anak. Meskipun menurut saya, dalam beberapa sub-tema kurang begitu sesuai dengan judulnya. Yuk, para orangtua, atau calon orangtua, siapkanlah bekal mendidik dan mengasuh anak, sebanyak-banyaknya…


Kamis, 27 November 2014

Terima Kasih

21.44 0 Comments
“Kita telah, sedang, dan akan menjalani takdir terbaik yang menjadi ketetapannya. Istiqomahlah. Semoga Allah selalu memudahkan urusan kita”.

#Sebuah pesan singkat, penutup keluhku sore tadi. Terima kasih Ibu Rachmy. Atas perhatian, pengertian, dan jawaban-jawaban yang membuatku ingin menitikkan air mata…

Sabtu, 22 November 2014

Kepada Putra-Putrimu... #2

04.25 0 Comments
#Menuntut ilmu adalah kewajiban sejak masih berada di dalam kandungan hingga liang lahat.

#Karena anak-anak belum bisa mencari ilmu sendiri, itulah menjadi kewajiban orangtua untuk memberikan informasi

#Yang harus selalu diperhatikan adalah AKHLAknya, karena anak akan tumbuh dewasa sesuai dengan kebiasaan yang disuguhkan oleh sang pendidik di masa kecil

#Pupuklah kebiasaan untuk menumbuhkembangkan rasa cinta kepada hal-hal yang baik, serta kemauan untuk merealisasikan dan mempraktekkannya

#Susah memang. Untuk itu, dalam membinanya sesuaikan dengan bakat-bakat / potensi yang terpendam, sehingga anak tidak terbebani.


#Beri dorongan dan semangat untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan bakatnya, selagi hal tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.

#Tapi ingatlah, anak-anak tetaplah manusia yang punya naluri baik dan buruk. Orangtua yang cerdas akan mengambil sisi manfaat dari segi-segi negatif yang ada dalam diri anak tersebut.

#Ingatlah juga, anak-anak akan mendewasa sesuai dengan fase perkembangannya.

#Ribet ya? #Tidak Kok

#Pokoknya, ikuti saja Rasulullah., teladan terbaik kita, termasuk dalam hal memberikan pendidikan kepada putra-putri nya dalam rumah tangga.

#Rasulullah benar-benar memahami tuntutan dan kebutuhan yang ada pada diri seorang anak.

#Nah, yuk kenali, Apa saja kebutuhan mereka?
To Be Continued…



Kamis, 20 November 2014

Kepada Putra-Putrimu... #1

10.15 0 Comments
#Sebelum berbicara tentang bagaimana mendidik anak pada putra-putri kita, ada beberapa hal yang terlebih dahulu perlu dibicarakan.

#Adalah persiapan pernikahan, yang menjadi fondasi dalam berumah tangga.

#Tentang menjadi pribadi yang baik (juga sebagai calon suami/istri sekaligus orangtua yang baik).

#Tentang memilih pasangan yang shalih / shalihah, dari keturunan baik-baik, serta kuat agamanya.

#Karena anak, sangat dipengaruhi orangtuanya (seperti perlakuan, didikan juga prinsip yang diwariskannya-bahkan sejak sebelum ia dilahirkan).

#Adalah perlakuan orangtua (terlebih lagi ibu) terhadap anak yang ada dalam kandungannya

#Tentang menjaga kesehatan, menyeimbangkan gizi makanan, supaya janin di dalam perut tumbuh sehat.

#Tentang keikhlasan, kesabaran, dan kasih sayang yang diberikan pada janin selama mengandung

#Tentang doa-doa yang selalu dipanjatkan, pengenalan ibadah yang dibiasakan

#Adalah perlakuan orangtua terhadap anak yang baru saja dilahirkan

#Tentang pemberian nama yang baik, tentang pemberian kasih sayang yang tulus.

#Ya, anak lahir dalam keadaan fitrah, orangtualah yang mewarnainya :D

To Be Continued…