Follow Us @whanifalkirom

Selasa, 07 Maret 2017

SESEKALI

07.30 0 Comments

Sesekali, tinggalkanlah negeri hai belia bestari, agar kau tahu betapa luasnya bumi, alangkah agung ciptaan Ilahi, betapa beragam manusia ini.

Sesekali, susurilah jalan-jalan sepi, jadilah asing dalam ramai negeri-negeri, jadilah bukan sesiapa kecuali makhluq yang amat berhajat padaNya.

Dalam perjalanan kau kan dicekam keterasingan, dihantui kesunyian. Tetapi di situ kau kan rasa, betapa Dia Penyerta nan setia, selalu mengawasi lagi mendengar doa.

Sesekali, seperti di kebun anggur ‘Utbah serta Syaibah sebakda Thaif yang mengusir gusah, berbisiklah pada Rabb semesta, “Sungguh aku adukan padaMu lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku.”

Sesekali, jadikan hidup seperti Musa yang dari Mesir ke Madyan dia berlari. Dalam lelah letih lapar terkapar, masih sanggup dia tawarkan bantuan pada dua ukhti. Lalu berserah diri hingga segala karunia menghampiri.

Sesekali, goda-goda akan terjadi seperti Yusuf yang terbuang lalu terbeli. Gelora syahwat merayu-dayu tapi kita memilih lari. Bahkan nikmatnya dosa kalah dari jeruji, hingga tiba kesempatan berbakti.

Maka dalam safarmu, ilmu membanjir selaut biru, pemahamanmu berpijar bagai ledakan bintang berribu-ribu, hidupmu tak henti membaru.

Sesekali… Amat berarti.

Minggu, 05 Maret 2017

KENCAN TERAKHIR*

20.06 1 Comments
"Kalau mengutip ucapan seorang teman, katanya hatinya terbelah-belah. Tapi kalau perasaanku sekarang sedang teriris-iris". Kataku, dengan tangan yang sedikit mengepal .
"Aku terkoyak-koyak Mbak". Imbuhnya
"Aku tersayat-sayat wiiiis". Satunya santai menimpali, dengan senyum. Manis.
Obrolan tanpa tema di suatu sore, diantara kelabu yang kian menebal di atas langit sana, sebelum akhirnya hujan itu luruh, deras. Obrolan yang begitu saja terjadi, saat satu diantara kami bertiga, tinggal menghitung hari untuk menjadi 'genap'.
***
"Mbak itu beneran? (Beneran teriri-iris maksudnya)". Tanyanya, dengan tatapan heran
"Iyaa. Bener. Pokoknya aku sakit hati". Sahutku, dengan ketus
"Aku megerti. Aku juga pernah merasakan kok…".  Sambung satunya, dengan senyum, lagi.
Entahlah, sulit mendefinisikan perasaan perempuan lajang yang hendak ditinggal orang-orang terdekatnya menikah. Bahagia, tapi sesak dalam dada.
***
"Janjimu banyak yang belum tertunaikan". Kataku
"Huuuaaa, apa semuanya?". Jawab satunya, menghela
"Ke masjid Klaten. Kencan di masjid saat maghrib tiba, hingga isya'.  Jadi panitia kalau aku yang nikah, dan banyak lagi". Aku memperjelas
"Aku belum ikhlas sampai kelak kau mencoba merayu suamimu untuk kemudian bertemu mesra menunaikan janji itu (-Meskipun aku tahu, rayuan itu tak kan berbuah hasil, meskipun juga jika berhasil justru aku harus berencana membatalkan-)" Tambahku
Terkadang, ada banyak lagi hal-hal tidak penting menjadi penting untuk tersampaikan. Meskipun sebenarnya, kesemua itu hanyalah bagian dari ugkapan untuk tidak ingin kehilangan.
***
Aku menulis sembari tergugu. Hari ini mungkin menjadi kencan terakhir kita, sebelum statusmu berubah, dan peranmu bertambah. Kamu tentu menyadari bukan? sepanjang hari aku menggerutu tentang pernikahanmu, bukan karena benci, justru sebaliknya, karena kita terikat cinta #ehciiee

Menulis ini sambil mendadak sedu. Tetiba Flashback dalam suasana ramadhan tahun lalu, suatu waktu dalam remang senja di taman masjid kampus UGM, duduk berdua menunggu adzan tiba, menatap hidangan nasi berbungkus kertas coklat itu, berbisik kecil menatap lalu lalang orang-orang, kemudian kita mengudarakan do'a-do'a… #Tidak lagi untuk ramadhan beberapa bulan lagi, sosok disamping kita adalah orang yang berbeda~
to be continued…
~Menunggu halalmu tiba~

*Judul atas request tokoh utama dari catatan ini, diambil dari kisah nyata. heheheh


Selasa, 07 Februari 2017

09.16 0 Comments
“Mengapa kalian suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri……”
(Q.S Al Baqarah : 44)


#Quote of The Day#
#Semoga bisa memulai sesuatu yang baik dari diri dan dari yang kecil#

Senin, 06 Februari 2017

06.21 0 Comments
HARGAILAH KEBAIKAN - KEBAIKAN KECIL. LIHAT LAH IA SEBAGAI PELUANG AMAL. KAMU TAK KAN PERNAH TAHU, dari PERBUATANMU yang MANAKAH yang MENDATANGKAN KERIDHOAN-NYA..
#Quote of The Day# 

Perbedaan

06.15 0 Comments
Perbedaan adalah niscaya…
Bayangkan saja, jika sebuah bangunan, sama komponennya. Terbangun dan kokoh? Tidak
Bayangkan saja, jika tubuh kita, sama bagiannya. Berfungsi dengan sempurna? Tidak
Bayangkan saja, jika setiap kita profesinya sama. Dunia, teratur sistemnya? Tidak
Bayangkan saja, jika setiap kita sifatnya sama. Menarik interaksinya? Tidak

Maka, perbedaan adalah rahmat. Bersyukurlah…

Jika ia sesuatu tentang nilai yang mendasari sebuah perilaku, maka pelajarilah dari setiap perbedaan. Pilihlah yang paling diyakini, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap pilihan lain...

Minggu, 05 Februari 2017

06.35 0 Comments
KEBAIKAN itu KEBIASAAN. KEBIASAAN LAHIR dari PAKSAAN.

#Quote of the Day#
#Setidaknya suatu hari aku harus inget pernah nulis ini, dan evaluasi lagi sudahkah belajar dari tulisan ini#

Puncak Bucu

06.20 0 Comments

Aku rasa, Jogja memang cukup jeli melihat peluang. Lokasi-lokasi yang sebenarnya sederhana, disulap sedemikian rupa menjadi kawasan objek wisata baru yang menarik pengunjung. Sebut saja, puncak bucu. Puncak bucu berada di dusun Ngelosari, Sri Mulyo, Piyungan, Bantul. Menuju kesana, bisa melewati jalan jogja-wonosari hingga KM 14, tepat di perempatan SMP 1 Piyungan belok ke kanan (selatan), cukup ikuti jalan raya-nya dan menuju dusun Ngelosari. Bukan puncak namanya, kalau jalannya nggak menanjak (dan berkelok). Mendekati lokasi, jalannya belum beraspal, hanya dilapisi bebatuan kecil alias kerikil. Bahkan, mungkin karena aku ke sana saat musim hujan, beberapa titik cukup licin karena berlumpur dan tergenang air.
Sudah tentu, dari ketinggian puncak bucu, bisa melihat kota Yogyakarta dari atas. Mirip-mirip yaa sama bukit bintang. Tapi, di puncak bucu ini lebih asri, karena kawasannya memang banyak pepohonan yang daunnya rimbun menghijau. Ya intinya memanjakan mata lihat pemandangan. Sawah-sawah di bawah. Lahan berbatu yang menyenangkan untuk duduk santai. Gardu pandang. Juga, langit dan awan-awan yang indah. Memang relatif masih sepi pengunjung sih, kata salah seorang warga sekitar, ramai itu kalau weekend, banyak yang camping di sana. Atau hari ahad pagi-pagi, banyak yang bersepeda. Dan katanya, bagus buat liat sunset. Selamat berkunjung...

Sabtu, 04 Februari 2017

Keajaiban Orang Beriman

06.52 0 Comments
Sungguh menakjubkan bagi orang beriman, segala urusannya (akan) baik.

Bila mendapat nikmat ia bersyukur, bila mendapat ujian ia bersabar. Karena yang terpenting dalam menjalani hidup, bukan pada nikmat atau ujian yang menghampiri, melainkan bagaimana respon atasnya.
Dan Allah adalah Maha Mensyukuri hambaNya. Dia sangat menghargai kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, walau sekecil-kecilnya. Dia memberi balasan yang adil, setimpal, bahkan berlipat-lipat. Sungguh mudah bagi Allah untuk melipatgandakan yang kecil.
Jangan risau dengan apa yang belum kita punya, karena semua ada dalam genggamanNya. Berkeinginan adalah niscaya, namun selalulah ingat bahwa Dia yang lebih tahu mana nikmat terbaik. Dan salah satu nikmat terbesarNya adalah menjadikan kita seorang ahli syukur—atas apa apa yang telah Dia karuniakan.
Yakinlah, semua nikmat adalah milikNya, dan dariNya. Berharaplah (hanya) padaNya. Buang jauh-jauh rasa bergantung dan berharap pada sesama manusia. Selalulah memuji asmaNya. Do’a yang paling utama adalah ‘Alhamdulillah’—Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Inspired by : Aa Gym


Jumat, 03 Februari 2017

nge-BLOG

06.28 2 Comments
Saya punya blog sejak SMA, meskipun jarang terisi, kemudian dihapus dan berganti berkali-kali (termasuk isinya). Hehe. Bahkan tidak cuma blogspot, tumblr juga ada. (Dulu), sempat bikin akun wordpress dan multiply juga. Kebanyakan isinya si foto-foto doank, sama tulisan-tulisan yang muncul saat-saat g*l*u gitu. Dulu, sebelum medsos berkembang sebegininya, jaman-jaman facebook masih eksis. Instagram dkk mungkin sudah lahir, tapi belum tumbuh.
Kenapa? Suka aja. Saya memang suka menulis diary sejak masih kecil. Faktor introvert kali yaa, jadi nggak bisa tuh kalau banyak cuap-cuap sama orang lain, ngungkapin emosi secara blak-blakan (yaa nggak melulu begitu juga sih, adakalanya cerewet betul kok). Jadi, tumpahnya ke tulisan. Meskipun beberapa waktu setelah menulis, malu sendiri, dan kemudian dibuangnya. Hehe. Malah sekarang nggak punya tu sisa-sisa diary, beberapa lembaran kertas aja yang masih tersimpan. Termasuk catatan-catatan yang bentuknya softfile, juga kebanyakan dihapus (sayang toh, padahal nanti tua kalau baca paling senyum-senyum dewe, wong sekarang baca status facebook jaman dulu juga udah geleng-geleng kepala). Makanya ini postingan blog juga akhirnya banyak yang dimuseumkan di-draft.
Saya rasa, nge-blog cukup mengasyikkan. Tidak seperti halaman medsos lain yang terkesan terlalu publish ke banyak sekali orang. Paling-paling yang datang yaa orang yang nyasar ke alamat blog kita, orang-orang dekat kita yang tahu, atau orang yang sedikit kepo sama kita. Itu saja.
Yaa, tapi jangan juga dengan membaca tulisan-tulisan orang di blognya, merasa sudah bisa menilainya dengan cukup baik. Blog hanyalah sebuah sarana. Kadang sebagai hobi. Kadang sebagai tempat curhat. Kadang sebagai tempat cerita. Kadang sebagai tempat berbagi. Kadang sebagai tempat menasehati. Kadang sebagai tempat menyimpan kenangan. Kadang sebagai tempat bersenang-senang saja. Tapi sebagai tempat pamer dan nyindir orang pun bisa loh. Ya sudahlah, karena masing-masing blog milik pribadi, jadi hargai saja isinya, apapun itu.
Dulu, sempet ngompor-ngompori temen-temen untuk bikin blog. Berhasil. Mereka pada buat akhirnya, tapi buat doank, nggak ada postingannya sama sekali. Heheh. Dan sekarang, saya pengin isi blog lagi, meski beberapa juga tulisan lama. Sering ngebiarin, jadi kangeen :)

Kamis, 02 Februari 2017

Cobalah Berbaik Sangka,

13.56 0 Comments
Wuiih, tau sendiri lah yaa, gimana macetnya sepanjang jalan sapen kalau pagi hari (jam berangkat sekolah) atau siang hari (jam pulang sekolah) atau jam-jam tertentu (yaa kalau SD Muh.Sapen ada acara). Jalan sesempit itu, penuh dengan mobil-mobil yang antar-jemput anak sekolah, motor-motor yang melintas, juga ramai pejalan kaki yang menuju kampus. Tapi, patut dihargai juga lah, dari sekolah ada orang-orang khusus yang berjaga di sepanjang jalan itu, terutama di persimpangan-persimpangan jalan, dan belokan-belokan. Yaa meskipun tetap saja, saya lebih memilih muter-muter daripada lewat situ *kalau pas inget itu jam macet.
Tidak untuk suatu sore, saya benar-benar tidak tahu kalau ada macet panjang disana, entah tersebab apa. Alhasil, jalannya motor mepet pinggir, pelan, dan sedikit berdesakan. Jengkel sekali dengan motor di belakang saya, gasnya menderu meraung-raung, sesekali belnya berbunyi. Sedikit ada celah, kembali menekan gas kuat-kuat mendekati saya. “Sabar donk, nggak bisa laah mau salip-menyalip, wong jalannya aja gini” dalam hatiku.
Kami terus berjalan pelan, dengan jengkel yang nggak berkurang sedikitpun sama motor di belakang.  Dan tadaaa, berhasillah motor itu tepat disampingku. Aku menoleh.
Ternyataaaa, kenapa beliau ngebet sekali menyusulku, dengan lembut beliau berkata “Mbak, maaf tasnya mbak kebuka udah agak lebar. Minggir dulu aja Mbak, dibenerin” katanya. Aku berbelok menepi. Benar, resleting tasku sudah terbuka lebar dan isinya nyaris berjatuhan. Nah, mau ditaruh mana ‘jengkel’nya tadi? -_-

Rabu, 01 Februari 2017

Perjalanan

13.30 0 Comments
   Mereka bilang, hidup adalah perjalanan. Maka, jika hidup adalah sebuah perjalanan, itu artinya kau sedang berjalan meninggalkan suatu tempat, dan menuju suatu tempat pula. Ya, kau sedang berjalan meninggalkan dunia yang sementara dan menuju akhirat yang kekal. Itu pasti.
    Ada diantara kita, yang berjalan meninggalkan dunia, namun ia tak menuju akhirat. Ia puasa, ia berdzikir, tapi tidak untuk akhiratnya melainkan untuk tujuan lain. Puasa biar kebal. Misalnya
    Ada diantara kita, yang berjalan menuju akhirat, namun ia enggan meninggalkan dunia. Ia shalat, ia sedekah, tapi tidak ikhlas untuk akhiratnya melainkan yang terbayang masih dunia. Sedekah yang selalu diitung-itung. Misalnya
    Ada diantara kita, yang berjalan, tidak meninggalkan dunia, dan tidak pula menuju akhirat. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di depan televisi, meskipun adzan berkumandang, dan waktu shalat kian menipis. Tetap tak bergeming. Misalnya
    Ada diantara kita, yang berjalan meninggalkan dunia, dan ia menuju akhirat. Dan itulah perjalanan yang sesungguhnya. Akankah kita salah satunya?

    Ia yang berjalan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, selalu memandang akhirat lebih menarik daripada dunia. Jika malam telah berlalu sementara pertandingan sepak bola masih menghiasi layar kaca, tentu shalat malam lebih menarik baginya. Misalnya
      Ia yang berjalan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, selalu bersemangat menjadikan dunia yang dimiliki bernilai akhirat. Jika uang ada digenggaman, sementara iklan pakaian muslimah model terbaru memanggil-manggil, tentu ia menahan sedikit keinginan itu, dan infaq menjadi pilihannya. Misalnya
      Ia yang berjalan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, selalu menerima dengan lapang ketika harus berpisah dengan dunia. Jika handphone terjatuh di jalanan, ia akan lebih menyesali ketika shalat berjama'ahnya yang hilang terlewatkan. Misalnya

       Maka, cobalah untuk terus berusaha menjadi salah satunya. Berbuatlah sepenuh akal untuk kepentingan diri kita. Berbuatlah sepenuh hati untuk kepentingan orang lain. Dan, letakkan ridho Allah diatas segalanya. Karena, itulah mereka, yang sudah sampai akhirat bahkan sebelum meninggal dunia. Karena, itulah mereka, yang hidupnya sudah selesai sebelum berakhir.


_Inspired by Ust.Syatori Abdurrauf dalam JIF akhir tahun_

Selasa, 11 Oktober 2016

W.a.k.t.u

13.09 0 Comments

Sesuatu yang sakral itu bernama waktu. Ia terus melaju, seiring bumi yang terus berrotasi, lalu kemudian kita namakan ‘hari’. Seiring bumi yang terus berrevolusi, lalu kemudian kita namakan ‘tahun’. Ketika sebuah bilangan tahun kita kerucutkan menjadi jam, menit, detik, mungkin terasa begitu sekejap saja. Sekejap yang terlalu berharga. Karena satu detik berlalu dengan sia-sia, berarti hilang sudah satu kesempatan yang kita punya. Kesempatan yang akan membentuk siapa diri kita selanjutnya, kesempatan yang akan mengubah siapa diri kita setelahnya.

Ada sebuah kata bijak tentang pemaknaan waktu yang layak untuk dijadikan renungan.
“Untuk memahami makna SATU TAHUN, tanyalah pada siswa yang tidak naik kelas. Untuk memahami makna SATU BULAN, tanyalah pada ibu yang melahirkan bayi premature. Untuk memahami makna SATU MINGGU, tanyalah pada editor majalah mingguan. Untuk memahami makna SATU HARI, tanyalah pada pekerja dengan gaji harian. Untuk memahami makna SATU JAM, tanyalah pada gadis yang sedang menunggu kekasihnya. Untuk memahami makna SATU MENIT, tanyalah pada seseorang yang ketinggalan kereta. Untuk memahami makna SATU DETIK, tanyalah pada seseorang yang selamat dari kecelakaan. Untuk memahami makna SATU MILI DETIK, tanyalah pada pelari peraih medali perak Olimpiade”

Islam, sebagai agama yang sempurna dalam mengatur kehidupan manusia telah mengingatkan untuk berhati-hati terhadap waktu. Supaya kita tidak menggunakannya dengan sesuatu yang buruk, sia-sia, ataupun tidak bermanfaat. Sebagaimana nasehat Rasulullah melalui sabdanya,
 “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhori)
Juga firman Allah,
Demi waku. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal sholih, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran”. (Q.S Al ‘Ashr)

Yaa. Hidup dalam perputaran waktu. Selalu ada masa, realita yang berjarak dengan idealita. Malu. Tatkala mengingati usia yang hampir melewati masa kritis remaja akhir dan beralih menuju kehidupan dewasa ini. Apa yang sudah dicapai? Sampai mana ilmu yang digali? Seberapa besar keberadaan ini member kontribusi? . Memang belum apa-apa. Namun, selalu ada juga masa, yang memberi ruang untuk belajar dari pengalaman, dan kemudian tidak jatuh pada lubang hingga berulang. Selalulah menjaga waktu, teraturlah dalam urusan. Mumpung masih muda, Mumpung masih sehat, Mumpung masih berkecukupan, Mumpung masih banyak waktu luang, dan Mumpung masih hidup. Semoga tercapai ideal versi kita, dan sesuai dengan ideal versi sesungguhnya (read : takdir).

Dalam sebuah analogi wadah; batu, kerikil, dan pasir. Pastikan tidak salah kapan harus menempatkan ketiga benda itu kedalam wadah. Ingat baik-baik, tujuan dan cita-cita hidup. Rumuskan dengan banyak cara untuk meraihnya. Kemudian, lakukanlah dengan bertahap, dan konsisten dengan sebuah proses. Namun perlu diingat, cita dunia itu hanyalah semu. Sungguh, yang abadi adalah menempatkan cita akhirat di atas segalanya. Juga perlu diingat, untuk mudah dalam urusan dunia, maka perbaiki terlebih dahulu urusan akhirat.
***
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya”. (Al Baqarah : 45 – 46)
Nb. Karena shalat adalah parameternya. Jadi, untuk siapa saja yang merasa waktunya begitu kurang, atau merasa aktivitas yang menumpuk tidak pernah selesai, atau kesulitan-kesulitan masih menghampiri sementara segalanya sudah terencana dengan matang, sejenak toleh kembali perkara yang bisa jadi kita anggap remeh, namun sejatinya pokok segala urusan, SHALAT. Sudahkah kita menjaga shalat? Untuk tepat waktu, untuk berjama’ah, untuk diiringi dengan qabliyah / ba’diyah, untuk diakhiri dengan dzikir dan do’a, untuk khusyu’,untuk…

Semoga kita tak berputus asa untuk selalu belajar istiqomah menjaga shalat. Semoga Allah senantiasa memudahkan segala urusan, dan menjaga waktu kita dari perkara yang sia-sia. Aamiin
Saudariku, saling mendoakan yaa…

(Sedang menampar diri sendiri yang lemah ini. Rupanya, harus keras dan berkali-kali)

Selasa, 30 Agustus 2016

KEHILANGAN

13.21 0 Comments
Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
(Tere Liye, dalam Novel Rindu)

#Karena kita hidup di dunia, ibarat seorang tukang parkir. Ketika berpasang-pasang kendaraan silih datang bergantian, tak ada pilihan selain menjaganya. Namun ketika kemudian berlalu satu-satu, tak ada pilihan selain membiarkannya pergi dibawa sang pemiliknya. Begitulah hakikat kehidupan. Tak ada sesuatupun yang sejatinya milik kita, ia hanyalah titipan yang diamanahkan.

#Karena tak pernah ada makhluk yang abadi. Sesuatu yang dicipta akan musnah, sesuatu yang bernyawa akan mati. Kekal itu hanya ada pada Dzat Yang Maha Tinggi.

#Untuk itu, jangan pernah merasa kehilangan. Karena Dia tahu kapan waktu terbaik untuk’nya’ menjauh pergi, dan akan terganti.

#Bersyukurlah, maka nikmat yang Ia hadirkan akan bertambah-tambah :)

Jumat, 12 Agustus 2016

Pulang

06.12 0 Comments
Duhai sahabatku, sepanjang hidup di dunia ini adalah sebuah proses belajar. Proses yang tidak akan pernah ada berhentinya hingga mata menutup usia. Sepanjang hidup di dunia ini adalah soal menghargai proses yang sedang terlewati. Tidak ada yang pantas dicela, tidak ada yang pantas dihina, apalagi hingga merasa ‘lebih baik’ dari sekeliling yang ada.
Maka, sepanjang hidup di dunia ini adalah tentang bersama-sama saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Mengingatkan tanpa menyakiti, mendukung tanpa meminta balasan, menegur tanpa menghakimi, mengajak tanpa berharap penghargaan, memperbaiki tanpa mempermalukan. Maka, sepanjang hidup di dunia ini adalah soal doa dan kepasrahan. Meminta supaya Allah melunakkan hati untuk menerima dan mengajak kepada kebaikan. Supaya Allah menganugerahkan kelembutan hati yang penuh ketulusan rasa berkasih sayang. Supaya Allah menjaga hati untuk tetap dalam keistiqomahan serta berpegang teguh pada kebenaran. Karena, tiada daya dan upaya, tanpa pertolonganNya..
***
Suatu ketika, perempuan itu berjalan dengan senyum merekah di bibirnya. Mengenakan t-shirt tanpa lengan dan celana sejengkal paha. Aduhai, siapa yang tidak mengenalnya? Si jelita dari negeri seberang yang pandai sekali memikat hati. Sekali dia memotong rambutnya, lihatlah esok hari, kau akan menemui perempuan-perempuan lain dengan potongan gaya rambut yang serupa. Sekali dia berganti style-nya berbusana, lihatlah esok hari kau akan menemui perempuan-perempuan lain dengan busana yang serupa. Si perempuan yang selalu merasa bahagia, hidupnya penuh dengan tawa. Sepi dan kesedihan? Ah semua ditepisnya. Pacar setia. Kerjaan terjamin. Ketenaran oke. Kecantikan diakui. Pergaulan sempurna. Ia menyukai pekerjaannya. Ia menyukai berkeliling pusat perbelanjaan seluruh sudut-sudut kota. Ia menyukai nongkrong bersama, menikmati ‘minum’ yang tersaji, menikmati rokok yang mengepul, menikmati musik yang mengalun. Ia menyukai duduk santai menatap layar bioskop. Ia menyukai terik matahari, hingga hujan deras sekalipun, asalkan bersama sang kekasih hati. Ah, sayang baginya untuk merasakan pulang, ketika hidupnya lebih menyenangkan habis di jalanan. Ruang kecil itu, hanya persinggahan saat tubuh mulai lelah, untuk kemudian tertidur, sejenak saja.
 Suatu ketika,  perempuan itu berjalan dengan hati yang retak-retak. Menggendong satu tas ransel berisi lipatan pakaian-pakaian mewahnya. Menikmati perjalanan dalam bis kota sambil menangis terisak. Entah, pada siapa harus mengadukan rasa, mengejawantahkan menjadi rangkaian kalimat saja bahkan tak tahu harus memulai dari mana. Semua bahagia dan tawa, lenyap seolah tak berbekas, tak tahu arah angin membawanya. Pacar setia? Ia tak lagi percaya sebuah kesetiaan. Kerjaan terjamin? Bahkan dalam sekejap surat pemberhentian itu tak akan lama lagi sampai tangannya. Ketenaran oke? Ia tak lagi membutuhkan sebuah ketenaran. Kecantikan diakui? Rupanya cantik punya andil besar menciptakan malapetaka. Pergaulan sempurna? Siapa sangka tak satupun yang bersedia menemani kepergian langkahnya. Ia pergi, dengan cibiran-cibiran kecil (bagi yang tahu), tatapan mata bengong (bagi yang menduga kenapa), senyum mengasihani (bagi yang sedikit punya empati). Ia pergi, untuk pulang. Pulang ke kampung halamannya. Pulang berdua, bersama janin di perutnya, yang kelak akan lahir dengan status tanpa ayah.
Suatu ketika, perempuan itu kembali berjalan dengan senyum merekah di bibirnya. Mengenakan kaos hitam lengan panjang, rok hitam panjang, dan jilbab hitam yang membalut di kepalanya. Duduk manis dalam sebuah ruko kecil menanti pelanggan. Bertutur dengan segenap kelapangan hati, bahwa ia, lain dulu lain sekarang. Bahwa penyesalannya, menguatkan hati untuk mendekat pada Sang Pemilik Kehidupan. Berharap bahwa hidupnya tak akan pernah lagi menjadi cerita. Tidak seperti saat ia banyak dipuji dan diikuti. Juga tidak seperti saat ia jatuh terpuruk menanggung kesalahannya sendiri. Biarlah, hidupnya biasa-biasa saja, asalkan bersamaNya. Hingga nanti, pada suatu waku ia pergi, untuk pulang yang sesungguhnya.
(Ide cerita dari sumber yang bersangkutan, terimakasih telah banyak mengajarkan)
***

“………..Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Q.S Al Baqarah : 222)

Sabtu, 06 Agustus 2016

Sajak Cinta

01.40 14 Comments
“Adakah sesuatu yang tak kau senangi?”
Ada.. Jatuh cinta sebelum waktunya
“Kenapa? Mencintai, dicintai itu fitrah manusia (The Fikr)”
Karena, bahkan harus berpikir seribu kali untuk sekedar tanya apa kabar
“Lalu?”
Tak ada. Istighfar saja kemudian
“Bersabarlah. Ada suatu waktu kau harus selalu memastikan dia baik-baik saja, tapi tidak sekarang”
Iya
“Kau merindukannya?”
Mungkin. Pada jarak-jarak yang tak mudah ditebak (ijonkmuhammad)
“Jika memang belum siap bersamanya, sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis. Dan jangan lupa, sampaikanlah pada Yang Maha Menyayangi, Semoga semua kehormatan perasaan itu dibalas dengan yang lebih baik (Tere Liye)”
Begitukah?
Orang-orang yang merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa2nya menguntai tangga yang indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yang lebih baik (Tere Liye)”
Perasaan ini membuatku takut
Cinta sejati itu kadangkala dekat dengan “takut”. Saat kita cemas jika cinta itu ternyata membawa keburukan, tidak-pantas, tidak sebanding, belum waktunya. Kemudian membuat kita melakukan refleksi, memikirkan banyak hal, untuk kemudian berusaha menjadi lebih baik, agar cinta itu menjadi pantas. Cinta sejati itu kadangkala dekat dengan “keraguan”. Saat kita maju-mundur, penuh tanda-tanya, gelisah, dan ragu-ragu. Kemudian membuat kita terus memperbaiki diri, mencari pegangan yang lebih kokoh, keyakinan, agar berani mengambil keputusan. Aduhai, cinta sejati itu kadangkala dekat dengan “pergi” hingga “melupakan”. Menyibukkan diri, membunuh semua kerinduan, menjaga jarak, menghindar dan sebagainya, hingga pergi jauh dalam artian sebenarnya. Kemudian terjadilah hal menakjubkan, saat jarak menjadi layu, waktu menjadi tiada berarti. Semua kembali ke titik semula saat berjodoh (Tere Liye).
Benarkah? Akankah ia kembali ke titik semula saat berjodoh?
“Percayalah, jodoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya, seberapa akrab kau dengan orangtuanya, atau seberapa sering kau komunikasi dengannya. Tapi, seberapa yakin kau padaNya. Seberapa besar kepasrahan kau dengan takdirNya. Seberapa besar kau merayuNya. Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar mendapatkannya (Yusuf Mansur)”
Kesimpulannya?
“Kesimpulannya, kamu lebih baik tidur, sudah malam. Besok harus bangun pagi bukan?”
Ssssst, di luar sedang hujan
“Lantas?”
Mungkin aku sedang dekat dan bersua dengannya, dalam doa. Adakah yang lebih indah, selain doa-doa yang menyatu saat hujan deras?
“Baiklah, Semoga berkah dan bahagia di akhir cerita”
Aamiin
“Jangan lupa berterimakasih”
Pada siapa?”
“Hatimu dan hatinya. Karena telah menjaga dan bersedia bersabar. Bersabar terhadap perasaan yang sedang tumbuh, ingin sekali mekar, ingin sekali segera ranum. Akan tetapi masih percaya bahwa untuk menjadi mekar, perlu waktu (Kurniawan Gunadi)”


#Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu…..
#Untuk hati-hati dan para penanti yang sedang berusaha menjaga diri
#Yogyakarta, malam, hujan, dan doa :)

Jumat, 05 Agustus 2016

(Resensi) Matahari

06.41 1 Comments

Judul : Matahari
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia
Tebal Buku : 400 hlm; 20 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2016
Harga : Rp. 82.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/)

Sinopsis Buku:  
Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.

Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.

Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.

Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.
***
Murni Copast dari blog teman, baca versi lengkap dan aslinya di sini
Belum baca nih, kalau ada yang punya boleh donk pinjam :) :) :)

Kamis, 04 Agustus 2016

22.00 0 Comments
Aku, bukan seorang yang baik hati yang kehadirannya sering dinanti....
Aku, sudah bahagia bila dalam banyak waktu menerima pesan “Mbak Haaniif, butuh sandaran”. Aku, sudah bahagia bila ada yang mengingatku tentang biru, awan-awan di langit, hujan dan segala tentangnya. Aku, sudah bahagia bila ada yang menyapaku “Haaaaniiiiiiiffff atau Kirooooooooooom”. Aku, sudah bahagia bila pernah ada yang memanggilku dengan sebutan baru “Nduk, Nipo, Hanhan, Nipnip, Jro, Tun, Mbakyu, Hansho, Ciint (dan entahlah banyak lagi)”. Bahkan, aku sudah bahagia bila ada adik-adik tempat mengajar selalu menggandeng-nggandeng tanganku, merengek lirih meminta kado ulangtahunnya (Meskipun entah, aku bisa memberi atau tidak).
Dan diantara yang sedikit itu, aku bersyukur, yang pasti hanya karena kemurahhatianNya Ia hadirkan kalian menjadi bagian penting dalam hidupku. Maaf untuk egoisnya diriku memintamu untuk tetap menjadi teman baikku, sementara aku tak bisa menjadi teman yang baik untukmu. Maaf juga, ternyata aku lebih banyak sekali merepotkanmu daripada sesekali membantumu. Tapi, terimakasih, kalian tetap menyambutku dengan sambutan yang sangat sangat hangat. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.  *malu*
Iya, kalian, yang nama-namanya sebagian sudah tersemat di beranda ini. Ajak aku belajar, ajari aku untuk memiliki hati yang cantik (repost TereLiye), seperti kalian.
#Alhamdulillah. Maka, Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Engkau Dustakan?
#Menemukan spirit yang hilang (Edisicurcolnyaudahan, terimakasih untuk bait-bait panjang yang kalian dengarkan)

Selasa, 02 Agustus 2016

Bincang Bareng Ayah (BBA) #10

22.39 0 Comments
H-3 Menjelang lebaran. Rumah mulai ramai. Bukan kakak-kakakku yang sudah pulang, melainkan beberapa tamu yang datang silih berganti (entah ngapain). Usai siangi lembayung di dapur, aku berjalan keluar. Masih terlalu ‘pagi’ untuk ikut merusuhi masak-memasak menu buka puasa sore nanti. Kulihat ayahku duduk di kursi belakang rumah, sembari asyik memberi makan ayam-ayam kecil. Akupun mendekatinya. Ah, mungkin melihatku yang lama terdiam, beliau lantas membuka percakapan.
Bapak  : “Ada cangkriman Jawa nduk, didengerin yaa
Aku     : “Yaaa
Bapak  : “Ono wit dhikih woh dhikih, wit dhikih woh dhakah. wit dhakah woh dhikih, wit dhakah woh dhakah
Aku     : “Terus maksudnya?”
Bapak  : “Ya didengerin dulu, pernah denger apa nggak?”
Aku     : “Belum
Bapak  : “Wit dhikih woh dhikih, itu contohnya pohon cabe. Pohon dan buahnya kecil kan? Tapi siapa yang makan nggak merasa pedas? Dinikmati semua kalangan juga kan?”
Aku     : “Iya
Bapak  : “Itu gambaran untuk manusia. Tak mengapa jadi orang ‘kecil’. Tetaplah hidup yang bersahaja  dan sederhana. Namun saling bebrayan (nggak tau indo-nya), saling rukun, tumbuh bersama, dan saling membantu. Tentu, memetik hasilnya kemudian. Ibarat membuahkan cabe yang rasanya pedas dan dinikmati banyak orang, dengan hidup yang demikian membuahkan  keberhasilan hidup yang memberikan manfaat pada banyak orang pula
Aku     : “(diam tanpa kata)”
Bapak  : “Terus wit dhikih woh dhakah, ialah pohon semangka. Pohonnya kecil, tumbuh menjalar, merambat pelan-pelan. Tapi lihatlah, buahnya besar kan?. Itu juga punya maksud, jadilah manusia yang selalu maju. Tidak perlu minder, tidak perlu merasa rendah. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan dengan jalan masing-masing. Bahkan kalau dalam agama, semua orang sama, yang membedakan hanya taqwanya bukan?”
Aku     : “He’em
Bapak  : “Yang ketiga wit dhakah woh dhikih. Kalau ini, pohon beringin. Pohonnya besar, tapi buahnya, aduuh, kecil-kecil banget. Ini juga menggambarkan, jadilah orang kalau sudah mapan, sudah sukses, sudah berhasil, termasuk sudah jadi pemimpin ya seperti pohon beringin. Teduh dan mengayomi. Mengayomi siapa? Ya siapapun, semua orang, terutama orang yang benar-benar membutuhkan. Bukan malah semakin menelantarkan. Intinya, kedermawanan.  Selain manusia yang bisa berteduh dibawahnya, bahkan pohon beringin ternyata menjadi penyedia makanan bagi burung-burung, yaitu buah kecil-kecilnya
Aku     : “(Mulai angguk-angguk setuju) Nah tinggal yang terakhir ya?”
Bapak  : “Yaa, sebentaar. Sekarang yang terakhir. Wit dhakah woh dhakah itu pohon kelapa. Pohonnnya tinggi, besar, buahnya juga besar. Pohon kelapa lambang kebermanfaatan kan? Semua bagiannya berguna. Nah, jadilah orang yang selalu berusaha untuk tumbuh seperti pohon kelapa, yang selalu memberi manfaat untuk orang lain. Khoirunnas anfa’uhum linnas. Wis, mudeng?
Aku     : “Mudeng mudeng Pak (Sambil tertawa. Sebab aku menduga, nanti mas ipar datang Bapak akan mengulang cerita demikian, dan aku sudah bisa menimpali, sedangkan mas ipar mah masih senyum-senyum saja. Hhe)