Follow Us @whanifalkirom

Selasa, 06 Mei 2014

Is A Life Of A Test

00.02 0 Comments
Hey Sister,
Won't You Listen To Me,
You're My Sister So Listen Carefully,


This Life That We're Living,
Wasn't Made For Nothing,
Life Is A Test From Allah Almighty


There Are Many Times
When Allah Will Test You
To See If You Will Obey Or Betray


This Life Is A Life Of Test
Need Patience For Success
So Is Your Iman Strong Enough
Or Would You Fail Just Like The Rest


Obey For Allah's Love
Betray Be Sorry For Yourself
When You're Standing Helpless There
In Front Allah The Almighty


Life Is A Life Of Test... Believe It
You Must Strengthen Your Faith...Hey Sister
And Don't You Fail Like Others


Hey Sister,
What's There For You To Say
It's Up To You If You Want To Believe Me


Allah Created Us
Give Us Everything
So Be Grateful And Don't Betray


Laugh At Me If You Wish
Say I'm Crazy If You Want
You'll Bite You Your Fingers One day
When You Find Out The Truth


Believe Me Or Do Not
It's A Change For You To Choose
Just Don't You Cry One Day
When It's Already Too Late


You Would Be Sorry
If You Choose To Betray
There Is No One There To Help You


If You'd Follow Allah's Way
You'd Be Safe In Paradise
If You'd Listen To Me
I Could Lay My Mind To Rest


You'd Then Be Happy
There Is No Need To Worry
You Would Live Forever Happy
You Would Be Happy
If You Just Follow Allah's Way
_Brother’s_ (Edit kata, brother à sister)

*Menyanyi sambil menasehati diri. Selamat malam dan bermuhasabah :)*

Jumat, 25 April 2014

Bersyukur, Semua Sudah Diatur!

18.45 0 Comments
Mengunjungi lapas narkotika kelas IIA Yogyakarta bersama ketiga temanku. Kebetulan ni, salah satu temanku tadi sedang melakukan penelitian untuk tugas akhirnya di sana. Disamping membantu membagikan skala yang harus diisi subjek (narapidana), sekaligus pengalaman lah untuk sekedar tahu seperti apa yang dinamakan penjara. Kesimpulannya, tidak seseram yang kubayangkan. Tak banyak yang bisa kuceritakan, karena bagaimanapun gerak di sana cukup terbatas. Tidak diizinkan membawa apapun masuk, termasuk makanan apalagi handphone (intinyaa, nggak bisa foto). Meskipun menurutku, untuk ukuran nama yang disebut penjara, masih dibilang sangat bebas.
Aku hanya akan bercerita tentang beliau. Subjek terakhir, yang meninggalkan tempat paling akhir (termasuk meninggalkan tempat tahanan, karena mendapat masa hukuman paling lama). Seorang ayah dengan dua anak perempuan. Usianya 34 tahun. Divonis hukuman selama 12 tahun tiga bulan, dan selama ini baru menjalaninya kurang lebih satu tahun. Bisa membayangkan bukan, berapa lama lagi harus menghabiskan waktu di terbatasnya tempat itu. Dan pasti, ada sesuatu yang kita rasakan saat kita mendengar kata-katanya “Iya mbak, meninggalkan anak istri. Nggak pernah ketemu, nanti tau-tau anaknya sudah gadis”.
Dibandingkan narapidana lain (yang kebetulan aku ketemu), beliau memang lebih “cerewet” dan “bikin kesal”. Terus saja bercanda “wah aku gak iso moco mbak”. “aku gak sekolah mbak” “kenapa mbak tanya masa hukuman, untuk apa?” “Lha monggo, suruh duduk mana” dan lain sebagainya. Aku tidak terlalu peduli, entahlah, karena sekedar bercanda, karena rendah hati, karena untuk meramaikan suasana, karena cari perhatian atau alasan lainnya. Aku hanya berfikir, mengingat-ingat, logat bicara juga bahasa yang beliau sampaikan, sangat familliar. Surabaya kah?. Dan terjawab akhirnya, dari Madura. Hmm, iya, Madura, persis, aku mengingat salah satu kakak tingkat di universitas yang kebetulan satu kelompok KKN denganku.
Dibandingkan dengan narapidana lain (lagi-lagi yang kebetulan aku ketemu), beliau memang beda. Entahlah. Aku percaya dengan apa yang beliau ceritakan tentangnya. Tentang tidak bersalahnya. Menjadi seorang agen tiket yang (tanpa sengaja) memerantara narkotika. Dan beliau menambahkan, hanya satu alasan kenapa beliau menjadi bersalah yaitu uanglah yang menjadi lawan di pengadilan..
Ada sebuah nasehat yang selalu beliau sampaikan, dari awal hingga akhir pertemuan kami selama kurang lebih lima belas menit itu. Lebih dari delapan kali sepertinya beliau ucapkan, karena bahkan terucap juga disela-sela mengisi skala yang kami berikan. Nasehat yang singkat, sangat singkat “Bersyukur, Selalulah Bersyukur, Semua Sudah Diatur. Dan imbuhnya “Mungkin, jika tidak di tempat ini (tempat tahanan) akan lebih banyak dosa-dosa yang bakal dilakukan – Pengadilan manusia, kenapa takut? Takut itu sama pengadilan Allah.”


Note : Bahkan siapapun, selalu mengajarkan kepada kita untuk bersyukur. Iya. Kita bahagia karena kita bersyukur.

Kamis, 24 April 2014

Bidadari Itu Terpancar Dari Matamu..

22.09 0 Comments
Part 1
Aq menunggumu dengan harap-harap cemas,
Menikmati setiap detik waktu yang tiada henti berputar,
Sejenak, merengkuh kembali aktivitas,
Akankah nanti aku bisa bersamamu?
Mempersembahkan kemampuan terbaik yang kupunya,
Karena kau yang kucinta dan kau yang kupinta, Kampus STAN, bisakah kau menerimaku 29 September nanti?

Tulisanku, ketika untuk kedua kalinya mencoba mengikuti ujian masuk STAN, perguruan tinggi yang begitu banyak didambakan, termasuk aku. Tetapi di bawahnya, berjeda beberapa baris, sudah tertera tulisanku yang lain,

Terjawab sudah, kita memang tak ditakdirkan bersama,
Biarlah, ketika memang kuharus di sini,
Yakinlah, karena semua terjadi dengan rencanaNya yang sempurna :)

Artinya, cemasku sudah berganti, ikhlas dan penerimaan kenyataan. Dua kali mencoba, dan untuk kedua kalinya pula aku gagal. Iya, kesempatanku menuntut ilmu memang tak di sana. Tetapi di sini, aku belajar “manusia” dan “perilaku” nya. Ilmu yang sebenernya dari awal tertarik untuk kupelajari (selain matematika tentu). Ilmu yang sangat berguna, dan terus terpakai sepanjang waktu. Karena, kehidupan kita, selalu dan pasti berhubungan dengan makhluk bernama manusia. Berjeda beberapa baris, ada sebuah tulisan lain, bukan, jelas bukan aku yang menuliskannya.

Subhanallah..
Hanya pujian terindah untuknya yang terungkap,
Setiap kutatap bola matamu yang teduh,
Kuiri dengan segala keistimewaan yang Dia beri untukmu,
Banyak hal istimewa yang ada dalam jiwamu,
Tersirat lewat kata yang kau eja,
Hadirmu yang apa adanya,
Selalu berusaha tuk mengerti aq yang penuh cela,
Sahabat.. Kau benar.. Semua yang terjadi selalu dengan rencanaNya yang sempurna..

            Haa, rupanya salah satu sahabat terbaikku mendapati kertas itu. Dan begitulah, dia menjawab catatan pendekku dengan kerendahan hatinya.

Part 2
Rasa yang terdiaspora,
Mengalun indah,
Hadirkan harap, tapi selalu saja,
Membawa sebutir racun yang membinasakan iffah,
Entahlah,
Kuberusaha tak ingin tau,
Meski perlahan semakin mengikis keraguanku,
Ya, hanya perlu kutanam kembali,
Hadirkan sejatinya sang pemilik cinta di hatiku, Mahanya Maha,
Agar semua tak kian bersemai, Agar yang nampak indah bukanlah dunia,Agar mutiara itu tak hilang cahay anya, Hingga saat terindah itu tiba, Dalam dekap cintaMu Ya Rabb,

            Sepertinya, kala itu aku sedang galau (bahasa sekarang) dan aku menulis begitu saja. Lagi-lagi dibawahnya, terdapat tulisan lain, tentu saja bukan aku yang menuliskannya.

Dan kita saling mendoakan kawan,
Berdoa dengan keyakinan sepenuhnya,
Agar semua tak kian bersemai,
Agar yang nampak indah bukanlah dunia,
Agar mutiara itu tak hilang cahayanya,
Hingga saat terindah itu tiba,
Dalam dekap cintaNya, Maha Segala Maha
Aq terharu.     
-Ruang cinta ’11 Okt ‘11-
Indahnya waktu dzuha

            Siapa lagi? Masih sama, jawaban yang datang dari sahabat terbaikku atas catatan pendek yang kutulis. Jawaban penuh doa.

Part3
Assalam,
Khawatir klo sms g sampe ^_^
Hanif sholihah, af1, seharusnya aq yang bersegera menyempatkan ke kosmu, hehe
Ni helmnya, jzk khrn katsir y..
Af1 Nif ni ada 2 bungkus togo, untukmu n 1 nya tlg sampein ke Wiwit ^_^
Sungguh pahit sebenernya kukatakan ini, tapi inilah kenyataan, hhe
*sok dramatis
...bla bla bla..


    Surat yang kudapati begitu masuk kamarku. Tidak ada siapapun. Ya, surat yang datang dari sahabat terbaikku yang menyempatkan berkunjung sebelum aku pulang (kamarku memang jarang sekali dikunci, siapapun temanku bisa masuk). Surat apa itu? Entahlah, tapi aku terharu membacanya.



Part4
Kalau hanya berbuat baik,
Setiap kita mungkin bisa melakukannya,
Yang sulit adalah,
Bagaimana kita cinta dg kebaikan,
Lalu membuktikannya dg
Menyeru pd kebaikan,
Mengajak ke arahnya
(QS An Nahl:125)
Karena kita, tak ingin di surga sendirian :)

            Sebuah undangan yang dibuat oleh sahabat terbaikku, untuk disampaikan ke adik-adik juga kawan-kawan seperjuangan kami di fakultas. Nasehat dan makna.
***
            Ini tentang sahabat terbaikku. Benar-benar sahabat terbaikku. Karena sahabat itu, selalu membawa kita pada jalan kebaikan. Dia yang lembut tutur katanya. Sopan perilakunya. Percaya diri, namun tetap membatasi. Cintanya dg Al Qur’an luar biasa. Shalatnya selalu di awal waktu dan mencari kesempatan berjama’ah. Hidupnya selalu seputar cinta, apapun itu harus dengan cinta, yang dikatakanpun berbahasan cinta, dan cinta itu satu muara cintaNya. Selama ini, masih hanya dia, seseorang yang aku begitu kagum atas keshalehahannya.. (Meskipun, tetap saja, sesempurnanya manusia tetap dengan segala kelebihan dan kekurangan).
Ajari aku untuk menjadi sepertimu...
Sungguh, bidadari itu terpancar dari matamu...
*CC : dari Hansho untuk Alsho

-Masih edisi merindu, ya, meskipun dekat, ternyata kesempatan kami bersua sedikit lama hampir tak pernah ada-

Kebun Buah Mangunan & Makam Imogiri

16.48 6 Comments

Sabtu, 19 April 2014. Aku sengaja mandi pagi, berniat mengikuti kajian rutin yang diselenggarakan di salah satu masjid kampus di Jogja bersama adik kosku. Tapi, karena alasan yang tidak bisa disebut alasan sebenernya (daripada telat, adik kosku belum mandi dan bersiap) akhirnya kami memutuskan tidak jadi berangkat (wah, masih berharap pahala niat, hehehe). Ah sudahlah, toh aku juga masih mau menulis sesuatu. Menjelang pukul 07.00, aku mengirimkan sebuah pesan singkat. “Berangkat jam berapa?”. Aku manggut-manggut membaca balasan yang kuterima, sambil bergumam “Oh, baru mau berangkat”. Tapi selang beberapa waktu, hp kembali berbunyi tanda sebuah pesan masuk “Sudah sampai Gamping”.
Sontak aku terbangun, sedikit tak percaya, perjalanan Purworejo – Jogja hanya berkisar satu jam naik bus (seberapa ngebutnya?). Lalu kubereskan beberapa yang masih berserakan, netbook, kertas, buku, kabel-kabel, bulpoin, dan berbagai macam barang lainnya. Ah sudahlah, secepat apapun aku bersiap, dia pasti sampai terlebih dulu. Jadi, biar sajalah, kubiarkan dia menunggu *nggak cekatan bgt, unsur kesengajaan.
Yeay, teramat sangat senang sekali, bisa bersapa kembali dengan salah satu kawan terdekatku saat SMA. Setelah ber-ba bi bu- serta bingung memutuskan mau kemanakah kami, akhirnya cukup mengikuti firasat hati, menuju kebun buah mangunan dan makam imogiri. Sebenarnya, ada ragu waktu itu, selain tempat yang terbilang jauh, juga motor yang kubawa adalah motor pinjaman. Ah sudahlah, aku sudah izin dengan si empunya untuk meminjam sedikit lama. (Makasih Desiiii)
            Rute perjalanan sangat mudah. Hanya melewati jalan imogiri, ikuti jalan, lurus tanpa berbelok hingga sampai pasar imogiri dan disitu akan menemukan beberapa papan penunjuk menuju lokasi. Dengan bantuan papan petunjuk itulah kami sampai tujuan dengan selamat. Ya, setelah cukup lama melewati jalanan yang menanjak dan berkelok, tetapi sangat indah pemandangan di sekelilingnya.

Kebun Buah Mangunan
            Empat tahun ber-rumahkan di Jogja, aku hanya sering mendengar dan belum pernah sekalipun berkunjung ke sana. Sekilas, aku membayangkan akan ada beraneka macam pepohonan dengan buah-buahan yang bergantungan di dahannya. Mereka tertanam dan tumbuh rapi, menggugah selera. Dedaunan yang rimbun, juga subur tanahnya. Dikelilingi taman-taman yang menjadi tempat singgah kita untuk sekedar duduk bersantai. Ya, itulah yang terfikirkan (harapan tepatnya, toh pernah melihat foto-fotonya sebenernya).
            Sesampainya di sana, wow, sepi sekali. Kami di sambut dua orang penjaga pintu masuk, mas mas dan mbak mbak. Setelah membayar sepuluh ribu rupiah untuk dua orang, kami bergegas masuk. Dengan berjalan kaki, kami menelusuri lokasi yang saat itu pepohonan terlihat kering dan kurang terawat. Tidak terlalu beraneka ragam pepohonan yang dijumpai, dan hampir keseluruhan kami mengenalnya (kelihatan banget kan, orang dari desa). Ya, pohon pisang, pohon jambu, pohon mangga, pohon jati, dll. Sayangnya lagi, tak ada satupun pohon yang sedang berbuah. 

Makam Imogiri
Dari tempat keberangkatan tadi, makam imogiri terletak sebelum kebun buah mangunan. Karena itulah, diputuskan untuk mampir sekalian dalam perjalanan pulang. Setelah melewati jalanan yang turun dan berkelok, sampailah di lokasi.
Sesampainya di sana, wah. Berdasarkan informasi salah seorang yang di sana, tangga tersebut berjumlah tepat 409. Kami berjalan dengan semangat (menunjukkan kalau kita masih muda, *eh), meskipun sesekali berhenti untuk mengatur nafas (dan berfoto tentunya). Sampai di atas, duduk sejenak, lalu turun dan pulang. Pulang ke kosku, kamar fullkost “maskulin”.
*cc : Zaitun Hakimiah Ns (Mia)

-(Maaf jika terdapat kesalahan ketik, catatan pukul 02.01 dini hari, berharap tidur tapi ternyata tak bisa tidur)-

Kamis, 10 April 2014

Saat Diammu Adalah Emas #1

23.33 0 Comments
Lebih baik diam daripada bercanda berlebihan.
Aku suka orang yang bisa dengan mudahnya bercanda. Karena, tidak semua mudah bisa lho, termasuk aku sendiri. Interaksi lebih menyenangkan, topik pembicaraan lebih seru dan menarik, hubungan emosional menjadi lebih dekat, dan so pasti moment kebersamaan itu menjadi hidup alias tidak garing. Tapi, ingat ni, segala hal yang berlebihan akan melahirkan sebuah keburukan.
Apa untungnya dari sebuah canda? Oke, banyak hal udah disampaikan tadi. Bercanda sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, bagus lah. Tapi jika terlalu sering atau bahkan terus menerus adalah sia-sia. Sungguh, akan lebih baik berbicara yang bermanfaat, bertukar informasi sehat atau diamlaah.
Ya, bagi yang terbiasa dengan bercanda, adalah wajar jika canda itu ‘bebas’ diekspresikan. Contoh sepele dalam memanggil nama orang “Gendut” karena orang yang dipanggil badannya gede. Atau “item” karena orang yang dipanggil kulitnya tidak putih. “Keriting” karena orang yang dipanggil rambutnya keriting. Tapi, bagi yang kurang terbiasa justru hal itu dapat menyinggung perasaan.
Di satu sisi, ada waktu dimana seseorang yang diajak bercanda sedang tidak ingin bercanda. Sedang serius melakukan sesuatu, suasana hati sedang kurang nyaman, atau sedang lelah. Seseorang yang sedang berpenampilan baru atau melakukan sesuatu yang baru (niat : berubah lebih baik) juga rentan menjadi bahan candaan. Padahal, mengajaknya bercanda justru dapat menimbulkan emosi negatif. Tersinggung, jengkel, kesal, dan kawan-kawannya.
Kalimat yang digunakan dalam bercanda biasanya juga mengandung nilai negatif, entah itu julukan, ejek an, juga memanfaatkan seseorang atau situasi untuk dijadikan candaan. Nah, setiap kata-kata yang kita ucapkan, yang kita dengar, bukankah akan berpengaruh kepada diri kita? Nah, lama-lama..............
Sekali, lagi, segala sesuatu tidak baik jika berlebihan J
 ***
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujaraat : 11)
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (Al Baqarah : 15)
Jauhilah oleh kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah. (HR. Ibnu Majah)
Sesungguhnya banyak bercanda dapat menjatuhkan wibawa, menjauhkan diri dari hikmah, menimbulkan kedengkian, mengeraskan hati dan membuat banyak tertawa yang melalaikan diri dari mengingat Allah. (Syaikh Abdul Aziz)
To be continued.... 

Selasa, 01 April 2014

Say "No" To "Golput"

22.17 0 Comments
Waah..  “Apaan si Pemilu?”. Aku juga begitu. “Apa pentingnya buat kita coba”. Yaa benar sekali. #dulu, pada awalnya. Tapi ternyata oh ternyata, menggunakan hak suara di pemilu begitu dan sangat penting.
–Renungkan saja –






*Kolom kata – copast – Smart Voters Community

Jumat, 21 Maret 2014

Ternyata Pernah 'Alay'

20.29 0 Comments
 

Lihat kan, gambar di atas? Seragam kaos yang dibuat kurang lebih tujuh tahun lalu, saat usia masih berbilang pertengahan belasan. Tepatnya, seragam kelas IX C Spensa (SMP N 1 Purworejo). Dan sampai saat ini, meskipun lusuh, kaos tersebut masih sering aku pakai. Bahkan salah satu teman tetap membiarkannya baru (alias disimpan untuk kenangan dan jarang sekali dipakai).
Satu hal yang kusadari, begitu melihat kembali nama-nama yang tertulis rapi di kaos itu. Aku sontak bergumam “Ternyata pernah Alay”. Bagaimana tidak? Hanif menjadi H-nief berasa sangat keren kala itu. Tak hanya aku, nama Fitria pun berubah menjadi V-3A, Faqih menjadi FUCK-Q, dan nama-nama lain yang hampir kesemuanya ditulis dengan beraneka ragam huruf dan tanda baca.
Sekarang kita mungkin tersenyum simpul, mengingat kembali masa-masa lalu. Begitu lucu, begitu konyol, begitu lebay, dan apapun lainnya. Namun, kita di masa lalu tidak pernah merasakan hal itu. Hormatilah setiap fase hidup kita yang terlewat, pun hormatilah orang lain di setiap kondisinya..

Selasa, 04 Maret 2014

Senja

08.54 0 Comments
Aku menyukai temaram senja.
Elok berkilau sempurna oleh terpa sinar matahari,
Sinar jingga bersorot tajam,
Saat itulah,
Hati menghela seraya berdoa,
Menyandarkan bahu sejenak dari lelah,
Menatap lalu lalang manusia menuju peraduan masing-masing,
Menanti malam..

#Skripsi, maaf membersamaimu sembari bermain-main#

Kamis, 06 Februari 2014

Hujan

12.52 0 Comments
Aku selalu suka hujan..
Saat rerintiknya, berurai perlahan menjauh dari langit,
Wewangi tanah mulai tercium oleh basah,
Gemericik turunnya, terdengar cadas dalam telinga,
Kilatan terang, gelegar guntur, kelabu mata memandang,
Saat itulah,
Hati mengharu,
Atas rindu yang tak pernah padam,
Atas doa yang tersampaikan,
Atas diri yang berharap dekap, cintaNya..

Senin, 03 Februari 2014

Cinta Kiti dan Kite

20.25 0 Comments
Semenjak tiadanya tingteng dan pingpong (kelinci) beberapa bulan lalu, kami tak punya piaraan lagi. Hanya menyisakan sangkar yang tak terpakai, serta foto-foto lucu mereka. Tapi kini, entah dari mana datangnya bayi-bayi kucing mulai berkeliaran bebas di dalam kosku. Sudahlah, saatnya mereka punya nama. Alhasil, tanpa pikir panjang, aku memanggilnya Kiti, Kito, dan Kite. Dan tak tahu juga bagaimana muasalnya, tapi teman-temanku bilang mereka (kucing-kucing) itu adalah anakku. Ckck
Rupanya, Kiti dan Kite mulai terlibat cinta lokasi. Di suatu malam, salah satu teman kos terkaget-kaget. Begitu melihat di ujung tembok, Kiti dan Kite tidur bersama berdekatan, sangat pulas. Jelas saja, temanku menyimpan tanya “kapan masuk kamarnya?”
Dimana ada Kiti, di situ ada Kite. Selalu begitu. Jalan bersama, tidur bersama. Saling mengusap kepala, saling menunggui saat makan. Terkadang, aku juga tak begitu faham dengan aktivitas mereka. Lompat-lompat berkejaran,  Kite panjat pohon lalu Kiti menyusulnya.
Hingga senja itu, aku dan temanku masih terpaku dengan kemesraan mereka. Sesekali berucap “cie-cie”, terlupa mereka adalah kucing-kucing liar, menganggap layaknya mereka adalah dua orang yang sedang jatuh cinta dan berharap sadar kita sedang mengganggunya. Dengan masih tak henti memandang, temanku tiba-tiba saja berkata “Tuh kaan, kucing aja pacaran, masak kita nggak?” Dalam hati kujawab “Emang kamu mau kayak kucing?”. *teeeet
Ini Kiti... Tumben banget ni dia sendiri
                                             Ini Kiti :) Tumbenan lagi sendiri :)

Pertanyaan Yang Tak Pernah Selesai

18.08 0 Comments
Jika belum seminar, “Kapan seminar?”
Setelah seminar, “Kapan munaqosyah?”
Setelah munaqosyah, “Kapan wisuda?”
Setelah wisuda, “Kerja dimana?”
Setelah kerja, “Kapan menikah?”
Setelah menikah, “Kapan punya anak?”
Kapan dan kapan lagi, seterusnya
(*Adopsi dari salah satu status teman di facebook, ijin yaa, Latif)

Ada apa sich dengan pertanyaan tadi? Mau tidak mau, pertanyaan itu pasti akan kita dengar (kecuali yang tidak masuk kriteria, misal : menikah saat masih kuliah. Kuliah sambil kerja. Dll). Wajar lah, karena seperti itulah alurnya jika proses hidup terjalani secara ‘normal’(kebanyakan orang). Ya, pertanyaan itu setidaknya mengingatkan kita untuk tetap tidak keluar dari jalur ‘normal’ tersebut.
Tiga pertanyaan pertama. Pertanyaan paling sensitif bagi mahasiswa tingkat akhir. Bahkan kalimat ‘jangan tanyakan skripsi’ tidak hanya diucapkan untuk menghindar agar orang berhenti bertanya, tapi juga mulai tertulis di bagian belakang kaos-kaos, tertulis di jejaring sosial, dan lain sebagainya. Meskipun sebagai candaan, tetapi tetap saja sama dengan keinginan hati yang sebenarnya. Namun begitu, pertanyaan ini cambuk lho! Bagaimana tidak? Karena urusan ini selebihnya bergantung pada diri kita sendiri. Siapa yang malas memulai, maka waktu berikutnyapun tetap enggan memulai. Siapa yang menunda mengerjakan, maka tentu saja selalu tertinggal di belakang. Nah, dengan ditanya, semoga segera ambil tindakan....

Pertanyaan berikutnya, silakan bagaimana kalian mau menanggapi, saya belum merasakannya :)

Sabtu, 25 Januari 2014

Tingkatan 'Menunggu'

20.47 0 Comments
Menunggu dosen, kurang lebihnya sama dengan murid menunggu gurunya datang ke kelas. Sebagian ada yang kecewa, namun sebagian lain (mungkin sebagian besar) justru senang tatkala tahu guru akan terlambat, bahkan tidak hadir sekalipun. Bersorak.

Menunggu teman saat janji bertemu. Tidak terlalu masalah, meskipun perjanjian nanti pada jam sekian, tapi tetap saja ada embel-embel “kalau udah hampir sampai hubungi lagi ya” atau “ni, aku berangkat, kamu juga siap-siap berangkat”. Masih bisa diakali laah, biar proses menunggu itu tidak terlalu lama.

Menunggu teman lain saat rapat. Sebagian ada yang acuh-acuh saja, yang penting rapat tetap dimulai tepat waktu. Terlambat dan tertinggal informasi itu urusan mereka. Namun, lain cerita jika yang ditunggu adalah orang dengan posisi penting dalam rapat. Juga, lain cerita jika kita adalah satu-satunya orang yang datang tepat waktu (bagaimana mau memulai sendiri?). Sebel tertolerir, masih bisa menghujam pertanyaan lewat sms / telepon “Sampai mana?” “mohon hadir secepatnya, sudah ditunggu”, dan bla bla.

Menunggu dimulainya acara. Jelas sekali, undangan / publikasi tertera pukul 08.00 – 11.30. Namun ternyata, seringkali waktu yang tertera merupakan satu jam sebelum acara dimulai. Alasan populer “toleransi waktu bagi yang sengaja datang terlambat”. Nah, lama-lama semua orang tahu juga, jika aturan mainnya begitu. Lalu? Semakin molor dech acara, yang menunggu anteng-anteng aja, selama snack, gadget, temen ngobrol, atau hiburan lainnya tersedia. Bagi yang tidak? Entahlaah.

Menunggu angkutan umum. Ini melibatkan faktor ‘keberuntungan’. Bisa jadi baru beberapa menit menunggu, angkutan sudah nampak lewat di depan mata. Tapi, terkadang berjam-jam berdiri di tepian jalan raya, angkutan yang ditunggu tak kunjung datang. Ditambah lagi masih ada acara ‘ngetem’ menunggu penumpang berlama-lama. Sayangnya, mau bagaimana lagi? Menggerutu, merubah mood (Pernah sampai nangis saya, Jogja-Rumah memakan waktu 7 jam).

Menunggu datangnya kabar baik (nilai keluar, lulus seleksi sekolah / pekerjaan, menang kompetisi / lomba, dll). Sebagian orang, akan mengingat tanggal di setiap harinya sambil menenangkan diri ‘sekian hari lagi’. Sebagian lain justru terkadang lupa jika sedang menunggu. Namun yang pasti, beberapa saat sebelum kabar itu akhirnya datang, jantung mendadak deg-degan, dan permohonan do’a semakin banyak terucapkan.

Nah ini, menunggu yang paling istimewa. Menunggu pasangan hidup. Tanpa tahu kapan datangnya, tanpa tahu siapa dia sesungguhnya, tanpa tahu tempat pertemuan pastinya. Menarik bukan? Karena itulah, tidak sama dengan menunggu dosen datang, tidak sama dengan menunggu teman janji, tidak sama dengan berbagai hal menunggu lainnya. Menunggu yang ini akan melahirkan berbagai macam rasa (sedih suka kecewa bahagia, bisa jadi) , juga melahirkan berbagai macam cerita (tak terduga, bisa jadi).

Untuk semua proses menunggu, bersabarlah... Semua akan indah pada waktunya...

Jumat, 24 Januari 2014

Mengapa "Berjama'ah?"

03.05 0 Comments

Adalah menjadi kewajiban seorang muslim untuk hidup dalam jamaah. Sebagaimana Allah berseru dalam firmanNya “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan dan memerintahkan yang makruf dan mencegah yang munkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali Imran : 104). Disinilah Allah mengajarkan kepada kita dengan sepotong kalimatNya “segolongan orang” yang berarti “segolongan umat” atau “segolongan jama’ah”. Ya, amar makruf nahi munkar merupakan kewajiban mutlak bagi setiap individu dalam sebuah jama’ah, individu umat.
Pastinya, ada banyak alasan mengapa Allah mewajibkan kita berjama’ah. Selalu ada makna kebaikan dibalik perintah yang Ia sampaikan. Untuk kita sebagai individu, untuk kita sebagai manusia sosial, untuk kita sebagai manusia beragama, sudah pasti untuk tegak kebenaran islam pastinya. Sebagai umat islam, tentu saja tidak lepas dari kehidupan Rasulullah saw. Sosok pribadi agung yang tiada hentinya harus kita teladani. Bagaimana kehidupan sehari-hari, pun bagaimana kehidupanya dalam mengemban dakwah.  Beliau yang selalu berjuang dari awal, bermula membina, mengukuhkan, juga memperkuat kelompok yang kelak turut serta bersatu dalam perjuangannya. Tanpa lelah terus menyeru, hingga Allah mempertemukan dengan sekelompok orang dari suku Aus dan Khazraj. Merekalah, yang akhirnya menjadi pejuang, dengan segenap tenaga membela dakwahnya. Demikianlah Rasulullah, melalui metode berjama’ah beliau berdakwah. Tidakkah kita layaknya mengikuti jejak beliau?
Ya, hidup dalam jama’ah adalah rahmat. Allah menegaskan melalui firmanNya “Dan jika Tuhanmu menghendaki niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu, akan tetapi mereka selalu berselisih. Kecuali orang yang dirahmati Tuhanmu, dan demikianlah Dia menciptakan mereka....” (Q.S Hud : 118 – 119). Hanya dengan rahmat dariNya lah manusia dilindungi dari perpecah belahan juga dilindungi dari sebuah perselisihan. Sederhana saja, bukankah sekedar hubungan yang kurang baik saja mendatangkan berbagai ketidaknyamanan, apalagi jika yang terjadi adalah perselisihan dimana-mana?
Dalam jama’ah, disanalah kebaikan terhimpun. Karena, persaudaraan yang hakiki, ada sebuah interaksi untuk saling mengingatkan antar sesamanya. Memahami baik, tolong menolong hanyalah dalam kebaikan dan ketakwaan. Mengerti sepenuhnya, hakekat ‘nahi munkar’ adalah dengan tidak membiarkan saudaranya terjerumus dalam perilaku yang tidak sesuai dengan aturan Al Qur’an dan sunnah rasulnya. Firman Allah dalam Q.S Ali Imran : 103 “Dan berpegang teguhlah kamu kalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian tatkala bermusuh-musuhan, maka Dia satukan hati-hati kalian hingga jadilah kalian bersaudara dengan nikmatNya dan kalian berada di tepi jurang api neraka lalu Dia menyelamatkan kalian darinya, demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatNya agar kalian mendapat petunjuk”.
Dalam jama’ah, disanalah pertolongan Allah tiada diragukan. Jelas sekali Allah memberikan aturan main kepada umat manusia “Jika kalian menolong agama Allah, maka dia akan menolong kalian dan mengokohkan pendirian kalian” (Q.S Muhammad : 7). “Dan janganlah kalian berselisih, maka kalian akan gagal dan akan lenyap kekuatan kalian” (Q.S Al Anfal : 46). Itulah salah satu bukti sebuah keadilan, ada balasan baik atas amalan baik. Begitu juga, sebaliknya. Semoga kita menjadi salah satu diantara sekian yang istiqomah membela agamanya. Aamiin.
Dalam jama’ah, disanalah terbangun pagar kokoh yang melindungi kebenaran.  Dalam sebuah hadits dikatakan “Sesungguhnya Allah menjamin umatku bersepakat / berjama’ah dari kesesatan”. Juga dalam jama’ah, disanalah kekuatan berpadu menjadi kemenangan. Banyak sekali peng-ibaratan yang kita tahu, sapu lidi jika tiap tangkai kita lepaskan, lantas kita patahkan, mudah sekali. Namun, tidak lagi mudah begitu kita satukan dalam satu genggaman. Pepohonan, bahkan tidak gentar dengan terpaan angin besar yang menumbangkan, karena tahu persis akarnya tumbuh kuat menghujam ke dalam, batangnya kokoh menyangga beban, pula daun dahannya justru memberi irama begitu angin berhembus dengan suara ributnya.
*Kurang lebihnya mungkin begitu. Dari beberapa sumber juga catatan sendiri.

Rabu, 22 Januari 2014

^_^

06.31 0 Comments
Dalam sepi,
Engkau datang,
Beriku kekuatan tuk bertahan...

Kau percaya,
Aku ada,
Kau yang aku inginkan, selamanya...

Kau adalah hatiku,
kau belahan jiwaku,
Seperti itu ku mencintamu sampai mati...

Di hidupku, yang tak sempurna
Kau adalah hal terindah yang kupunya...

Kau adalah hatiku,
Kau belahan jiwaku,
Seperti itu ku mencintamu sampai mati...
(Utopia – Mencintaimu Sampai Mati)

Aku bernyanyi untukmu, ibu :)