Follow Us @whanifalkirom

Sabtu, 30 Januari 2016

(Resensi) Hujan

06.12 0 Comments
Tentang Persahabatan
Tentang cinta
Tentang perpisahan
Tentang melupakan
Tentang hujan




Sebuah kisah romantis masa depan, tahun 2050. Soke dan Lail. Aah, ini novelnya bikin baper.

“Takdir tanpa perasaan memilih siapapun yang dikehendakinya. Mungkin, keajaiban itu datang melalui pertolongan serta doa-doa dari orang yang tidak kita kenal” #Hal.41
“Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa” #Hal.63
“Kamu tahu Lail, tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian” #Hal.227
“Hidup ini juga memang tentang menunggu, Lail. Menunggu untuk kita menyadari kapan kita akan berhenti menunggu” #Hal.228
“Orang kuat itu bukan karena dia memang kuat, melainkan karena dia bisa lapang melepaskan” #Hal.228
“…..Tapi dalam banyak hal, kebersamaan tidak hanya dari sapa-menyapa. Jika kamu bersedia memperhatikan wajahnya sekali sajasaat melihatmu, saat  melirikmu, kamu akan tahu, Esok ingin sekali bicara banyak denganmu…” #Hal.247
“Ada orang yang sebaiknya menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baikjustru membawa kedamaian” #Hal.255
“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta” #Hal.256
“Ada banyak hal yang bisa saling dipahami oleh dua sahabat sejati tanpa harus bicara apapun” #Hal.271
“Lebih baik mendengar kebenaran meski itu amat menyakitkan daripada mendengar kebohongan meski itu amat menyenangkan…” #Hal.288
“Bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah-marah, tetapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri” #Hal.299
“Tapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan” #Hal.308
“Bukan seberapa lama umat manusia bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami” #Epilog. Hal.317

Rabu, 27 Januari 2016

Seperti Cermin

05.21 0 Comments
Jadilah dirimu seperti cermin. Tampak apa adanya, tanpa mengada-ada. Jadilah dirimu untuk saudaramu seperti cermin. Terbuka apa adanya, berterus terang tanpa melebih kurangkan.
Jadilah dirimu seperti cermin. Selalu jujur, dan berpaling dari dusta. Jadilah dirimu untuk saudaramu seperti cermin. Mengatakan yang sebenarnya apa yang berhak tersampaikan padanya, demi kebaikannya.
Jadilah dirimu seperti cermin. Senantiasa bersemangat untuk tampil lebih indah dari waktu ke waktu. Terus bermuhasabah dan memberi nasehat diri. Jadilah dirimu untuk saudaramu seperti cermin. Memberi nasehat dalam sembunyi, memberi saran dalam senyap, juga menorehkan penerimaan yang hangat.
Jadilah dirimu seperti cermin. Bekerja sekarang dan saat ini, bagaimana menjadi lebih dan lebih baik lagi. Jadilah dirimu untuk saudaramu seperti cermin. Menyimpan aib, tiada pernah menceritakannya kepada orang lain, kemudian membersamai memperbaikinya…

Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin (lainnya), dan orang mukmin itu adalah saudara bagi mukmin lainnya, ia menjaga sawah ladangnya dan melindunginya ketika ia tiada
Orang mukmin itu menjadi cermin bagi saudaranya. Jika ia melihat padanya suatu aib, maka diperbaikinya
Seorang mukmin mengasihani dan dikasihani atau bersahabat dan disahabati. Tidak ada kebaikan dalam diri orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati

Rabu, 06 Januari 2016

JODOH, (Lagi-lagi) Tentang JODOH

06.05 0 Comments
#Lebaran dua tahun lalu, 2014#.
Sebagai bungsu 7 bersaudara, dengan 6 kakak ipar, dengan 17 keponakan, tentu ramai sekali kalau berkumpul (meskipun seringnya nggak lengkap). Kalau kakak-kakak saya sedikit banyak memperkenalkan anak-anaknya (baca : keponakan) yang (tentu) sudah makin dewasa, maka saya tidak jarang disapa dengan candaan “Sudah, tinggal satu…. Ini kapan?”….. “Dua tahun lagi”. Terkadang jawaban itu keluar spontan saja. Biar cepat, selesai sudah. Ya sekaligus doa sich, memang waktu itu ada keinginan untuk menikah di usia 23. Itu artinya, tahun 2016 kaan? Hehe. (Tidak terasa, ternyata waktu berlalu secepat ini yaaa)……

#Tahun lalu, 2015#.
Kakak sulung menikah (untuk yang kedua, setelah suami pertama meninggal). Duh, sedikit gimana gitu, karena ternyata sekian banyak orang mengira bahwa yang menikah adalah saya. Hehe. Tepat di hari itu pula banyak suara samar terdengar dari tetangga “Ya ini satu sebentar lagi, siap lah kalau Cuma disuruh bantu-bantu”.. “Pamungkasnya lah siap-siap lagi, tinggal kasih kode sama kakak-kakaknya, biar nyiapin”.. “Makanya nanti yang terakhir ini, mumpung, kalau mau mengumpulkan seluruh kerabat dekat-jauh”. #dengarnya sambil senyum-senyum aja, dalam hati, seribet ini? Boro-boro tahu bakal seperti apa proses akad nikahnya nanti, tahu dengan siapa aja belum J
Sudah mulai banyak terdengar kabar teman-teman menikah, juga semakin banyak undangan berdatangan. Dari teman SD (yang memang saat ini tinggal beberapa gelintir saja yang belum menikah), teman SMP (ini teman sebangku juga sudah menikah), teman SMA, teman kuliah, teman di organisasi, teman di Lazis, de el el de el el.. Sudah banyak pertanyaan “Kapan nyusul?”. Dan seseorang berkata “Kalau sudah banyak menerima undangan, itu artinya sudah pantas kasih undangan Mbak
Sudah mulai asyik ngobrol dan bercanda bareng teman terkait jodoh. Wajar kali yaa, usia awal 20-an (Iya kan? Iya? #Ini pertanyaan untuk yang sudah lewat dari itu). Sudah mulai posting jodoh-jodohan di media sosial. udah mulai berani bercanda-canda ringan dengan Ibu terkait pernikahan. “Belum pernah masak besar kan, nanti masak-masak besar yaa” #menjurus. Kalau ada dikasih oleh-oleh sama orang lain dalam jumlah banyak “Nggak Papa, buat persiapan gawe” #menjurus. Sebelumnya tabuu, dan malu-malu sekali kalau bicara soal ini (meski sering juga merasa buat apa). Bahkan sebelumnya banyak yang bertanya “Haniif, pernah nggak si jatuh cinta? (Yaa pernah lah, impossible orang nggak pernah jatuh cinta)” atau “Susah Mbak melupakan itu, Mbak Hanif si nggak pernah ngrasain (Yaa memang, pacaran aja sekalipun nggak pernah.heheh). Ini karena saking tidak pernahnya bahas begituan (baca : cinta-cintaan).
Sudah mulai menyentuh buku-buku tentang nikah. “Bila Hati Rindu Menikah” – “Saatnya Untuk Menikah” – “Kado Pernikahan” – “Psikologi Suami Istri” – “Fiqh Pernikahan” – de el el (Belum tamat lho yaa, kan saya bilang “mulai menyentuh”). Meskipun pada kenyataannya, seringkali hanya sebagai selingan saja, hiburan-hiburan seru. Toh, sampai detik ini, merasa masih ‘kecil’ jauh dari ‘siap’ untuk menikah (Siap dalam definisi menuju pernikahan itu apa sich yaa *sebenarnyabingung).

#Tahun ini, 2016#.
Entah kenapa, saya berpikir untuk tidak ber’basa-basi lagi soal jodoh. Dalam artian, tidak seharusnya dibawa bercanda (yang berlebihan), dibawa topik (yang jadi obrolan tanpa tujuan), dibawa ke medsos (yang entah apa manfaatnya).
Daripada bertanya “Kapan nyusul” mending mendoakan “Semoga segera menyusul”. Daripada sibuk bertanya dan berangan dengan siapa berjodoh mending sibuk memperbaiki diri, menyelesaikan tanggungjawab, belajar banyak hal. Daripada sering mengobrol, menulis notes dan  doa di medsos terkait jodoh mending banyak-banyak doa di atas sajadah, memohon sama Allah supaya dipertemukan dengan jodoh terbaik, di waktu yang baik, dan di tempat yang baik.  Saat bingung menjawab pertanyaan “Kapan?, yaa seperti Bapak saya menjawab kalau ada yang tanya “Saya kapan?” “Terserah sama Allah, kan kita makhluknya Allah” (Ini tipikal Bapak saya yang memang nggak suka bercanda beginian).
Lebih baik bukan? Sepakat kalau ada yang bilang, semua orang tentu punya cara masing-masing untuk berusaha, berikhtiar menuju kesana. Sepakat juga kalau ada yang bilang jodoh itu bukan lomba. Bukan pula soal usia, paras, juga harta. Jadi, *Don’t Worry be  Happy* J

Ya, sesesederhana ini saya berpikir tentang jodoh. Sangat setuju, apa yang Tere Liye tuliskan, Jodoh itu....

1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.

2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain--itu sungguh tiada manfaatnya.

3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah. Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsbgnya. Sekelas Umar Bin Khattab saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.

4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya. Nah, dengan situasi seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian bismillah, jalani dengan mantap.

5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia, ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah. Tapi kita selalu bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi, sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien menyerang bumi.

6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah, atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri. Maka, saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan2 berikutnya bagi orang yang sabar.

7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian menjadi lebih baik setiap harinya. Lebih baik pastikan saja, semua pihak memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah. Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga? Dikembalikan ke masing2 pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya adalah milik dia--soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami. Pemahaman2 seperti ini penting loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar pesona, tahu persis saat menikah nanti.

8. Mencari jodoh itu tidak rumit. Ini beneran loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan (karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi intel perjodohan. Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang membuatnya rumit. Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran telah menikah.

9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel2 (apalagi novel Tere Liye), dari film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang2 saja sama penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian. Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap langgeng dan bahagia. Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah, mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada ternilai.
***

Panjang sekali yaa. Berharap semoga tidak ada lagi tulisan (kegalauan jodoh) seperti ini lagi. Hingga pada saatnya nanti, ketika memang sudah layak kembali menulis (tentang jodoh lagi) J . Sekian bicara jodoh, ada yang lebih penting untuk segera dikerjakan J Selamat memperbaiki diri…

Jumat, 01 Januari 2016

Shalat Mengajari Kita....

01.12 0 Comments
#Shalat mengajari kita tentang pengertian hidup yang sebenarnya.

Shalat, dalam sehari lima waktu. Berdiri - takbiratul ihram - ruku’ – sujud - duduk diantara dua sujud – sujud – berdiri – (begitu seterusnya). Mengajarkan kepada kita, bahwa hidup bukanlah bilangan waktu yang berulang melainkan amal yang berulang. Iya, hakikat hidup adalah BERULANGNYA KEBAIKAN.
Lalu, masihkah kita merasa penting dengan sebuah ‘perayaan’? Ulangtahun? Tahun baru? #Jika hanya ikut dalam euforia sejenak, berpesta kembang api, ramai-ramai menghitung  mundur detik waktu hingga tepat tengah malam...
Karena waktu selalu sama. Hari ini, esok, lusa dan seterusnya. Matahari terbit, siang, kemudian terbenam berganti malam. Yang perlu berubah adalah amal-amal dan kebaikan kita. Konsisten dengan yang sudah, melakukan yang lebih, menjadi lebih baik di setiap waktunya.

Sejauh mana definisi ‘kebaikan’ itu? Sudahkah kita termasuk seseorang yang mengerti arti hidup yang sebenarnya?

Iya. Selama apapun yang kita hadapi (meskipun keburukan) dijadikan sebagai sebuah kebaikan. Semisal mendapati cela saudaranya, maka itu adalah sebuah hikmah supaya kita tidak berperilaku sama demikian. Supaya kita tak serta merta mengutuk apalagi membencinya. Namun, menutupi aib dengan diam, memperbaiki celanya dengan santun serta kasih sayang.
Iya. Selama kita lebih memilih kebaikan yang lebih tinggi nilainya. Semisal berhadapan dengan orang yang menghina kita, mana kau akan memilih? Marah, memaafkan, atau memaafkan & membalas dengan sesuatu yang baik. Semisal kau akan memberi, mana kau akan memilih? Memberi oranglain sesuatu yang kita sudah tidak suka, sesuatu yang masih kita suka, atau sesuatu yang paling kita suka. Semisal kau hendak tersenyum, mana kau akan memilih? Senyum dengan orang yang sama ramah pada kita, orang yang diam saja, atau orang yang .menampakkan wajah ‘judes’nya pada kita.

#Shalat mengajari kita tentang hakikat fondasi hidup yang sesungguhnya

Shalat, bermula dengan takbiratul ihram, diiringi ucapan yang agung (Allahu Akbar). Tatapan tunduk pada satu arah, tertuju, fokus, tidak lain tidak bukan hanya Allah muaranya. Mengajarkan kepada kita, bahwa
Sangat penting menjalani hidup dengan penuh rasa takdzim kepada Allah SWT. Sungguh keagunganNya adalah niscaya. Betapa manusia kecil, kerdil, hidup di belantara bumi yang luas, diantara ribuan galaksi yang lebih (dan lebih) luas lagi. Tak layak setitikpun untuk kita, manusia, menyombongkan diri.

Sudahkah kita termasuk seseorang yang memahami fondasi hidup kita?

Iya. Selama kita selalu menganggap besar sesuatu yang berkaitan dengan Allah. Semisal menemui sebuah moment pergantian tahun, mana kau akan memilih? Merayakannya atau bermuhasabah?. Semisal mendengar panggilan adzan saat memasak, mana kau akan memilih? Berhenti kemudian shalat atau melanjutkan memasak (alasan populer : tanggung).
Iya. Selama kita menempatkan Allah diatas apapun. Semisal menata sebuah perasaan kecewa. Mana yang lebih kau kecewakan, tertinggal laju kereta atau tertinggal shalat berjama’ah?

#Shalat mengajari kita tentang orientasi hidup yang semestinya

Shalat. Adakah tempat di bumi yang cocok bagi hati saat sedang shalat? Sungguh tak layak, takbiratul ihram, hatinya jauh berada dibawa keinginan ke suatu tempat, entah perbelanjaan entah wisata, entah rumah. Sungguh tak pantas, takbiratul ihram, hatinya dibawa ke atas sajadah. Menghitung ruas-ruas garis yang tergambar, mengamati kubah masjid yang melengkung. Tidak lain tidak bukan, tempat yang cocok untuk hati hanyalah akhirat. Mengajarkan kepada kita, bahwa Selalu, jadikanlah akhirat sebagai orientasi hidup.

Sudahkah kita termasuk seseorang yang mengetahui orientasi hidup kita?

Iya. Selama apa yang kita lakukan di dunia adalah untuk akhirat. Semisal pada situasi memegang sejumlah uang. Mana kau akan memilih? Menyedekahkan atau bersenang-senang (termasuk merayakan pesta kembang api tahun baru mungkin). Semisal dini hari, kau para pecinta bola, mana kau akan memilih? Menonton sepak bola atau sujud dalam tahajjud. Semisal diwaktu senggangmu, mana kau akan memilih? Membaca Al Qur’an atau meramaikan medsosmu?.
***
Ah, benar-benar masih jauh, sangat teramat jauh.Semoga, tak lelah belajar, meski tertatih menuju kesana :)

Tiba di penghujung tahun,
Yogyakarta, 31 Desemmber 2015
23.20 (Asrama hikaru)

Inspired by Ust.Syatori Abdurrauf dalam Muhasabah Akhir Tahun JIF

Rabu, 25 November 2015

Di Beranda Rumah Kita

06.02 0 Comments
IBU,
Aku mengingat suatu waktu di malam itu. Umurku belum genap  tujuh tahun.  Aku menangis, jungkir balik di atas kasur. Berkali kumur-kumur, berkali-kali sikat gigi, berkali-kali teriak menahan sakit. Berkali-kali engkau menghiburku, berkali-kali engkau mengoleskan minyak kayu putih di sekitar daguku, berkali-kali pula engkau memberi air hangat untukku. Ah, sakit gigi. Hingga jam menunjukkan hampir tengah malam, lebih dari pukul 11, sakitku tak kunjung mereda, meski tangisku tinggal isakan yang tersisa. Dan engkau, masih tetap terjaga. Mengajakku keluar, menyusuri jalanan yang gelap, menuju rumah bulek, dan kemudian kembali lagi ke rumah. Malam itu, kita bertiga bukan? Karena Bapak pun akhirnya ikut menemani. Tidak, tidak sembuh. Tetapi, setelah lelah berjalan, lelah menangis, akhirnya aku tertidur. Pulas.

Sekarang, usiaku sudah dua puluh, lebih dua tahun, lebih tujuh bulan. Tinggal tak lagi satu atap denganmu. Hingga suatu waktu, suhu tubuhku menghangat, hari itu aku tidak beranjak dari tempat tidur. Kukirim sebuah pesan “Ibu sedang apa?”, dan engkau menjawab “Sehat, nduk?”, lalu kubalas “Tidak”, berlanjut perbincangan singkat melalui telepon. Dan dikeesokan, kudapati sebuah pesan kala subuh hari “Nanti Ibu ke Jogja sama Yaya, berangkat jam 7, charter mobil”. Deg. Sebegitukah pedulinya seorang Ibu? Aku hanya demam biasa, hanya flu. Segera kukirim balasan untuk meminta membatalkan rencana itu.

Iya, Tidak berubah. Ibu, selalu menjadi orang pertama yang khawatir, siap ada dan terjaga saat kita sakit. Meski ku tahu, engkau sendiri sering abai, dengan kesehatanmu..

IBU,
Aku mengingat suatu hari di waktu itu. Saat matahari hampir tepat persis di atas kepala, menjelang dzuhur. Engkau bawa setumpuk pakaian kotor di dalam ember, peralatan mandi, juga sepasang baju bersih untuk berganti. Melesat melangkahkan kaki menuju sungai di bawah sana. Dan pesanmu selalu sama “Nanti segera shalat ya Nduk”. Lalu beberapa waktu kemudian, engkau pulang dengan seember pakaian yang sudah bersih, serta menjinjing satu ember air untuk persediaan di rumah. Dan pertanyaanmu juga sama “Sudah shalat dzuhur Nduk?”. Aku mengangguk, meskipun tak jarang, aku berbohong. Maafkan Ibu,

Sekarang, pertanyaan rutin saat siang itu sudah tak perlu lagi engkau sampaikan padaku. Kita juga jarang bertemu, bukan? Kali ini, setiap senja di akhir pekan. Engkau bergegas mengambil air wudhu, berganti pakaian, mengambil kacamata, melangkah menuju musholla. Dan pesanmu selalu sama “Ayo ikut Ndhuk, ke musholla”. Adakalanya aku mengangguk mengiyakan, kemudian mengambil alih komando diantara anak-anak kecil, mengajari ngaji, bercerita, atau sekedar bermain tebak-tebakan. Namun, adakalanya juga aku menggelengkan kepala, beralasan capek, belum mandi, dan seterusnya. Dan juga, adakalanya aku meminta Ibu di rumah saja, menemaniku makan sambil bercengkrama. Maafkan Ibu,

Iya, tidak berubah. Ibu, selalu menjadi orang pertama yang mengingatkanku perihal ibadah. Ah, sudah sedewasa ini, aku sungguh merasa malu dengan semangat ibadahmu..

IBU,
Aku mengingat suatu masa di waktu itu. Kala rumah kita belum menjadi rumah yang sekarang. Rumah dengan sebuah jendela istimewa di sudut dapur. Engkau tahu kenapa istimewa? Karena aku pasti mendapatimu berdiri di balik jendela itu, saat berjalan turun dari angkutan umum sepulang sekolah di akhir pekan. Sambil tersenyum.

Sekarang, rumah kita tak lagi berjendela. Namun, kini kudapati keberadaanmu di depan pintu, saat suara motor memasuki halaman, sepulang dari Jogja di akhir pekan. Lagi-lagi, sambil tersenyum, kemudian mengulurkan tangan.

Iya, tidak berubah. Ibu, selalu menjadi orang pertama yang menyambut kehadiranku di rumah dengan senyumnya yang sebegitu ramah..

IBU,
Aku mengingat suatu pagi di waktu itu. Kala aku membuka lembaran demi lembaran buku kenangan milik salah satu kakakku. Ada sebersit harapan, ada sebuncah keinginan, untukku mengikuti jejaknya belajar di tempat yang sama. Dalam diamku, engkau berbicara penuh doa, semogaa. Dan ketika harap tak sampai, lagi-lagi kau menghiburku dengan doa, semogaa.

Sekarang, sudah bukan lagi waktuku untuk sekedar berpikir pendek tentang mengikuti jejak pendidikan yang sama. Namun, tentang ‘hidup’ yang sesungguhnya. Tentang sebuah kebersyukuran, tentang sebuah niat yang perlu diluruskan, tentang membangun keluarga yang penuh kebermanfaatan, tentang menjadi pribadi yaaang <em>baik</em> istilahnya. Dalam diamku, dalam candaku, dalam perbincanganku kepadamu, engkau selalu menjawabku dengan kata-kata penuh doa. Semogaa.. dan semoga..

Iya, tidak berubah. Ibu selalu menjadi orang pertama yang doanya membumbung, melangit, berharap yang terbaik untuk anak-anaknya.. Dalam segala situasi..

IBU,
Aku mengingat banyak peristiwa di waktu itu. Saat datang menghadiri wisuda salah satu kakakku, tetiba seorang anak laki-laki memukul kepalaku sambil berteriak “bajigur”. Engkau datang, tersenyum, mengelus kepalaku. Saat untuk pertamakalinya datang ke Jakarta, bermain-main di sebuah taman, saking senangnya aku duduk dengan sedikit pecicilan, kemudian jatuh. Engkau datang, membantuku bangun, mengajakku pergi, hah menyelamatkanku dari rasa malu.

Sekarang, sudah jarang yaa, ada waktu pergi bersama. Paling-paling hanya di akhir pekan, mengantarmu ke pasar, ke rumah saudara, atau kemanalah. Semoga, Desember nanti, menjadi perjalanan selanjutnya berkereta bersamamu, setelah menyambangi Surabaya dua tahun lalu..

Iya, tidak berubah. Ibu selalu menyenangkan menjadi teman bepergian. Dimanapun, aku selalu merasa aman. Semoga, untuk sekarang-sekarang ini, engkau juga akan merasa aman bila bepergian bersamaku, Ibu. Meski bisaku hanya sebatas menggandeng tanganmu saat menyeberang jalan :)
***
Seorang lelaki sedang thawaf dengan menggendong ibunya, maka laki-laki itu bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah -dengan ini- saya telah melaksanakan kewajiban saya kepadanya?” Rasulullah saw menjawab, “Tidak! Tidak sebanding dengan satu kali hentakan (saat melahirkan)!” (H.r al-Bazzar)

_Inspired by TheGreatPowrOfMother Karya Solikhin Abu Izzudin & Dewi Astuti

Senin, 23 November 2015

Bincang Bareng Ayah (BBA) #8

23.59 0 Comments
   
Malam semakin larut. Lalang kendaraan mulai terhenti, senyap, seolah rumahku jauh dari tepi jalanan. Ada aku sedang berbaring disamping ibuku. Ada mas ipar sedang menikmati seduhan kopi buatanku. Ada bapak sedang *senyum senyum sendiri. Tak ada hiburan televisi sebagaimana orang lain saat malam seperti ini, ya, kami memang tak punya televisi. Hening sesaat

Bapak    : "Prinsip kudu dicekel. Ora apik mbebedo, wong kang cacat, wong   kang bandha dianggep ora duwe. Wong kang kapinteran dianggep bodho. Justru kui dadi kawigaten wong ingkang linuwih. Ngekei payung wong kang kudanan. Ngekei teken wong kang kelunyon. Ngekei obor wong kang kepetengen.Mudheng karepe?" (menatap mas ipar)

      Aku      : "Batangane opo mas?" (sedikit menirukan gaya bapak)

      Mas ipar : *Senyum* (Ini responnya ga jauh beda sama aku, senyum-senyum aja)

Perbincangan berlanjut, dan akuu, mulai ngantuk. Ambil nasi, makan sajalaaah. hhe

Jumat, 18 September 2015

Bincang Bareng Ayah (BBA) #7

19.00 0 Comments
Pagi hampir beranjak. Seiring matahari yang kian hangat, embun diatas bebatuanpun mulai mengering. Angin berhembus semakin kencang, menambah suara berisik daun-daun yang bergesekan. Langit diatas begitu cerah, awan-awan kecil berarak, dan rembulan sabit itu masih nampak dibaliknya, meski samar.

"Warna langit yang sempurna". Gumamku..

Aku menghentikan langkah persis di halaman itu, menatap sekeliling. Kuamati lekat-lekat. Pohon-pohon tinggi yang menjulang, Rindang dedaunan yang meneduhkan, Ayam-ayam yang mencari makan, Setumpuk kayu bakar yang tersusun, jugaa....seorang laki-laki tua yang duduk sendirian, tersenyum. Rumah ini masih sama. Benar-benar masih sama.

Aku menarik kursi hingga berhadapan dengan laki-laki tua itu, berharap akan kudengar kisah heroiknya di masa lampau. Bagaimana ia berjuang habis, sibuk dengan cangkulnya dari pagi hingga petang. Bagaimana ia begitu gigih memperjuangkan apa yang ia yakini benar. Bagaimana ia begitu berani bersedia melibatkan diri dalam masalah orang lain untuk mendamaikan dan memperbaiki keadaan. Bagaimana ia begitu akrab menjalin persahabatan dengan banyak orang. Ah, bagiku ia lebih dari seorang pahlawan. Tapi, tidak banyak yang tahu. Kurasa, ia memang tidak membiarkan semua orang untuk tahu. 

Aku menunggu laki-laki itu bicara. Satu menit, lima menit, lima belas menit, berlalu. Kami masih dalam kebekuan yang sama, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku berusaha menerjemahkan arti senyumnya yang hingga kini tak kuketahui apa maksudnya. Aku berusaha menerjemahkan arti diamnya yang hinggi kini masih kucari jawabannya. Semakin aku berusaha menerka, kutahu, laki-laki itu semakin melebar senyumnya.

"Nak, ilmumu belum seberapa. Ilmu psikologimu belum apa-apa". Ia membuka percakapan

Aku tidak menjawab sepatah katapun. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu.

"Apalagi yang sudah tua begini Nak, lebih tidak tahu apa-apa". Sambungnya

Bukankah lebih tepat, kalau aku berpikir itu artinya dia mengatakan yang sebaliknya?

"Manusia itu tidak punya kemampuan apapun. Ia selalu larut dalam kebodohan. Merasa pintar, merasa bisa, merasa benar, merasa sudah begitu banyak membantu orang lain, merasa menjadi orang baik, Sebab itulah mereka bodoh". Imbuhnya dengan intonasi suara yang lebih pelan.

"Kalau saja luangkan waktu sejenak untuk berpikir betapa manusia itu kecil, kau mungkin tiba-tiba takut Nak. Takut kau mungkin pernah sombong, pernah ujub, pernah menyakiti orang lain. Dan tidak kau sadari". 

"Dan kau akan bertanya-tanya kemudian, apakah dengan apa yang selama ini kau lakukan, Allah sudah ridho?". Kali ini rautnya nampak bijaksana.

_Banyak ya, dari tadi ngomong ini ngomong itu. Tapi Nak, apakah kau paham pesan apa yang sebenernya ingin disampaikan? Carilah jawabannya Nak. Jawaban yang dewasa. Jawaban psikologimu. Bukankah kau juga masih mencari-cari arti sebuah senyum? Kamu belum mampu Nak..."

Ia meninggalkan tempat duduknya, melangkahkan kaki menuju pintu, masih dengan tersenyum. Seolah membiarkanku penasaran sendirian, mengajakku untuk berpikiir, sesuatu tentang...kehidupan...Mungkin.

Inilah Bapakku yang sesungguhnya. Penuh teka-teki. Dalam sekali bertemu, ia bisa membuatmu percaya bahwa dimasa muda ia adalah orang hebat yang penuh integritas. Tapi ia juga bisa membuatmu percaya bahwa di masa muda ia adalah seorang tak berpendidikan yang bahkan menoreh kan tanda tangan pun tak bisa. Namun yang pasti, di banyak kesempatan, kau akan dihujani dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan "Batangane opo?" (Pesan sesungguhnya apa?). Dan aku, banyak sekali jawaban yang masih misteri -_-

Bincang Bareng Ayah (BBA) #6

14.30 0 Comments
Ibu : "Temennya nggak ada lagi yang diajak kesini nduk?"
Aku : "Ada satu yang tadinya mau ikut"
Ibu : "Kenapa nggak jadi?"
Aku : "Nggakpapa, pulang berikutnya aja lah.."
Bapak : "Kamu nggak malu, ngajak ke rumah kaya’ gini?"
Aku : "Biar aja Pak, urusannya cuma berteman baik, ngajak dan menjamu semampunya.. Kecewa ya biar aja mereka kecewa"
Bapak : "Iya iya iya, makanya ada istilah “A Friend In Need Is A Friend Indeed”. Kalau dalam istilah Jawanya ya Ponakawan. Ponokawan itu temannya Arjuno. Teman seneng, teman susah, yo teman tetruko (Apa juga ini bahasa indonesianya).."
Aku : (Kalau ngomong sama Bapak kerjaannya cuma manggut-manggut aja)

Senin, 31 Agustus 2015

Bincang Bareng Ayah (BBA) #5

21.11 0 Comments
Aku : "Bapak mah sabar drono"

Ibu : "Iya nggak pernah marah"

Aku : "Lembut, rendah hati pula"

Ibu : "Menghargai orang banget"

Bapak : "Sudah sana, biyung-anak sama aja"

Kami tertawa. Bersamaan. Tahu persis sejatinya mengias saja.Haha
(Berbincang sederhana seperti ini, kami tetap bahagia)

Senin, 13 Juli 2015

Bincang Bareng Ayah (BBA) #4

08.00 0 Comments
Bapak : "Nduk, dengerin Bapak. Tak wanti-wanti (Apa ya, bahasa Indonesianya) beneran.."

Aku   : "Apa Pak?"

Bapak : "Sing Gemi.. Nastiti.. Ngati-ati"

Aku   : "Hmm..." (Padahal agak-agak lupa maksudnya)

Bapak : "Waspodo.. Waskito.. Wasis"

Aku   : "Waskito?"

Bapak : "Waskito itu berarti awas. Jeli melihat masa depan. Mempersiapkan bekal dengan baik"

Aku   : "Iya Pak"

Bapak : "Anak terakhir ndhuk. Bapak berharap, nanti jadi orang yang bisa ngasih obor sama orang yang butuh obor. Pepadhang (Penerang). Inget pesan Bapak, Bapak sudah tua. Bapak itu merhatiin kok, siapa yang selama ini selalu peduli.

Aku   : (Diam)

Minggu, 12 Juli 2015

Bincang Bareng Ayah (BBA) #3

06.51 0 Comments
Aku      : “Senyumnya Bapak tu macem-macem, luar biasa banyak maknanya”
Bapak   : “Ya itu nduk, makanya hidup itu pake PoncoPono”
Aku      : “Apa itu Pak?”
Bapak   : “Ponco itu lima. Pono itu kewaspadaan”
Aku      : “Limanya apa saja Pak?”
Bapak   : (Diam sebentar). Yang kelihatan teman itu belum tentu teman nduk. Yang kelihatan baik juga belum tentu baik. 1. Liat Gerak Eseming lambe (senyumnya bibir). 2.Liat gerak lirike mripat (pandangan mata),…
Aku      : “Bapaak, jawabnya ngawur to?” (heran ekspresi njawabnya rada aneh)
Bapak   : (Tertawa keras) Iya lha lupa
Aku      : “Ladalah, hampir saja aku percaya, sudah takzim mendengarkan”

Bincang Bareng Ayah (BBA) #2

05.55 0 Comments
Agak samar mendengarnya,

Bapak : "Kalau dibandingkan si, Hanif termasuk nggak mudah marah".

Ups, aku berbalik dengan berbinar-binar,

Aku  : "Apa Pak, apa apa?" (sambil mengerlingkan mata bertanya ulang)

Bapak : "Cah Mbedut" (anak nakal-red)

Aku  : "Heh?" (Dalam hati, ini singkat padat dan menyebalkan)

Aku berbalik lagi.Geleng-geleng kepala.

Kamis, 23 April 2015

Kau,

22.43 0 Comments

Kau, lamat-lamat terlihat di ujung persimpangan, dan aku di sini, tepat persis di depanmu.
Hanya saja, aku tak tahu,
Kau sedang berjalan ke arahku dengan melewati jalan lurus itu,
Atau berjalan ke arahku, namun harus berbelok dulu,
Atau berjalan ke arahku kemudian berbelok,
Atau justru berbelok tanpa kearahku sama sekali.
Aku benar-benar tak tahu, akankah kau mengajakku atau tidak.

Hei, kau juga sama merasakan bukan?
Langit sudah abu-abu, pertanda hujan lebat segera datang
Angin pun bertiup kencang, pertanda badai mungkin kan mengguncang

Aku harus menyelamatkan diri, dengan mengenakan pelindungku rapat-rapat
Nyatanya kau aman disana, karena badai itu datang dari arahku
Namun, jika kau merasa tak aman, segera datanglah kemari.
Pelindung itu, cukup untuk berdua, aku dan kamu
Baru kemudian kita jalan bersama :)

*Puisi Empat Bulan Yang Lalu

*Praduga yang salah, nyatanya badai itu menghilang menyatu dalam kepergian langkahmu. Dan kau, kini kupastikan aman meski tanpa pelindung.

Biarkan Waktu Kesepian

21.43 0 Comments
Tentang waktu, kadang kita terlalu rendah hati untuk bernegosiasi dengannya. Kita pasrahkan semua padanya, seolah kita tak bisa apa-apa. Lantas dengan nada sok bijak kita berkata: ‘biar waktu yang menjawab.’
Padahal waktu bisu, tak bisa berucap apa-apa, apalagi mendekatkan dua manusia.
Menjadikan waktu sebagai tuan adalah menyerahkan diri untuk habis dicincang. Sebab waktu adalah pedang yang tajam. Seribu tahun bertapa, seratus jin kita pelihara, tak kan kebal diri kita darinya. Maka patahkan ia sebelum ia menyentuhmu.
Tentang waktu, apakah kita setakberdaya itu di hadapannya? Apakah kita hanya akan termangu melihatnya berlalu, sambil menanti dan bertanya-tanya apa yang ‘akan terjadi selanjutnya’? Sebegitu lemahkah kita?
Kita lebih nyata dari waktu.
Rasanya, tak ada lagi yang perlu kita tunggu.
Bahwa samudera adalah luas, tak ada yang menolak. Bahwa langit adalah tinggi, semua sudah sadari. Bahwa aku mencintaimu, perlukah kau tanyakan lagi?
_Azhar Nurun Ala_Biarkan Waktu Kesepian_(http://azharologia.com/2014/09/07/biarkan-waktu-kesepian/)
***

#Meskipun begitu, saat ini aku masih memilih tak berdaya. Tak akan kubiarkan lepas sebuah rindu, apalagi bebas katakan cinta. Iya. Cukup diam dan simpan saja.

Senin, 20 April 2015

Ada Padamu yang Membuatku Malu

20.22 0 Comments
Kau tetap teguh berjalan,
Meski ada duri-duri yang menanti di tepian..
Meski kau lihat tapak-tapak yang terseok ditengah perjalanan..

Kau tetap kukuh dalam barisan depan,
Meski ada mozaik-mozaik terpotong sebagian..
Meski kau lihat langkah-langkah yang terhenti berurutan..

Kau tetap tegar menawan,
Meski ada batas-batas yang siap membuatmu melamban..
Meski kau lihat ranjau-ranjau datang bergantian..

Kau tetap hadirkan rekah senyuman,
Meski ada kelu-kelu seluruh persendian..
Meski kau lihat kusam-kusam wajah lain dalam kelelahan..

Kau tetap baik berkeyakinan,
Meski ada suara-suara sumbang yang sibuk menyalahkan..
Meski kau lihat satu-satu mulai menjauh perlahan..

Kau tetap jaga harga sebuah kesucian,
Meski ada celah-celah yang lebarnya kian rentan..
Meski kau lihat rona-rona indah dalam kesemuan..

Kau tetap genggam lapang dalam kelembutan,
Meski ada cerca-cerca yang melesat menumbangkan..
Meski kau lihat sorot-sorot tajam mata kekecewaan..

Kau,
Bimbing asa-asa membumbung bersama semangat perjuangan,
Tumbuhkan rindu-rindu kala jarak kadang tetiba memisahkan,
Himpun hati-hati tertaut dalam kasih sayang dan persaudaraan,


Ah, aku mulai lupa. Terimakasih, mengenalmu kembali membantu mengingatkan..

Sabtu, 07 Maret 2015

HITAM

07.34 0 Comments
Sensitif sekali dengan kata ini. Curhat ah….
#Memang, kalau nulis bau-bau curhat, mengalir banget..  Coba kali-kali nulis tentang carut  marutnya perpolitikan, yang penuh dengan analisa perilaku para politikus itu sendiri, tentang motifnya, tentang tujuannya, tentang strateginya, tentang para pendukungnya, dan bla bla bla. Semua nggak ada yang mutlak alias entah berantah kebenarannya. #Nah, kan, bingung.
Intinya, aku sedang sensitif dengan kata “Hitam”. Karena bahkan adik koskupun memanggilku dengan sebutan “Mbak Hanif bin Hitam”. Aku mengalami traumatis tersendiri mendengar kata-kata itu, mengingat banyaknya peristiwa menyakitkan yang kualami dan kesemuanya berhubungan dengan kata hitam. Haha
Hari itu. Adik lesku berbisik di telinga, dia ingin sekali bercerita. Baiklah kudengarkan, setidaknya tenagaku tidak akan terkuras habis karena ngomong terus menerus juga rehat sejenak dari menghadapi tingkah polahnya yang teramat sangat aktif sekali. Dan jreng jreng jreng, ceritanya begini “Pada jaman dahulu, ada seorang perempuan bernama Hanif. Kulitnya putih sekali. Tetapi, waktu dia berjalan tiba-tiba kecemplung kali, yang airnya lethek (baca : kotor). Karena itu, ia berubah menjadi hitam seperti sekarang”. Cerita yang menarik bukan? Aku menyadari, anak kecil itu memang selalu jujur, sepertihalnya beberapa hari lalu, ia juga pernah menyanyikan sebuah lagu special untukku. Lagu dengan nada khas anak-anak TPA “Tepuk Anak Shaleh”.  Kali ini, liriknya berubah 180 derajat. “Tepuk Hanif……” “Kulitnya……” “Hitam……” Bait  pertama yang begitu kuingat diluar kepala. Duh dek, jujur sekali kau nii, boong dikit kenapa…. Dan yang paling menyakitkan, hari pertama aku membersamainya, tanpa bersalah ia mengatakan “Aku maunya diajar mbak yang gendut, bukan mbak yang hitam”. #Lemes
Kejadian ini belum lama setelah kejadian beberapa bulan lalu, di rumah. Hari sudah menjelang siang. Aku berpakaian rapi, dengan gamis  panjang warna biru, juga jilbab warna biru tua, siap berangkat ke Jogja. Aku mendekati ayahku yang sedang duduk manis di kursi dapur, sembari menikmati satu gelas teh panas dihadapannya. Niatnya si berpamitan. Entah darimana bisikan itu datang, tiba-tiba keluar dari mulutku,
Pak, aku wis ayu kan?”. Jarang-jarang lho sama Bapak candanya ginian.
Iyo, ayu banget”. Jawab Bapak. Berasa ada angin segar yang berhembus menyegarkan telingaku. Bukan senang lantaran dibilang cantik lho ya (Aku mah tahu persis itu hanya fitnah belaka), melainkan senang ternyata Bapak menanggapi candaanku. Wajahnya tampak serius. Sempat hening beberapa detik, dan aku siap berbalik, tiba-tiba muncul kata selanjutnya,
Ireng njluntheng koyo angus dandang (baca : hitam legam bak pantat panci)”. Duh, kena pukulan telak, aku tak bisa berkata-kata, shock. Samar-samar dari luar pintu ibuku menyahut,
Ora Nduk, ora. Dandang e dewe gek kuning kae warnane, ora tau dinggo. Sing ireng wajan (baca : Nggak Nduk, panci kita warnanya masih kuning, jarang dipake. Yang hitam wajannya)”. Seolah-olah kata ayahku adahal hal yang sangat menyakitkan, dan ibu hendak membelaku. Aku hanya geleng-geleng kepala, ada-ada saja.
            Bahkan orang yang aku kagumi, meskipun sama sekali tak mengenalku tega-teganya menyindir (dramatisir lho ya). Dalam sebuah acara bedah buku, seorang peserta bertanya “Inspirasi menulis dari mana?”. Spontan beliau menjawab “Dari mana saja. Contohnya (sembari menengok ke samping), hitam pun bisa menjadi inspirasi. Adapun kualitas, yang penting kita punya pandangan spesial. Sudut pandang spesial bukan berarti, waw dan luar biasa, sederhanapun bisa. Contoh , pernah ada anak peserta workshop, menulis begini –Ada orang hitam, bajunya hitam, rambutnya hitam, kulitnya hitam, tangan dan kakinya hitam, semua hitam. Tetapi hatinya putih - . Siapa yang berpikiran menulis seperti itu? Jarang. Bedakan dengan yang menulis hitam adalah gelap, sedih, duka cita. Itu bisa jadi semua orang berpikiran sama”.
            Dan kejadian selanjutnya, saat salah seorang kawan SMA ku datang, tanpa basa-basi menyampaikan “Ncen kok kowe tambah item ya?” dan dengan basa basi aku menjawab “Tunggu aja, aku nanti mau beli make up wardah (nggak berniat ngiklan) lengkap. Dari pembersih hingga cream malam hingga sunblock hingga lipsticknya sekalian”. Haha #maklum buta make up.
            Sebenernya masih banyak lagi kejadian “menyakitkan” serupa, tapi tak sanggup lagi kuceritakan (lebay). Yang sering mengatakan aku hitam, tenang, aku bisa menyaingi kalian. #Pake cat tembok warna putih.

Kisah ini kisah nyata. Aku sebagai korban, memilih memaafkan daripada harus memendam dendam, karena, apa yang mereka katakan memang benar adanya. Hahaha *Menangis meminta dukungan “Mari menggalang koin hitam”….