Kamis, 18 Februari 2016
Kamis, 11 Februari 2016
Mbak yang satu
ini, jujurnya nggak ketulungan… Suka sekali bikin orang lain “sakit hati”….
Dialog 1
Suatu pagi yang
cerah, sesaat setelah tiba di sekolah,
“Mbak Hikmaaaa”…
Sapaku riang
“Nipoo, kamu
tu item, jelek, dekil,. Besok lagii.. Bedakan!!!” Jawabnya spontan
“Biar lah Mbak”
Kataku (Dalam hati : *%@$?$!#)^$)
Aku bergegas
pergi, masuk kelas.
Adegan 2
Suatu siang yang
terik, sembari menunggu penjual melayani
pembeli,
Mbak Hikma : “Aku tuh masih
pengin banyak curhat, tapikalau nggak dipotong, bisa lupa waktu”
Aku : “Ya udah apa Mbak, apa? Sambil
nunggu kan nggak papa lanjutinl”
Mbak Hikma : “Tapi aku udah
milih-milih orang curhatnya. Kalau masalah perasaan, cinta, nggak bisa sama
kamu” (ekspresinya sich serius gitu)
Aku : “Kenapa
Mbak?”
Mbak : “Kamu Sama
Sekali Nggak Punya Pengalaman”
Aku : *%$@?$!#^$)
Adegan 3
Suatu sore yang sendu, ketika hati menikmati seepisode kebersamaan,
Mbak Hikma : “Nipoo, tau
nggak apa kubilang tadi sama Mbak Ageng?”
Aku : “Emang
Mbak Hikma ngomong apa?”
Mbak Hikma : “Aku tuh yaa
bilang, kalau kamu tuh kamarnya selalu rapi banget”
Aku : (Tersenyum
“tumbenan nich sedikit berbaik hati”)
Mbak Hikma : “Tapi tau
nggak nipoo, apa yang kusenangi tadi aku ngomong gitu?”
Aku : “Kenapa
Mbak?” (Mulai curiga)
Mbak Hikma : “Mbak Ageng
nggak percayaaaa… ha.. ha... ha… Jadi, ngeliat kamu tu orang nggak ada yang
percaya kalau sebenarnya rapi…” (tertawa lagi, keras)
Aku : *%$@?$!#^$)
Adegan 4
Di suatu malam yang gelap, kemudian seseorang mengetuk pintu,
“Nipoo, aku mau Tanya donk, minta saran”
Mbak Hikma datang masuk kamar, sambil membawa beberapa kain flanel
“Mbak Hikma mau bikin bros lagi ya?” Tanyaku
“Iya. Kalau perpaduan yang ini sama ini
bagus mana?” Menunjuk pasangan kain flanel yang berbeda antara tangan kanan
dan kiri
“Bagus yang itu Mbak” Jawabku menunjuk tangan sebelah
kiri
“Oooh ya udah, berarti aku pilih yang ini (menggerakkan
tangan kanan). Soalnya pilihanmu itu pasti jelek”
(Aku bicara dalam hati : *%@$?$!#)^$)
***
But, actually you’re very kind
person. Terima
kasih Mbak Hikma, kuanggap kita adalah keluarga di Jogja. Selamat atas ujian sidang
thesisnya, semoga ilmu berkah dan bermanfaat ya Mbak. Jangan sekali-kali melupakan bila
kelak sudah kembali ke tanah seberang J Salam buat kampung halaman yaa nanti..
Sabtu, 30 Januari 2016
Tentang Persahabatan
Tentang cinta
Tentang perpisahan
Tentang melupakan
Tentang hujan
Sebuah kisah romantis masa depan, tahun 2050. Soke dan Lail. Aah,
ini novelnya bikin baper.
“Takdir tanpa perasaan memilih siapapun yang dikehendakinya. Mungkin, keajaiban itu datang melalui pertolongan serta doa-doa dari orang yang tidak kita kenal” #Hal.41
“Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa” #Hal.63
“Kamu tahu Lail, tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian” #Hal.227
“Hidup ini juga memang tentang menunggu, Lail. Menunggu untuk kita menyadari kapan kita akan berhenti menunggu” #Hal.228
“Orang kuat itu bukan karena dia memang kuat, melainkan karena dia bisa lapang melepaskan” #Hal.228
“…..Tapi dalam banyak hal, kebersamaan tidak hanya dari sapa-menyapa. Jika kamu bersedia memperhatikan wajahnya sekali sajasaat melihatmu, saat melirikmu, kamu akan tahu, Esok ingin sekali bicara banyak denganmu…” #Hal.247
“Ada orang yang sebaiknya menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baikjustru membawa kedamaian” #Hal.255
“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta” #Hal.256
“Ada banyak hal yang bisa saling dipahami oleh dua sahabat sejati tanpa harus bicara apapun” #Hal.271
“Lebih baik mendengar kebenaran meski itu amat menyakitkan daripada mendengar kebohongan meski itu amat menyenangkan…” #Hal.288
“Bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah-marah, tetapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri” #Hal.299
“Tapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan” #Hal.308
“Bukan seberapa lama umat manusia bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami” #Epilog. Hal.317
Rabu, 27 Januari 2016
Seperti Cermin
Tilinili
05.21
0 Comments
Jadilah dirimu seperti cermin. Tampak apa adanya, tanpa
mengada-ada. Jadilah dirimu untuk saudaramu seperti cermin. Terbuka apa adanya, berterus
terang tanpa melebih kurangkan.
Jadilah dirimu seperti cermin. Selalu jujur, dan berpaling dari
dusta. Jadilah dirimu untuk saudaramu seperti cermin. Mengatakan yang
sebenarnya apa yang berhak tersampaikan padanya, demi kebaikannya.
Jadilah dirimu seperti cermin. Senantiasa bersemangat untuk
tampil lebih indah dari waktu ke waktu. Terus bermuhasabah dan memberi nasehat
diri. Jadilah dirimu untuk saudaramu seperti cermin. Memberi nasehat dalam
sembunyi, memberi saran dalam senyap, juga menorehkan penerimaan yang hangat.
Jadilah dirimu seperti cermin. Bekerja sekarang dan saat ini,
bagaimana menjadi lebih dan lebih baik lagi. Jadilah dirimu untuk saudaramu
seperti cermin. Menyimpan aib, tiada pernah menceritakannya kepada orang lain,
kemudian membersamai memperbaikinya…
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin (lainnya), dan orang mukmin itu adalah saudara bagi mukmin lainnya, ia menjaga sawah ladangnya dan melindunginya ketika ia tiada”
“Orang mukmin itu menjadi cermin bagi saudaranya. Jika ia melihat padanya suatu aib, maka diperbaikinya”
“Seorang mukmin mengasihani dan dikasihani atau bersahabat dan disahabati. Tidak ada kebaikan dalam diri orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati”
Rabu, 06 Januari 2016
#Lebaran
dua tahun lalu, 2014#.
Sebagai bungsu 7 bersaudara, dengan 6 kakak
ipar, dengan 17 keponakan, tentu ramai sekali kalau berkumpul (meskipun
seringnya nggak lengkap). Kalau kakak-kakak saya sedikit banyak memperkenalkan
anak-anaknya (baca : keponakan) yang (tentu) sudah makin dewasa, maka saya
tidak jarang disapa dengan candaan “Sudah, tinggal satu…. Ini kapan?”…..
“Dua tahun lagi”. Terkadang jawaban itu keluar spontan saja. Biar cepat,
selesai sudah. Ya sekaligus doa sich, memang waktu itu ada keinginan untuk
menikah di usia 23. Itu artinya, tahun 2016 kaan? Hehe. (Tidak terasa, ternyata
waktu berlalu secepat ini yaaa)……
#Tahun
lalu, 2015#.
Kakak sulung menikah (untuk yang kedua, setelah
suami pertama meninggal). Duh, sedikit gimana gitu, karena ternyata sekian
banyak orang mengira bahwa yang menikah adalah saya. Hehe. Tepat di hari itu
pula banyak suara samar terdengar dari tetangga “Ya ini satu sebentar lagi,
siap lah kalau Cuma disuruh bantu-bantu”.. “Pamungkasnya lah siap-siap lagi,
tinggal kasih kode sama kakak-kakaknya, biar nyiapin”.. “Makanya
nanti yang terakhir ini, mumpung, kalau mau mengumpulkan seluruh kerabat
dekat-jauh”. #dengarnya sambil senyum-senyum aja, dalam hati, seribet ini?
Boro-boro tahu bakal seperti apa proses akad nikahnya nanti, tahu dengan siapa
aja belum J
Sudah mulai banyak terdengar kabar teman-teman
menikah, juga semakin banyak undangan berdatangan. Dari teman SD (yang memang
saat ini tinggal beberapa gelintir saja yang belum menikah), teman SMP (ini
teman sebangku juga sudah menikah), teman SMA, teman kuliah, teman di
organisasi, teman di Lazis, de el el de el el.. Sudah banyak pertanyaan “Kapan
nyusul?”. Dan seseorang berkata “Kalau sudah banyak menerima undangan,
itu artinya sudah pantas kasih undangan Mbak”
Sudah mulai asyik ngobrol dan bercanda bareng
teman terkait jodoh. Wajar kali yaa, usia awal 20-an (Iya kan? Iya? #Ini
pertanyaan untuk yang sudah lewat dari itu). Sudah mulai posting jodoh-jodohan
di media sosial. udah mulai berani bercanda-canda ringan dengan Ibu terkait
pernikahan. “Belum pernah masak besar kan, nanti masak-masak besar yaa”
#menjurus. Kalau ada dikasih oleh-oleh sama orang lain dalam jumlah banyak “Nggak
Papa, buat persiapan gawe” #menjurus. Sebelumnya tabuu, dan malu-malu
sekali kalau bicara soal ini (meski sering juga merasa buat apa). Bahkan sebelumnya
banyak yang bertanya “Haniif, pernah nggak si jatuh cinta? (Yaa pernah
lah, impossible orang nggak pernah jatuh cinta)” atau “Susah Mbak melupakan
itu, Mbak Hanif si nggak pernah ngrasain (Yaa memang, pacaran aja sekalipun
nggak pernah.heheh). Ini karena saking tidak pernahnya bahas begituan (baca : cinta-cintaan).
Sudah mulai menyentuh buku-buku tentang nikah.
“Bila Hati Rindu Menikah” – “Saatnya Untuk Menikah” – “Kado Pernikahan” –
“Psikologi Suami Istri” – “Fiqh Pernikahan” – de el el (Belum tamat lho yaa,
kan saya bilang “mulai menyentuh”). Meskipun pada kenyataannya, seringkali
hanya sebagai selingan saja, hiburan-hiburan seru. Toh, sampai detik ini,
merasa masih ‘kecil’ jauh dari ‘siap’ untuk menikah (Siap dalam definisi menuju
pernikahan itu apa sich yaa *sebenarnyabingung).
#Tahun
ini, 2016#.
Entah kenapa, saya berpikir untuk tidak
ber’basa-basi lagi soal jodoh. Dalam artian, tidak seharusnya dibawa bercanda
(yang berlebihan), dibawa topik (yang jadi obrolan tanpa tujuan), dibawa ke
medsos (yang entah apa manfaatnya).
Daripada bertanya “Kapan nyusul” mending
mendoakan “Semoga segera menyusul”. Daripada sibuk bertanya dan berangan
dengan siapa berjodoh mending sibuk memperbaiki diri, menyelesaikan tanggungjawab,
belajar banyak hal. Daripada sering mengobrol, menulis notes dan doa di medsos terkait jodoh mending
banyak-banyak doa di atas sajadah, memohon sama Allah supaya dipertemukan
dengan jodoh terbaik, di waktu yang baik, dan di tempat yang baik. Saat bingung menjawab pertanyaan “Kapan?,
yaa seperti Bapak saya menjawab kalau ada yang tanya “Saya kapan?” “Terserah
sama Allah, kan kita makhluknya Allah” (Ini tipikal Bapak saya yang memang
nggak suka bercanda beginian).
Lebih baik bukan? Sepakat kalau ada yang bilang,
semua orang tentu punya cara masing-masing untuk berusaha, berikhtiar menuju
kesana. Sepakat juga kalau ada yang bilang jodoh itu bukan lomba. Bukan pula
soal usia, paras, juga harta. Jadi, *Don’t Worry be Happy* J
Ya, sesesederhana ini saya berpikir tentang
jodoh. Sangat setuju, apa yang Tere Liye tuliskan, Jodoh itu....
1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah
menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan
trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat
aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah
menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.
2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu
betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat
menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena
alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani
kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika
besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain--itu sungguh
tiada manfaatnya.
3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong
jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas
kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah.
Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya
sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang
banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsbgnya.
Sekelas Umar Bin Khattab saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.
4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik
kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita
baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga
belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas
kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya. Nah, dengan situasi
seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau
bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian
bismillah, jalani dengan mantap.
5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia
ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata
kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia,
ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah. Tapi kita selalu
bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi,
sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang
kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien
menyerang bumi.
6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan
menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah,
atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan
bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri. Maka,
saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri
sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik
tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah
petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan2 berikutnya bagi orang yang sabar.
7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu
jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan
jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih
spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian
menjadi lebih baik setiap harinya. Lebih baik pastikan saja, semua pihak
memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah.
Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga? Dikembalikan ke masing2
pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya
adalah milik dia--soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan
dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami. Pemahaman2 seperti ini penting
loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar
pesona, tahu persis saat menikah nanti.
8. Mencari jodoh itu tidak rumit. Ini beneran
loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan
(karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi
intel perjodohan. Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat
kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek
rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang
membuatnya rumit. Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah
menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran
telah menikah.
9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal
tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel2 (apalagi novel Tere Liye), dari
film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang2 saja sama
penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian.
Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap
langgeng dan bahagia. Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting
sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah,
mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara
mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada
ternilai.
***
Panjang sekali yaa. Berharap semoga tidak ada
lagi tulisan (kegalauan jodoh) seperti ini lagi. Hingga pada saatnya nanti,
ketika memang sudah layak kembali menulis (tentang jodoh lagi) J . Sekian bicara jodoh, ada
yang lebih penting untuk segera dikerjakan J Selamat memperbaiki diri…
Jumat, 01 Januari 2016
#Shalat
mengajari kita tentang pengertian hidup yang sebenarnya.
Shalat, dalam sehari lima waktu. Berdiri - takbiratul ihram -
ruku’ – sujud - duduk diantara dua sujud – sujud – berdiri – (begitu
seterusnya). Mengajarkan kepada kita, bahwa hidup bukanlah bilangan
waktu yang berulang melainkan amal yang berulang. Iya, hakikat hidup adalah
BERULANGNYA KEBAIKAN.
Lalu, masihkah kita merasa penting dengan sebuah ‘perayaan’?
Ulangtahun? Tahun baru? #Jika hanya ikut dalam euforia sejenak, berpesta
kembang api, ramai-ramai menghitung mundur detik waktu hingga tepat
tengah malam...
Karena waktu selalu sama. Hari ini, esok, lusa dan seterusnya.
Matahari terbit, siang, kemudian terbenam berganti malam. Yang perlu berubah
adalah amal-amal dan kebaikan kita. Konsisten dengan yang sudah, melakukan yang
lebih, menjadi lebih baik di setiap waktunya.
Sejauh mana definisi
‘kebaikan’ itu? Sudahkah kita termasuk seseorang yang mengerti arti hidup yang
sebenarnya?
Iya. Selama apapun yang kita hadapi (meskipun keburukan) dijadikan
sebagai sebuah kebaikan. Semisal mendapati cela saudaranya, maka itu adalah
sebuah hikmah supaya kita tidak berperilaku sama demikian. Supaya kita tak
serta merta mengutuk apalagi membencinya. Namun, menutupi aib dengan diam,
memperbaiki celanya dengan santun serta kasih sayang.
Iya. Selama kita lebih memilih kebaikan yang lebih tinggi
nilainya. Semisal berhadapan dengan orang yang menghina kita, mana kau akan
memilih? Marah, memaafkan, atau memaafkan & membalas dengan sesuatu yang
baik. Semisal kau akan memberi, mana kau akan memilih? Memberi oranglain
sesuatu yang kita sudah tidak suka, sesuatu yang masih kita suka, atau sesuatu
yang paling kita suka. Semisal kau hendak tersenyum, mana kau akan memilih?
Senyum dengan orang yang sama ramah pada kita, orang yang diam saja, atau orang
yang .menampakkan wajah ‘judes’nya pada kita.
#Shalat
mengajari kita tentang hakikat fondasi hidup yang sesungguhnya
Shalat,
bermula dengan takbiratul ihram, diiringi ucapan yang agung (Allahu Akbar).
Tatapan tunduk pada satu arah, tertuju, fokus, tidak lain tidak bukan hanya
Allah muaranya. Mengajarkan kepada kita, bahwa
Sangat
penting menjalani hidup dengan penuh rasa takdzim kepada Allah SWT. Sungguh
keagunganNya adalah niscaya. Betapa manusia kecil, kerdil, hidup di belantara
bumi yang luas, diantara ribuan galaksi yang lebih (dan lebih) luas lagi. Tak
layak setitikpun untuk kita, manusia, menyombongkan diri.
Sudahkah kita
termasuk seseorang yang memahami fondasi hidup kita?
Iya.
Selama kita selalu menganggap besar sesuatu yang berkaitan dengan Allah.
Semisal menemui sebuah moment pergantian tahun, mana kau akan memilih?
Merayakannya atau bermuhasabah?. Semisal mendengar panggilan adzan saat
memasak, mana kau akan memilih? Berhenti kemudian shalat atau melanjutkan
memasak (alasan populer : tanggung).
Iya.
Selama kita menempatkan Allah diatas apapun. Semisal menata sebuah perasaan
kecewa. Mana yang lebih kau kecewakan, tertinggal laju kereta atau tertinggal
shalat berjama’ah?
#Shalat
mengajari kita tentang orientasi hidup yang semestinya
Shalat.
Adakah tempat di bumi yang cocok bagi hati saat sedang shalat? Sungguh tak
layak, takbiratul ihram, hatinya jauh berada dibawa keinginan ke suatu tempat,
entah perbelanjaan entah wisata, entah rumah. Sungguh tak pantas, takbiratul
ihram, hatinya dibawa ke atas sajadah. Menghitung ruas-ruas garis yang
tergambar, mengamati kubah masjid yang melengkung. Tidak lain tidak bukan,
tempat yang cocok untuk hati hanyalah akhirat. Mengajarkan kepada kita, bahwa Selalu,
jadikanlah akhirat sebagai orientasi hidup.
Sudahkah kita
termasuk seseorang yang mengetahui orientasi hidup kita?
Iya.
Selama apa yang kita lakukan di dunia adalah untuk akhirat. Semisal pada
situasi memegang sejumlah uang. Mana kau akan memilih? Menyedekahkan atau
bersenang-senang (termasuk merayakan pesta kembang api tahun baru mungkin).
Semisal dini hari, kau para pecinta bola, mana kau akan memilih? Menonton sepak
bola atau sujud dalam tahajjud. Semisal diwaktu senggangmu, mana kau akan
memilih? Membaca Al Qur’an atau meramaikan medsosmu?.
***
Ah, benar-benar
masih jauh, sangat teramat jauh.Semoga, tak lelah belajar, meski tertatih
menuju kesana :)
Tiba di
penghujung tahun,
Yogyakarta, 31
Desemmber 2015
23.20 (Asrama
hikaru)
Inspired by
Ust.Syatori Abdurrauf dalam Muhasabah Akhir Tahun JIF
Rabu, 25 November 2015
IBU,
Aku mengingat suatu
waktu di malam itu. Umurku belum genap
tujuh tahun. Aku menangis,
jungkir balik di atas kasur. Berkali kumur-kumur, berkali-kali sikat gigi,
berkali-kali teriak menahan sakit. Berkali-kali engkau menghiburku,
berkali-kali engkau mengoleskan minyak kayu putih di sekitar daguku,
berkali-kali pula engkau memberi air hangat untukku. Ah, sakit gigi. Hingga jam
menunjukkan hampir tengah malam, lebih dari pukul 11, sakitku tak kunjung
mereda, meski tangisku tinggal isakan yang tersisa. Dan engkau, masih tetap
terjaga. Mengajakku keluar, menyusuri jalanan yang gelap, menuju rumah bulek,
dan kemudian kembali lagi ke rumah. Malam itu, kita bertiga bukan? Karena Bapak
pun akhirnya ikut menemani. Tidak, tidak sembuh. Tetapi, setelah lelah berjalan,
lelah menangis, akhirnya aku tertidur. Pulas.
Sekarang, usiaku
sudah dua puluh, lebih dua tahun, lebih tujuh bulan. Tinggal tak lagi satu atap
denganmu. Hingga suatu waktu, suhu tubuhku menghangat, hari itu aku tidak
beranjak dari tempat tidur. Kukirim sebuah pesan “Ibu sedang apa?”, dan engkau
menjawab “Sehat, nduk?”, lalu kubalas “Tidak”, berlanjut perbincangan singkat
melalui telepon. Dan dikeesokan, kudapati sebuah pesan kala subuh hari “Nanti
Ibu ke Jogja sama Yaya, berangkat jam 7, charter mobil”. Deg. Sebegitukah
pedulinya seorang Ibu? Aku hanya demam biasa, hanya flu. Segera kukirim balasan
untuk meminta membatalkan rencana itu.
Iya, Tidak berubah.
Ibu, selalu menjadi orang pertama yang khawatir, siap ada dan terjaga saat kita
sakit. Meski ku tahu, engkau sendiri sering abai, dengan kesehatanmu..
IBU,
Aku mengingat suatu
hari di waktu itu. Saat matahari hampir tepat persis di atas kepala, menjelang
dzuhur. Engkau bawa setumpuk pakaian kotor di dalam ember, peralatan mandi, juga
sepasang baju bersih untuk berganti. Melesat melangkahkan kaki menuju sungai di
bawah sana. Dan pesanmu selalu sama “Nanti segera shalat ya Nduk”. Lalu
beberapa waktu kemudian, engkau pulang dengan seember pakaian yang sudah
bersih, serta menjinjing satu ember air untuk persediaan di rumah. Dan
pertanyaanmu juga sama “Sudah shalat dzuhur Nduk?”. Aku mengangguk, meskipun
tak jarang, aku berbohong. Maafkan Ibu,
Sekarang,
pertanyaan rutin saat siang itu sudah tak perlu lagi engkau sampaikan padaku. Kita
juga jarang bertemu, bukan? Kali ini, setiap senja di akhir pekan. Engkau
bergegas mengambil air wudhu, berganti pakaian, mengambil kacamata, melangkah
menuju musholla. Dan pesanmu selalu sama “Ayo ikut Ndhuk, ke musholla”.
Adakalanya aku mengangguk mengiyakan, kemudian mengambil alih komando diantara
anak-anak kecil, mengajari ngaji, bercerita, atau sekedar bermain
tebak-tebakan. Namun, adakalanya juga aku menggelengkan kepala, beralasan
capek, belum mandi, dan seterusnya. Dan juga, adakalanya aku meminta Ibu di
rumah saja, menemaniku makan sambil bercengkrama. Maafkan Ibu,
Iya, tidak berubah.
Ibu, selalu menjadi orang pertama yang mengingatkanku perihal ibadah. Ah, sudah
sedewasa ini, aku sungguh merasa malu dengan semangat ibadahmu..
IBU,
Aku mengingat suatu
masa di waktu itu. Kala rumah kita belum menjadi rumah yang sekarang. Rumah
dengan sebuah jendela istimewa di sudut dapur. Engkau tahu kenapa istimewa?
Karena aku pasti mendapatimu berdiri di balik jendela itu, saat berjalan turun
dari angkutan umum sepulang sekolah di akhir pekan. Sambil tersenyum.
Sekarang, rumah
kita tak lagi berjendela. Namun, kini kudapati keberadaanmu di depan pintu,
saat suara motor memasuki halaman, sepulang dari Jogja di akhir pekan.
Lagi-lagi, sambil tersenyum, kemudian mengulurkan tangan.
Iya, tidak berubah.
Ibu, selalu menjadi orang pertama yang menyambut kehadiranku di rumah dengan
senyumnya yang sebegitu ramah..
IBU,
Aku mengingat suatu
pagi di waktu itu. Kala aku membuka lembaran demi lembaran buku kenangan milik
salah satu kakakku. Ada sebersit harapan, ada sebuncah keinginan, untukku
mengikuti jejaknya belajar di tempat yang sama. Dalam diamku, engkau berbicara
penuh doa, semogaa. Dan ketika harap tak sampai, lagi-lagi kau menghiburku
dengan doa, semogaa.
Sekarang, sudah
bukan lagi waktuku untuk sekedar berpikir pendek tentang mengikuti jejak
pendidikan yang sama. Namun, tentang ‘hidup’ yang sesungguhnya. Tentang sebuah
kebersyukuran, tentang sebuah niat yang perlu diluruskan, tentang membangun
keluarga yang penuh kebermanfaatan, tentang menjadi pribadi yaaang
<em>baik</em> istilahnya. Dalam diamku, dalam candaku, dalam
perbincanganku kepadamu, engkau selalu menjawabku dengan kata-kata penuh doa.
Semogaa.. dan semoga..
Iya, tidak berubah.
Ibu selalu menjadi orang pertama yang doanya membumbung, melangit, berharap
yang terbaik untuk anak-anaknya.. Dalam segala situasi..
IBU,
Aku mengingat
banyak peristiwa di waktu itu. Saat datang menghadiri wisuda salah satu
kakakku, tetiba seorang anak laki-laki memukul kepalaku sambil berteriak
“bajigur”. Engkau datang, tersenyum, mengelus kepalaku. Saat untuk
pertamakalinya datang ke Jakarta, bermain-main di sebuah taman, saking
senangnya aku duduk dengan sedikit pecicilan, kemudian jatuh. Engkau datang,
membantuku bangun, mengajakku pergi, hah menyelamatkanku dari rasa malu.
Sekarang, sudah
jarang yaa, ada waktu pergi bersama. Paling-paling hanya di akhir pekan,
mengantarmu ke pasar, ke rumah saudara, atau kemanalah. Semoga, Desember nanti,
menjadi perjalanan selanjutnya berkereta bersamamu, setelah menyambangi
Surabaya dua tahun lalu..
Iya, tidak berubah.
Ibu selalu menyenangkan menjadi teman bepergian. Dimanapun, aku selalu merasa
aman. Semoga, untuk sekarang-sekarang ini, engkau juga akan merasa aman bila
bepergian bersamaku, Ibu. Meski bisaku hanya sebatas menggandeng tanganmu saat
menyeberang jalan :)
***
Seorang lelaki sedang thawaf dengan menggendong ibunya, maka laki-laki itu bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah -dengan ini- saya telah melaksanakan kewajiban saya kepadanya?” Rasulullah saw menjawab, “Tidak! Tidak sebanding dengan satu kali hentakan (saat melahirkan)!” (H.r al-Bazzar)
_Inspired by
TheGreatPowrOfMother Karya Solikhin Abu Izzudin & Dewi Astuti
Senin, 23 November 2015
Malam semakin larut. Lalang kendaraan mulai terhenti, senyap, seolah rumahku jauh dari tepi jalanan. Ada aku sedang berbaring disamping ibuku. Ada mas ipar sedang menikmati seduhan kopi buatanku. Ada bapak sedang *senyum senyum sendiri. Tak ada hiburan televisi sebagaimana orang lain saat malam seperti ini, ya, kami memang tak punya televisi. Hening sesaat
Bapak : "Prinsip kudu dicekel. Ora apik mbebedo, wong kang cacat, wong kang bandha dianggep ora duwe. Wong kang kapinteran dianggep bodho. Justru kui dadi kawigaten wong ingkang linuwih. Ngekei payung wong kang kudanan. Ngekei teken wong kang kelunyon. Ngekei obor wong kang kepetengen.Mudheng karepe?" (menatap mas ipar)
Aku : "Batangane opo mas?" (sedikit menirukan gaya bapak)
Mas ipar : *Senyum* (Ini responnya ga jauh beda sama aku, senyum-senyum aja)
Perbincangan berlanjut, dan akuu, mulai ngantuk. Ambil nasi, makan sajalaaah. hhe
Minggu, 01 November 2015
Jumat, 18 September 2015
Pagi hampir beranjak. Seiring matahari yang kian hangat, embun diatas bebatuanpun mulai mengering. Angin berhembus semakin kencang, menambah suara berisik daun-daun yang bergesekan. Langit diatas begitu cerah, awan-awan kecil berarak, dan rembulan sabit itu masih nampak dibaliknya, meski samar.
"Warna langit yang sempurna". Gumamku..
Aku menghentikan langkah persis di halaman itu, menatap sekeliling. Kuamati lekat-lekat. Pohon-pohon tinggi yang menjulang, Rindang dedaunan yang meneduhkan, Ayam-ayam yang mencari makan, Setumpuk kayu bakar yang tersusun, jugaa....seorang laki-laki tua yang duduk sendirian, tersenyum. Rumah ini masih sama. Benar-benar masih sama.
Aku menarik kursi hingga berhadapan dengan laki-laki tua itu, berharap akan kudengar kisah heroiknya di masa lampau. Bagaimana ia berjuang habis, sibuk dengan cangkulnya dari pagi hingga petang. Bagaimana ia begitu gigih memperjuangkan apa yang ia yakini benar. Bagaimana ia begitu berani bersedia melibatkan diri dalam masalah orang lain untuk mendamaikan dan memperbaiki keadaan. Bagaimana ia begitu akrab menjalin persahabatan dengan banyak orang. Ah, bagiku ia lebih dari seorang pahlawan. Tapi, tidak banyak yang tahu. Kurasa, ia memang tidak membiarkan semua orang untuk tahu.
Aku menunggu laki-laki itu bicara. Satu menit, lima menit, lima belas menit, berlalu. Kami masih dalam kebekuan yang sama, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku berusaha menerjemahkan arti senyumnya yang hingga kini tak kuketahui apa maksudnya. Aku berusaha menerjemahkan arti diamnya yang hinggi kini masih kucari jawabannya. Semakin aku berusaha menerka, kutahu, laki-laki itu semakin melebar senyumnya.
"Nak, ilmumu belum seberapa. Ilmu psikologimu belum apa-apa". Ia membuka percakapan
Aku tidak menjawab sepatah katapun. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu.
"Apalagi yang sudah tua begini Nak, lebih tidak tahu apa-apa". Sambungnya
Bukankah lebih tepat, kalau aku berpikir itu artinya dia mengatakan yang sebaliknya?
"Manusia itu tidak punya kemampuan apapun. Ia selalu larut dalam kebodohan. Merasa pintar, merasa bisa, merasa benar, merasa sudah begitu banyak membantu orang lain, merasa menjadi orang baik, Sebab itulah mereka bodoh". Imbuhnya dengan intonasi suara yang lebih pelan.
"Kalau saja luangkan waktu sejenak untuk berpikir betapa manusia itu kecil, kau mungkin tiba-tiba takut Nak. Takut kau mungkin pernah sombong, pernah ujub, pernah menyakiti orang lain. Dan tidak kau sadari".
"Dan kau akan bertanya-tanya kemudian, apakah dengan apa yang selama ini kau lakukan, Allah sudah ridho?". Kali ini rautnya nampak bijaksana.
_Banyak ya, dari tadi ngomong ini ngomong itu. Tapi Nak, apakah kau paham pesan apa yang sebenernya ingin disampaikan? Carilah jawabannya Nak. Jawaban yang dewasa. Jawaban psikologimu. Bukankah kau juga masih mencari-cari arti sebuah senyum? Kamu belum mampu Nak..."
Ia meninggalkan tempat duduknya, melangkahkan kaki menuju pintu, masih dengan tersenyum. Seolah membiarkanku penasaran sendirian, mengajakku untuk berpikiir, sesuatu tentang...kehidupan...Mungkin.
Inilah Bapakku yang sesungguhnya. Penuh teka-teki. Dalam sekali bertemu, ia bisa membuatmu percaya bahwa dimasa muda ia adalah orang hebat yang penuh integritas. Tapi ia juga bisa membuatmu percaya bahwa di masa muda ia adalah seorang tak berpendidikan yang bahkan menoreh kan tanda tangan pun tak bisa. Namun yang pasti, di banyak kesempatan, kau akan dihujani dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan "Batangane opo?" (Pesan sesungguhnya apa?). Dan aku, banyak sekali jawaban yang masih misteri -_-
Aku : "Ada satu yang tadinya mau ikut"
Ibu : "Kenapa nggak jadi?"
Aku : "Nggakpapa, pulang berikutnya aja lah.."
Bapak : "Kamu nggak malu, ngajak ke rumah kaya’ gini?"
Aku : "Biar aja Pak, urusannya cuma berteman baik, ngajak dan menjamu semampunya.. Kecewa ya biar aja mereka kecewa"
Bapak : "Iya iya iya, makanya ada istilah “A Friend In Need Is A Friend Indeed”. Kalau dalam istilah Jawanya ya Ponakawan. Ponokawan itu temannya Arjuno. Teman seneng, teman susah, yo teman tetruko (Apa juga ini bahasa indonesianya).."
Aku : (Kalau ngomong sama Bapak kerjaannya cuma manggut-manggut aja)
Senin, 31 Agustus 2015
Senin, 13 Juli 2015
Aku : "Apa Pak?"
Bapak : "Sing Gemi.. Nastiti.. Ngati-ati"
Aku : "Hmm..." (Padahal agak-agak lupa maksudnya)
Bapak : "Waspodo.. Waskito.. Wasis"
Aku : "Waskito?"
Bapak : "Waskito itu berarti awas. Jeli melihat masa depan. Mempersiapkan bekal dengan baik"
Aku : "Iya Pak"
Bapak : "Anak terakhir ndhuk. Bapak berharap, nanti jadi orang yang bisa ngasih obor sama orang yang butuh obor. Pepadhang (Penerang). Inget pesan Bapak, Bapak sudah tua. Bapak itu merhatiin kok, siapa yang selama ini selalu peduli.
Aku : (Diam)
Minggu, 12 Juli 2015
Bapak : “Ya itu nduk, makanya hidup itu pake
PoncoPono”
Aku : “Apa itu Pak?”
Bapak : “Ponco itu lima. Pono itu kewaspadaan”
Aku : “Limanya apa saja Pak?”
Bapak :
(Diam sebentar). Yang kelihatan teman itu belum tentu teman nduk. Yang
kelihatan baik juga belum tentu baik. 1. Liat Gerak Eseming lambe (senyumnya
bibir). 2.Liat gerak lirike mripat (pandangan mata),…
Aku : “Bapaak, jawabnya ngawur to?” (heran
ekspresi njawabnya rada aneh)
Bapak : (Tertawa keras) Iya lha lupa
Aku : “Ladalah, hampir saja aku percaya, sudah takzim mendengarkan”
Agak samar mendengarnya,
Bapak : "Kalau dibandingkan si, Hanif termasuk nggak mudah marah".
Ups, aku berbalik dengan berbinar-binar,
Aku : "Apa Pak, apa apa?" (sambil mengerlingkan mata bertanya ulang)
Bapak : "Cah Mbedut" (anak nakal-red)
Aku : "Heh?" (Dalam hati, ini singkat padat dan menyebalkan)
Aku berbalik lagi.Geleng-geleng kepala.
Bapak : "Kalau dibandingkan si, Hanif termasuk nggak mudah marah".
Ups, aku berbalik dengan berbinar-binar,
Aku : "Apa Pak, apa apa?" (sambil mengerlingkan mata bertanya ulang)
Bapak : "Cah Mbedut" (anak nakal-red)
Aku : "Heh?" (Dalam hati, ini singkat padat dan menyebalkan)
Aku berbalik lagi.Geleng-geleng kepala.
Kamis, 23 April 2015
Kau,
Tilinili
22.43
0 Comments
Kau, lamat-lamat terlihat di ujung
persimpangan, dan aku di sini, tepat persis di depanmu.
Hanya saja, aku tak tahu,
Kau sedang berjalan ke arahku dengan melewati
jalan lurus itu,
Atau berjalan ke arahku, namun harus berbelok
dulu,
Atau berjalan ke arahku kemudian berbelok,
Atau justru berbelok tanpa kearahku sama
sekali.
Aku benar-benar tak tahu, akankah kau
mengajakku atau tidak.
Hei, kau juga sama merasakan bukan?
Langit sudah abu-abu, pertanda hujan lebat
segera datang
Angin pun bertiup kencang, pertanda badai
mungkin kan mengguncang
Aku harus menyelamatkan diri, dengan mengenakan
pelindungku rapat-rapat
Nyatanya kau aman disana, karena badai itu
datang dari arahku
Namun, jika kau merasa tak aman, segera
datanglah kemari.
Pelindung itu, cukup untuk berdua, aku dan kamu
Baru kemudian kita jalan bersama :)
*Puisi
Empat Bulan Yang Lalu
*Praduga yang salah, nyatanya badai itu
menghilang menyatu dalam kepergian langkahmu. Dan kau, kini kupastikan aman
meski tanpa pelindung.


















