Follow Us @whanifalkirom

Senin, 29 Januari 2018

22.23 0 Comments

Ada yang seolah-olah tak mengerti dan diam tak peduli, namun ternyata diamnya adalah memastikan kita baik-baik saja tanpa harus selalu menunjukkan campur tangannya dalam setiap masalah kita, diamnya adalah doa-doa, diamnya adalah menjaga kita dari tumbuhnya hati yang luka, diamnya adalah karena kepercayaannya bahwa kita bisa..
(Terimakasih, untukmu yang memilih diam)

Source : Pixabay.com

Rabu, 24 Januari 2018

04.23 0 Comments
Seseorang berkata “Sebenarnya aku asing dengan semua rutinitas disini”. Aku menjawab “Begitu juga denganku”. Mungkin, keadaan yang sama menjadikan lebih terbuka bukan? Ia melanjutkan “Kenapa setiap pagi harus membaca yaasiin, bukan yang lain?” Aku menjawab “Sama sejujurnya aku juga tak mengerti, tapi aku hanya modal yakin yaasiin adalah surat dalam Al Qur’an, membacanya adalah sebuah kebaikan”. Jelas-jelas jawaban orang bodoh dan dangkal ilmu sih.
Masalah-masalah perbedaan dalam menjalankan rutinitas keagamaan memang tak pernah habis masa. Sebagai orang yang ‘ngikut sana-sini selama saya rasa masih oke-oke saja’ rasanya malu yaa tak tahu menahu asal sebab muasalnya begini dan begitu. Kita memang sekehendak memilih, tapi tentu memilih dengan dasar bukan? 
Baiklah, ketika aku melihatnya keukeuh dengan Al-Ma’tsuratnya disaat yang lain membaca Yaasiin, aku lebih memilih ikut membaca yaasiin (dengan tetap membaca al-ma’tsurat di lain waktu-kalau sempet :P). Ini bukan soal ‘perbedaannya’ (toh perbedaan mah nggakpapa, yang penting kan nggak saling menganggap diri paling benar dan menyalahkan yang lain), tapi sebagai evaluasi dengan begini aku rasa harus banyak menimba. Supaya, kelak nanti, jika dipertemukan dengan banyak hal lain yang semakin berbeda, semakin arif pula dalam menyikapinya J Tujuan akhir kita sama bukan? -_-
#Akhirnya tanya juga sih sama sahabat dekat yang  santri bangets, dijelaskan banyak hal, termasuk tentang Surat Yaasin yang merupakan hatinya Al Qur’an. Terimakasih J J
#Jadi inget lagu “Sentuhlah dia tepat di hatinya, dia kan jadi milikmu selamanya”… (Nah, mulailah…baper…sudah…stop)


Senin, 15 Januari 2018

23.08 0 Comments
Menyibukkan diri di dunia per-PAUD an. Menengok lembaran kertas yang pernah aku tulis, sejujurnya saya lupa persisnya kapan menulis itu. Tetapi bahkan ketika diri hampir lupa pernah menuliskannya, ketika doa-doa tak lagi sama, ternyata Allah menjawabnya, beberapa sekaligus kalau dicermati. Tetapi bahkan ketika diri masih diambang ragu, ketika pertanyaan-pertanyaan kecil melintas di kepala, ternyata tetap ada keyakinan untuk mempertahankannya. Dan semakin berjuang untuk itu. (Eh, btw kok nggak ada point menikah ya? Tapi ada point ketigabelas ding :P ).
Menjadi guru PAUD itu soal keteladanan. Bagaimana mungkin kita mengajarkan ini itu, menyuruh begini dan begitu, tapi kita justru melakukan sebaliknya. Sungguh anak-anak itu peka, sangat peka. Ada sebuah moment yang saya ingat. Suatu ketika seorang siswa mendapat lembaran kain yang saya bagikan untuk ditempel, dan beliaunya hendak memilih kain yang masih ada di tangan. Saat itu pula saya bilang, intinya, tidak boleh milih-milih. Waktu berlalu. Hingga di suatu waktu, dari luar ruangan terdengar nama saya disebut-sebut “Nanti Bu Ayu marah kalau kamu begitu”. Sontak saya keluar dan kemudian bertanya kenapa nama saya disebut-sebut, ada kata marah lagi. Dan si anak menjawab “Soalnya tadi dia pilih-pilih mainan”. Padahal dulu, si anak ini, duduknya berlainan meja dengan anak yang meminta kain tadi. Padahal, selain posisi duduk yang jauh, dulu si anak ini juga sedang asyik dengan aktivitasnya sendiri. Jika hal-hal semacam itu, yang kita anggap angin lalu ternyata terekam dalam memori anak, bagaimana dengan yang lain?
Menjadi guru PAUD itu soal kesabaran. Semua orang pasti tahu itu :D Hehe
Menjadi guru PAUD itu soal mengasah kreativitas sepanjang waktu. Seringkali saya berekspetasi sesuatu, namun ternyata harapan tak sesuai dengan kenyataan. Dalam benak, akan ada banyak hal-hal yang menarik di dalam kelas jika aktivitas sudah (saya anggap) sedemikian rupa. Namun ternyata, ohiyaa, sadar lagi, ini anak PAUD bukan anak SD yang sudah mudah di atur dan paham konsekuensi dari aturan. Hehe. Alhasil, yang saya kira luar biasa ternyata tidak begitu membangkitkan antusiasme anak, justru sebaliknya, semakin kacau suasana. Kalau sudah begini, mana plan A, B, C, bahkan D? Selalu menjadi PR yang saya sendiri masih harus terus mencari
Menjadi guru PAUD itu soal pandai-pandai manajemen waktu. Apalah arti ‘alokasi’ untuk mengerjakan yang lain, sementara masih ada anak-anak di samping? Ibu ibu anak satu saja banyak curhat, tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga kalau si anak tidak tidur. Apalagi di sekolah, yang tentu jumlah anaknya baanyaak. Sefokus-fokusnya dengan apa yang dihadapan, masih harus lirik-lirik kesana kemari, dan harus terhenti sekali dua kali tiga kali kalau tetiba ada yang bilang “Bu guru, mau pipiiisss”. Endingnya, perlu menyusun jadwal lagi untuk kerjaan di luar sekolah. Bahkan untuk urusan mencuci baju contohnya, mau tidak mau seharusnya ada list mencuci baju setiap hari (supaya sedikit, tidak menumpuk, dan tidak memakan waktu lama).
Menjadi guru PAUD itu soal melatih bakat intuisi. Melihat anak murung, belajar menebak kenapa. Menyaksikan anak ngompol di celana, belajar mencari tahu apa sebabnya. Mendengar anak bicara buruk, belajar menggali dari mana muasalnya. Mendapati anak berperilaku ‘aneh’, belajar menganalisis sumber masalahnya. Tapiii, ternyata tak berhenti sampai situ. Karena, terkadang ketika berhasil memperbaiki anak yang dianggap susah, di sisi lain gagal mempertahankan anak yang dianggap mudah. Mengamati lagi, bertanya-tanya kenapa lagi, harus bagaimana lagi…
Menjadi guru PAUD itu soal menjaga keikhlasan beramal. Apalagi kalau tanya soal berapa gaji. Hihi. Semoga Allah senantiasa mudahkan dengan pertolongan-pertolonganNya :D Jadi teringat kata Uwik suatu sore menjelang senja “Karena rahmat Allah kita bisa berbuat baik (beramal) termasuk dalam hal berdoa supaya kembali mendapatkan rahmatNya untuk kembali berbuat baik (beramal)”. Yah begitu lah ending tulisannya, jangan lupa terus berdo’a dan mendo'akan.
*  

Senin, 01 Januari 2018

2018

21.47 0 Comments
Our age is getting older #hiks…
Tidak ada kembang api, tidak ada keluar bareng teman-teman, just as usual, di rumah, dan tidur. Terkadang, hati masih menolak untuk tahu kalau tahun telah bertambah. Sekeliling kita telah berubah. Karena apa? Karena kita (saya lebih tepatnya), merasa berjalan di tempat. Baiklah semoga tahun ke depan, ada banyak kabar baik yang telah Allah skenariokan.
Resolusi? I have made it. Tidak ada yang muluk memang, lebih banyak pada bagaimana memperbaiki diri. Optimis donk. Setiap orang berhak untuk belajar.
Source:freepik.com

Minggu, 31 Desember 2017

Maskulin Family

01.14 0 Comments
Meski, tak lagi bertemu dalam tatap, bersapa dalam tawa, dan bahagia ketika saling menghina. Ternyata, permulaan tujuh tahun lalu, ketika langkah-langkah kaki kita menuju pintu yang sama, itulah juga permulaan kita saling mengikat cinta menjadi keluarga.
Tak ragu aku mengaku, bahwa bersama kalian menjadi kenangan yang semakin abadi, bahwa kepada kalian masih selalu kusemaikan rindu. Mari selalu jumpa dalam doa.
Apa kabar, Bali, Gorontalo, Banyuwangi, Jakarta, Bangkabelitung, Sragen, Morowali, Kebumen, dan Jogja?
#Kabar Jogja, masih menunggu kalian.
#Edisi masih jadi anak kost-kost an, dan rupanya, maskulin tetap tak tergantikan
#Foto bersilam-silam, saat kita masih mesra-mesranya -_-

Nah, kalau begini kan cantik semua :P


Rabu, 27 Desember 2017

Kebaikan Itu Dimana-mana#3

13.56 0 Comments
Beberapa hari lalu, sore hari menjelang maghrib, pembelajaran TPA berakhir. Tentu, kalau ada santri yang belum dijemput, kami menunggu hingga semua dijemput atau jika memungkinkan diantar maka kami antar. Dan hari itu, salah seorang santri pulang bersama saya.
Beberapa meter sebelum rumahnya, lagi-lagi terdengar suara aneh dari motor saya. Dan tiba-tiba lajunya terhenti, sangat sulit untuk maju. Setelah saya periksa, ternyata sebabnya adalah rantai yang copot. Kupersilakan dia turun, berjalan sedikit menuju rumah, dan saya bersiap memutar balik untuk menuntun motor hingga bengkel yang saya tahu (meskipun sekedar menaruh saja, karena pasti sudah tidak melayani) .
Namun, tetiba seorang laki-laki berjalan cepat mendekati saya, dan bertanya “Katanya rantainya copot Mbak?”. Tidak lain adalah ayah dari santri yang tadi pulang bersama saya. Dengan sigapnya beliau memperbaiki rantai yang copot, dan membawanya ke bengkel milik saudaranya, karena kata beliau, sudah bisa jalan tapi masih rawan dan lebih baik dibawa ke bengkel dulu. Saya hanya berdiri manis menanti, dan pulang dengan terimakasih.

Conclusion:Sejatinya, kita hanya perlu yakin bahwa pertolongan Allah itu selalu dekat. Selalu ada cara bagi Allah untuk menolong hambaNya dimanapun kita berpijak, dalam setiap masalah apapun yang sedang kita hadapi ❤

Kebaikan Itu Dimana-mana#2

12.30 0 Comments
Sabtu sore, dua pekan yang lalu. Satu hari sebelumnya, saya sudah memberi kabar ke orangtua besok saya akan pulang ke rumah, sekalian perjalanan pulang dari menghadiri walimah rombongan sekolah di Kebumen. Waktu benar-benar tidak sesuai dengan yang saya estimasikan, awalnya saya pikir maksimal pukul tiga sudah berakhir acara, namun ternyata sudah hampir pukul lima sore masih berada di lokasi. Awalnya ragu batal atau tetap pulang. Namun, karena orangtua sudah kembali menanyakan, akhirnya saya tidak tega untuk tidak pulang.
Terimakasih kepada rombongan yang akhirnya lewat utara (tentu memakan waktu lebih lama untuk sampai di Jogja karena jalanan padat dan susah bagi bus besar untuk konstan melaju kencang). Lepas maghrib di Purworejo, tidak ada bus ataupun kendaraan lain menuju jalan pertigaan persimpangan rumah (tempat mas biasa menjemput). Penjual sate di sekitar lokasi saya menunggu kepastian tersebut (hehehe), berbaik hati menelfonkan sopir bus yang biasa berangkat paling terakhir (dan ternyata tidak jalan hari itu). Penjual sate itu pun memanggilkan salah seorang ojek dadakan (karena profesi sebenarnya bukan ojek) yang kemudian mengantarkan saya.
Perjalanan lancar, Alhamdulillah. Penampilan si Bapak itu “serem” sih, dengan rambut panjang dan ikalnya mengenakan blangkon, bercelana pendek, dan kaos oblong. Tapi, ramah. Beliau mengatakankan “Kalau butuh bantuan jangan sungkan-sungkan Mbak, saya selalu ada disana (dijelaskan pula tempat detailnya dimana beliau bisa dicari)”. Bahkan beliau meminta maaf kalau ada yang tidak nyaman, lah lah nggak salah apa-apa.
Sebenernya cerita “ojek” ini tidak terjadi kalau tidak ada miskom dengan kakak saya. Kakak saya memang sudah hendak menjemput di Purworejo, dan saya baru ngeh beberapa menit setelah turun dari ojek. Baiklah, tak mengapa

Kebaikan Itu Dimana-mana#1

12.09 0 Comments
Ahad sore tiga pekan yang lalu, saya berangkat dari rumah menuju Jogja. Sebelum memasuki perbatasan Purworejo-Jogja, saya melaju cukup pelan, karena jalan yang relatif sempit, sementara bus antar kota dari arah berlawanan seringkali berkecepatan luar biasa, saling menyalip menghabiskan ruas jalan. Hati-hati, dan aman seperti biasa.
Di tengah perjalanan, saya menjumpai kegiatan karnaval jalan (entah dalam rangka apa) yang barisannnya sangat panjang, sehingga menimbulkan kemacetan. Ada suara-suara aneh dari sepeda motor saya, apalagi seringnya rem dan gas bekerja. Hingga bunyi semakin nyaring, dan tiba-tiba motor mati, tidak lagi bisa distarter. Baiklah.
Saya menepi, tidak beranjak hingga karnaval selesai, dan jalanan mulai lengang, toh sedang tidak shalat pun. Maghrib sudah lama berlalu. Tadi, orang-orang bilang, bengkel masih sangat jauh, apalagi ahad banyak yang tutup (dan sudah sore). Tapi, tidak ada solusi lain, selain mulai bergerak mencari bengkel bukan? Tidak sejauh yang saya bayangkan, Alhamdulillah.
Obrolan demi obrolan mulai tercipta dengan Si Bapak yang menjaga bengkel. Ternyata beliau berasal dari kecamatan yang sama dengan saya. Hingga Bapak selesai memperbaiki motor, dan saya hendak berterimakasih membayar, beliau berkata “Bayar olinya saja Mbak”. “Total berapa Pak?”. Tidak usah Mbak, saya cuma mau bantu. Semoga Mbaknya nanti kapan-kapan datang ke sini lagi, bukan karena macet, tapi karena silaturahim, mampir bersaudara   Ya Allah, Si Bapak ini, terimakasih banyak

Minggu, 17 Desember 2017

Ketika Dia Menghadirkannya

22.46 0 Comments
Aku tidak mengkhawatirkannnya, apalagi mengkhawatirkan rencanaNya, yang paling aku khawatirkan adalah kerapuhan diriku. Rapuh dan tidak kuat menahan hati dari membesarnya prasangka terhadapnya, sehingga lupa bahwa yang mengetahui kadar kebaikan manusia adalah Dia. Atau. Rapuh dan tidak kuat menahan hati untuk tidak luluh pada perasaan simpati terhadapnya, sehingga lupa bahwa muara segala rasa haruslah karena Dia.
Aku tidak mengkhawatirkannya, apalagi mengkhawatirkan rencanaNya, yang paling aku khawatirkan adalah lemahnya diriku. Lemah dan tidak bisa membedakan kebaikan yang dia bawa atau justru sebaliknya. Karena aku tahu aku bukan orang baik, yang sedang merenda semangat untuk belajar menjadi baik. Rentan dalam segalanya.
Maka, satu-satunya pilihanku adalah terus berjalan mendekat padaNya meskipun dalam keadaan hina. Dan Dia akan berlari mendekat, menuntun kita melalui pilihanNya yang tidak akan pernah cacat. InsyaAllah

Minggu, 03 Desember 2017

01.24 0 Comments
Katanya, merasa banyak dosa itu jauh lebih baik daripada merasa banyak amal. Merasa banyak amal mendorong untuk sombong, merasa banyak dosa menuntun untuk banyak bertaubat. Lantas, bilamana kita memang benar-benar banyak dosa bagaimana?
#Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Innallaha la’afuwwun ghofuur#

Source : pixabay.com

Minggu, 29 Oktober 2017

Aku, Anakmu

01.34 0 Comments
Sekali dua membuat kecewa, mungkin segera dilupa. Tapi, jika beruntun sebabkan luka, bagaimana hati akan kembali berucap maaf atas alfa?
Berulang kali janji pada diri, bahwa setiap salah dalam laku, ini untuk terakhir kali... 
Dan sebagai anak, adakalanya tak ingin pulang sebelum menjadi berarti. Merantau jauh ke kampung seberang, tanpa banyak bersapa untuk belajar mandiri. Agar tak ada yang khawatirkan bagaimana hari-hari akan terlewati, cukup percayakan saja tentang apapun cara yang kupilih untuk mempertanggungjawabkannya nanti.
Namun, aku terduduk lesu. Mengingatnya dalam sekejap rindu, tapi di sepanjang waktu. Keriput wajahnya, sayu matanya, putih seluruh rambutnya, juga, kurus tubuhnya. Siapa aku? Tetaplah perempuan bungsu yang tumbuh besar karena segenap pengorbanannya. Yang setiap kali beliau berkirim pesan bertanya kabarku, sering air mata kemudian jatuh menderai satu-satu.
Air mata terima kasih, air mata maaf, dan air mata do’a. Menyimpul yang terurai, mencipta segala tanya yang harus segera kucari jawabnya “Bagaimana caraku menjadi putri yang baik untukmu?”

Senin, 02 Oktober 2017

01.19 0 Comments
Berikan ruang di hatimu untuk menengadah ke langit. Sesungguhnya, ketika Ia menggerakkan lisan dan hati untuk berpeluh meminta, itulah pertanda bahwa Ia berkehendak mengabulkannya. Bila kelu, cukuplah permintaan atas ampunan dosa-dosa. Karena bagi pemilik hati, sayang datang untuk para peminta, bukan sebaliknya.
Source : Pixabay.com

Minggu, 01 Oktober 2017

01.14 0 Comments
Tiada yang lebih syahdu daripada memelihara cinta (dan rindu, tentu saja). Ketika sebab dihadirkannya membuat detak semakin berpacu, lalu kau simpan rindunya dalam do’a-do’a. Maka, jika ada saat dimana hati hilang peka, mati rasa, tiada gelora, biarkan ia mencari kemana hilangnya cinta...
Source : Pixabay.com

Rabu, 13 September 2017

15.25 0 Comments
Beberapa waktu lalu, seorang kawan ngajar, mendadak izin (kami aja yang baru tau sih). “Ada acara di rumah penting banget” katanya begitu, tanpa menjelaskan lebih detail. Dasar kepo. Aku mendesak bertanya, menurutku hal penting pake banget berkaitan dengan rumah itu cuma dua, satu-kesehatan orangtua, dua-nikah dan segala persiapannya. “Lamaran”, tebakku begitu saja setengah memaksa jawaban. Dia bungkam--------tapi tebakanku akhirnya ketahuan benar :P (prolog yang tidak nyambung dengan tulisan di bawah)
***
Ngomong-ngomong soal pulang dan menikah, ada yang sore ini juga mau pulang kampung sebagai calon pengantin. Partner in crime, sebut saja dia begitu. Duh duh, sebagai orang yang selama tujuh tahun bebarengan, yang tak sungkan saling berkunjung, yang selalu membantuku, yang selalu menyemangatiku, yang enak buat ngeluh, yang..….nggak bakal selesei kalau diteruskan.
Sedih nggak? Sedih banget, sedih. Nanti mau bilang, “Aku nginep tempatmu malam ini” sudah nggak mungkin. Mau bilang “Ayo besok pulang sekolah meet-up / nyoto / nyeblak / nongkrong depan kopma / temenin ke….” sudah penuh pertimbangan. Mau curcol panjangpanjang juga sudah mikirmikir. Apalagi ngajak mbolang sembarangan, sudah tak punya nyali. Hehe. Dan aku yakin, dia juga akan mengurangi banyak hal yang perlu disampaikan padaku (tentu, sudah ada yang lebih berhak mendengarkan).
Tapi bahagia? Jelas. Sesedih-sedihnya, excited banget. Apalagi melihat dia yang berubah bijak kali ninggalin kawannya. Hehe. Sudah keren kalau ngomong takdir, udah bisa nasehatin buat ‘melirik’ yang dekat (jangan-jangan jodoh di situ, haha), udah bisa bilang soal waktu yang cepat berlalu, udah bisa ngrasain rasanya nggak percaya tinggal menghitung hari, begitulah. Ada syukur yang luar biasa melihatnya, sembari sesekali ingat dia, tiga-dua-bahkan satu tahun lalu. Sudahlah, hari-hari ke depan akan ada yang menjaganya, laki-laki yang dari kacamataku cukup bersahaja (meski sempat skeptis gegara ada suatu masa si laki-laki itu memanjangkan rambutnya, wkwk).
Baiklah, aku yakin tak akan ada yang berubah dari dia, selain status dan perannya. Eh ada ding, harus, jadi perempuan lebih baik dari sebelumnya, istri, ibu, dan teman sholihah :P. Dia yang lebih dewasa dan bijaksana dalam bersikap, dia yang semakin sederhana, dia yang hilang mudahgalaudanmutungannya (sudah aman kawan-kawan, kan sudah ada pelampiasan.hehe), bahkan kini sudah nampak perlahan perubahan-perubahan itu.
Doaku menyertaimu… Maafkan untuk tidak bisa hadirnya aku… Semoga dilancarkan sampai pada waktunya, dimudahkan segalanya, menjadi rumahtangga yang barokah, penuh cinta dan bahagia dunia-akhirat Riaa… (dan Pakdhe)... Aamiin
Yogyakarta, 13 Sept 2017

With Love,

Minggu, 10 September 2017

Resensi : Awe - Inspiring Me

01.45 0 Comments
Judul Buku : Awe – Inspiring Me

Penulis : Dewi Nur Aisyah

Tebal Buku : 231 Hlm

Penerbit : Ikon

ISBN : 978-602-74653-4-3
Untuk para muslimah muda, para pembelajar menjadi sholihah, bacalah buku ini. Secara umum, kesimpulan yang bisa ditarik mungkin sederhana dan familiar, tetapi sangat tepat untuk mengurai kembali niat, motivasi, tujuan, dan langkah dalam hari-hari yang kita jalani. Ditulis oleh seorang muslimah yang prestatif, tentu didalamnya sarat akan semangat menjejak prestasi, dengan tetap menyandang gelar muslimah sejati.
Hidupmu adalah pesan bagi dunia. Buatlah hidupmu menginspirasi. Dan ingat, kamu adalah penulis buku kehidupanmu di akhirat. Pastikan buku itu berarti untuk dibaca
Diawali sebuah prolog singkat, buku ini menyampaikan pesan, seperti apa seorang muslimah seharusnya.

Ia menempatkan Allah di atas segala-galanya. Niatkan seluruh aktivitas untuk Allah. Pasrahkan segala ikhtiar pada Allah. Optimis atas pertolongan Allah. Dan yakin segala kejadian adalah ketetapan terbaik dari Allah. Meletakkan cinta pada Allah yang utama, dan konsekuensinya adalah ikuti apa yang Ia perintahkan, serta jauhi apa yang Ia benci.

Ia seimbang dalam hal dunia dan akhirat. Muslimah tidak kuper, tidak terbatas ruang gerak, ia mulia dengan sebanyak-banyak ilmu yang dipunya, sebanyak-banyak karya yang mampu dicipta, setinggi-tinggi prestasi yang digapai. Sebab itulah, ia jeli dalam berperilaku dan menghindarkan diri dari yang sia-sia. Menyadari bahwa hidup tak semestinya mengalir, melainkan penuh dengan rencana. Sebab itulah, ia terus melangkah tanpa berputus asa, meski tak sekali dua dihadapkan pada kegagalan dan rintangan yang begitu beratnya. Namun, pada satu titik takdir Allah pasti akan membawa, yaitu manis pada akhirnya.

Jumat, 01 September 2017

Hati yang tersentuh

04.08 0 Comments
Terkadang, hati itu mudah sekali tersentuh, dengan sebab yang…. sesederhana itu,
Ketika ada seseorang yang memilih berhenti sejenak, mempersilakan kita yang hendak menyeberang.
Ketika ada seseorang yang menghampiri, melihat betapa lamanya kita mengeluarkan sepeda dari tempat parkir.
Ketika ada seseorang yang tiba-tiba berkunjung, demi memastikan kita baik-baik saja.
Apalagi itu mas-mas muda, ganteng pula. #eh, itu mah lain cerita, baper akut  versi sinetron

Sabtu, 12 Agustus 2017

21.29 0 Comments
Berjalan itu... Maju. Sekali waktu, menengok ke belakang, boleh lah. Berhenti, juga tak apa. Mau pelan, biasa, atau berlari tergantung kemampuanmu. Eh, eh, kamu sudah tahu kan kemana langkah kaki hendak kau bawa? Kalau belum, menepilah sebentar untuk tentukan tujuanmu. Yang pasti, jangan sampai melangkah mundur, pusiing.... #tetaplahmajuhinggasampai#
Source : Pixabay.com