Follow Us @whanifalkirom

Jumat, 02 Juli 2021

"Lion"

22.21 0 Comments

 


Saat dimana kami tidak faham dengan Rara. Tetiba dia “khaaawwww” berulang kali.

Kami sedang memandangi arah jendela dan sesekali membicaraka pesawat yang berjajar di luar sana.

Oh 

Lama-lama kami mengerti. Rara menyimak dan merespon pembicaraan kami. Dia sedang menirukan suara “lion”. Bedanya, lion yang kami bicarakan adalah lion pesawat, sedang lion yang dimengerti Rara adalah lion singa.

Baiklah..

#kisahkeluargakecilkami

Rabu, 10 Februari 2021

Terimakasih

00.06 0 Comments

 

Terimakasih untuknya.

Yang selalu memastikan hari-hariku berjalan baik-baik saja, mulai bangun tidur-hingga kembali tidur.

Yang selalu mengorbankan waktunya, selalu pulang di sela-sela jam kerja, demi aku yang memintanya untuk menjaga Rara sebentar saja.

Yang selalu lembut, tidak pernah menyuruh ini-itu, bahkan memintaku menjahitkan celananya yang sedikit robekpun tidak.

Yang selalu menemaniku kala aku tidur larut, tidak mempermasalahkan kala aku terlambat bangun.

Yang tidak pernah protes sama sekali aku tak masak, tak menyiapkan makanan apa-apa di rumah, kemudian mengalah keluar membeli sesuatu untuk dimakan.

Yang dengan mudahnya membantu mencuci baju, mencuci piring, menyapu halaman, membersihkan kamar mandi. Tapi tak pernah lipat baju, karena bagiku lipatannya tak pernah rapi. Hehe

Dia memang banyak kurangnya. Banyak juga sikap yang aku tak menyukainya. Samahalnya aku, tentu. Tapi terimakasih, selalu menjadi laki-laki yang selalu belajar menjadi lebih baik setiap harinya. Mari selalu bahagia. 💗💗

#kisahkeluargakecilkami

Senin, 18 Mei 2020

Rara~

21.02 0 Comments



Sudah lama tidak iseng menulis, tahu-tahu Rara sudah besar. Melihat foto-foto lama ketika baru pertamakalinya dia lahir, terharu. Terimakasih yaa, selalu menjadi teman ibuk kemana-mana.

Masih ingat persis awal tahu hamilnya.
Waktu itu kakiku capek, rasanya beraaaaat sekali menopang beban tubuh. Ah, mungkin saja itu hanyalah akumulasi dari capek usai mudik Sumatra yang memakan waktu puluhan jam naik bus. Perjalanan terjauh selama ini. Sempat satu hari ijin untuk tidak masuk mengajar, periksa ke dokter, dan dibilang radang sendi pangkal paha. Wah. Minum obat dari dokter sudah, berkurang, tapi tak seberapa. Menyadari bahwa aku juga terlambat menstruasi, “Jangan-jangaaaan aku hamil”. “Tapi, tidak-tidak, terlambat juga wajar kan kalau kondisi badan sedang capek”. Genap delapan hari terlambat, daann memang garis dua. Alhamdulillah, senang sekali kala itu.

Jika kamu merasa mual, lebih mudah capek, perut tidak enak, pusing, dan keluhan lainnya. Selama kamu masih bisa tertawa, dan menahan itu semua, maka itu wajar sewajarnya orang hamil. Kecuali kamu merasa sakit perut yang tak tertahan hingga bahkan pendarahan, atau pusing yang diluar batas”. Kata bidan tempatku periksa pertama kalinya. Jadi? Kehamilanku cenderung kubawa santai, jarang sekali control (bahkan kalau orang bertanya usia atau ukuran janin, aku tidak tahu), Tidak ada satupun obat / vitamin tambahan yang aku minum. Aku masih kuat mengangkat benda-benda yang agak berat. Aku masih sering minum es (yang kalau ibuku tahu pasti akan marah), dan banyak hal lainnya yang mungkin bagi sebagian orang “pantangan”. Bagiku yang penting, tetap hati-hati, jaga kesehatan, dan serahkan penjagaan sepenuhnya padaNya. Udah, itu saja. Alhamdulillah.

Sekarang Rara sudah gede. Sudah suka teriak-teriak. Sudah merangkak, dan akan semakin cepat langkahnya sambil tertawa lepas kalau dikejar. Sudah bisa marah kalau barang yang dipegang diambil. Suka nggak sabaran kalau makanan sudah terlihat tapi belum disuapin. Suka sengaja membenturkan kepalanya sendiri pelan-pelan kalau nemu tembok. Sudah pandai geleng-geleng, dan tepuk-tepuk. Sudah lincah berbalik arah kalau tetiba denger openingnya video Nusa dan Rara. Sudah respon cepat kalau dipanggil. Suka menggenggam barang-barang kecil yang disukainya, sampe dibawa tidur. Takut sama boneka, takut sama mainan ­cow­ yang bisa jalan sendiri, takut sama ayahnya yang habis potong rambut. Dan tentu masih banyak hal lain, yang kami, sebagai orangtua selalu belajar dari proses tumbuh kembangnya. Terimakasih Rara

Yogyakarta, 18 Mei 2020


Kamis, 23 April 2020

Awal Weefha

11.05 0 Comments
16 Maret, hari pertama siswa belajar di rumah, tapi seluruh educator masih masuk. Hari-hari berikutnya, kami masuk bergantian. Seminggu kemudian, full semua educator melakukan pembelajaran dari rumah masing-masing. Masa pandemi seperti saat ini, Madrasah tempat saya mengajar terbilang awal mengeluarkan surat edaran untuk meliburkan siswa-siswa beserta gurunya. Eh, bukan libur, bukan. Belajar di rumah. Bukan hal mudah bagi kami (lebih tepatnya saya ding) menjalani keadaan seperti ini. Sebagai educator, yang Alhamdulillah difasilitasi Madrasah untuk beradaptasi dengan cepat, menjalani ritme yang jauh berbeda dari sebelumnya. Pembelajaran berganti melalui video yang diunggah melalui channel youtube, bertemu muka briefing alias meeting melalui zoom, stay melayani per-online nan whatsapp grup kelas sedari pukul 09.00-17.00, nge-submit daily report melalui google form tiap sore, daaaaannn disamping itu, karena kerja dari rumah, artinya di saat yang sama saya merangkap sebagai seorang istri, dan ibu.
Bosan? Tentu. Berkali-kali saya punya niat untuk mudik kampung halaman (mudik atau pulang kampung yaa?), tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, urung. Berkali-kali mengajak keluar suami hanya sekedar berkendara sepeda motor, mengelilingi jalanan, tanpa singgah kemana-mana. Berkali-kali kami meributkan hal-hal yang tidak penting, soal manajemen waktu yang bagiku amburadul banget. Berkali-kali, bertanya dan menebak-nebak sampai kapan keadaan seperti ini akan berakhir (tapi tak terjawab).
Sabar”. Pada akhirnya kata itulah yang kemudian keluar sebagai jurus pamungkas. Bisa jadi, saya sering berharap untuk kembali ke rutinitas mengajar seperti biasa, namun bagi mereka yang masih harus berangkat bekerja, mungkin justru sebaliknya. Menginginkan berkerja di rumah karena lebih aman, dan tidak lagi was-was. Karena, keluar rumah berarti lebih rentan tertular. Itupun masih harus bersyukur, masih bekerja. Banyak di luar sana yang sedang bingung harus bagaimana karena mereka menjadi korban PHK, ataupun usaha kecil lain yang terdampak dan harus off sementara. Kita semua berproses, kita semua akan menjadi lebih baik. Yakini saja.

Positifnya, Rara fulltime bersama emak-bapaknya

Jumat, 28 Juni 2019

Pengingat Kebersamaan

18.33 1 Comments


Aku tidak tahu dalam kehidupan pernikahan orang lain. Tapi, yang seringkali terjadi dengan pernikahan kami, pihak yang harus ‘menang’ adalah aku, pihak yang harus ‘kalah’ adalah suami. Begitu pula dengan pihak yang harus ‘benar’ adalah aku, pihak yang harus ‘salah’ adalah suami. Pihak yang berhak ‘marah’ adalah aku, pihak yang harus ‘sabar’ adalah suami. Padahal –mah- ya tahu sendiri lah,...
Apa yang quotes bilang memang benar, jika perempuan salah, kembali ke pasal satu (perempuan selalu benar)… #Semoga ini bukan mengumbar aib yaa, kami sedang sama-sama belajar. Hehe

Ada hal yang seringkali aku ingat,
Suatu kali suami hendak bepergian, dan keadaanku sedang marah. Beliau tak segan-segan mengatakan “Aku mau pergi, kalau ini pertemuan terakhir kita gimana?”. DEG. Pernyataan yang sungguh aku tidak suka. Pernyataan yang seketika membuat hilang semua amarah. Meski sambil tetap sedikit gengsi untuk berbaikan, tapi hey ini sambil menahan air mata loh. Tidak terbayang, bagaimana menyesalnya andai hal itu benar terjadi.

Padahal, sejatinya setiap kita memang sedang menunggu antrian untuk ‘pulang’. Entah kapan, entah siapa yang terlebih dulu meninggalkan, entah siapa yang akan kehilangan. Setiap kita, pasti akan memiliki perjumpaan terakhir dengan orang-orang yang kita kasihi.

Maka, semoga akan terus menjadi pengingat, bagaimana cara kita merenda kebersamaan untuk hari-hari selanjutnya. Sebelum terpisah sejenak, dan semoga dijumpakan lagi kedalam surgaNya. Aamiin

Rabu, 19 Juni 2019

Maisy's Year

14.26 0 Comments

Tittle : Maisy's Year
Author : Lucy Cousins
(This book is collected by Afkaaruna Library)






The lesson that can be taken from the book is :

1. Mengajarkan anak untuk sayang binatang
In spring, Maisy looks after all the baby animals -Blue birds, chicks, horse and foal (anak kuda), bats, snails, owls-

2. Mengenalkan anak dengan beberapa keanekaragaman hewan laut
What does charley catch? -Crab, starfish, octopus, fish-

3. Mengajarkan anak untuk sayang tumbuhan
In autumn, Maisy and Cyril gather the harvest - Pumpkin, onion, turnip, carrot-

4. Mengenalkan anak dengan beberapa pekerjaan rumah
What does Maisy like doing all year round? -Cooking, cleaning, reading with panda-

***



Selasa, 18 Juni 2019

Clownfish's Adventure

14.09 0 Comments

Tittle : Clownfis's Adventure
Author : Steve Parish
(This book is collected by Afkaaruna Library)













The lesson that can be taken from the story is :

1. Menjadi partner yang baik dan memberi support untuk orang di sekeliling kita
"Come on white stripe, let's explore". Asks blue stripe to white stripe (Shy's clownfish and never left his home before)

2. Menjadi partner yang bisa dipercaya
"Will you promise to stay beside me?" ----- "Yes yes yes"

3. Berkelanalah. Ada banyak hal di luar sana yang mengagumkan
Dolphin swims straight up to the top af the water and disappear. White stripe and blua strip are very puzzled. Dolphin crashes back the sea and both of the clownfish jump in fright.
In the excitement, white stripe has forgotten he was ever scared of leaving home

3. Jangan takut mencoba, berat hanya di langkah pertama
White stripe says, "That was fun! Can we do it again?"


***



Selasa, 05 Februari 2019

😍

07.47 2 Comments

Misua    : “Nggak nyesel nikah sama aku?”
Aku        : “Kenapa tanya gitu? Lah kenapa aku harus nyesel?”
Misua    : “Kamu kan banyak lebihnya”
Aku        : “Lebih dari mananya?”
Misua    : “Tuh lebih tua misalnya”
Aku        : “Oooh… Baiklaaah... (geram.wkwkwk)”
Hanya percakapan di suatu hari. Karena mau menulis yang romantis sedang tidak beride. Hehe. Terimakasih untuk tiga bulan bersama. Terimakasih juga, untuk yang kemudian sudah hadir menemani kami. Sehat-sehat di perut yaa :)

Pojok Preschool #1

07.07 0 Comments

Rambutnya keriting. Ceritanya banyak. Suaranya cempreng. Sekali bicara dengan suara keras, sekeliling seolah menggelegar. Kalau ndak keturutan, nangisnya kenceng, tapi rada palsu gitu, sering tak berairmata. Beberapa memanggil dengan sebutan "kiting", sebagian yang lain memanggil "kiwil", sebagian lainnya memanggil "incess", tapi dirinya sendiri maunya dipanggil "Aqilla". Ternyata, harapan memang tak selalu sesuai kenyataan :). Sabar ya Nak.....

Abaikan paragraf di atas.
Cerita sesungguhnya bukan itu... Toh pada nyatanya, gaya imut dan kelucuannya selalu mengalihkan duniaku :)

#Cerita satu
Suatu hari, salah satu educator  di kelas bermain playdough. Bukan bermain sendiri tentunya, beliau membersamai anak-anak. Sayangnya playdough tersebut agak lengket, hingga banyak sekali yang menempel di jilbab dan susah untuk dibersihkan. Tidak disangka, dia mendekat, sambil mengusap-ngusap. "It's Okay Bu Vera, it's okay. Kotor sebentar yaa, nanti habis pulang dicuci dan dibersihkan"...

#Cerita dua
Naptime, waktunya tidur siang, istirahat. Maka, tugas mendampingi anak sudah beralih, dari educator ke nursery. Namun, rupanya kelekatan memegang peran penting, dia sering menolak, dan meminta educator tetap menemani hingga lelap tidurnya. "Bu Ayu sama Bu Vera mau pergi? Nanti aku nangis loh kalau ditinggal. Aku kan merasa sendirian. Nggak kasian sama aku?"

#Cerita tiga
Hujan deras. Aku sudah siap mengenakan jaket, merapikan barang-barang, dan menggendong tas. Berkali-kali kutengok jendela, berharap turunnya air sedikit mereda. Dia datang dengan senyum menggemaskan "Hihi, Bu Ayu kasian. Nanti bareng aku aja. Pake mobil ayah. Nanti di rumah aku pinjemin buku loh, bukunya banyak"

Nggak ada yang penting ya ceritanya? hehe
Eh ada, intinya aku pengin bilang, rasa empati pada anak itu bisa dibentuk dan bisa diasah sejak sedini mungkin. Jangan ragu, ajarkan padanya :)

Dan nama dia sesungguhnya, Anaya. Kamu bisa tebak dia yang mana? :)

Kamis, 30 Agustus 2018

Untuk Desi

14.24 0 Comments

Entahlah, ini akan menjadi surat ke-sekian yang sampai ke tanganmu. Tujuh? Enam? Tidak ingat persis.

Mau minta apa?” Tanyaku hari lalu. “Surat”. Katamu. Dan kau akan tunggu, di sini (jangan lupa tinggalkan pesan-ala ala ngiklan).
Sejujurnya, pikiranku sedang habis ide untuk merangkai kata-kata. Sudah lama tidak baca novel Des, hehe. Tapi, pada akhirnya, aku banyak menulis sembari berkereta. Dan mengesankan.

Entah sampai mana perjalananku kali ini, sejenak kutengok di balik kaca. Pepohonan berjajar rapi, tidak rendah tidak pula tumbuh begitu tinggi. Hamparan sawah kering, padi-padi yang tampaknya usai dipanen, juga, bukit-bukit kecil tumpukan jerami yang menguning.

Apa yang harus kusampaikan padamu, sholihah?
Ucapan selamat? Ah, apalah arti bilangkan angka yang semakin menua. Bilangan angka hanya akan berarti bila bilangan amal baik juga bertambah dan bernilai di mataNya
Pujian? Ah, apalah arti pujian. Sedang antara kita sudah sama-sama tahu, sama mengerti, tentang baik-buruk juga kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hakekat terpenting adalah penerimaan yang tulus bukan?
Nasehat? Ah, apalah arti ucap nasehat yang berurai-urai. Sedang sepanjang hari, di setiap detik-detik yang terlewati, kita sama-sama sedang belajar mengambil nasehat.
Do’a? Jangan kau tanya lagi soal ini. Betapa doa yang mengudara selalu menjadi bagian yang paling kunanti dan yang paling menenangkan hati. Maaf jika tak sepanjang doaku mengingatmu, tapi percayalah, wajahmu kerap muncul, namamu tetap sering, harapanmu tetap coba kuurai.

Baiklah. Mari kita mengingat kenangan saja. Tentang Saksi-saksi bisu.

24. Kali pertama kita bersua sepertinya kau masih berbilang belasan ya, 18. Enam tahun sudah berlalu. Kos Maskulin. Kamar dekat pintu, tetanggaan. Embah dan pisang. Bakso kharisma dan boncengan motor bertiga. Televisi dan berebut Jodha. Jilbab putih yang “katamu” mau kausimpan sampai nikah. Mulai dari Tutut; Ainur-Kikip sampai Intan-Maya, teman-temanmu. Rupanya temanku yang kau ingat di luar kepala hanya tunanganku Shinta. Hehe. Mulai dari siapa lagi Des? Perlu kusebutkan? Ah, kalau soal ini aku pura-pura lupa saja, pilihanmu, dan tetap kau yang memilih. Asrama Dafa dan Mbak Ulfi (yang kemudian jadi tetangga juga). Soto dan Pak Genit. Tahsin bareng yang “gagal”. Ngajar Tpa yang “wacana”, hehe. Ohiya, yang pasti, gamis-gamis yang membuatku merasa “cantik”. Satu lagi, aku masih boleh jadi “bulek” kan ya?

Berikutnya, mari tetap mencipta kenangan. Mari tetap saudaraan. Mari tetap deketan. Mari tetap saling beriringan jalan, hingga sampai dan tinggal di surga, dan disana tetap sahabatan.

#14 : 08
#Perjalanan Purworejo-Jakarta
#24 (+1hari) Usia Desi (sholihah yang –semoga- segera nikah –biar malaikat juga mengaminkan untuk yang nulis-)
#Terimakasih untuk enam tahun kita saling mengenal. Jangan lupa, masih ada janjimu mau jadi panitiaku. Jangan pulang dulu. Hehehe

Senin, 27 Agustus 2018

20.27 0 Comments

Biarlah lepas semua kesedihan.
Luruh dalam langit-langit jalanan.
Menguap bersama sepoinya angin malam.

Cukup Dia yang saksikan.

Karena sejatinya dunia, tidak pernah ada sedih yang kekal, pula bahagia yang abadi. Nikmati saja bagiannya, biar kau belajar pandai mensyukuri, bahkan pada kebahagiaan kecil yang pernah dan kelak kau rasai. 

Minggu, 26 Agustus 2018

15.01 0 Comments

Lima hari lalu,
Seseorang bercerita padaku, sembari berlinang air mata. Kisah klasik romansa cinta. Jikalau saja ia bercerita padaku dulu, janganlah dulu, beberapa bulan lalu, mungkin seluruh nasehat bijakku akan keluar. Aku masih akan merasa sangat ‘lulus’ jika itu bicara nasehat soal cinta. Tapi kali ini aku hanya bisa mendengar, diam, dan mendoakan. Semoga baginya cukup. Pada akhir cerita, pertanyaan kesimpulan datang,
“Dek, jika semasa hidup, ayah seorang lelaki tidak pernah merestui seorang perempuan untuk menjadi menantunya. Kemudian beliau meninggal. Apakah si perempuan ini mengajari durhaka jika meminta si laki-laki untuk tetap menikahinya?”
Bagaimana dengan ibunya?”
“Ibunya juga tak ada pilihan, tidak pernah tidak memberi izin, tidak pula mengizinkan”
Semoga Allah kasih skenario terbaik Ya Mbak...”
***
Tiga hari lalu,
Seseorang bercerita padaku, sembari sedikit menggebu. Sama. Kisah klasik romansa cinta. Bagaimana aku menanggapinya juga tak jauh berbeda, mendengar, diam, dan mendoakan. Semoga baginya cukup.
“Aku tidak habis fikir dengan orang Jawa” Begitu intinya beliau bercerita
“Jika orangtua lelaki datang berkali-kali ke rumah orangtua perempuan. Sama sekali bukan untuk menyegerakan anaknya menikah. Mereka datang untuk memohon pengertian –kakak perempuannya belum menikah, mohon bersabarlah-“ Sayangnya sampai kapan, entah.
Semoga Allah beri jalan terbaik Yaa....”
***
Maka, soal nikah menikah ini, memang benar, jangan sekali-kali dianggap ‘lelucon’ belaka. Jika sudah sampai pada masanya, memang hanya takdir yang bercerita. Tak pernah tertebak. Pacaran lama tak menjamin pernikahan. Yang tinggal selangkah ternyata berhalang, berhalang keadaan, berhalang restu, berhalang tuntutan, dan sebagainya. Yang sudah benar-benar siap, jodoh tak kunjung terlihat. Yang nampak masih kecil, kekanak-kanakan, eh tahu-tahu besok menikah.
Pada intinya, sebuah perjanjian yang agung, berupa pernikahan, pasti Allah hadirkan di waktu yang tepat. Dengan orang yang tepat. Pasti. Begitu saja rumusnya.

Rabu, 22 Agustus 2018

Amal Baik

01.55 0 Comments

Empat Macam Amal Baik :
1.    Amal baik yang dirasakan
Ia adalah amalan hati. Sebagai contohnya adalah sabar, ikhlas, tawadhu’, wara’, dan lain sebagainya. Meskipun amalan hati, namun belum tentu yang mengamalkan mampu melakukannya dengan sepenuh hati. Contoh dalam keadaan sabar ia mengatakan “Mau bagaimana lagi, keadaannya memang sudah begini, mau ga mau disabar-sabarin”.
2.    Amal baik yang diucapkan
Contohnya adalah berdzikir kepada Allah, membaca Al Qur’an, Memberi nasehat kepada orang lain, dan sebagainya.
3.    Amal baik yang ditindakkan
Contohnya adalah membantu orang lain yang berada dalam kesulitan, menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan, Membersihkan tempat-tempat atau benda-benda yang kotor, dan sebagainya.
4.    Amal baik yang diberikan
Contohnya adalah memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang yang membutuhkan, berinfaq di jalan Allah, bersedekah, dan lain sebagainya.

Cintailah kebaikan-kebaikan tersebut, sampai kebaikan mencintai kita. Tugas kita adalah membuat hati kita terus terikat dengannya (amal kebaikan), karena keterikatan berarti berat dan keengganan untuk berpisah.

Hati dan amal baik, adalah dua sahabat yang saling mempengaruhi. Jika kita beramal baik dengan sepenuh hati, maka amal akan mempengaruhi hati tersebut, yang kemudian  hati kembali tergerak untuk beramal baik. Amal kebaikan yang sama, yang terus berulang, nilainya akan berbeda, dan terletak pada sepanjang kebaikan itu mempengaruhi hati.

Dan tanda sepenuh hati, adalah cinta.

By. Ustadz Syatori Abdul Rauf (Masjid Nurul Ashri, Deresan, Yogyakarta)
Source : Pixabay.com

Senin, 20 Agustus 2018

7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat

01.46 0 Comments

1.    Pemimpin yang Adil
Adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya sesuai syari’at. Pemimpin yang bersikap adil, keadilannya sangat memeperhatikan kesesuaiannya dengan apa yang diperintahkan syari’at, bukan dengan kacamata manusia.
Sebagai contoh, keadilannya terhadap orang miskin. Pemimpin berkewajiban untuk mengingatkan pembayaran zakat bagi orang-orang yang mampu. Ia tidak akan membiarkan fenomena “lebih takut tidak membayar pajak, daripada tidak membayar zakat”
Begitupula dengan pemimpin keluarga, keadilannya terletak pada bagaimana supaya istri dan anak mereka berada dalam naungan syari’at Allah.

2.    Pemuda yang Tumbuh dalam Ketaatan kepada Allah
Karena biasanya pemuda, nafsu terhadap dunia dan kelalaian terhadap akhiratnya begitu tinggi. Maka, jika ia tidak menggunakan masa mudanya untuk berhura-hura dan menuruti hawa nafsunya, maka ialah pemuda yang pantas mendapatkan naungan Allah di hari kiamat. Pemuda yang menjaga shalatnya berjama’ah di masjid, akhlak terhadap orangtua, dan orang-orang di sekelilingnya baik, tidak menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia, dan contoh-contoh lainnya.

3.    Laki-laki yang Hatinya Senantiasa Terpaut pada Masjid (Mencintai Masjid)
Kecintaannya pada masjid, terlihat dari bagaimana ia akan bersegera ke masjid bila kumandang adzan tiba, dalam waktu sesibuk sekalipun. Apabila sangat terpaksa terlambat atau tidak bisa menunaikannya, maka akan terbersit di hatinya sebuah penyesalan.
Untuk laki-laki, perhatikanlah, tempat shalatnya adalah masjid, bukan rumah.

4.    Dua Orang yang Saling Mencintai Karena Allah
Ialah dua orang yang bertemu karena Allah, dan berpisahpun karena Allah. Persahabatan mereka, antara siapapun itu, dibangun bukan karena dunia, melainkan karena kecintaan yang besar untuk saling mengingatkan dan menguatkan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
Maka, ada kewajiban bagi kita yang sudah merasakan manisnya iman, untuk mengajak mereka (sahabat-sahabat) supaya bersama-sama merasakan manisnya. Mengajak untuk menghadiri majlis ilmu, mengajak menikmtai nikmatnya beribadah, hingga akhirnya bisa menjalankan ketaaatan bersama.

5.    Seorang Laki-laki yang Diajak Berzina oleh Wanita, Namun Menolak Karena Takut akan Kemurkaan Allah
Bercermin dari kisah Yusuf ‘alaihis salam, meskipun hatinya juga berkeinginan ketika digoda oleh Zulaikha, namun karena pertolongan Allah, rasa takutnya kepada Allah lebih besar dibanding keinginan dan nafsunya.
Menjadi pengingat, sebagai manusia yang (tentu) iman (masih) pas-pasan, hendaknya berhati-hatilah. Hati-hati dalam berkomunikasi dengan non-mahram, serta penggunaan medsos yang berlebihan. Karena ia bisa menjadi wasilah perbuatan zina yang Allah haramkan. Jika mudharatnya lebih besar, lebih baik tinggalkan.

6.    Seseorang yang Bersedekah dengan Tangan Kanan, Namun Tangan Kirinya tidak Tahu
Sedekah yang tidak dipamerkan di hadapan manusia atau dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini juga menjadi sarana belajar agar mampu menjaga keikhlasan amal.
Noted. Hati-hati juga kalau selfie dan posting di media sosial

7.    Orang yang Senantiasa Mengingat Allah dalam Keadaan Sendiri, dan Menetes Air Matanya karena Takut Kepada Allah
Dalam keadaan sendiri, jauh dari rasa riya’ terhadap orang-orang, tumbuhkanlah rasa takut kepada Allah dengan berdzikir dan mengingatNya dengan sepenuh hati, sampai menetes air matanya. Berlatihlah, biasakanlah mudah menangis, ia akan melembutkan hati.

Selain dari tujuh golongan di atas, terdapat pula hadits-hadits yang menunjukkan siapa orang-orang yang berhak mendapatkan naungan Allah, yaitu:
(8) Orang yang Memundurkan Jatuh Tempo hutang orang lain, karena masih dalam kesulitan atau kesusahan
Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan hutangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah”. (H.R Muslim no. 3006)

(9) Orang yang Menghilangkan Kesusahan Saudara Mukmin Lainnya
Barangsiapa melapangkan urusan seorang mukmin dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan di hari kiamat...........” (H.R Bukhari dan Muslim)

By. Ustadz Ridwan Hamidi, Lc (Masjid Kampus UGM, 19 Agustus 2018)
Source : Pixabay.com