Follow Us @whanifalkirom

Minggu, 29 Juli 2018

07.56 0 Comments

Mengejawantahkan cinta itu memang tidak pernah mudah. Ia bukan hanya sebatas perasaan, melainkan penerimaan, kepercayaan, harapan, komitmen, konsistensi, tanggung jawab, dan banyak sekali hal lain yang kemudian ikut di belakangnya.
Orang bilang, belajar cinta itu jangan pada pasangan yang baru saja mencecap manisnya pernikahan. Apalagi pada remaja-remaja yang ala-ala “mengingatkan makan, mengingatkan shalat”. Tapi, belajarlah pada pasangan kakek-nenek yang sudah berpuluh-puluh tahun menikah dan tetap langgeng, berhasil mengarungi bersama manis pahitnya kehidupan. Siapa bilang mereka selalu harmonis di kehidupan rumahtangganya? Pasti tidak. Hanya mereka tahu persis bagaimana bersikap, dan sama-sama mengerti ada banyak hal berharga yang membuat mereka saling bertahan.
Lebih hebat lagi, belajarlah pada seorang Ibu. Tidak bisa dijelaskan lagi seberapa besar ia mencintai anak-anaknya.

#Begitu saja. Intermezzo pagi-pagi. Selamat berakhir pekan
Yogyakarta, 05.33

Kamis, 19 Juli 2018

Tak Mengapa

23.50 0 Comments
Cicak – cicak di dinding, diam-diam berdzikir
Datang seekor nyamuk, hap, Alhamdulillah

Kau dengar Nak, bahkan cicak saja berdzikir. Mungkin dia juga beristighfar. Kenapa kamu tidak? Selalulah mengingat RabbMu, supaya selalu tenang hatimu...

Tak mengapa kau banyak khawatir...
Kau khawatirkan dosa-dosa yang tak terbilang bagai debu-debu beterbangan. Tapi bahkan janji Allah akan luasnya ampunan melebihi dosa-dosa yang terkumpul seluas semesta bumi dan langitNya. Jangan berputus asa memohon ampunan, jangan lelah untuk bertaubat. Selama nyawa sebelum sampai tenggorokan, maka kau masih bisa memohon sebaik-baik sisa usia, dan husnul khotimah di penghujung hayatnya.
Kau khawatirkan waktu-waktu yang berlalu tanpa ada sedikit saja perbaikan diri. Sejatinya kau hanyalah kumpulan hari, jika satu hari terlewati tanpa ada yang berarti, bukankah kau merugi? Mari selalu sejenak ambil jeda, berpikir ulang ke arah mana ‘kehidupan’ yang hanyalah ‘persinggahan’ ini hendak kau bawa? Apakah dunia masih bertahta manis di hatimu?
Kau khawatirkan amanah-amanah yang mengiringi langkahmu. Berat terasa untuk memikulnya seorang diri. Ragu merasuk menggoyahkan hati. Tapi bahkan Allah berjanji, setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah kesulitan ada kemudahan. Tidak ada beban melebihi batas kesanggupan. Lakukan saja apa kewajiban yang seharusnya kau lakukan, biarlah Allah yang mengurus sisanya.
Kau khawatirkan dua malaikat yang usianya semakin senja. Sementara balas budi apa yang bisa kau berikan padanya? Tidak ada. Seberapa keras kau berusaha, tiada pernah berbanding dengan secuil cinta yang mereka limpahkan. Karena itu, yakinlah upaya remah-remahmu, semoga sedikit bisa membuat mereka bahagia. Bertanya kabar, bersering pulang, berbagi suka, dan paling penting, bawalah mereka dalam doa. Bukankah tempat berkumpul paling dinanti hanyalah surga?
Kau khawatirkan laki-laki masa depan yang sama sekali tak tertebak siapa dan kapan hadirnya. Kau boleh saja istiqomah pinjam nama seseorang dalam doa, dan berharap ia akan berjuang, berproses, belajar, serta menua bersamamu, tapi jangan pernah sekali-kali memaksaNya. Pastikan dalam doamu, masing-masing kelak, kau dan juga dia, akan bahagia dengan siapapun pilihanNya. Terlepas pada akhirnya kalian memang ditakdirkan bersama ataupun tidak. Selalulah ingat, yang baik akan dipertemukan yang baik. Allah lebih kuasa mengatur itu.
Kau khawatirkan...
#Masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran lain, bukan? Sekali lagi tak mengapa. Allah selalu ada
#Masih labil, masih suka pecicilan, masih suka ga jelas? Juga tak mengapa, yang penting selalu belajar
#Terkadang ketika mengingat waktu, ingin kembali ke masa kecil dahulu, ketika hidup sudah sangat bahagia hanya dengan bermain bersama ibu. Atau. Membayangkan masa depan, dengan keluarga kecil yang (meskipun) sederhana, akan sangat bahagia, karena iman dan kasih sayang tumbuh subur didalamnya.

Sabtu, 14 Juli 2018

😊

18.44 0 Comments

Anggap saja aku sebagaimana rumah, sejauhmana kau pergi, ia adalah tempat paling nyaman untuk pulang dan kembali. Meski mungkin, warnanya semakin pudar, dindingnya semakin rapuh, atap gentingnya semakin menipis. Pulanglah jika ingin. Kembalilah jika kau lelah, dan ingin istirahat meski sejenak saja. 


Purworejo, rumah berjuta cerita

Jumat, 13 Juli 2018

Tentangku

03.43 0 Comments

Aku tidak pernah lari
Aku tidak pernah pergi
Aku masih berdiri, di sini

Aku tidak pernah hilang
Aku tidak pernah lebur menjadi bayang
Aku masih seperti sediakala diam, dan tenang

Aku tidak pernah berubah
Aku tidak pernah membelokkan langkah
Aku masih tetap pada mula, tak berbalik arah

Hanya saja aku tak ingin menanti
Hanya saja aku tak ingin resah terulang
Hanya saja aku tak ingin diriku lupa berbenah

Dan satu hal yang pasti, aku khawatir
Jika ia tumbuh lagi untuk kedua kali, maka ia akan menetap di hati, dan bertahan
Maka, sebelum kutahu di mana tempat dan waktu yang tepat, kuusahakan menjaga untuk tidak menabur benihnya. Daripada ia tumbuh, namun harus melayu seiring waktu. Daripada ia tumbuh, namun harus dipangkas dan dicabut hingga akarnya.
Lebih baik pasrah. Lebih baik berdo’a. Jawaban terbaik adalah mengikuti pilihanNya
Karena terkadang, perempuan itu, terlalu setia.
Apalagi segala tentangmu,pula kebaikanmu, aku yakin masih akan sama.

Yogyakarta, 03.11 dini hari



Rabu, 11 Juli 2018

Lirik (4) : Kasih Sayang

04.40 0 Comments

Kasih Sayang
(Raihan)

Kasih Sayang Itu Titi
Kasih Sayang Penghubung Hati
Kasih Sayang Itu Tali
Kasih Sayang Pengikat Diri

Dari Kasih Timbul Simpati
Dengan Sayang Ada Persaudaraan
Kerana Kasih Ingin Berbakti
Saling Sayang Ma'af Mema'afkan

Kasih Sayang Itu Baja
Kasih Sayang Penyubur Jiwa
Kasih Sayang Itu Penawar
Penguat Cinta Penghapus Duka

Kasih Manusia Sering Bermusim
Sayang Manusia Tiada Abadi
Kasih Tuhan Tiada Bertepi
Sayang Tuhan Janji-NYA Pasti

Tanpa Kasih Sayang Tuhan
Tiada Simpati Tiada Persaudaraan
Tanpa Kasih Sayang Tuhan
Tiada Bakti Tiada Kema'afan

Kasih Sayang Pada Semua
Kasih Sayang Sesama Kita
Kasih Sayang Oooo Dunia
Moga Selamat Di Akhirat Sana
***
Mengenal lagu ini, sejak duluuu sekali, sewaktu Raihan sedang populer-populernya. Sudah suka, liriknya cukup meneduhkan. Apalagi Mas kalau pulang juga suka bawa kaset nasyid-nasyid begitu. Nah, sebenarnya ada yang teringat kalau ndengerin lagu ini. Saya pernah kirim lagu ini ke Shinta, niatnya sih biar “so sweet” gitu. Eh setelah itu, dianya misuh-misuh coba, katanya udah berjuang downloadnya loading lama (maklumlah satu lagu full), setelah berhasil enggak mudeng lagu apa itu. Hhe, maklum sih dulu beliau mah cuek bebek, ceplas-ceplos nyebelin pula, kalau menolak langsung to the point banget nget, belum so sweet kayak sekarang. Belum lembut kayak sekarang. Yaa yaa yaa, jadi kalau mau belajar ‘proses’ bisa bisa lah belajar ke dia. Kalau sekarang saya kirim, mungkin beda respon. Hehe

Kenapa tetiba ingat lagu ini? Kalau mengingat sebuah kenangan itu, biasanya sedang mengumpulkan kepingan hati yang hilang. Mengafirmasi. Ehcielah

Jadi, ada yang suka sekali panggil aku “Mbak Sejuk”, nggak tahu aja itu orang, sebenarnya hatiku sedang kusut (dan keruh). Seperti kemarin pagi, datang-datang saya sudah memberondong pertanyaan ke teman-teman. “Bu Aiz, liat wajahku, keliatan sedih nggak?” “Bu Vera, aku lagi sedih lho, nggak keliatan po?” “Bu Hesti, bantu akuu lagi sedih”. Daaan jawabannya, “Nggak Bu” “Nggak tu, sumringah gitu”, “Bu Ayu ki apaan sih, aku jadi lupa to mau nulis apa. Sedih darimana ngguya ngguyu gitu”. Haduh duuh. Tapi it’s oke, cukup menghibur, toh kalau ditanggepin serius aku yang malah berujung diam. Susah bagiku mengungkapkan, tapi susah juga buat menyimpan. Keluar tapi bukan mengumbar. Yaa seperti itu contohnya. Atau kalau lagi gemes biasanya cubit-cubit orang sampai dianya bingung. Atau, menulis, itu obat paling mujarab. Hehe

Sebenarnya, waktu itu sedang sedih memang, sedikit.

Oke, selamat belajar dari yang sudah berlalu yaaa... Alhamdulillah, detik ini hatiku sudah utuh. Mari berkarya, sibukkan diri dengan yang baik-baik. Mumpung masih single katanya. Hehe *Eh eh kalau sudah menikah juga tetap sibukkan dengan yang baik-baik (kan sudah ada partner, bersama belajar dan berproses menjadi baik, begitu). Uhuk
Source : Pixabay.com
03.50 dini hari, Jogja dingin lagi..

Selasa, 10 Juli 2018

21.32 0 Comments

Mas Singgih : Ada satu bahasa orang SDM itu, “kamu adalah rata-rata dari lima orang temanmu
Me : Maksudnya?
Mas Singgih : Ya kamu itu nggak jauh beda sama lima teman kamu. Orang pasti bergaul sama yang serupa-rupa. Misal nih, orang gajinya lima ratus ribu sebulan ya nggak mungkin bergaul sama orang yang gajinya lima puluh juta sebulan
Me : !2$#SFTQ^$@*&&@WHSB
#Semoga rerata utama dari lima itu, adalah shoihah
#Sisalebaran

***

Me : Kapan jadi nikahnya si “A”?
Si Emak : Nggak jadi katanya. Makanya gek ndang nduk, nek udah ada. Tuh kalau pacaran kelamaan
Me : (Aman. Aku kan nggak pernah pacaran toh :P)
#Semoga Allah hadirkan orang yang tepat di waktu yang tepat
#Sisalebaran

***


Fadhil : Mesakke banget lah taaaanttt... (gayanya fadhil sok manggil tante, aih)
Me : Iya mesakke to Dhil
Fadhil : Sini sini tak tetring
Me : Mantap
Elisa : Passwordnya apa Dhil?
Me : Enggak berpassword
Nana, Hakim, Yaya, Anas : Ngikut aahh, tu Luhur juga mau (Tertawa rame-rame)
Fadhil : Gapapa laah, kan sedekah. Dulu pernah iseng aktifin, langsung dua belas connected coba
Me : Dhil, kamu suamiable banget tenan (Tapi ini emang iya kok)
Fadhil : Ah enggak juga
Me : Beneraaan
Fadhil : *Langsung lempar tissue* #Nggakjadisuamiable. Hehe
#DemiSinyal
#Sisalebaran


***


Me : Mau kemana?
Si Emak : Ke warung beli gula
Me : Ayok tak anterin
Si Emak : Alah, nggak usah
Me : Pokoknya tak anteriin
Si Emak : Manasin sama ngeluarin motor kalau buat jalan udah sampe warung
Me : Gapapa, pokoknya tak anteriiiin, titik
Si Emak : (menunggu)    
Me : Ngerti nggak kenapa aku mau nganterin? (Udah sambil jalan)
Si Emak : Alah opo neh, yo golek sinyal
Me : (Tertawa, ngerti banget coba) – (Jadi, kenapa di warung itu sinyalnya selalu lancar sedang di rumah susah kali)
#DemiSinyal
#Sisalebaran

***
Berkesan atau tidak, ada moment yang kadang teringat begitu saja #latepost

Perempuan Itu Mulia

21.02 0 Comments

Perempuan itu mulia, dengan kepiawaiannya berbusana. Rapih dan menjaga. Tertutup dan tidak memikat mata.
Perempuan itu mulia, dengan ketundukan hatinya. Rumah ialah sebaik-baik tempat ia berteduh, dan menghadirkan berkah.
Perempuan itu mulia, dengan harga dirinya. Sebab ia adalah godaan terdahsyat yang ditinggalkan setan untuk sosok bernama pria.
Perempuan itu mulia, dengan rasa malunya. Sebagaimana di Negeri Madyan, dua wanita yang dijumpai seorang Nabiyullah Musa a.s ketika hendak menimba air untuk ternaknya. “Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan”.
Perempuan itu mulia, dengan baik agamanya. Ketulusan Menghamba pada penciptanya. Tahu bagaimana ia bersikap kepada dirinya - orang-orang terdekatnya : orangtua, saudara, suami, anak-anaknya, juga, orang-orang di sekelilingnya.
Perempuan itu mulia, dengan kebaikan hatinya. Kelembutan sifatnya. Kesejukan matanya. Keteduhan bicaranya. Dan bagaimana ia, pandai mensyukuri apa-apa yang dia terima.

Senin, 09 Juli 2018

Sumeleh

20.11 0 Comments

Sumeleh itu kelapangan hati dan ketulusan menerima.
Sumeleh itu berarti berserah, tapi bukan berarti menyerah.
Sumeleh itu mengakui tiada berdayanya kita, meyakini tiada berbatas kekuatan dan keMahabesaranNya.
Sumeleh itu melepas belenggu dan keterikatan terhadap sesuatu, karena sandaran hakiki itu terletak pada keMahaanNya.
Dan sumeleh itu tidak seketika. Tentu saja bercampur rasa dalam setiap prosesnya. Tanpa harus menyesali, melainkan dengan mensyukuri.

Source : Pixabay.com

Minggu, 08 Juli 2018

Untuk Mia

22.20 2 Comments
Miaa, gapapa kan yaa, nggak ada surat apapun yang ‘sweet’ gitu tadi. Ternyata di rumah terlalu tidak mendukung untuk menulis. Hehe. Aku yakin suatu hari kamu bakal baca ini (lah, temenku yang rajin nge-blog juga cuma satu ini).

Sebelas tahun itu, lama atau sebentar menurutmu? Sama seperti yang kamu bilang, kamu juga, masih menjadi orang yang ‘sama’, selalu hangat dan menyenangkan. Tidak sepertiku justru, sikapku bagai musim yang sering berganti. Hangat tiba-tiba, dingin seketika, kadang menyenangkan, tapi di banyak waktu menyebalkan. Terimakasih untuk sebelas tahun kebaikan hatimu (dan tentu tahun-tahun berikutnya), yang aku banyak belajar...
***
Kamu perlu tahu, aku hampir saja mengundang “Ayooo Mi, berkunjunglah ke Jogja lagi. Lama sudah kita tidak jalan bareng. Barangkali Boko sudah berubah”.
Belum terucap, dan kamu sudah duluan membuka percakapan.
Hanif, jangan kaget yaa”.
Enggak Mi, enggak kaget, cuma pengin nangis, dan tertahan. Beneran
Berhubung kamu salah satu sahabatku yang kusayang, jadi...........”
Mendadak aku menyesal kita bertemu. Pura-pura saja undangan itu tidak pernah kuterima. Sayangnyaa, kamu terlalu mengerti perasaanku, perasaan yang sungguh ‘gado-gado’ dan sangat ‘nano-nano’. Kamu terlalu memahami.
#Tapi, tidak mengapa bukan, jika di banyak waktu aku masih akan ‘mengganggumu?’. Meski aku faham, banyak hal dalam hidupmu yang pasti berubah, sepertihalnya taatmu kepada siapa yang sekarang harus berpindah.
***
Kamu juga perlu tahu, suatu kali kamu pernah bertanya “Yang penting, kamu ikhlas tidak, jika seseorang itu bersanding dengan orang yang tidak lebih baik dari kamu”.
Kamu bilang itu pengalamanmu. Tapi itu bukan pengalamanku, kataku dalam hati, pada detik itu. Tapi kini aku mengerti, ternyata jawabannya memang sama sekali tidak yaa. Akan jauh lebih sangat ikhlas jika seseorang itu bersanding dengan orang yang (juga) jauh lebih baik dari kita.
#Karena itu, cara terbaik adalah selalu merayuNya dengan do’a bukan? Sebagai perantara harapan, agar siapapun yang dihadirkan adalah yang terbaik menurutNya dan baik pula dalam penglihatan kasat mata manusia
***
Akhirnya hari ini datang juga. Teriring do’a Baarakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir, Mia dan suami.. Bersamanya sesurga ya Mi

22.17 Waktu Yogyakarta

Rabu, 04 Juli 2018

23.23 0 Comments

Seperti biasa malam yang berlalu, selayaknya hari-hari yang terlewati. Suka-duka silih berganti, harap dan realita yang kadang tak bersua. Tepat, iya, seperti malam ini. Ketika sebuah layar mati tiba-tiba dan tidak auto-saved. Hehe. Begini rasanya. Document yang sedikit lagi kelar, juga curhat yang sudah berbaris panjang, berubah menjadi tulisan ini. Sabar yaa.
***
Lagi kangen baca novel, apalagi liat quotes ini. Aku jadi lebih suka dengan kata sayang, dibanding cinta, dan rindu. Hehe (mulaitidakjelas).

Puteri, sekarang Jakarta gerimis. Cepat sekali berubah. Kayak hati. Semoga pengertian, mau saling mengalah, saling menghargai, saling menjaga, komunikasi yang baik, dan tentu saja yang paling penting pemahaman agama yang baik menyertai rasa sayang. Biar abadi sayangnya. Tidak seperti cuaca”.
(Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu)

***
#Jogja dan doa

Sabtu, 30 Juni 2018

10.00 0 Comments

Dan, benar kata orang-orang, menasehati diri tidak semudah menasehati orang lain. Berkali-kali mengikuti arah angin, mengalir layaknya air, tapi tetap sadar bukan? Bahkan tak semua air mengalir sampai pada hilirnya. Bisa jadi, ia meresap ke bawah, tertimbun dalam tanah.
Aku tak pernah tahu penghujung sebuah cerita, karena manusia hanya bisa berharap dan menduga. Yang sejatinya pada diriku sendiri ku bertanya, dimana kau letakkan usahamu untuk berserah pada Yang Maha? Yang sejatinya pada orang lain ku meminta, bantu aku dengan caramu untuk menjaga hatiku. Terimakasih yang sudah mencoba membantuku untuk berpikir sejernih yang aku bisa.

#Menjelang disibukkan dengan rutinitas semula, kegiatan-kegiatan yang serupa, banyak kewajiban, daan waktu istirahat yang berkurang (padahal ini maksudnya karena selama liburan, ‘istirahat’ terus isinya). Jangan lupa, nikmati prosesnya, karena lagi-lagi, setiap orang berhak untuk belajar dan menghargai dirinya

Rabu, 27 Juni 2018

Menghadirkan Yakin dan Pasrah

23.51 0 Comments

Tidak ada do’a yang tidak pernah terkabul. Iya, hanya tertunda atau diganti dengan lebih baik. Itu saja rumusnya.

Pernah merasakan nikmatnya berdo’a? Saya pernah. Bahkan juga pernah merasa do’a benar-benar terijabah, dalam sekejap (dalam artian sesuai dengan doa kita, dan sesuai pula dengan waktu yang kita harap). Dan saya rasa kesemuanya, ketika do’a tersebut dalam kondisi beberapa hal :
1.  Yakin se yakin-yakinnya Allah akan mengabulkan
2.  Sadar sesadar-sadarnya bahwa diri ini terlalu banyak dosa, kemudian doa hampir penuh dengan permohonan ampun
3.  Berjanji dalam hati, setiap pinta dalam do’a-do’a yang terpanjat, akan menjadi jalan memperbaiki diri
4.  Pasrah, dengan tetap yakin Allah itu Maha Sayang Kok. Enggak mungkin enggak dikasih yang terbaik. Percaya aja, kalau enggak dikasih, tetap aja itu baik.

Nah, tapi ini tapi beberapa hal tersebut muncul karena kondisinya sangat terdesak. Beda rasa ketika do’a, ya hanya sekedar do’a saja (rutinitas formalitas) –Masih harus tetap disyukuri yaa, tetap jangan lelah dan berhenti berdo’a–. Terus gimana donk? Sering kali memang jatuhnya jadi rindu banget, rindu apa coba, rindu nangis. Rindu saat iman naik.

Akhirnya, dapet juga tips dari seorang teman. Beberapa hal yang mungkin bisa memperbaiki:
1.  Banyak istighfar
2.  Do’a Nabi Yunus waktu di perut ikan paus “Laailaaha illa anta subhaanaka inni kuntu  minadholimin”, pesan DR.Muslih ini adalah obat semua masalah
3.  Nyempetin dan berusaha nimbrung di kajian ilmu
4.  Puasa juga membantu melembutkan hati
5.  Sedekah
6.  Minta do’a orangtua
7.  Sempurnakan ikhtiar dengan shalat lima waktu tepat waktu, usahakan dzuha dan qiyamullail
Nb. Nah kalau saya kadang suka ngungsi ke masjid-masjid (agak) dan besar, suka aja dengerin adzannya, menikmati nunggu waktu iqomahnya, liat hirukpikuknya orang-orang shalat berjama’ah.  Biar trenyuh, itu dulu tujuannya.
Wallahu a’alam
***
Hampir tengah malam rupanya. Hari ini pilkada serentak yaa, semoga yang terpilih pemimpin yang taat dan amanah, dan dikelilingi orang-orang baik. Saya tidak nyoblos, tidak pulang. Masih ada yang harus dikerjakan di sini, besok sudah kamis, cepatnya waktu berlalu. Makin tua aja~eh
Source : Pixabay.com


Sabtu, 23 Juni 2018

11.40 0 Comments
Kamu tahu tidak? Hatiku sedang bergejolak. Serupa-rupa dulu lahir tulisanini (sajak cinta), juga lahir tulisan lainnya (ketika dia menghadirkannya), ia bersebab sama. Dan bagi perempuan serba biasa layaknya aku, yang lebih nyaman berjibaku dengan bisu, merangkai kata lebih mudah, dibanding harus menyampaikan resah.

Benar kata novel mungkin, “Orang lain tak perlu bertanggungjawab atas perasaanku”, iya, cukup aku saja, biar aku yang berjuang, menaklukkan hatiku sendiri.

Maaf untukmu yang kembali, dan rasa masih tak bisa dipaksa. Setidaknya aku belajar untuk tak membuatmu menunggu, dengan cara terbaik semampuku. Maaf untuk sedikit menahanmu, hanya sekedar harapan, agar retak itu tak berulang. Karena masih ada sisa ruang untukmu, ruang pertemanan.

Maaf untukmu yang datang, yang seharusnya rasaku tak pantas tumbuh bermekaran. Kamu tak perlu khawatir, sebab aku sadar siapa aku dan siapa dirimu. Sebagaimana aku yang tak menginginkan keterpaksaan, setidaknya aku juga juga belajar untuk tidak memaksamu. Mungkin benar bahwa kita harus menjadi asing sekali lagi, walau aku tak perlu berharap untuk bertemu sekali lagi. Tenang, sisa ruang untuk pertemanan masih akan sama, selalu ada.

Apapun itu, semoga menjadi bagian perjuanganku menata hati, untuk lebih memperbaiki diri. Mencipta jarak dan kebersamaan hanyalah sebuah ikhtiar manusia, yang akan terurus beriring dengan do’a. Karena pada akhirnya, episode antara kita hanya mengikuti SkenarioNya. Maka, dalam keterbatasan kemampuan berupaya, biarkan hati ini tak lelah mencari cara bagaimana bergantung pada Yang Maha. Tiada dua.

Jumat, 22 Juni 2018

Proses Menjadi Orang yang Benar

06.56 0 Comments

Dalam buku berjudul “Bahagianya Merayakan Cinta” karya Ust.Salim Afillah, halaman 40, dituliskan intisari Ihya’ Ulumuddin karya imam Al Ghazali (yang diambil dari buku Tazkiyatun Nafs oleh Sa’id Hawa) mengenai proses menjadi orang yang shadiq, orang yang benar. Digambarkan disitu, ada empat cara, yaitu :
1. Shidqun Niyah
Berarti benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa tanpa memedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.
2. Shidqul ‘Azm
Berarti benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa
3. Shidqul Iltizam
Berarti benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqomahkan zikir, fikir, dan ikhtiar.
4. Shidqul ‘Amaal
Berarti benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.

Di paragraf ujung halamannya, penulis mengajak pembaca untuk merefleksikan proses menjadi orang benar ini termasuk dalam proses menuju pernikahan. –Jikalau sh-Shidq berarti kebenaran, kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia–

Dan semoga, setiap nasehat yang kita baca, selalu menjadi pengingat diri, menempa proses untuk menjadi lebih berarti. Aamiin
Source : pixabay.com